Apa kali ini aku akan mati?
Aku terlalu kaget sampai gak tahu apa yang harus aku lakukan selain memandang sosok bayangan yang bersiap menebas leherku. Tapi beruntung ada Rascal yang siap melindungiku. Ia melilitkan cambuk yang berasal dari cakranya, mengelilingi leher sosok bayangan dan menariknya dengan cepat.
“Kakak ... aku takut....” Herlambang kembali menangis.
Awalnya aku berniat menggendongnya untuk turun dari tebing. Tapi kondisi sangat gak memungkinkan untuk turun berdua sementara Rascal butuh bantuanku. Aku memandang Rascal yang sedang duel dengan sosok bayangan sebelum jongkok di depan Herlambang. Menyamakan tinggiku dengannya. Menggenggam kedua tangannya dan menatapnya lekat. “Herlambang anak pemberani. Iya kan?” tanyaku.
“Iya, Kak.” Jawabannya kurang pasti tapi itu cukup buatku.
“Kamu akan selamat kalo kamu turun tebing. Kakak sebenarnya ingin menggendongmu. Tapi kamu lihat kan? Kak Rascal butuh bantuan Kakak. Jadi ... Herlambang yang pemberani. Harus bisa turun dari tempat ini. Kamu ngerti kan?”
Sesaat hening, hanya efek suara pertarungan Rascal dan sosok bayangan yang terdengar. Herlambang memandang Rascal yang sedang bertarung lalu memandang tebing.
“Bunga. Jangan gila! Kamu gendong bocah itu turun. Kamu pikir dia bisa turun tanpa tergelincir jatuh?” Teriakan Rascal membuat nyali Herlambang menciut. Herlambang menggenggam tanganku erat.
“Kakak. Aku gak berani.” Lagi-lagi Herlambang menangis.
“Apa yang kamu tunggu? Aku akan menjagamu disini. Steve menjagamu dari bawah.” Rascal terus bertarung sambil membahas masalah ini.
Sosok bayangan melakukan gerakan bela diri yang terlihat ringan tapi mematikan. Gerakannya sangat cepat dan gemulai, menunjukkan kekuatannya yang sudah pasti gak gampang untuk dikalahkan.
“Apa yang kamu pikirkan. Bodoh!” Aku tersentak. Aku langsung meminta Herlambang untuk memelukku dari belakang, menjalin dua tangannya mengelilingi leherku.
“Kamu pegangan kuat ya! Kita akan turun.” Aku mulai merayap, mencari pegangan dan pijakan untuk menuruni tebing.
Rascal benar, kalo aku menyuruh Herlambang turun sendiri. Aku yakin dia bakal jatuh. Akar-akar yang menjalar di sekitar tebing, lumayan licin. Aku yakin, gak gampang buat orang biasa untuk bisa turun. Dan orang-orang yang bersamaku, bisa melakukannya karena demi keselamatan hidupnya.
Aku harus meraba-raba untuk mencari pegangan lain, kedua kakiku juga harus meraba-raba untuk menemukan pijakan kuat. Herlambang memeluk leherku cukup kuat sampai aku merasa sangat sesak dan panas, tapi tetap saja aku harus melakukannya.
Sosok bayangan tiba-tiba terbang dengan satu tangan membawa pedang. Sebuah bola cahaya merah berasal dari cakra yang dibuat Steve, meluncur dari bawah. Dengan cepat, aku menuruni tebing, terlalu tergesa-gesa sampai peganganku lepas. Membuatku meluncur dengan kecepatan tinggi. Herlambang menjerit ketakutan, dua tanganku berusaha menggapai sesuatu, karena kalo enggak, sudah bisa dipastikan kematianku.
Beruntung satu tanganku bisa menggapai akar yang melintang. Aku kembali menempel ke tebing, mencari pegangan dan pijakan untuk kembali turun.
Sosok bayangan mengayunkan pedangnya, cakra Steve memental ke arah kanan dan meledakkan tebing. Rascal melompat sambil melempar cakra. Aku berusaha menuruni tebing secepat yang aku bisa. Aku gak mau mati dengan cara seperti ini. Aku juga gak mau Herlambang mati disini.
“Kamu harus tetap merangkulku, ya!”
“Iy ... iya, Kak.”
“Kamu tenang saja. Kak Steve dan Kak Rascal akan menolong kita.” Aku terus menuruni tebing sampai pada ujung akar yang licin dan ada lubang besar yang membuatku gak bisa mencari pijakan lagi.
Aku harus mengayun badan agar aku bisa melompat dan masuk ke dalam lubang itu atau aku akan jatuh. Mendengar suara kerasnya air terjun, aku tahu aku sudah gak jauh dari dasarnya. Tapi aku gak tahu apa yang ada di bawah sana, bisa jadi kalo aku nekat turun. Terus kepalaku kejedot batu, aku bisa amnesia setelahnya.
Sewaktu aku bersiap mengayun. Seseorang mencekal kedua kakiku. Aku sangat kaget sampai aku menguatkan cengkeramanku. Tapi sayangnya, dia terlalu kuat. Akhirnya aku jatuh bersama Herlambang yang masih merangkulku dengan kuat.
“Honey. Ayo pergi dari sini!” Aku berkedip beberapa kali. Ku pikir yang menarik kakiku adalah sosok bayangan. Tapi gak tahunya dia adalah Steve. Seharusnya bocah ini ngomong sesuatu, gak asal menarikku seenak jidatnya seperti ini.
Tapi aku gak boleh berpikir macam-macam selain keluar dari tempat ini. Steve mengambil Herlambang dan menggendongnya. Kembali bersatu dengan orang-orang, kami kembali berlari mengikuti tepi sungai.
Langkah kami terhenti saat sosok bayangan tiba-tiba berdiri menghadang langkah kami. Ia sedikit memutar pedangnya lalu tanpa banyak bicara, ia berlari sambil mengangkat pedangnya. Steve melemparkan cakranya, tapi sosok bayangan mementalkan cakra itu dengan pedangnya.
Aku juga melemparinya dengan cakra, walau seperti cakra Steve, cakraku juga berhasil dihindarinya. Steve beradu kekuatan dengan sosok bayangan dengan menggunakan tangan kosong sampai akhirnya pedang sosok bayangan berhasil melukai lengan Steve. Membuatnya menggenggam lengannya yang terluka.
Sosok bayangan itu menoleh ke arahku. Ia berlari mendekatiku dan menyerangku dengan pedangnya. Aku menunduk lalu menggeser badan beberapa langkah untuk menghindari pedangnya. Steve dengan cambuk berasal dari cakranya, melilit leher sosok bayangan dan menariknya sekuat tenaga.
“Honey. Kamu pergi bersama mereka! Aku akan menghadapinya.”
“Gak bisa. Kamu terluka Steve. Kita bertarung bersama.”
“Dia bukan lawanmu.”
“Kamu yang lari sama mereka. Dia bukan lawanmu, Steve.”
“Honey....” Steve gak melanjutkan ucapannya. Sosok bayangan kembali menyerang kami secara bersama-sama.
Ilmu meringankan tubuhnya membuat sosok bayangan sangat lincah dan ini membuat kami cukup sulit menghadapinya. Sebuah cakra yang sangat besar tiba-tiba datang di tengah pertarunganku, Steve dan sosok bayangan. Kami bertiga terpental karena terkena cakra itu. Badanku mendarat diantara semak belukar yang cukup empuk walau cukup basah.
Aku langsung berdiri, ku lihat Rascal kembali melakukan perlawanan. Cambuk melawan pedang. Badan Rascal yang cukup besar membuat gerakannya gak selincah sosok bayangan. Tapi tenaga Rascal jauh lebih besar sehingga setiap serangannya membuat sosok bayangan harus berhenti sejenak sebelum melakukan perlawanan.
Ini kesempatan untukku, kalo aku bisa melepas cakra sewaktu dia menunggu mengumpulkan tenaga. Aku yakin dia bakal kalah. Jadi yang harus aku lakukan adalah menunggu sampai Rascal bisa membuatnya terkena serangan.
Rascal melilit leher sosok bayangan dengan cakra dan melemparnya sampai sosok itu menabrak dinding dengan benturan kuat sampai terdengar di telingaku. Setelah lilitan itu lepas, badan sosok bayangan jatuh tapi dia masih punya tenaga untuk tetap menjaganya berdiri.
Aku gak membuang kesempatan, aku membuat cakra sebesal bola kasti dan melemparnya bertubi-tubi. Seranganku yang gak disadarinya, membuatnya gak berdaya. Badannya bergerak mundur seirama dengan setiap seranganku.
Sebuah gelembung muncul dan mengurung sosok bayangan tapi gelembung itu pecah sewaktu aku tanpa sengaja melemparkannya. Gelembung muncul lagi, kali ini sosok bayangan benar-benar terkurung. Badannya ambruk, ia duduk bersandar pada gelembung dan pedangnya tergeletak tepat di sisi kanannya.
Aku mendekati sosok bayangan itu, penasaran dengan muka bayangan yang sudah menggorok leher banyak orang. Dengan bantuan senter yang berasal dari handphone milik Steve. Aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajah sosok itu dipenuhi bekas luka sayatan. Tanpa ada hembusan napas, aku tahu kalo sosok ini bukan manusia.
Steve membuka penjara demon hunter. Ia memasukkan sosok itu ke dalam handphone dan akhirnya kami bisa bernapas lega. Aku berdiri, tersenyum penuh kemenangan. “Setan itu sudah ditangkap. Kita aman sekarang.” Teriakku.
Orang-orang yang tadi bersembunyi diantara semak-semak, akhirnya keluar. Herlambang berlari mendekatiku dan memelukku erat. “Kakak....” Lagi-lagi isak tangis keluar dari mulutnya.
“Sudah-sudah. Kita sekarang sudah aman. Kamu jangan menangis lagi.”
“Tapi Ibuku....” Tangis Herlambang kembali membuat telingaku geli, bocah ini gampang sekali menangis.
***
Kami semua berkumpul di tepi rel kereta api, dimana kereta yang kami tumpangi keluar jalur. Tiga gerbong paling belakang terlepas. Satu gerbong berada di sebelah rel dalam kondisi rubuh sementara dua yang lain masih berada di dasar jurang.
Mayat-mayat berada dalam kantong jenazah, diletakkan berjajar di tepi rel. Petugas pemadam kebakaran, berusaha memadamkan api yang masih membakar lokomotif kereta.
“Kecelakaan ini berasal dari mesin yang terbakar. Itu kata polisi yang menyelidikinya.” Steve berdiri di sebelahku. Ikut memandang proses pengangkatan jenazah korban kecelakaan sekaligus korban pembunuhan sosok bayangan penggorok leher manusia.
“Lalu apa kata mereka soal kematian orang-orang yang dibunuh demon bayangan itu?” tanya Rascal. Dia berdiri di depan Steve.
Steve menghela napas berat, “aku yakin, demon hunter akan membuatkan alasan masuk akal untuk urusan ini. Sekarang, ayo pulang!” Steve merangkul pundakku. Sementara Herlambang masih memeluk pinggangku.
“Steve. Kita harus membantunya.” Aku melirik Herlambang.
“Serahkan saja pada polisi. Mereka pasti akan membantunya.” Rascal membuat bibirku mengerucut, dua mataku mendelik. Sementara Herlambang sudah mulai mengeluarkan isaknya.
“Kita laporkan dia ke polisi!” Steve jongkok, menyamakan tingginya dengan Herlambang. “Sementara itu, maukah kamu tinggal dengan kami sampai keluargamu menjemput?” Aku tersenyum, senang karena Steve mengajak Herlambang pulang.
***
Herlambang duduk di tepi meja makan. Dia menangis setelah dimarahi Steve karena gak mau makan sendiri dan maunya ku suapi. Aku hanya bisa geleng-geleng, Steve suka sekali membuat Herlambang menangis.
“Kamu sudah delapan tahun, bocah. Seharusnya kamu bisa makan sendiri, mandi sendiri dan gak butuh bantuan apalagi dari Bunga. Dia milikku.” Astaga, bahkan sama anak-anak saja, Steve cemburunya bukan main.
“Kak Bunga. Kak Steve jahat. Huaa.” Aku memeluk Herlambang, memasang muka marah ke Steve yang beberapa hari selama Herlambang tinggal disini, selalu menangis karena ulahnya.
“Kamu sudah merusak semuanya. Tidur sendiri gak berani. Kamu itu cowok apa cewek sih?”
“Steve. Kamu edan! Dia anak-anak. Wajar kan kalo dia takut tidur sendiri.” Aku melotot, mencubit pinggang Steve karena gemas.
“Tapi Hon. Karena dia ... aku gak bisa meluk kamu. Aku susah tidur kalo gak meluk kamu.” Steve merajuk kayak bocah.
Aku menarik napas dalam, melihat sikap Steve. Sudah jelas, aku belum siap punya anak darinya.
“Bunga. Ada Nenek Herlambang datang untuk menjemput cucunya.” Mommy berdiri di depan pintu ruang makan bersama seorang wanita baya yang memakai gamis dan jilbab lebar.
“Mbah Jami....” Herlambang berlari memeluk neneknya.
Aku merasa berat karena harus berpisah dari Herlambang. Bocah itu sudah mencuri sebagian hatiku. Aku ingin punya anak seperti Herlambang. Sangat-sangat ingin punya anak sepertinya. “Tapi sepertinya Steve belum siap jadi ayah,” dengusku.
“Siapa bilang? Aku ingin jadi ayah kok. Honey, ayo buat anak. Herlambang kan sudah dijemput. Yuk-yuk.” Tanpa banyak ba-bi-bu. Aku menyikut perut Steve dan meninggalkannya begitu saja.