Duel

1631 Kata
Berjalan keluar dari gedung demon hunter, kepalaku tertunduk. Malu setengah mati kepada Rascal, ia sudah menangkap basah aku dan Steve sedang ciuman gila-gilaan. Aku menepuk kedua pipi, meredam rasa panas yang sedari tadi serasa membakar. “Daripada memikirkan soal tadi. Pikirkan soal pertempuranmu dengan mereka!” Rascal menunjuk ke arah sekumpulan orang dimana beberapa dari mereka sudah memakai seragam kaos berwarna oranye dan celana berwarna oranye lebih tua. Seragam bertuliskan dua huruf D dan H. Yang artinya demon hunter di d**a kiri dan di bagian punggung tertulis POLIKHUSTRAL. Tapi tetap saja, adegan memalukan itu pasti membekas di pikiranku. Hadew, kenapa perasaanku lebih kuat dari pikiranku sih? Oh ya, karena aku perempuan ya. Aduh, Steve. Gara-gara kamu ini. Steve merangkul pundakku, mengguncangnya pelan. Mengembalikan semangatku yang luntur karena perasaan malu. “Nanti kita lanjut lagi. Jangan kecewa ya!” Alamak, Steve membuatku meliriknya sebal. Aku mendengus, bukan itu maksudku. Aku semakin menunduk, gabungan malu dan sebal yang menjadi satu. Aku menepis Steve, melangkah lebih cepat menuju tempat dimana aku dan para ketua tim demon hunter bertarung. Pertarungan diadakan di halaman kantor. Mereka sudah membuat garis pembatas, ada rak berisi pedang, godam, tombak bahkan anak panah, semuanya semuanya terbuat dari kayu. Beruntung hari sudah sore jadi matahari sudah gak terlalu terik. Pak Subagyo berdiri di tengah garis pembatas, memandangku dengan senyum merekah. Ia juga memakai seragam yang sama dengan para pemimpin tim demon hunter. Dengan gerakan tangan, ia meminta semua pemimpin tim demon hunter yang akan bertarung untuk berdiri di hadapannya. “Peraturan pertarungan ini sangat mudah. Siapapun yang terkena pukulan sebanyak tiga kali maka akan dinyatakan kalah. Siapapun yang keluar dari garis, dinyatakan kalah. Atau jika kalian menyerah, maka sudah pasti kalah. Kalian mengerti?” tanya Pak Subagyo. “YA,” jawab kami serentak. “Bunga. Silahkan maju!” Aku mendekati Pak Subagyo, berdiri di depan ketua tim di demon hunter. Mereka mengenalkan diri mereka satu persatu. Ada Yanto, Handoko, Rafi, Lukas dan Sonya. Setelah menjabat tangan Yanto, Handoko dan Rafi. Lukas yang gak lain sepupu Steve menjabat tanganku erat. Ia menepuk pundakku pelan, memberiku semangat dan gak perlu segan-segan sewaktu melawannya. Tapi sewaktu berhadapan dengan Sonya, aku gak bisa menyembunyikan seringai, aku benar-benar bersemangat untuk mengalahkannya. Saat yang dinanti tiba. Aku berdiri di tengah garis berhadapan dengan Yanto. Cowok berperawakan kurus tapi terlihat lincah ini menatapku dengan mata sipitnya. Dia bergerak ala seorang petinju, dia jadi seperti aktor kawakan Bruce Lee, hanya saja dia berkulit sawo matang. “Bersiap ... mulai.” Pak Subagyo sudah memberi aba-aba. Aku dan Yanto menunduk, saling memberi penghormatan. Yanto tanpa membuang waktu langsung menyerangku. Aku menghindar ke sisi kanan tapi gak tahunya satu kakinya menendangku dengan kuat, membuatku jatuh berlutut. Teman-teman lain yang jadi penonton berteriak, memberi kami berdua semangat. Aku menoleh ke arah Steve, ia mengepalkan satu tangan dan memberiku suntikan semangat. Aku tersenyum kepadanya, aku senang karena ada orang yang memberiku semangat. “Honey. Wacth out!” Aku menoleh ke arah Yanto. Ia sudah melayangkan tinju. Aku langsung merebut satu kakinya, menariknya sampai dia terjatuh. Aku menggunakan kaki Yanto sebagai bantuan untuk berdiri. Aku gak membuang kesempatan dengan sia-sia. Ku tarik kakinya dan melemparnya kuat-kuat sampai keluar dari garis. Aku menang dengan satu kali serangan. Sungguh memuaskan. Kasak kusuk para penonton saling berbisik hampir terdengar. Tatapan mereka tertuju kepadaku. Sebuah celetukan muncul, “seni bela diri apa itu?” kata seorang cewek berambut keriting sebahu. “Saat melawan demon. Bukankah yang terpenting kita bisa menangkap mereka? Tidak peduli jurus apa yang dipakai?” Rascal melirik gadis itu, membuatnya diam sambil menunduk. “Jurus apapun sah-sah saja. Peraturannya hanya tiga tadi,” imbuh Pak Subagyo. Pertarungan kedua, aku melawan Handoko. Badan Handoko pendek tapi lumayan besar. Ia sudah bersiap dengan kuda-kuda sempurna. Ia menunggu untuk diserang, ku rasa dia punya taktik lebih hebat ketimbang Yanto. Sewaktu aku melayangkan pukulan, Handoko menghindar dan malah memukul punggungku. Membuatku terjungkal dan hampir saja keluar garis. Aku merasakan Handoko akan menyerangku, aku pun menghindar dengan berlari ke tengah arena. Handoko sekalipun badannya kelihatan besar tapi dia punya ketangkasan yang cukup membuatku kerepotan. Dia memiliki serangan cepat, membuatku harus bisa menangkisnya sama cepat dengan serangannya. Aku sampai terengah-engah, lumayan capek meladeninya. Handoko mengepalkan dua tangan, meninjuku secara beruntun. Aku menangkis serangannya dengan dua tangan, menggunakan kepala sebagai senjata, membenturkannya ke kepala Handoko. Memutar badan dan menendangnya dengan sekuat tenaga, sampai dia terjatuh telentang. Aku mendekatinya, berlutut di depannya dan meninju mukanya sebanyak tiga kali dengan pukulan ringan. Pak Subagyo ke tengah arena, menarikku sampai berdiri dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Selanjutnya aku melawan Rafi. Bocah itu belum-belum sudah mengangkat dua tangannya. Ia menyerah sebelum melakukan perlawanan. Sorak ‘hu....’ membuat Rafi terkekeh sambil garuk-garuk kepala belakang. Ia mendekatiku, mendekatkan bibirnya dengan telingaku. “Aku lebih suka kamu ada di tim alpha daripada Sonya.” Aku membelalakkan mata. “Harusnya kamu tetap duel denganku. Kamu tetap kalah melawanku.” Rafi mengedikkan bahu, ia keluar dari arena dengan langkah santai. Lukas tanpa membuang waktu langsung ke tengah arena. Seringai muncul di sudut bibirnya. Bocah dengan perawakan khas Johnson, tinggi besar membuatku mengerdil. Padahal aku gak pendek-pendek amat. Setelah saling melakukan penghormatan, Lukas menggunakan jari telunjuk mengkodeku untuk menyerangnya. Aku berteriak, melakukan serangan bertubi-tubi tapi badan Lukas lumayan lentur, dengan mudah ia menghindariku. “Hanya segini kemampuanmu?” Lukas merendahkanku, membuat amarahku bangkit. Aku melakukan serangan pukulan dan tendangan berkali-kali tapi gak ada satu pun yang mengenainya. Sewaktu aku dipenuhi keinginan untuk menyerang, Lukas dengan mudah melakukan satu pukulan ringan di wajahku. Semua berseru tapi senyum merekah malah terlihat di wajah mereka. Sepertinya mereka senang karena aku kena pukulan Lukas. Aku memandang jajaran senjata yang ada di dekatku. Gak mikir panjang, aku mengambil dua pedang. Aku berlari ke arah Lukas, menggunakan pedang itu sebagai senjata ampuh melawannya. Lukas masih dengan tangan kosong tapi dengan seranganku sekarang, Lukas terus saja mundur, mendekati garis batas, ia menyamping. Aku menggunakan jurus meringankan badan, jurus yang aku pelajari dari buku kungfu yang pernah ku beli. Lukas menangkap satu pedang menariknya kuat-kuat, membuatku melepas pedang itu karena kalo tidak, aku yakin dengan mudah akan jatuh keluar dari garis. Tetapi aku gak membuang kesempatan, saat Lukas menarik pedang itu. Aku ikut mendekatinya, dengan satu pukulan kuat, aku memukul dadanya, membuat badannya terdorong dan akhirnya jatuh dengan pinggang berada di garis. “Bunga menang kan?” Steve mendekat, memandang Lukas yang masih telentang. Pak Subagyo mengukur badan Lukas, membandingkan mana yang lebih panjang. Badan yang berada di dalam garis atau yang ada di luar garis. “Bunga, menang.” Aku tertawa puas, Lukas kalah dariku. Aku mengulurkan tangan, ingin menarik Lukas tapi bocah itu malah menarikku. Aku hampir terjungkal ke badannya kalo bukan Steve yang menahan pinggangku. “Kamu punya urusan denganku, Lukas.” Steve melotot, Lukas tertawa terbahak-bahak. Saudara Steve memang suka sekali jahil. Sebelum melawan Sonya, Pak Subagyo memberiku waktu untuk beristirahat. Aku duduk di teras kantor, meneguk sebotol air mineral sambil duduk santai bersama Steve, Rascal dan Lukas. “Kamu keren sekali, Bunga. Aku bisa saja membuatmu kalah tapi aku yakin kamu bukan orang yang mudah menyerah.” Lukas membuatku senang. “Jika Steve memilihnya menjadi istri. Sudah pasti karena masalah ini. Tidak mudah menghadapi dua orang dalam....” Rascal menghentikan ucapannya, Steve melotot sambil menunjuk matanya dengan dua jari ke arah Rascal. “Lawanmu kali ini tidak mudah, Hon. Sonya tidak akan mudah menyerah.” Steve mengusap dahiku yang berkeringat. “Apa aku kelihatan mudah menyerah? Selama ini kamu kan lihat sendiri bagaimana aku.” Aku melotot, kenapa Steve tahu banget soal Sonya ketimbang aku. “Sonya bisa jadi ketua hanya karena dia anggota Johnson. Aku yakin kamu menang dengan mudah, Bunga.” Lukas terlihat sangat meyakinkan. Tapi ucapan Lukas membuat Steve melotot, suamiku kembali cemburu. “Aku yakin kamu menang. Honey, aku bangga padamu.” Aku tersenyum, puas mendengar ucapannya. Aku berdiri, waktu istirahat sudah selesai. Aku bersiap untuk mengalahkan Sonya. Gadis itu harus diberi pelajaran. Aku gak akan segan-segan lagi. Akan ku kerahkan semua kemampuan dan semua tenagaku melawannya. Berdiri di tengah arena, memandang Sonya yang sedang tersenyum meremehkan. Aku gak sabar untuk membuatnya kalah dengan mudah. Sonya menyerang, seperti yang sudah-sudah. Dia menyerangku dengan cepat. Mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyerangku. Aku menangkis, menunduk dan menghindar. Masih terlalu dini untuk melawan gadis itu. Tapi sayangnya, ia mengecohku. Seolah-olah dia mau memukulku, gak tahunya dia malah menendangku. Membuat wajahku panas kena tendangannya. Membuat poin berubah satu untuk Sonya dan kosong untukku. Sonya tersenyum puas, tapi permainan baru saja berlangsung. Kali ini aku melayangkan pukulan, cepat dan bertubi-tubi. Membuat badan Sonya mundur terus menerus, tanpa bisa balik melawanku. Aku mungkin perempuan tapi tenagaku gak ubahnya seorang laki-laki. Melawan Sonya bukan masalah besar dan saat kaki Sonya menyentuh garis. Aku ingin memperlama permainan ini. Sonya masih menyembunyikan wajahnya tapi satu pukulan saja yang ku butuhkan untuk menyamakan kedudukan. Aku menjitak kepalanya, tertawa meledek bocah yang sudah berani melawanku secara terang-terangan. Sonya menjadi sangat marah, ia menggunakan cakranya. Membuatku terlempar keluar dari arena, jatuh di atas paving dengan keras. Membuat pantatku panas, sepanas d**a yang terkena lemparan cakranya. Sonya masih sangat marah, ia mau mendekatiku tapi Rascal dan Lukas menghadang. Seharusnya pertempuran ini menjadi sesuatu yang seru tapi kemarahan Sonya merubah suasana. Sonya masih ingin menyerangku, Rascal menahan badan Sonya, mencengkeram pundak gadis itu dan mendorongnya menjauh. “Sonya di diskualifikasi karena menggunakan cakra untuk melawan Bunga. Jadi pemenangnya adalah ... Bunga.” Pak Subagyo memintaku ke tengah arena. “Ini tidak adil. Dia bisa menggunakan cakranya untuk melawanku.” Sonya kembali meronta, berusaha menyerangku. “Sudah-sudah. Sekarang, kerjakan tugas kalian!” Pak Subagyo meminta semua bubar tapi meminta tim alpha mendekatinya. “Ada tugas baru untuk kalian bertiga. Sekarang kalian siap-siap! Besok kalian harus ke Desa Tawangsari. Selidiki kasus hilangnya beberapa anak-anak yang katanya karena diculik andong pocong,” kata Pak Subagyo. Jiah kenapa pocong lagi sih....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN