Situasi Dilematis

1589 Kata
Badanku remuk, capek setengah mati. Bekerja di demon hunter membuatku hanya punya sedikit waktu untuk beristirahat. Tugas demi tugas datang, selesai satu misi akan ada misi lain yang harus diselesaikan. Masalah ini membuat Mommy memintaku keluar dari demon hunter agar bisa konsen punya anak. Akhirnya, setelah menikah selama berbulan-bulan. Mommy dan Daddy sepakat memintaku mengundurkan diri dari demon hunter. Padahal aku masih ingin terus bekerja sampai aku benar-benar siap jadi ibu rumah tangga. Duduk di ruang keluarga bersama Mommy, Daddy dan Steve. Aku hanya bisa menunduk, tiga orang ini setuju untuk membuatku keluar dari demon hunter. Dua tanganku bertaut, aku mengikir kuku jempol kiri dengan jempol kanan. Aku menggigit bibir, ingin marah, ingin menangis tapi aku gak bisa berbuat apa-apa selain diam. “Kalian sudah menikah hampir empat bulan. Buku nikah juga sudah ada. Tapi Mommy melihat kalian tidak seperti layaknya suami istri. Mommy khawatir, kalian terlena dengan kehidupan keras di demon hunter. Terutama denganmu, Bunga. Mommy selalu saja khawatir saat kamu bertugas. Mommy sulit tidur membayangkan seorang perempuan sepertimu mengadu nyawa untuk memberantas demon.” Mommy sepertinya ingin cepat punya cucu. “Daddy tidak masalah kamu kerja. Tapi demon hunter bukan pekerjaan tepat untuk seorang istri. Terlalu berbahaya. Bunga, tawaran Daddy untuk menguliahkanmu masih terbuka. Kamu bisa mengambil jurusan sekretaris dan bisa menjadi sekretaris Daddy nanti.” Daddy memandangku dengan tatapan teduh, tapi aku gak enak sama Daddy lagipula aku sudah gak punya keinginan untuk kuliah. “Atau kita buat usaha bersama. Mommy ingin membuka toko florist di Surabaya. Kita bisa pindah kesana. Kantor Steve kan ada disana.” Selama ini aku dan Steve memang harus melakukan perjalanan jarak jauh yang melelahkan untuk ke kantor. Tapi toh kami gak setiap hari ngantor, kesana juga hanya sebentar jadi gak ada masalah soal itu. Aduh, aku pusing ini. Di satu sisi aku ingin menuruti keinginan mereka tapi di sisi lain aku ingin terus jadi demon hunter. Rasanya menyenangkan kalo bisa melakukan aksi plus dapat bayaran untuk pekerjaan menantang itu. “Honey. Aku tahu keinginanmu. Tapi Mommy dan Daddy benar. Sekarang atau nanti, kamu tetap harus keluar dari demon hunter. Kamu tidak berpikir tetap kerja jika kamu hamil nanti kan?” Steve meremas tanganku. Aku diam, mau menyanggah tapi ucapan Steve, Mommy dan Daddy benar. Mau menurut tapi keinginanku untuk terus di demon hunter, masih sangat kuat. Daddy mengembuskan napas, ia menepuk sandaran kursi, memandang Mommy sekilas sebelum kembali memandangku. “Dulu Mommy juga bekerja di demon hunter. Tapi Daddy memintanya keluar setelah kami menikah. Para perempuan Johnson tidak ada yang bekerja. Kami para lelaki Johnson ingin para perempuan di rumah, mengasuh anak-anak tanpa bantuan nanny ... pengasuh.” Aku mengerti apa yang dikatakan Daddy.  Para perempuan Johnson selain aku dan Sonya. Gak ada yang kerja. Meski mereka memiliki kemampuan, mereka menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak-anak mereka. Tapi tetap saja ini sulit untukku. “Pikirkan saja! Jangan terbawa emosi. Kami tidak bermaksud membuatmu keluar dari pekerjaan yang kamu sukai. Hanya saja....” Mommy gak melanjutkan ucapannya, tapi aku sangat mengerti apa maksudnya. “Iya Mom. Bunga mengerti.” Aku berdiri, melangkah keluar ruang keluarga dengan langkah lemah. Kepalaku tiba-tiba terasa berat, aku gak mengira hal seperti ini akan terjadi. Aku harus bagaimana ini? Aku gak mungkin kan menolak keinginan mereka. Mommy dan Daddy sudah menerimaku sebagai anggota keluarga, menyayangiku dengan sangat tulus. Aku menarik napas panjang, saat ini aku gak bisa berpikir apa-apa. *** Sudah beberapa minggu aku gak mengunjungi Ki Mengkis. Aku terlalu sibuk bekerja sampai lupa mengunjunginya. Dengan membawa sekeresek buah-buahan, aku datang ke rumahnya. Biasanya rumah Ki Mengkis di sore hari sangat ramai tapi hari ini Ki Mengkis gak praktek. Aku mengetuk pintu beberapa kali tapi Ki Mengkis gak muncul-muncul juga. Aku memutar kenop pintu, rumah gak dikunci berarti Ki Mengkis ada di rumah. Gak pake permisi, aku langsung masuk ke dalam. “Ki Mengkis. Bunga ini.” Aku memanggilnya sambil menuju ke dapur. Siapa tahu orangnya sedang makan atau mungkin juga sedang berlatih di belakang. Tapi Ki Mengkis gak ada di belakang, apa mungkin Ki Mengkis sedang tidur? Tapi gak biasanya Ki Mengkis tidur di jam segini. “Kamu ngapain kesini Bunga?” Ki Mengkis keluar dari kamarnya. “Sudah lama saya gak main kesini. Saya kangen sama Ki Mengkis.” Aku tersenyum lebar, mengulurkan kresek buah-buahan kepadanya. Ki Mengkis menerima buah dariku lalu meletakkannya ke meja. Ia duduk di tepi meja makan, mengurut dahi yang ditempeli koyo. “Ki Mengkis sakit apa? Ayo saya antar ke Daddy. Biar diperiksa.” “Aku Cuma masuk angin biasa. Besok juga sembuh. Bagaimana keadaanmu. Suamimu dimana?” “Saya baik-baik saja. Steve tadi ada keperluan. Bentar lagi juga dia datang. Ki Mengkis, ternyata saya ini masih turunan Johnson. Apa Ki Mengkis percaya? Aku saja masih sulit percaya.” Aku bercerita penuh semangat, Ki Mengkis hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk. “Baguslah. Oh ya, gimana pekerjaanmu? Harusnya kamu terima tawaran orangtua Steve untuk menguliahkanmu. Kamu bisa jadi orang gede (sukses) kalo kamu kuliah. Kenapa kamu malah jadi tukang nguber setan.” Ki Mengkis menyandarkan badannya di kursi, memandangku saksama. “Sudah takdir saya. Mau gimana lagi.” Aku menghela napas berat. “Takdir itu rahasia. Hanya karena kamu keturunan Johnson, bukan berarti kamu ditakdirkan menjadi pemburu setan. Lagian gak ada perempuan di keluarga Johnson yang berkeluarga terus jadi pemburu setan. Sebaiknya kamu keluar saja!” Nahlo, kenapa Ki Mengkis jadi ikut-ikutan memintaku keluar dari demon hunter. “Tapi Ki, saya masih betah jadi demon hunter. Ilmu saya sangat bermanfaat loh, Ki. Terutama ilmu yang saya pelajari dari Ki Mengkis.” “Ilmumu bisa kamu turunkan ke anakmu nanti. Seperti yang dilakukan ayahmu dulu. Apa kamu gak ingin punya anak?” Ya ampun, kayaknya Ki Mengkis ingin punya cucu, sama seperti Mommy. Meski aku gak KB tapi aku harap aku gak cepat hamil. Aku masih terlalu muda untuk punya anak. Inginnya sih nanti kalo sudah umur dua puluh. Tapi karena gak KB ya musti siap-siap. “Ya ingin, Ki....” “Nah makanya itu. Harusnya kamu di rumah, banyak istirahat biar cepet jadi.” Ki Mengkis memotong ucapanku. “Saya pikir-pikir dulu, Ki.” “Apanya yang dipikir? Kalo kamu kuliah, nanti bisa kerja sama Daddy-mu atau sama Mommy-mu. Katanya dia mau buka toko ploris. Emboh opo iku (Entah apa itu).” “Florist, Ki. Toko bunga.” “Iya itu maksudku. Sudah kamu gak usah banyak mikir. Mumpung masih muda, buat anak yang banyak. Jangan seperti aku, dulu nunda-nunda eh malah kebablasan sampai Nyaimu gak ada.” “Saya sudah bicara sama dia, Ki. Tapi Bunga susah menurut.” Steve datang, ia segera menarik kursi di sebelah Ki Mengkis dan duduk disana. Aku melotot, Steve pasti senang karena semua memihaknya. Dari awal kan dia melarangku jadi demon hunter. “Bunga. Jangan begitu sama suamimu!” Ki Mengkis pasti tahu apa yang ada dalam hatiku. Dia kan dukun pintar. Aku menunduk, malas memikirkan masalah ini. Kepalaku buntu rasanya, gak bisa mikir apa-apa. “Ya sudah. Sementara kamu jalani dulu apa maumu. Tapi kamu jangan lupa kodratmu. Kamu ini istri. Tugasmu melayani suami. Toh ya suamimu gak memintamu kerja. Harusnya kamu bersyukur,” kata Ki Mengkis. “Iya Ki. Nanti saya juga bakal mundur. Tapi untuk sekarang, biarkan saya melakukan apa yang saya inginkan. Paling tidak, sampai benar-benar hamil nanti,” ucapku. “Ada orang datang mencari kalian. Pergilah! Aku mau tidur.” Ki Mengkis berdiri tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam kamar. Membuatku melongo. Aku kembali memandang Steve, aku yakin ia mau melarangku berangkat. Tapi aku gak akan mau menurut sama Steve. Ini hidupku, aku yang sangat tahu apa yang aku inginkan. Steve menghela napas panjang, dua tangannya berada di atas meja. Pandangannya lurus kepadaku, ia tersenyum lalu wajahnya datar. Beberapa kali air mukanya berubah. Aku jadi ingat soal pembicaraan Rascal waktu di kereta api. “Steve. Ehm, apa kamu baik-baik saja?” Aku mau bertanya tapi masih bingung caranya. “Aku? Apa kamu mengkhawatirkanku? Tapi aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir.” Steve terkekeh, ia garuk belakang kepalanya. “Pokoknya kalo kamu melarang-larangku. Awas kamu!” Mengancam Steve adalah jalan yang paling gampang. Kalo ngomong baik-baik, belum tentu dia mau dengar. Steve mengangkat kedua tangan, ia tersenyum sambil berdiri. “Seperti yang Ki Mengkis katakan. Kamu bisa berpikir sambil tetap bekerja. Tapi ku harap kamu mau keluar dari demon hunter dan memberiku anak yang banyak.” Steve tertawa lebar. Meski begitu, gejala keanehan Steve justru semakin terlihat. Steve bukan orang yang sedewasa itu saat berbicara. Aku menyentuh dahi Steve, siapa tahu dia sedang demam. Tapi badannya gak panas, aku jadi geleng-geleng membuyarkan soal alasan kenapa Steve bisa memiliki dua karakter berbeda. “Kenapa?” Steve mengulurkan tangan, mengajakku berdiri. “Gak papa. Kapan kita berangkat?” Aku mencoba mengalihkan perhatian. “Rascal pasti menunggu kita di depan. Aku tadi sudah mengatakan kalau kita ke rumah Ki Mengkis dahulu.” Aku mendekati kamar Ki Mengkis, “Ki, aku pulang dulu! Nanti aku minta Daddy biar kesini, meriksa Ki Mengkis.” “Sana pergi! Hati-hati! Gak usah manggil Daddy-mu. Aku hanya butuh istirahat,” teriak Ki Mengkis. Begitulah Ki Mengkis, selalu cuek sama kesehatannya. Tapi aku gak bisa memaksanya, nanti saja aku kembali kesini untuk menjenguknya. *** Seperti kata Ki Mengkis, di depan rumahnya ada seseorang yang sedang menunggu kami berdua. Ia melambaikan tangan, berdiri di depan mobil van hitamnya. Rascal sudah siap melaksanakan misi kami, misi-misi terakhir sebelum aku meninggalkan demon hunter demi menjalani kehidupan yang normal. Menjadi istri dan ibu rumah tangga. Meski masih terasa berat, tapi aku harus mulai bersiap diri untuk menjadi seorang Nyonya Steve Johnson.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN