Kali ini aku yang kaget setengah mati. Hampir saja aku terhipnotis oleh sosok bernama drakula. Setan luar negeri yang suka menghisap darah manusia khususnya perempuan. Aku mundur beberapa langkah, menjaga jarak dengannya dan bersiap dengan apapun yang akan terjadi.
Bergaya sok keren, dengan gerakan lambat banget, ia menegakkan badan. Kepalanya sedikit miring, senyumnya merekah. Ia mendekatiku tapi aku berusaha tetap menjaga jarak darinya. Ngeri juga melihat taring panjang dan membayangkan taring itu menusuk leherku.
“Aku bisa membuatmu bahagia. Tinggalkan dia! Kita bisa hidup bersama selamanya.” Drakula satu ini mungkin pintar merayu wanita, tapi bukan wanita sepertiku. Aku masih sangat mencintai suamiku walau dia super aneh tapi gak mungkin aku akan menggantikan suami seperti Steve dengan sosok drakula, sekalipun dia sangat tampan sekali.
“Idih, najis. Aku gak mau sama kamu. Steve jauh lebih baik dari kamu tahu,” makiku.
Dua alis drakula itu terangkat, ia terkekeh, mendongak lalu tertawa terbahak-bahak. Aku gak tahu dimana letak lucunya tapi satu hal yang pasti adalah aku semakin gak suka sama dia justru karena tawanya.
“Apa yang sudah diberikan pria bernama ... Steve itu?” Drakula maju dengan langkah begitu pelan. Semakin ia mendekatiku, semakin aku mundur beberapa langkah.
“Steve memberiku segalanya. Dia memberiku perhatian, kasih sayang dan cinta. Semua yang ku butuhkan sudah dipenuhinya.” Steve bahkan memberiku rasa sebal setiap waktu, tapi jelas hal itu menjadi rahasiaku.
“Aku akan memberimu lebih.” Drakula menunjukkan kesombongannya, tapi di dunia ini gak ada yang sempurna. Lagian, dia drakula, dia setan, dia demon. Aku gak boleh termakan ucapannya.
“Gak usah banyak ngomong kamu!” Kelamaan kalo harus banyak bicara. Aku membuat cakra, ukurannya semakin lama semakin besar sampai sebesar bola basket.
Aku melempar cakra itu ke arahnya. Drakula kaget, ia menggunakan jubahnya untuk menutupi badan. Jubah itu melindunginya. Cakraku bahkan gak meninggalkan bekas noda sedikit pun.
“Wow. Kamu kasar sekali, Nona manis.” Drakula melangkah tetap dengan pelan tapi sebenarnya cukup cepat sampai dengan mudah badanku terdorong sampai menabrak dinding. Leherku dicengkeram kuat, membuatku kesulitan bernapas.
“Johnson, ehm. Atau kamu mempelajari ilmu mereka seperti anak perempuan itu?” Drakula semakin mempererat tangannya, membuatku semakin sulit bernapas.
Dengan susah payah, aku mengerahkan tenaga ke tangan. Menggunakan cakra adalah pilihan tepat karena susah napas membuat semua ajianku yang seharusnya sudah ku hapal di luar kepala, menjadi hilang.
Cakra sempat terbentuk tapi kembali menghilang. Napasku tinggal satu-satu, bisa mati kalo gak bisa lepas darinya. Aku mencekal dua lengannya, aku kerahkan seluruh tenaga ke kedua telapak tangan.
Tiba-tiba tanganku menyala, berwarna kuning terang. Membuat drakula menjerit kesakitan, ia melepas kedua tangannya dan membuatku merosot di atas lantai.
“Sialan kamu!” Drakula masih membungkuk sambil mengusap kedua pergelangan tangannya.
Aku terbatuk, rasanya lega sekali bisa menarik napas dalam-dalam. Aku berdiri, memandang drakula dengan tatapan sengit. Makhluk satu ini gak bisa ku ampuni. Lebih baik aku membuatnya masuk ke dalam handphone atau aku musnahkan saja.
“Apa kamu berubah pikiran?” Drakula masih memiliki rasa kepercayaan diri yang begitu besar rupanya.
“MIMPI SAJA!” Dengan cepat, aku membuat cakra seukuran bola pingpong di kedua tangan. Aku menyerangnya dengan membabi buta.
Drakula menutup badannya dengan jubah panjang khas drakula yang ada di TV-TV. Ku rasa pelindung badannya adalah jubah itu. Aku harus melempar cakra di tempat yang gak tertutup jubah. Aku meneliti badannya dari kepala sampai kaki. Kedua sepatunya masih terlihat, gak ada salahnya kalo aku melempar cakra di kakinya.
Benar saja, sepatu itu hangus terbakar setelah aku melempar cakra sebesar bola pingpong di kedua kakinya. Drakula menjerit, “hot! Hot! Hot!” Ia terus berteriak sambil berjingkat, menahan kedua kakinya yang masih mengeluarkan asap.
Aku gak menunggu lagi. Dengan sebuah cakra seukuran bola pingpong, aku melemparnya tepat di wajah sok gantengnya. Mukanya menjadi hitam gosong dan mengeluarkan asap. Rambut coklatnya seketika berdiri dan berubah menjadi hitam, mengeluarkan asap seperti dengan wajahnya.
“YOU!” Kedua mata drakula melotot, ia kelihatan sangat marah. Ia berjalan cepat mendekatiku, tapi aku gak tinggal diam. Aku kembali menghujaninya dengan cakra kecil sampai akhirnya ia menyerah. Badannya terjengkang, ia mengangkat kedua tangan. “You win! You win!” Ia merogoh kantong celana. Mengambil sebuah kaca kecil dari dalamnya, memerhatikan wajah gosongnya sambil berderai air mata. “Oh no! Kamu merusak kegantenganku.” Drakula gaje itu mendengus.
“Dimana kunci itu?” Aku ingin segera keluar dari tempat ini.
Drakula merogoh saku celana, ia mengeluarkan sebuah kunci dari dalam kantong celananya. Tanpa menunggu lama, aku merebut kunci itu dan segera membuka pintu. Keluar dari gedung dengan sekumpulan setan super aneh.
Steve tertawa lebar, Rascal mengangkat dua jempolnya, Pak Subagyo tersenyum dan beberapa tim demon hunter ikut senang melihatku tapi ada juga beberapa tim demon hunter yang gak suka denganku. Terutama Sonya. Ia memperlihatkan kekecewaannya karena aku sudah menang dengan cara sangat mudah.
“Bagus sekali, Bunga. Bapak tahu kemampuanmu tidak diragukan lagi.” Pak Subagyo menepuk pundakku. Ia tertawa puas.
“Great job, Honey!” Steve mendekat, merangkul pundakku dan mengguncangnya dengan keras.
“Not bad....” Rascal mengedikkan bahu. Tapi aku tahu dia juga senang.
Aku memandang Sonya, gadis itu masih berdiri di dekat pilar gedung ini. Memandangku dengan tatapan sengit dan menantang. Aku mendekatinya, berdiri dengan dua tangan dilipat. Memandangnya dengan senyum penuh kemenangan.
“Nikmati saja kemenanganmu sekarang. Kita lihat saja nanti!” Sonya memutar badan, ia meninggalkanku dengan langkah lebar dan keras.
Aku tertawa geli, gadis itu benar-benar punya kepala sekeras batu. Dunia sudah tahu hubungan Steve dan Bunga gak akan bisa digoyahkan angin dan badai. Eh dia tetap saja berharap bisa menempati kedudukanku dalam hati Steve. “Enak Saja!”
***
Pa Subagyo memberiku waktu beristirahat sebelum aku harus mengikuti ujian kedua. Duel dengan setiap pemimpin tim demon hunter. Pak Subagyo sudah mengatakan kalo tim alpha yang sekarang adalah tiga pemimpin yang dijadikan dalam satu tim. Jadi wangat wajar kalo aku harus melawan ketua-ketua tim. Yang paling gak menyenangkan adalah aku gak boleh memakai cakra. Karena di demon hunter hanya keluarga Johnson dan Sonya yang gak punya hubungan darah yang memiliki kemampuan mengeluarkan cakra. Menggunakan cakra itu sebagai senjata dalam melawan setan yang sudah melanggar undang-undang dasar perhantuan yang ditulis oleh Peter Johnson, kakek buyutku.
Tapi kok bisa Sonya mempelajarinya?
Aku ada di dalam ruangan tim alpha. Duduk selonjoran di sofa panjang. Memikirkan cara Sonya mendapatkan kekuatannya.
“Kamu kenapa, Hon? Apa perlu pijat plus-plus?” Aku melirik Steve. Ia duduk di kursi berseberangan denganku.
