Gedung Uji Nyali

1637 Kata
Aku ada di depan gedung bertingkat tiga bersama Pak Bagyo, Steve, Sonya dan semua tim demon hunter kecuali Rascal. Ia gak kelihatan sejak pagi, mungkin sedang molor di rumah. Aku memakai kaos olahraga, sebuah kaos lengan pendek berwarna merah muda dan celana training berwarna hitam. Aku memakai sepatu kets putih andalanku, satu-satunya sepatu yang aku punya. Meski sudah usang dan sudah bolong sedikit, tapi aku masih sayang untuk membuangnya. “Relaks, Honey. Meski sendirian disana. Kamu harus yakin bisa melakukan ini semua. Aku selalu siap membantumu kapan saja!” pesan Steve. “Gunakan semua kemampuanmu! Aku yakin ini bukan hal sulit untukmu,” lanjut Steve. Steve menepuk dua pundakku, “jika kamu menyerah. Kamu cukup angkat kedua tanganmu dan katakan menyerah maka aku datang menolongmu.” “Maksudmu, kamu menyuruh aku menyerah biar aku gak jadi tim alpha gitu? Trus Sonya yang gantiin aku.” Aku mendesis, enak saja dia mau menggantiku dengan Sonya. “Bukan seperti itu, Hon. Aku hanya tidak yakin kamu bisa melewatinya. Di dalam sangat...” “Maksudmu kamu yakin aku gak bisa menghadapi yang di dalam? Kamu lupa siapa aku? Aku murid dukun...” “Terkenal di kampung. Ya, aku tahu ... aku tahu.” “Sepertinya yang tegang kamu deh Steve. Aku biasa aja tuh.” Aku mencibir, Steve terkekeh sambil garuk-garuk kepalanya, aku yakin sebenarnya kepalanya gak gatal. Semua tim demon hunter sudah ada teras gedung dengan layar besar dipantulkan di tembok. Mereka duduk di atas lantai, seperti mau nonton layar tancap. Pak Bagyo meminta Pak Heru, asistennya untuk mengantarku ke atas melalui tangga yang ada di sebelah kanan gedung. Steve, aku dan Pak Heru berjalan menaiki anak tangga demi anak tangga sampai berada di lantai tiga. Lantai paling tinggi dari gedung ini. Berdiri di depan sebuah pintu. Steve memeluk dan mengecup keningku. Pak Heru berdehem, ia mendorong Steve dariku. “Kalian ini. Bunga bukan mau mati, Steve.” Pak Heru merogoh kantong celana, ia mengeluarkan sebuah kunci lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci, memutarnya dan membuka kenop pintu. “Lakukan yang terbaik, Bunga. Bapak yakin kamu bisa melaluinya dengan mudah. Ini semua gara-gara tim lain yang iri padamu.” Pak Heru memintaku untuk masuk. Setelah berada di dalam, Pak Heru segera menutup pintu dan aku mendengar suara pintu dikunci. Aku sempat melihat ke arah pintu sampai semua benar-benar menjadi gelap sesaat sebelum lentera merah menyala, memberi penerangan yang hanya cukup untuk melihat sebuah tempat yang sangat luas dengan sebuah pintu yang ada di seberang sana. Yang ku lakukan hanya mencari tangga dan turun sampai ke lantai tiga, membuka pintu lalu keluar. Semudah itu tugasku disini. Aku tersenyum, dikira aku ikut acara uji nyali? Kalo hanya melihat hantu saja, aku bisa. Aku terkikik, membayangkan diriku mengikuti acara uji nyali yang gak bakal membuatku menjerit ketakutan. “CILUK ... BA!” “AARGGHH!!!” Pocong bermuka putih seperti pake dempul semen putih, ada lingkaran hitam di sekitar mata, matanya dihiasi setitik manik berwarna hitam, dua lubang hidungnya ditutup kapas dan sedang tertawa lebar, menunjukkan deretan gigi hitam. Membuatku lari ketakutan sampai akhirnya aku menabrak dinding dan jatuh telentang dengan kepala mendarat di sesuatu yang empuk. “Hai ... ketemu lagi...” Aku menoleh, sosok pocong sedang tiduran menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil tertawa lebar. Sialnya kepalaku mendarat di perutnya. “Alamak. Belum-belum sudah didatengin pocong. Huaa....” Aku segera bangun dan berlari ke arah pintu. Aku memutar