Aku terpaku, andong pocong hanya lewat sekian detik tapi cukup untuk membuatku kaget. Jangan-jangan apa yang dikatakan warga desa ini, benar adanya.
“Hon. Aku keliling bersama Jarot. Kamu, Udin dan Rascal tetap disini!” Steve memandang Rascal. “Jaga istriku baik-baik!” pesannya.
Rascal mendesis, dengan gerakan lambaian tangan, Rascal meminta Steve untuk pergi. Anehnya Steve dengan mudah melepasku sama Rascal. Bocah yang biasanya cemburu gaje ini malah melenggang bersama Jarot, meninggalkanku bertiga dengan Rascal dan pria pendek bernama Udin.
“Aneh.” Aku duduk di pojokan sebuah dipan dari bambu. Kalo memikirkan Steve, selalu saja membuatku terheran-heran.
“Menurutmu kenapa Steve kok aneh banget ya?” Aku mengernyitkan dahi, lagi-lagi aku memikirkan soal Steve heboh dan Steve konyol.
“Aneh bagaimana?” Rascal melirikku.
Aku memutar badan, duduk menghadap Rascal. Ia sedang asyik main game di handphone-nya, gak mengalihkan pandangan dari sana. Aku mencondongkan badan mendekati Rascal, menunggunya untuk berbicara.
“Kalo Jarot dan Setip (Steve) datang. Bangunin aku ya!” Pak Udin membaringkan badan di ujung lain dipan ini. Ia menutup badan dengan sarung berwarna hijau.
Rascal dan aku gak menjawab, hanya memandang Pak Udin yang sudah tertidur.
“Apa dari kecil, Steve memang seperti itu? Kadang antik, kadang sok serius.” Kami bersitatap, dengan mata memohon aku berharap Rascal mau mengatakan masalah ini.
“Bagaimana ya....” Rascal menerawang, menimbang sesuatu. Ia berpikir sambil menggeram, ia menatapku beberapa lama. Membuatku senewen dengan sikapnya.
“Mbok ya kasih tahu saja! In penting banget. Aku kan istrinya Steve.” Aku terus berusaha merayu Rascal biar mengatakan apa yang aku yakin disembunyikan Steve dariku.
“Sebetulnya....” Rascal menggantung ucapannya, aku berharap ia mengatakan sejujur-jujurnya. Ia memiringkan kepala, kembali menimbang antara memberitahuku atau enggak.
“Bilang dong Rascal! Kamu ini jangan membuatku mati penasaran.” Aku memukul paha Rascal secara spontan. Rascal mendelik sesaat tapi kemudian ia kembali datar.
Tiba-tiba saja aku teringat sama kejadian di kereta api tempo hari. Kalo gak salah ingat, Rascal pernah menyebut nama seseorang waktu bicara sama Steve. Tapi siapa ya namanya? Ehm, aku memiringkan kepala, mengernyitkan dahi untuk mengingat nama orang itu.
Peter...
Ya, sekarang aku jadi ingat. Rascal pernah memanggil Peter kepada Steve. Membuat Steve melotot dan marah besar.
“Kenapa kamu memanggil Steve dengan sebutan Peter? Aku penasaran soal kenapa kamu memanggilnya begitu.”
Rascal membuang muka, tapi aku gak kalah pintar darinya. Aku menggeser p****t, berusaha menjaga tatapan mata kami sampai Rascal mau memberitahuku ceritanya.
“Steve ya Steve. Kenapa kamu seperti ini?” Rascal mulai menyangkal tapi justru itu yang membuatku yakin kalo Steve memang ada apa-apanya.
“Ayolah Ras. Kamu ini harusnya membantuku! Ya.” Aku menangkup dua tangan, memohon dengan sangat agar Rascal memberitahuku alasannya.
“Kenapa kamu berpikir bahwa Steve mungkin memiliki alter ego?”
“Apa itu alter ego? Aku gak ngerti.” Si Rascal ini, tinggal bilang masalahnya apa susahnya sih.
“Satu orang memiliki dua atau lebih karakter berbeda. Seperti ada dua jiwa dalam satu raga,”
“Maksudmu ... kesurupan?” Apa benar kalo Steve kesurupan. Tapi kalo iya, kenapa aku gak bisa lihat jin apa yang sudah masuk ke raga Steve.
“Bukan seperti itu ... hanya saja, Peter Johnson. Masuk ke raga Steve untuk terus melakukan misi demi misi penangkapan hantu.”
Aku melongo, mulutku terbuka. Apa benar kalo raga Steve dimasuki arwah Peter Johnson, leluhur kami?
Tanpa sadar aku menyilangkan kedua tangan ke pundak. Kalo benar si Steve selama ini dimasuki arwah Peter Johnson. Lah terus apa arwah itu gak muncul waktu aku dan Steve mesra-mesraan di kamar?
KYAA....
“Kamu jangan berpikir macam-macam! Steve atau Peter. Mereka berdua ada dalam raga yang sama.” Rascal menganggap masalah yang terjadi padaku adalah masalah kecil, padahal masalah ini adalah masalah yang sangat besar.
Bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang hidupnya dirongrong sama arwah penasaran. Sekalipun itu arwah leluhur, tapi tetap saja aku gak bisa mengerti masalah ini.
“Lalu siapa Steve yang asli?” gumamku.
“Yang kamu nikahi!” Yaelah Rascal ini bercanda. Aku tahu kalo aku menikahi Steve tapi Steve kan kadang jadi Steve dan kadang jadi Peter.
“Steve anak yang ceria. Dia hampir gak pernah mengeluh. Dia sedikit gak waras.” Rascal mengecilkan suara, sepertinya dia gak mau ada orang dengar dia berkata jelek.
“Itu Steve-ku,” gumamku.
Rascal mengangkat dua alisnya, “apa maksudmu?”
Aku menggeleng, biar kapok karena tadi sempat gak menggubrisku.
Pak Udin terbangun, ia duduk memandang Rascal dari ujung kaki ke ujung kepala. Dua alisnya bertaut, “apa kalian ini intel yang dikirim kepolisian?” Pak Udin lagi-lagi memandang Rascal, mengamatinya dari ujung kepala sampai kaki. “Tapi kok ... bule? Apa kamu James Bond?”
Rascal tertawa terbahak-bahak, badannya sampai terguncang hebat. Meski demikian, Pak Udin sepertinya gak terpengaruh, ia tetap memandang Rascal saksama.
“Apakah polisi mengirim secret agent mereka seperti mengirim artis? Memberitahu siapa saja bahwa mereka mengirim seorang agent untuk menyelidiki suatu kasus?” Rascal membuat Pak Udin mengerucutkan bibir.
Rascal menepuk pundak kanan Pak Udin, “kami memang intel.” Rascal kembali tertawa terbahak-bahak.
“Apa kamu CIA atau FBI? Apa ada pertukaran agen rahasia di kepolisian?” Pak Udin kembali bertanya.
Rascal kembali membelalakkan mata, gak percaya kalo ada orang yang percaya bualannya semudah Pak Udin memercayainya.
“Ehm ... itu ... ya. Mungkin.” Rascal gelagapan.
Hadew, kenapa harus berjaga di pos kamling bersama orang seperti Pak Udin sih. Orang kok lugu dan ajaib seperti ini. Jelas-jelas dibohongin tapi kok ya tetep percaya.
“Wow, boleh aku minta foto Mister? Buat dipamerin ke istri. Aku sudah foto sama bule.” Pak Udin gak buang waktu. Ia merogoh kantong celana, mengeluarkan sebuah handphone dari dalamnya.
Aku dan Rascal kembali bersitatap, Pak Udin benar-benar makhluk ajaib. Seharusnya negara mensejahterakan orang seperti Pak Udin.
Aku memandang Pak Udin yang sedang berselfie ria. Beberapa kali ia mengarahkan gaya ke Rascal, biar hasilnya maksimal. Tapi menurutku bukan maksimal, tapi super duper maksimal. Pak Udin orangnya mudah bergaul jadi apapun yang dia minta seperti sulit kalo gak dikabulkan. Apalagi keinginannya hanya untuk berfoto bersama bule.
Pada akhirnya kami bertiga malah berfoto ria, aku dan Pak Udin paling heboh sementara Rascal mau berfoto karena dipaksa.
Suara gemerincing lonceng khas andong kembali terdengar. Aku dan Rascal saling memandang. Ku rasa Rascal juga mendengar suara yang semakin lama semakin terdengar mendekat.
Rascal melompat, ia berlari dengan langkah lebar. Aku mengikutinya sampai di pinggir jalan, menunggu sesuatu yang bisa memberi kami petunjuk. Tapi sayang suara itu menghilang, membuatku menghela napas panjang.
Aku dan Rascal memutar badan, hendak kembali ke pos kamling tapi suara itu kembali terdengar. Semakin lama semakin kencang, hingga kami berdua kembali memutar badan. Di hadapan kami, melintas sebuah andong yang dikendalikan oleh sesosok pocong.
Kami berdua mengejar andong itu, tapi andong berjalan dengan cepat. Secepat apapun kami berdua berlari, andong itu malah semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya benar-benar menghilang di kegelapan malam.
“Apa kasus ini benar-benar dilakukan andong pocong?” Aku masih gak percaya tapi melihat andong pocong benar-benar ada. Bisa saja kan?
“Meskipun andong pocong benar-benar ada. Tapi belum tentu ia pelakunya.” Rascal memutar badan, ia kembali ke pos kamling. Aku mengikutinya dari belakang. “Terlalu dini untuk mengatakan bahwa pelakunya adalah ... andong pocong,” imbuhnya.
Pak Udin berdiri dengan sarung menyampir di pundak kanannya. “Ada apa?” Ia penasaran karena kami berdua berlari seperti orang melihat maling lewat.
“Tidak ada apa-apa. Kemana Steve dan Pak Jarot? Kenapa sampai sekarang mereka belum kembali?” Rascal merebahkan badannya di tengah dipan, dua tangannya diletakkan di belakang kepala sebagai bantalan. “Sebaiknya kamu tidur, Bunga. Tidak akan ada yang terjadi malam ini,” kata Rascal.
Pak Udin sudah kembali terlelap, suara dengkuran keras terdengar beraturan. Aku gak bisa tidur, jadi mending aku duduk sambil menunggu andong pocong, siapa tahu lewat lagi.
Malam sudah semakin larut, Pak Udin dan Rascal sudah nyenyak. Suara dengkuran keras mereka saling bersahutan. Pikiranku berkelana, bukan soal andong pocong tapi soal Steve yang dirasuki arwah Peter Johnson. Entah kenapa orang itu malah masuk ke dalam raga keturunannya, apa yang membuatnya mau melakukan hal itu?
Suara yang berasal dari kentongan terdengar keras, membuat Pak Udin kaget dan terlonjak dari tidurnya. Rascal bangun dari tidur dan langsung berdiri tegap, seperti tentara di film-film yang aku tonton di TV.
Suara kentongan kembali terdengar dan meski samar, tapi aku bisa mendengar seorang pria berteriak. “Ada mayat lagi ... ada mayat lagi....”
Pak Udin meraih tongkat pemukul kentongan, pria paruh baya itu pun akhirnya ikut memukul tongkat dengan kentongan sambil berteriak. “KASUS ... KASUS,”
Gak berselang lama, beberapa warga keluar dari rumah. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Dua orang berjalan ke arah kanan, mereka berjalan tergesas-gesa. Pak Udin berlari menghampiri dua orang itu. Karena penasaran, aku mendekati mereka.
“Katanya mereka menemukan mayat anak-anak. Kalo mau lihat, ayo ikut!” ajak satu pria itu.
Tanpa bicara, Pak Udin mengembalikan tongkat pemukul kentongan lalu berjalan mengikuti dua pria itu.
Rascal menarik pundakku, “ikuti mereka!” Kami berdua berjalan mengikuti tiga orang yang beberapa langkah di depan kami.
Sampai di pematang sawah, banyak sekali orang berkerumun. Beberapa membawa lampu petromak sebagai alat penerang. Pak Damar dan beberapa orang lainnya mengamankan tempat, tetapi kerumunan orang tetap saja semakin merapat.
“Ada Bu Polwan. Kalian cepat mundur!” teriak Pak Damar.
“Polwan? Yang benar saja,” gumam Rascal tepat di dekat telingaku.
Aku menyikut perut Rascal, saat ini bukan hal tepat membahas gak penting macam itu.
“Untung kalian datang tepat waktu.” Pak Damar membuka jalan untukkami berdua.
Aku mendekati sesuatu yang membuat orang-orang berkerumun. Memandang sesosok mayat anak-anak dengan lubang di bagian perutnya.