“Ck....” Aku hanya mendecak, mau marah tapi gak jadi. Malas meladeni Steve karena ujung-ujungnya Cuma membuatku ingin menjitak kepalanya.
“Mantan pacarmu itu. Bagaimana caranya bisa menggunakan cakra?” Aku agak keterlaluan dengan menyebut Sonya sebagai mantan pacar. Tapi kata itu keluar begitu saja di kepala.
Steve mengangkat kedua alisnya, ia tertawa geli. “Aku tahu kamu mencintaiku, Hon. Tapi aku baru tahu kamu benar-benar sangat mencintaiku.” Steve kembali tertawa, kali ini sampai memegang kedua perutnya.
“Jadi kenapa?” Aku berusaha mengembalikan suasana. Sepertinya kecemburuanku membuatku mengeluarkan kata ‘mantan pacar’. Tapi memang benar kan kalo Sonya mantan pacar Steve?
“Uncle Robert memberinya sedikit kekuatan saat ... keluarga Sonya menjadi korban arwah gentayangan yang sedang menuntut balas,”
“Arwah penasaran?” Aku mengernyitkan dahi. Jadi Sonya mengalami hal semacam itu sewaktu dia masih kecil.
“Ayah Sonya pernah membunuh seseorang. Arwah orang itu tidak terima lalu balas dendam. Membunuh ayah dan ibu Sonya. Tidak ada yang bisa dilakukan Uncle Robert saat itu selain memberikan perlindungan kepada Sonya. Karena merasa kasihan ke Sonya yang harus kehilangan kedua orangtuanya saat masih bayi. Dengan sedikit kekuatan itu dan keseriusan Sonya. Akhirnya gadis itu bisa menguasai ilmu menggunakan cakra.” Steve berdiri, ia berjalan memutari meja untuk mendekatiku.
Steve duduk di kursi panjang, berbagi tempat denganku. Ia menggenggam kedua tanganku, menciumnya beberapa lama sampai aku merasa geli dan .... “Hentikan Steve!” Aku jadi gerah sekali.
“Aku senang kamu mengatakan soal perasaanmu, Hon. Aku memang pernah meragukannya tapi sekarang aku yakin kamu benar-benar mencintaiku.” Steve mencium keningku, ia membelai wajahku dengan sangat lembut.
“Kamu ini ngomong apa? Sekalipun aku sering marah. Itu karena aku sayang sama kamu Steve. Aku ini cinta mati sama kamu. Makanya aku suka marah-marah.” Aku tertawa, mana ada orang cinta tapi hobi marah-marah selain aku?
“Jadi kemarahanmu itu karena kamu ... cinta aku?” Aku mengangguk, maafkan aku soal ini Steve. Tapi mungkin perasaan cintaku muncul karena aku selalu gemas denganmu.
“Honey. Jika begitu. Marahlah setiap hari!” Steve mungkin sedang mabok saat ini. Mabok cinta.
“Dengan senang hati, Steve.” Angin segar kalo aku diijinin marah-marah melulu. Tapi aku gak akan sering-sering marah, entar kalo keriputku muncul, bisa pusing kepalaku.
Steve menyentuh bibirku, membuat pikiranku semakin kacau karenanya. Meskipun ini bukan yang pertama tapi tetap saja kalo sedang ada rasa, jantungku jadi berdetak kencang sekali.
“Steve. Hentikan! Kita di kantor ini.” Aku mencekal lengan Steve, menahannya biar gak bertindak lebih jauh.
“Just one kiss. Honey!” Steve menunduk, mendekatkan kepalanya dengan kepalaku.
Dibuai bau khas Steve, aku membuka kedua tangan. Menerimanya dan memeluknya erat. Pesona Steve memang tiada dua. Ciumannya benar-benar mengacaukan duniaku. Karena sudah sering menikmati lebih. Steve sudah melakukan kebiasaannya, membuatku semakin tersesat dan gak bisa mikir kecuali. “Steve....” Hanya nama itu yang keluar dari bibirku. Satu sisi hatiku meminta berhenti, mengingatkan aku kalo aku ada di dalam kantor. Tapi sisi lainnya meminta lebih, meminta lebih, meminta lebih. Oh Steve, dahsyatnya.
“Oh Man. Kalian gila!” Suara Rascal menghentikan kegiatan kami. Steve menyapu bibirku yang bengkak karena ciumannya.
Aku langsung bangkit, menunduk malu karena lagi-lagi aku dan Steve. Tertangkap basah sedang in the hoy.