Aku, Steve dan Rascal berada di Desa Tawangsari. Kami berada di halaman rumah Pak Kades yang cukup luas. Beberapa wanita sedang sibuk berebutan batang pohon bambu kuning, mereka membawa pisau untuk memotong bambu kuning itu.
Melihatnya saja aku merasa ngeri, takut kalo mereka tiba-tiba menggunakan pisau itu untuk melukai. Hanya karena batang pohon bambu kuning, mereka seperti rebutan duit saweran.
Seorang pria berbadan tegap, berusia setengah baya, berkulit sawo matang, mendekati kami. Ia memandang ibu-ibu sejenak, menghela napas panjang. Sepertinya pria ini juga sepertiku, takut kalo mereka tiba-tiba kalap dan menusuk temannya.
“Enggak perlu rebutan! Kalo kurang, di belakang masih banyak.” Suara pria itu sontak membuat ibu-ibu memandang pria itu.
“Iya, Pak. Maaf.” Mereka mengangguk, akhirnya mereka memotong pohon bambu kuning secara bergantian.
Pria itu memandang kami saksama, “kalian petugas yang dikirim? Ayo masuk!” Pria itu mengajak kami ke rumahnya.
Melintasi ibu-ibu yang bukannya berkurang, malah bertambah lagi jumlahnya. Memotong bambu kuning lalu pergi dan berganti ibu lain yang melakukan hal serupa.
“Mereka sedang membuat gelang penangkal setan.” Keterangan masuk akal kenapa mereka sampai berebutan batang bambu kuning.
Sekali lagi aku memandang mereka, terlihat jelas kalo mereka sedang gelisah. Pasti sulit jadi ibu, selalu berusaha melindungi anak-anaknya. Apalagi saat tahu ada kejadian pembunuhan mengerikan ini. Gak kebayang deh kalo aku punya anak terus dihadapkan sama kejadian semacam ini. Mungkin aku akan menggunakan cakra untuk merebut batang pohon bambu kuning.
“Hon, ayo!” Steve membangunkanku dari lamunan. Aku melangkah, mengikuti Steve masuk ke dalam rumah pria yang gak lain adalah Kades desa ini.
Kami bertiga diajak masuk ke ruang tamu dengan kursi berbahan jati dengan ukiran bunga-bunga. Duduk di kursi, ku lihat pria itu duduk tegap dan kembali menghela napas berat. Ia memandang sebuah bingkai foto yang ada di rak, gambar seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.
Pria itu tersenyum, memandang kami satu persatu. “Aku Kades disini. Panggil saja Pak Damar.” Pak Kades memperkenalkan dirinya secara resmi, padahal tadi aku sudah tahu waktu ia berbicara dengan ibu-ibu.
“Mohon dimaklumi sikap warga saya tadi. Sungguh ini bukan kondisi yang menyenangkan,” keluh Pak Damar.
“Kami mengerti,” jawab Steve.
Seorang wanita memakai jilbab hijau datang dengan nampan berisi empat gelas es sirup berwarna merah. Ia meletakkan gelas ke depan kami satu-persatu lalu meletakkan nampan di bawah meja.
“Monggo!” Wanita itu mempersilahkan kami minum. Tapi gak ada satu pun dari kami bertiga yang mengambil minuman itu.
“Ini istri saya. Sulastri.” Pak Damar memperkenalkan istrinya. Seorang wanita berkulit kuning langsat dan berlesung pipit. Ia terlihat cantik saat senyum.
Wanita itu duduk di sebelah suaminya, ia juga memerhatikan kami satu persatu. Seorang anak kecil yang sama dengan di bingkai foto tiba-tiba berlari dan masuk ke dalam pangkuan ibunya. Ia hanya memakai kaos singlet berwarna putih dan celana dalam berwarna kuning, di pergelangan tangan kanannya terdapat gelang dari bambu kuning yang dipotong kecil-kecil, dironce menjadi sebuah gelang.
“Semua anak disini memakai gelang itu biar gak dimangsa andong pocong,” terang Bu Lastri.
“Apa andong pocong benar-benar ada? Maksud saya apakah ada orang yang pernah melihatnya?” Aku sangat penasaran dengan hal ini.
Aneh sekali kalo ada pocong yang mau menculik anak-anak terus membunuh dan mengambil organ dalam anak-anak itu. Maksudnya apa coba?
“Aku yakin kalian gak percaya begitu saja. Meski belum ada yang benar-benar melihat pocong andong itu ... tapi korban-korbannya benar-benar ada.” Pak Kades menarik tangan anaknya, meminta anak itu duduk di pangkuannya.
“Korban-korban? Maksud Bapak ada lebih dari satu korban?” Steve mengernyit.
“Sampai sekarang, sudah ada tiga korban. Satu korban kehilangan jantung, satu korban lagi kehilangan mata dan satu korban lagi kehilangan ginjal.” Wajah Pak Damar murung, ia memainkan jemari anaknya. Anak berambut kriting itu terlihat senang sekali. Tertawa cekikikan waktu tangan Pak Damar menggelitiki perutnya.
“Kapan kejadiannya?” tanya Steve.
Pak Kades memandang istrinya, ia tersenyum tipis kepada wanita bertubuh agak tambun itu. Melihat sikap keluarga ini, membuatku senang sekali. Aku juga ingin kelak menjadi keluarga harmonis seperti keluarga Daddy dan Mommy dan seperti keluarga yang ditunjukkan sama Pak Kades.
“Kejadian pertama sekitar satu bulan lalu. Kejadian kedua sekitar tiga minggu lalu dan kejadian ketiga sekitar seminggu yang lalu. Kalo benar dugaan saya, minggu ini bakal ada korban lain.” Bu Kades bergidik ngeri. Ia mengangkat anaknya dari Pak Damar dan mendekapnya. Terlihat jelas kalo orang ini sedang ketakutan.
“Desa ini jadi sangat mencekam. Ibu-ibu melarang anak-anak bermain diluar. Ke sekolah saja sekarang mereka dikawal. Padahal masih siang sementara kejadian itu terjadi malam sehabis maghrib. Tapi tetap saja mereka ketakutan.” Pak Kades menghela napas. Tatapannya kosong, dua tangannya mengepal, membuka, mengepal dan membuka berulang kali.
“Apakah ada yang Bapak curigai soal ini kecuali soal andong pocong? Tanya Steve.
Pak Damar menerawang, mengingat-ingat sesuatu. Ia mengangguk lalu menggeleng pelan. “Sepertinya gak ada. Awalnya saya kira hanya anak sulung yang diculik mengingat Rino dan Jeki anak sulung. Tapi Nabila anak kedua dari tiga bersaudara,” kata Pak Damar.
“Bisa jadi korbannya diambil secara acak.” Rascal mengulurkan tangan, mengambil sirup dan meneguknya sampai setengah gelas.
“Bagaimana ceritanya mereka sampai diculik, dibunuh dan diambil....” Aku gak bisa melanjutkan ucapan. Peristiwa yang berhubungan dengan korban anak-anak selalu membuat emosiku naik turun.
Pak Kades menceritakan kalo korban pertama saat itu pamit ke ibunya untuk bermain dengan tema-temannya di lapangan halaman balai desa. Tapi sampai jam sembilan malam, anak itu gak juga pulang. Akhirnya orangtuanya mencari sampai dua hari. Hari ketiga, anak itu ditemukan di semak-semak kebun warga dalam kondisi mengenaskan. Terbujur kaku di bawah pohon pisang, bertelanjang d**a dan ada lubang di d**a. Setelah diperiksa polisi, ternyata jantungnya hilang.
Korban kedua hilang saat pulang les dari rumah gurunya. Kejadiannya juga setelah maghrib. Saat itu hujan gerimis seharian, desa menjadi sepi. Orangtuanya melapor ke Pak RT selanjutnya ke Pak RW dan ke Pak Kades. Para warga bahu membahu mencari anak itu dan ternyata anak itu ditemukan gak bernyawa di tepi sungai.
Korban ketiga hilang saat bermain dengan teman-temannya di rumah salah satu warga. Sama seperti dua korban lainnya. Hanya saja korban ketiga ditemukan di tengah sawah.
“Apa mereka benar-benar korban pocong? Sangat tidak masuk akal.” Rascal mendengus, ia mengambil gelas dan meminumnya sampai habis.
“Memang sulit sekali dipercaya. Karena itulah polisi mengirim intel seperti anda untuk menyelidiki kasus ini. Yang pasti, terlepas benar tidaknya isu soal andong pocong. Penculikan sudah benar-benar meresahkan warga,” keluh Pak Kades.
Kedua alis mataku terangkat, gak menyangka kalo sekarang kami bertiga menyamar menjadi intel, agen rahasia. Pak Bagyo gak membahas soal ini sama sekali. Seandainya saja aku tahu, aku bakal potong rambut model bob biar bisa sama seperti para Polwan.
“Ngomong-ngomong. Apa mereka dari FBI atau CIA?” Pak Damar memandang Steve dan Rascal bergantian.
“FBI? CIA?” Apa itu? Aku gak ngerti sama sekali.
“Polisi Amerika.” Steve berbisik, ia tahu kalo aku gak ngerti soal itu.
Aku memandang mereka berdua. Dengan muka bule mereka, gak salah kalo Pak Damar berpikir mereka berdua adalah polisi dari Amerika. Aku hanya bisa tertawa gaje, bingung mau ngomong apa. Takut kalo salah malah dikasih pertanyaan lain.
***
Malam ini, kami bertiga akan melakukan penyelidikan kasus yang membuat sebuah desa sepi macam kuburan padahal masih jam setengah tujuh malam. Gak ada anak yang berkeliaran, gak ada orang di teras rumah mereka.
Hanya ada beberapa bapak-bapak asyik minum kopi di warung angkringan. Membahas soal andong pocong yang sedang ramai diperbincangkan.
Aku duduk di bangku panjang, memandang seorang pria memakai kemeja kotak-kotak berwarna putih, garis-garis coklat. Ia sedang meniup kopi hitam yang masih mengepul, menyesapnya sedikit lalu meletakkannya ke atas meja.
“Benar-benar gak masuk akal. Mana ada pocong membunuh orang. Buat apa?” Pertanyaan sama seperti yang ada di kepalaku, tapi toh belum tahu kebenarannya jadi masalah ini memang harus benar-benar diselidiki.
Seorang pria berkepala plontos, berkulit sawo matang, memakai kaos sepak bola luar negeri, memandang pria itu beberapa saat. “Tapi kenyataannya kan begitu. Aneh tapi nyata,”
“Apa kalian gak berpikir kalo pelakunya manusia? Bisa saja mereka pura-pura jadi pocong buat nakut-nakutin kalian,” tukasku.
Pria itu mengambil sepuntung rokok, mengapitnya di sudut bibir, menyalakan korek api dan membakar ujungnya. Pria itu menyesap asap rokok seperti sedang menyesap sesuatu yang enak sekali. Ia mengembuskan asap ke atas, membentuk bola asap seperti donat.
“Kamu ini gak tahu apa-apa. Anak muda jaman sekarang mana mengerti hal-hal seperti ini. Kalian anak muda selalu menyebutnya takhayul.” Pria itu mendesis, menyeruput kopi lalu kembali menghisap rokok.
Pria ini gak tahu siapa aku, orang yang paling percaya dengan hal-hal berbau takhayul. Aku meliriknya, pria itu pun juga sedang melirikku.
“Kalo benar dugaanku. Minggu ini akan ada korban baru.” Seorang pria berambut gondrong menyeletuk. Celetukan yang membuat semua orang-orang memandangnya sinis. “Aku benar kan?” Ya ampun, ini orang. Sekalipun benar, tetap saja ucapannya menyakitkan.
“Siapa yang jaga malam ini?” tanya seorang bapak memakai kemeja hijau.
“Jarot dan tuh, Udin dan ku dengar polisi mengirim intel mereka.” Pemilik warung angkringan memandang kami bertiga.
“Jangan berpikir kamilah intel yang dikirim. Kami ini hanya ... orang asing.” Rascal terkekeh.
Tapi tetap saja mereka percaya kalo kami bertiga adalah intel yang dikirim polisi untuk menangani kasus ini. Kami bertiga dipaksa ikut meronda. Duduk di dalam pos kamling bersama dua pria bernama Udin dan Jarot. Keduanya adalah orang baru di desa ini, warga musiman tapi karena sikap ramah mereka, membuat warga senang dan akhirnya memperlakukan mereka seperti warga asli.
Samar-samar, ku dengar suara lonceng khas yang keluar dari andong. Gak lama kemudian, terdengar suara kuda meringkik. Aku mempertajam pendengaran, melotot memandang jalanan sepi dan tiba-tiba sebuah andong yang dikendarai pocong, melintas di depan pos kamling.