kenopnya tapi pintu dalam keadaan terkunci. “Mau ini, Neng?” Sesosok pocong menggoyangkan kepala ke depan dan ke belakang sedang menggigit sebuah kunci. Aku mengulurkan tangan, gemetaran sekali. Sewaktu jarak tangan dengan kunci hanya beberapa centi. Tiba-tiba ia menjatuhkan badannya kepadaku. Sontak aku berteriak sekuat tenaga dan mundur beberapa langkah sampai aku menubruk seseorang. Aku menoleh, sesosok pocong sedang mengerucutkan bibir kayak Steve minta dicium. Aku mendorong muka pocong itu, memutar badan mau merebut kunci tapi pocong itu sudah gak ada. Aku benar-benar stres di tempat ini. Mending melawan raja setan yang berkekuatan tinggi daripada melawan pocong yang Cuma bisa nakut-nakuti. “Ini kuncinya. Ini kuncinya. Ayo ambil! Ayo ambil!” Pocong yang masih menggigit kunci asyik lompat-lompat gak jelas. Begitu juga beberapa pocong yang asyik melompat-lompat dan menggantung dengan posisi kepala di bawah. Asyik berjoget ala ... ehm ... ala ... oh. Harlem sek. Kata Steve. Aku marah besar, mengeluarkan cakra di tangan dan menyerbu mereka dengan cakra. Pocong yang menggantung langsung jatuh telentang. Ia gak bisa bangun jadi merayap seperti ulat. Pocong yang menggigit kunci juga jatuh. Dengan langkah lebar, aku mendekati pocong itu dan mencabut kunci dari mulutnya. “Aih. Kagak usah pake cara kasar napa? Diminta baik-baik juga aku kasih kok.” Aku menginjak kepala pocong itu. Mendekati pintu, memasukkan kunci ke dalam lubangnya, memutar dan membuka pintu. Di depan pintu terdapat tangga, gak membuang waktu aku langsung menuruni anak tangga menuju lantai dua. Di lantai dua hanya ada ruangan kosong dengan beberapa meja yang berserakan di pinggir pintu yang ada di seberang sana. Di sebelah kanan dan kiriku serta ada tiga yang ada di tengah-tengah. Tiba-tiba ku dengar suara cekikikan khas. Suara itu membesar dan mengecil, suaranya juga berubah-ubah, semula dari depan lalu tiba-tiba terdengar seperti di samping kanan lalu kiri dna belakang. Berputar-putar tapi suara itu tetap datang dan pergi. “Tunjukkan dirimu kalo berani!” Aku menantangnya. Sesosok perempuan memakai baju merah merangkak dengan posisi terbalik, muka ada di atas. Ia muncul sekian detik lalu hilang dan muncul lagi di arah yang lain. Aku membuat cakra, melemparkan cakra kepadanya tapi cakraku meleset, mengenai tembok sampai tembok menjadi hitam seperti bekas terbakar. Sosok itu tiba-tiba menampakkan diri tepat di depanku. Mukanya sangat menyeramkan dan pucat sekali, bibirnya putih seputih kapas dan rambutnya sangat panjang. Wajah kami sangat dekat, hanya berjarak setengah senti saja. Aku gak banyak bicara, langsung membuat cakra dan menyentuh d**a setan itu dengan cakra yang masih ada di tangan. Sosok perempuan yang gak lain kuntilanak merah itu terlempar setelah kena cakraku. Badannya menabrak dinding sampai akhirnya ia jatuh telungkup. Ia merintih sambil mengusap pantatnya. “Aduh. p****t seksi Eike kan jadi sakit, Nek.” Nahlo, ternyata inilah alasan kenapa mukanya seram banget. Karena dia bukan setan berjenis kelamin perempuan tulen tapi laki-laki dalam bentuk perempuan. Astaga setan satu ini benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. “Mana kuncinya!” Aku mendekati setan yang masih dalam posisi yang sama. Setan satu itu mengambil kunci dari dadanya, mengangkat tinggi-tinggi dan segera ku rebut. Aku mendesis, setan satu ini cuma bisa menggertak saja. Gak bisa ngapa-ngapain rupanya. “Kalo jadi setan gak bisa menakut-nakuti. Mending gak usah jadi setan aja!” sindirku. Aku memutar badan, membuka pintu yang terkunci dengan kunci yang sangat mudah ku rebut. Aku langsung menuju tangga, turun ke lantai satu untuk menghadapi setan yang terakhir sebelum aku keluar. Di lantai bawah, hanya ruangan kosong yang kotor, berdebu dan bau kotoran tikus. Perut rasanya mual jadi aku berlari ke pintu untuk keluar. Sewaktu aku memutar kenop, aku baru ingat kalo tentu saja pintu ini terkunci. Aku memutar badan, mencari kunci dengan pandangan mata, tapi tempat ini benar-benar kosong. Aku mencari kunci dengan berjalan pelan ke setiap jengkal tempat ini. Sampai akhirnya aku melihat kunci yang aku cari ternyata menempel pada sebuah lekukan kecil yang ditutup kaca. AKu mengeluarkan cakra, menempelkan tangan untuk membuka kaca itu. Panas yang dihasilkan cakraku membuat kaca itu meleleh. Aku mengambil kunci, tapi saat ku tarik kunci itu. Muncul sebuah kotak berurukuran kurang lebih dua meter. Aku gak memedulikannya, yang terpenting kunci sudah ada di tangan. Aku bergegas ke pintu untuk mengakhiri tes gak penting satu ini. Aku memasukkan kunci ke lubang kunci, memutarnya pelan. Hawa dingin tiba-tiba terasa di tengkukku, merayap sampai ke seluruh badan. Suasana tiba-tiba terasa sangat senyap dan dingin. Memberiku perasaan takut yang luar biasa mencengkam. Badanku sampai gemetaran, aku yakin setan yang ada disini adalah setan yang cukup kuat sampai mengeluarkan aura negatif separah ini. Suara napas berat ku dengar, aku terpaku, dua alisku bertaut. Mereka-reka setan apa yang ada di tempat ini. Mendengar suara napas beratnya, mungkin ia genderuwo atau wewe gombel. Aku menggeleng, kembali berusaha membuka pintu. Tapi suara napas berat itu kembali ku dengar. Oke, sebaiknya aku memutar badan biar aku gak penasaran. Perlahan, aku memutar badan. Dadaku berdetak kencang, napasku serasa berhenti. Kakiku terus berputar sampai akhirnya aku bisa melihat sosok di depanku. Memakai setelan jas, kemeja putih dan dasi hitam. Aku mendongak, memandang siapa setan ini. Setan satu ini bukan sembarang setan. Ia produk luar negeri yang sangat terkenal. Ganteng kayak artis Hollywood, dagunya belah duren eh maksudku ..... senyumnya aduhai, dengan seringaian khas yang sangat mematikan syaraf, bibirnya uhuy aje gile. “Hallo sunshine.” Suaranya begitu renyah seperti gorengan yang kres-kres. Aku terpesona olehnya. Aku mungkin produk dalam negeri yang paling diminati para bule. Gak cuma Steve saja tapi Rascal bahkan Mas Martin juga sepertinya terpesona olehku dan sekarang.... “Aku ingin bersamamu. Aku mencintaimu.” Mataku membulat, mendengar kata cinta dari suara cowok super keren plus suara super seksi membuatku meleleh seperti mentega kepanasan. “Mari berdansa denganku!” Cowok itu membungkukkan badan. Satu tangan disembunyikan di belakang punggung satunya lagi diulurkan kepadaku. Aku tersenyum, senang sekali karena diajak berdansa. Tapi kemudian aku mendengar seseorang memanggil namaku. Pelan tapi aku merasa mendengar suaranya. Aku pertajam pendengaranku, suara itu kembali memanggilku. Suara yang sangat ku kenal dan yang selalu setia menemaniku. “Steve. Aduh, maafin aku ... hampir saja,” gumamku. Cowok itu mengangkat kepala, memintaku untuk menerima uluran tangannya. Tapi aku baru sadar kalo aku sudah punya cowok spesial yang gak akan bisa tergantikan oleh siapapun apalagi dia. “Lady...” “Sorry ya. Tapi aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku.” Cowok itu membelalak, ia kembali berdiri. Senyumnya merekah, ia tertawa terbahak-bahak lalu menatapku dengan bola mata berwarna merah dan dua giginya memannjang, membentuk taring yang sangat lancip dan berkilau seperti mutiara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN