Sungguh keji siapapun orang yang tega melukai anak-anak gak berdosa, apalagi sampai membunuh mereka. Ini benar-benar sadis dan gak bisa diampuni. Siapapun pelakunya, mau manusia atau setan, mereka harus dibinasakan saja.
Memandang mayat bocah sembilan tahun dengan luka menganga di bagian perut, mukanya juga lebam. Aku gak bisa menahan air mata, sekeras apapun menahannya, air mata tetap saja tumpah. Apalagi waktu melihat seorang ibu menangis histeris sambil memeluk tubuh anaknya yang telah tiada.
“Karyo. Kenapa kamu seperti ini, Nak? Ayo bangun, kita pulang sekarang!” Ibu Karyo mengguncang tubuh anaknya, berharap anak itu bisa bangun.
Gak lama kemudian, suara sirine terdengar semakin dekat. Dua mobil polisi datang, beberapa polisi keluar dari dalamnya. Mereka langsung bertugas, seorang polisi menggiring orang-orang untuk menjauh, seorang polisi lainnya membentangkan garis kuning di sekeliling mayat anak itu.
Pak Jarot mendekati seorang polisi lalu menghormat ala tentara, ia mengatakan sesuatu dengan sangat serius. Polisi itu mengangguk, memandang mayat sambil terus mendengarkan omongan Pak Jarot.
Orang-orang sudah kembali ke rumah, hanya menyisakan seorang ibu dan ayah yang masih menangis memandang jasad anaknya.
Seorang polisi yang mengenakan kaos bertuliskan INAFIS memotret jasad anak malang itu dari beberapa arah. Empat polisi lainnya melakukan olah TKP. Beberapa polisi meminta warga yang sudah mulai berkerumun untuk menjaga jarak dari TKP.
Jasad anak itu dimasukkan ke dalam kantong jenazah, dua orang polisi mengangkat jasad itu dan diletakkan di atas mobil polisi berbentuk seperti mobil pick up. Pak Jarot menepuk pundak Steve, mengajak kami bertiga ikut bersama rombongan polisi.
Suara sirine mobil polisi meraung-raung, aku, Steve dan Rascal duduk sebuah kursi yang ada di dalam mobil polisi berbentuk seperti pick up. Di belakang kami ada seorang polisi, Pak Udin dan Pak Jarot serta kantong jenazah berisi mayat anak tadi.
“Kita mau kemana?” Aku bertanya kepada Steve tapi yang menoleh malah Rascal.
“Ke mall,” jawab Rascal singkat.
Aku meliriknya, mendesis karena jawabannya gak masuk akal.
“Tentu saja ke rumah sakit. Membawa mayat ini untuk di otopsi,” terang Rascal.
“Mbok ya langsung menjawab begitu,” cibirku duh jadi pengen nguncrit mulut Rascal yang seenaknya sendiri.
Aku menoleh, memandang Pak Jarot, Pak Udin dan seorang polisi yang gagah sekali sedang sibuk membicarakan sesuatu. Aku memandang Steve, bertanya-tanya kenapa Pak Jarot dan Pak Udin ikut bersama rombongan polisi. Eh, kami bertiga pun kenapa diajak rombongan polisi ya?
“Kenapa....”
“Mereka menyelidiki kasus ini. Aku sudah memberitahu mereka, kita demon hunter.” Steve seolah tahu apa yang ada di pikiranku.
Aku mendekatkan bibir ke telinga Steve, “Terus Pak Jarot dan Pak Udin itu siapa?” Tiba-tiba mukaku jadi panas, teringat soal Steve yang berbagi raga dengan Peter Johnson. Kalo Steve lagi serius macam begini, artinya Steve adalah Peter Johnson. Bukan Steve suamiku, aduh gimana dong.
Aku menoleh ke arah Rascal, memandang cowok satu ini hanya untuk mengusir perasaan yang tiba-tiba jadi dag-dig-dug gak jelas.
“Hon, mereka intel.” Steve berbisik, sontak aku kaget dan menoleh kepadanya. Membuat bibirku menabrak bibirnya sekilas. Ini membuat mukaku kembali memanas.
Ya ampun, rasanya seperti baru pedekate sama Steve saja, bahkan perasaan ini gak pernah muncul waktu sama Steve super konyol kecuali waktu malam pertama. Kalo begini caranya, bisa jantungan aku.
“Relax, Bunga!” bisik Rascal, sepertinya dia tahu kalo aku lagi salting gak jelas.
Aku memang harus tenang, mau Steve asli atau pun Peter, mereka sama-sama Steve. Jadi seharusnya aku bersikap biasa saja, gak seperti sekarang ini. Ayo Bunga, fokus, fokus, fokus.
Perjalanan menuju rumah sakit gak memakan waktu lama, hanya setengah jam saja mobil polisi sudah masuk halaman rumah sakit.
Kami bertiga duduk di depan kamar jenazah, menunggu para petugas dan dokter yang akan melakukan otopsi.
Aku kembali memandang Steve, ia masih duduk tenang dan gak banyak bicara. Aku mengedip beberapa kali, mau dilihat dengan cara apapun tetap saja yang ada di depanku adalah Steve. Bukan Peter Johnson atau siapalah itu.
“Ada apa, Hon?” Steve menyadari kalo aku sedari tadi mengawasinya.
Aku menggeleng, berusaha mengenyahkan soal Peter yang sedang berada dalam raga Steve. Mengembalikan pikiran fokus ke misi kami. Ah, sebaiknya aku membahas soal ini saja.
“Tadi ... aku dan Rascal melihat andong pocong lewat. Mereka benar-benar ada,”
Steve memandang Rascal, ia sedang berdiri bersandar pada tembok. Ia mengangguk, membenarkan ucapanku.
“Aku sempat memeriksa mayat anak itu. Aku masih yakin masalah ini bukan karena andong pocong atau setan manapun,” kata Steve.
“Aku juga. Tapi siapa?” Rascal menyahut.
“Aku juga mikir begitu, tapi kenyataannya andong pocong benar-benar ada.” Aku menggaruk kepala, memikirkan masalah yang rumit malah membuatku pusing.
“Jangan memikirkannya, Hon! Kita bantu Pak Udin dan Pak Jarot mengusut tuntas masalah ini,” kata Steve.
“Apa Pak Jarot dan Pak Udin benar-benar intel? Kok gak ada tampangnya sama sekali ya,”
Steve tergelak, baru ku sadari kalo ternyata gaya tertawa antara Steve asli dengan Steve palsu alias Peter benar-benar berbeda. Suara Steve-ku kalo ketawa ngakak, keras sekali tapi cara Peter tertawa lebih pelan, hanya bahunya yang berguncang keras.
Seorang dokter datang dengan memakai jaket putih kebesarannya. Ia masuk ke dalam kamar mayat, diikuti Pak Jarot dan Pak Udin. Steve berdiri, “Hon, sebaiknya kamu tunggu disini! Aku masuk dulu.” Steve mendekati Rascal, “jaga istriku!” Setelah berpesan kepada Rascal, ia segera masuk ke dalam kamar mayat.
Aku mengembuskan napas berat, gak menyangka kalo perasaanku bisa sekacau ini waktu berhadapan dengannya. Rascal menertawakanku, sudah jelas bocah satu ini sedang mengolok-olokku.
“Kamu tidak perlu seperti itu, Bunga. Aku yakin jika kamu belum tahu, kamu akan tetap seperti dulu.Bingung melihat tingkah Steve.” Rascal berpindah, ia duduk di sebelahku.
“Aduh, aku benar-benar gak menyangka. Bisa seperti ini loh, Ras.” Aku menepuk kedua pipi.
“Tidak penting apakah dia Steve atau pun Peter. Mereka tetap saja Steve, kan? Seharusnya kamu senang bisa memiliki dua pria dalam satu tubuh.” Sudah jelas ini adalah sebuah ejekan.
“Yo gak bisa seperti itu, Ras. Aku ini cintanya sama Steve, hanya sama dia. Bukan sama cowok lain,”
“Apa sebelum ini kamu bisa membedakannya? Aku yakin saat kalian di atas ranjang. Kamu takkan bisa membedakan apakah Steve yang sedang mencumbumu atau Peter,”
Aku melotot, gak menyangka Rascal membahas soal beginian. Aku bahkan gak bisa mengingat apakah cara Peter dan Steve memperlakukanku di atas ranjang berbeda. Steve memang terkadang kasar dan menggebu-gebu, tapi terkadang dia halus lembut dan membuatku klepek-klepek. Apakah itu artinya...
“Rascal, cubit pipiku! Aku yakin ini hanya mimpi.” Rascal mencubit pipiku sampai aku mengaduh kesakitan. Aku melotot, gak seharusnya Rascal benar-benar mencubitku sesakit ini.
***
Setelah beberapa lama, pemeriksaan mayat akhirnya selesai dilakukan. Kata Steve, otopsi belum bisa dilakukan karena menunggu petugas forensik yang sedang berhalangan hadir. Jadi dokter hanya melakukan pemeriksaan luar tapi begitu saja sudah mendapatkan satu hasil mencengangkan.
“Kasus ini bukan ulah demon. Ini murni ulah manusia,” kata Steve.
“Berarti misi kita selesai.” Rascal memutar badan.
“Kalian tetap disini! Bantu kami mengusut masalah siapa yang mengembuskan isu meresahkan.” Pak Udin membuat Rascal mengurungkan niat untuk pergi.
Aku memandang Pak Udin, pria kerempeng ini benar-benar gak ada tampang seorang intel. Sudah gitu tinggi badannya hanya sedikit lebih tinggi dariku. Gak sekekar dan setinggi agen rahasia yang ku lihat di TV-TV.
“Kenapa Neng Bunga?” Pak Udin membuyarkan lamunanku.
“Enggak Pak. Cuma....”
“Kaget? Itu wajar saja. Aku memang gak ada tampang polisi hahahaha.” Pak Udin tertawa terbahak-bahak.
Steve terkekeh, ia merangkul pundakku. Membuatku jadi deg-degan gak jelas lagi. Rascal sudah membalik badan, menatapku sambil memainkan dua alisnya.
***
Hari berganti, setelah ditemukannya mayat ke empat. Kampung ini semakin dilanda ketakutan. Kasihan sekali mereka, karena ulah manusia gak bertanggung jawab, mereka menjadi ketakutan setengah mati.
Pak Kades mengadakan pertemuan dengan para ketua RT, ketua RW, Ketua PKK dan juga perwakilan polisi termasuk aku, karena Pak Kades masih menyangka aku adalah seorang intel padahal intel yang asli adalah Pak Udin. Orang itu malah jadi pekerja serabutan, menata kursi dan membagikan minuman.
Duduk di dalam ruang serba guna, Pak Kades mulai membuka acara. Rapat ini diadakan untuk membahas bagaimana cara meredam keresahan masyarakat. Steve sudah memberi tahu Pak Kades kalo kejadian pembunuhan ini bukan karena andong pocong melainkan ulah manusia. Pak Kades ingin menghentikan satu isu, biar seenggaknya para ibu bisa sedikit lega dan gak berburu batang pohon bambu kuning.
“Tapi menurut saya lebih baik kita biarkan saja isu ini. Setidaknya sampai para pelaku pembunuhan ini tertangkap,” kata seorang pria yang duduk di sebelah Pak Rascal.
“Tapi ... kasihan mereka. Setiap hari dilanda ketakutan dan was-was andong pocong datang,” keluh Pak Kades.
“Saya tahu itu, tetapi menurut saya gak ada bedanya meredam isu andong pocong kalo pelaku gak ditangkap, Pak.” Kata seorang pria memakai batik.
“Justru menurut saya, isu ini akan sangat membantu. Ibu-ibu akan waspada dan gak membiarkan anak-anak mereka keluyuran,” sahut seorang wanita memakai jilbab merah muda.
“Tapi....” Pak Damar gak melanjutkan ucapannya, ia sedang memikirkan sesuatu.
“Yang terpenting polisi cepat melakukan penangkapan pelaku itu dan membuat mereka dihukum seberat-beratnya.” Seorang wanita berambut pendek bergelombang, memandangku.
Aku yakin mereka masih percaya kalo aku ini adalah intel yang dikirim polisi untuk menangani kasus ini.
“Seharusnya mereka cepat ditangkap. Ada polisi luar negeri yang membantu.” Seorang pria memakai batik coklat memandang Steve dan Rascal bergantian.
Mereka ternyata masih menganggap Steve dan Rascal adalah agen rahasia dari FBI atau CIA. Ya ampun, lagian namanya agen rahasia kan harusnya rahasia. Kalo seperti ini mah namanya bukan rahasia.
“Saya sependapat. Pak Steve, Pak Rascal. Saya yakin anda berdua bisa membantu kami menyelesaikan masalah ini lebih cepat,” kata Pak Lurah.
Aku, Steve, Rascal dan Pak Udin saling memandang. Kami sama-sama terkikik geli mengetahui baik Pak Kades maupun semua orang disini ternyata kena tipu muslihat kami. Yang asli intel jadi pesuruh eh yang demon hunter dikira intel.
Dari rapat yang baru saja diadakan, Pak Kades meminta polisi mengamankan desa baik siang dan malam. Polisi-polisi menyamar menjadi orang biasa sehingga gak ada yang curiga dan suasana masih mencekam terutama saat malam hari dimana suara gemerincing khas andong terdengar beberapa kali.