Duduk di ruang tim alpha. Aku tersenyum sendiri waktu membayangkan Herlambang yang suka sekali menangis. Gak cocok dikit, menangis. Diganggu dikit, menangis. Takut dikit, menangis. Apa semua anak-anak suka sekali menangis? Apa anakku nanti juga suka menangis seperti Herlambang?
Membayangkan punya anak, membuatku mengelus perut. Suatu saat akan ada bayi tumbuh dalam rahimku. Bayiku dengan Steve, cowok sontoloyo yang gak bisa kubayangkan kalo jadi ayah jadi seperti apa.
Rascal duduk bersandar di atas kursi sambil menyelonjorkan kakinya di atas meja. Gayanya sudah seperti preman pasar yang suka malak duit orang. Ditambah tusuk gigi yang ada di sudut bibirnya, benar-benar cowok aneh bin ajaib dia.
“Kenapa?” Rascal sepertinya nyadar kalo aku lagi memandangnya. Steve yang duduk di depanku langsung melotot. Aku memutar bola mata, Steve si tukang cemburu buta. Mungkin kalo aku mandangin tukang bakso, dia juga jadi seperti itu.
“Honey. Apa kamu lapar?” Steve berdiri, ia membawa sebuah dokumen berisi laporan kerja kami kemaren.
“Aku pengen bakso ini. Yang pedes, pasti mantap.” Aku membayangkan aroma bakso dengan saus tomat yang banyak, kecap yang banyak dan sambal yang banyak. Wuih, sedap benar deh.
Rascal menurunkan kedua kakinya, menepuk sandaran kursi lalu berdiri. Ia mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi, menggeliat, mengencangkan otot-ototnya. Pemandangan yang lumayan sedap dari Rascal. Si algojo ini punya badan yang lumayan seksi.
“Honey!!!” Aku kembali menatap Steve. Dua alisnya mengkerut, bibirnya juga berkerut. Muka gantengnya jadi jelek kalo dia sedang cemburu.
“Iya. Ayo!” Aku berdiri, mataku masih terpaku pada Steve. Ekspresinya masih sama, membuatku tersenyum kecut sampai akhirnya aku meringis.
“Tanda tangani laporanmu dulu!” Steve memberiku sebuah dokumen yang harus aku tanda tangani.
“Loh ini apa?” Dokumen itu berisi laporan kerjaku.
“Sebelum dapat gaji. Kita harus menulis laporan dulu. Apa kamu pikir kita hanya diminta bertarung tanpa mendapat imbal balik?” Steve mengangkat dua alisnya.
Membayangkan punya uang hasil kerja di demon hunter, membuat pikiranku terbang ke mall. Membelanjakan uang disana, beli baju, beli tas, beli sepatu dan aku butuh rambut baru karena rambutku sudah cukup panjang.
“Honey!” Steve membangunkanku dari lamunan. Aku langsung mengambil bulpen dan menanda tangani dokumen yang diberikan Steve.
“Sekarang. Ayo cari makan!” ajak Steve.
“Laporanku bagaimana?” Rascal berdiri sambil melipat dua tangannya. Membuat dua bisepnya tercetak jelas di balik kemeja abu-abu ketat yang dipakainya.
“Buat sendiri!” Steve memicingkan mata. Rascal mengembuskan napas keras. Ia garuk-garuk kepala lalu mendekati meja di sudut ruangan yang terdapat sebuah komputer di atasnya.
Steve menarik tanganku, mengajakku keluar, meninggalkan Rascal yang akan mengerjakan laporan bulanannya.
Ruang utama demon hunter sedang sangat ramai, hampir semua tim ada disini. Beberapa setan alias demon juga terlihat sedang duduk di depan meja administrasi. Dua demon diikat tali di belakang punggung mereka dan digiring ke suatu tempat.
Steve meletakkan dua dokumen di meja administrasi. Setelah itu ia mendekatiku dan merangkulku, berjalan menuju pintu utama.
Sonya dan timnya masuk, ia menatapku dengan tatapan sengit. Sudah agak lama aku gak bertemu dengannya. Terakhir kali, ia mengajakku duel tapi berakhir dengan adegan drama romantis antara ibu dan anak.
“Long time no see. Bunga.” Ini bocah, bukan bule tapi lagaknya sok keinggrisan banget.
“Bagaimana pekerjaanmu, Sonya?” Steve bertanya, sontak aku menoleh ke arah Steve dengan dua alis mengkerut.
“Semua bisa dikendalikan. Steve, sudah lama kita tidak jalan. Liburan ini, bagaimana jika kita hangout layaknya sepupu.” Sonya memandang Steve dengan gaya sok imut.
Mana ada sepupu pake hengot-hengot segala. Apa dia lupa kalo Steve sudah punya istri. Dasar cewek pengganggu rumah tangga orang. Steve punyaku-Steve punyaku!
“Steve. Katanya mau makan. Ayo!” Aku menggelayut di lengan Steve, menarik suamiku meskipun sepertinya Steve masih ingin berdiri di depan Sonya.
“Sampai ketemu lagi, Sonya. Soal Hangout. Kita bisa Hangout bersama jika Lukas dan Robert sudah kembali dari misi mereka,” kata Steve.
Aku sempat melihat Sonya tersenyum, dia pasti senang karena bakal bisa hengot sama Steve. Tapi aku gak bakal ijinin dia keluar dengan Sonya. Enak saja, dia pasti gak tahu ada udang di balik rempeyek. Sonya sedang dalam misi merebut suamiku. SU-A-MI-KU.
***
Duduk di kursi, di dalam kantin yang ada di belakang gedung demon hunter. Aku memandang Steve dengan alis bertaut, pipi menggembung dan bibir mengkerut. Steve memiringkan kepala, ia tersenyum sok ganteng. Membuatku semakin jengkel melihat senyum palsunya.
“Bilang aja kalo masih suka sama Sonya.” Aku membuang muka, memandang Mang Asep yang sedang meracik bakso pesananku.
“What?” Steve terkejut, gak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Are you jealous, Honey?”
Jeles? Idih, ogah banget deh ya. Selama masih ada Rascal dan cowok super ganteng di dunia ini. Anti bagiku jeles sama Sonya. Tapi mungkin Steve benar, aku mungkin memang jeles. Karena aku gak suka kalo Sonya memandangi Steve dengan pandangan mupeng kayak tadi.
“Pokoknya. Kalo kamu macam-macam sama cewek lain. Apalagi Sonya ... awas saja ya. Bakal ku sunat sampe habis burungmu!” Hidungku kembang kempis, napasku tersengal-sengal.
Steve tertawa terbahak-bahak, ia bahkan menepuk meja. Membuat perhatian semua orang tertuju kepada kami. Karena malu, aku mencekal tangan Steve dan melotot kepadanya.
“Siapapun tahu aku sangat mencintaimu, Honey. I love you so much. Love you for rest of my life. Selamanya, cintaku hanya padamu, Bunga. Tapi aku suka kamu cemburu. Aku jadi tahu, kamu benar-benar mencintaiku.” Steve menarik satu tanganku, masuk ke dalam genggaman tangan yang erat dan hangat.
Aku memang mencintai Steve, baik Steve saat serius apalagi Steve yang konyol. Perasaanku sama Steve memang nano-nano. Ada rasa manis, asam, asin. Ramai rasanya. Duh, sudah seperti omongannya iklan ini.
Rascal datang, menarik kursi dan duduk diantara aku dan Steve. Membuat Steve mandengus, ia melirik Rascal. Aku yakin Steve sebal dengan Rascal yang datang gak dijemput. Tiba-tiba nongol kayak hantu.
“What?” Rascal memandang Steve dengan dua alis terangkat.
“Apa yang kamu lakukan disini?” Steve mulai meradang. Aku menggenggam tangan Steve untuk meredamnya.
“Aku hanya ingin makan.” Rascal mengangkat satu tangan. “Berikan aku satu. Cepat!”
Mang Asep mengangkat dua jempol. Ia membawa nampan berisi dua mangkok bakso pesananku dan Steve. Mang Asep meletakkan semangkok bakso di depanku dan semangkok lagi di depan Steve tapi Rascal langsung merebut dan menyantap bakso yang seharusnya dimakan Steve.
“Kamu berani sekali!” Steve berdiri, satu tangannya terkepal. Lagi-lagi apa yang dilakukan Steve menjadi pusat perhatian.
Aku menggenggam erat tangan Steve, memintanya untuk duduk. Aku malu sekali kalo hanya gara-gara semangkok bakso. Kami jadi ribut disini. “Steve. Kita makan semangkok berdua. Aku suapin kamu ya.” Aku berusaha menenangkanb hati Steve.
Steve masih marah tapi ia segera menatapku dengan senyum khasnya. Aku tersenyum, menyendok satu bakso dan menyuapkannya ke Steve. Steve memandang Rascal dengan senyum penuh kemenangan. Ia mengambil sendok, menyendok satu bakso dan disuapkannya kepadaku tapi matanya masih tertuju pada Rascal. Sementara Rascal masih asyik menikmati bakso tanpa memedulikan kami.
***
Aku, Steve dan Rascal baru saja masuk ke dalam kantor demon hunter. Semua tim di demon hunter berbaris di tengah ruangan. Pak Subagyo berdiri di depan mereka. Pak Bagyo melihat kedatangan kami, ia meminta kami bergabung dengan para tim demon hunter.
Kami bertiga mendekati mereka, berdiri di barisan belakang. Menunggu apapun yang akan diucapkan olehnya.
“Saya menerima beberapa surat yang berisi keberatan soal bergabungnya Bunga ke dalam demon hunter tanpa melalui seleksi seperti anggota lainnya. Sekalipun seharusnya kalian tahu bahwa saya lah yang memilih Bunga. Saya yang mengirim Steve Johnson mengamati Bunga. Soal cinlok, itu urusan pribadi mereka.” Pak Subagyo sedang membahas diriku.
“Tetapi, saya hargai pendapat kalian tentang masalah ini. Memang terasa tidak fair jika Bunga masuk ke dalam demon hunter dengan ... ya ... boleh dikatakan jalur khusus. Hanya karena ia mampu mengeluarkan cakra layaknya generasi Johnson. Saya segera merekrutnya tanpa pertimbangan lain.” Pak Subagyo berhenti sesaat.
Para tim demon hunter bergeming, masih menunggu lanjutan dari ucapan Pak Bagyo.
“Untuk membuktikan bahwa saya benar. Maka saya sudah mengambil keputusan. Bunga akan melalui ujian terakhir yang sudah kalian lewati sebelumnya. Kemudian, saya adu kekuatan Bunga dengan semua anggota disini. Termasuk tim alpha. Steve dan Rascal. Jika Bunga memenangkan pertandingan. Setidaknya tiga terbesar. Yang artinya, ia layak masuk tim alpha. Sebagai gantinya ... gaji kalian akan saya potong sepuluh persen. Karena sudah membuat waktu terbuang percuma. Kalian setuju?”
Semua anggota tim di demon hunter saling kasak-kusuk. Ada yang setuju ada juga yang gak setuju. Aku sendiri gak ada masalah, mengalahkan mereka bukanlah hal yang sulit.
“Satu hal lagi. Agar masalah ini fair bagi Bunga. Jika ia dapat mengalahkan kalian maka akan mendapatkan bonus dari saya.” Bonus dari Pak Bagyo adalah kejutan indah buatku.
“Bagaimana jika dia kalah? Tidak mungkin dia di tim alpha jika dia kalah dari kami,” ucap Sonya.
Gak kaget aku kalo ada Sonya. Ini pasti akal-akalan dia saja. Sejak awal dia gak suka sama aku. Padahal dia sudah pernah ku kalahkan. Nanti aku benar-benar bakal membuatnya menyesal sudah menantang Bunga Lestari.
“Jika kalah. Maka dia akan dimasukkan ke dalam tim yang sesuai dengan peringkatnya.” Ucapan Pak Bagyo membuat Sonya tersenyum puas.
Puas-puaskan dulu kemenanganmu sekarang. Besok, aku akan membuatmu babak belur. Aku akan mengeluarkan semua jurus ampuhku untuk mengalahkanmu.
***
Hari yang ditunggu datang juga. Dari pagi, aku sudah ada di demon hunter. Semua tim demon hunter sudah hadir termasuk Sonya.
Steve sudah memintaku untuk santai saja. Ini hanya sebuah latihan, gak jauh beda dengan saat kami menangkap para demon.
Pak Bagyo mengawalku keluar menuju sebuah gedung bertingkat tiga yang sangat usang dan sudah lama ditinggalkan. Tempat yang ku dengar merupakan tempat terangker nomer satu yang ada di kota ini. Tempat yang dibiarkan saja oleh demon hunter karena tempat ini adalah tempat tes terakhir sebelum menjadi demon hunter.