Aku mengusap ingus dengan sapu tangan, mendengarkan rintihan seorang ibu yang kehilangan anaknya benar-benar menyentuh perasaan. Seorang ibu sudah mengandung anaknya selama sembilan bulan, melahirkan dan merawatnya dengan cinta, berharap kelak saat dewasa, anak itu tumbuh menjadi anak yang membanggakannya tetapi ada orang yang begitu kejam merenggut nyawa anak itu tanpa perikemanusiaan. Manusia seperti mereka gak pantas disebut manusia.
“Padahal selama ini Karyo gak pernah keluar. Gak pernah nakal. Tapi kenapa pocong itu menjemput anak baik seperti Karyo.” Ibu Karyo terus menangis meraung-raung, memeluk foto anaknya erat. “Aku gak rela. Aku gak ikhlas,” teriak Bu Karyo.
Steve menggenggam tanganku, memandangku dengan senyum tipisnya. Aku menggenggamnya erat, tapi waktu sadar Steve sekarang bukanlah Steve, aku menarik tangan darinya.
“Ayo kita pergi dari sini!” Steve berdiri, ia mendekati keluarga Karyo untuk pamitan.
aku masih saja trenyuh melihat kondisi ibu Karyo, wanita itu telah jatuh pingsan berkali-kali. Begitu ia sadar, ia menangis histeris sambil memeluk foto anaknya.
Kejahatan ini benar-benar gak bisa dibiarkan. Polisi harus menyelidiki kasus ini sampai tuntas, termasuk kami dari Polikhustral.
“Kita harus ke dukun untuk mengusir andong pocong. Kalo pocong itu masih berkeliaran disini. Anak-anak habis dibunuhnya.” Empat orang wanita duduk di pos kamling, keempatnya pasti sibuk membicarakan masalah pembunuhan anak-anak.
Aku, Steve dan Rascal berjalan menuju tempat tinggal sementara. Pak Damar sudah menyiapkan sebuah rumah kontrakan untuk kami bertiga.
“Apa ini masuk akal? Buat apa pocong membunuh anak-anak?”
“Tapi kenyataannya kan...”
“Kenyataannya kita gak tahu apa-apa.”
Itulah masalahnya, gak tahu apa-apa memang biang keroknya. Tapi kita bisa cari tahu masalahnya langsung dari sumber terpercaya. Aku harus menunggu setan sialan itu lewat dengan andongnya. Kenapa diantara sekian banyak jenis setan harus pocong yang naik andong sih. Nyebelin banget dah.
***
Aku berdiri di depan sebuah andong dengan setan berjubah putih dengan kuncir di atas kepalanya. Berdiri dengan dua cowok mengapitku. Rascal di sebelah kanan dan Steve di sebelah kiri. Aku gak sanggup melihatnya, aku membuang muka ke kiri. Aku masih belum punya mental sekuat baja untuk memandang setan bernama pocong.
“Hon!” Steve menggerakkan dagu ke arah pocong. Aku tahu maksudnya, menyuruhku bertanya pada setan itu.
“Kamu aja!”
“Kamu memintaku membantumu mencarinya. Setelah ketemu kenapa aku yang bertanya?” Sialan si kutu kupret satu ini, kalo begini aku jadi kangen Steve. Steve-ku gak bakal menyuruhku macam-macam.
“Tunggu apalagi?” Steve mendesak, ia kembali menggerakkan dagunya ke arah pocong.
“Ras. Tanyai dia!” Untung ada Rascal yang bisa membantuku.
“Aku mengantuk.” Aku menoleh, Rascal melangkah kembali ke pos kamling.
“Steve, kamu kan bisa....” Steve menepuk pundakku, ia tersenyum sambil menyusul Rascal kembali ke pos kamling.
Sial bener dah! Punya suami model Steve mau yang satunya mau yang satunya lagi, sama-sama menjengkelkan.
“Kamu ngapain nutupin jalanku, Oi!” Suara pocong macam preman satu ini membuatku menoleh kepadanya.
Andong pocong adalah pocong yang mengendarai andong. Ya iyalah, kalo naik mobil namanya jadi mobil pocong.
Andong ini ajaib karena gak ada kuda yang menariknya tapi pocong menggenggam tali kekang layaknya sedang memerintah kuda. Pocong ini mukanya putih banget, entah berapa banyak dempul yang dipakai biar jadi seputih itu. Dua matanya dikelilingi lingkaran hitam legam. Dua tangannya hanya berupa tulang kering berwarna putih seputih mukanya.
“Apa Lu liat-liat!”
Aku menyipitkan mata, mendongak sambil mengembuskan napas. Apakah jenis pocong macam ini pantas buat kutakuti?
Aku kembali memandang pocong satu ini. Dia sedang melotot padaku, bibirnya bergerak-gerak komat-kamit gak jelas. Aku memandang Steve dan Rascal, keduanya asyik duduk di pos kamling sambil memandangku. Steve tersenyum tipis, menyeringai seperti cowok play boy gaje macam Rizal, cowok sok ganteng di sekolah.
Dengan kode gerakan tangan, Steve memintaku bertanya pada pocong itu.
“Ganggu orang aja. Ck. Ck. Ck. Hiya! Hiya!” Pocong seolah memerintah kuda untuk berjalan. Anehnya, andong perlahan bergerak. Tapi aku gak mau dia pergi begitu saja, aku berlari mengejar andong tapi andong bergerak cukup cepat membuatku sulit mengejarnya.
Aku membuat sebuah cakra sebesar bola pingpong, melemparnya ke arah pocong, mengenai kepala pocong dan membuatnya terjatuh dari andongnya.
“HEI TUNGGU!” Pocong berteriak pada andong yang meninggalkannya.
Aku mendekati pocong yang masih berbaring di atas tanah. Menendang kakinya untuk meminta perhatian. “He, Cong! Kamu ya yang membunuh anak-anak sini?” todongku.
Pocong mendecak, ia masih memandang andongnya yang semakin menjauh. Ia meletakkan dua jari di mulut, bersiul kencang dan seketika andongnya berhenti lalu mundur perlahan.
“He, Cong! Telingamu b***k ya?”
Pocong mendadak menatapku, membuat jantungku berdetak kencang seolah mau copot dari tempatnya.
“Cang-cong, cang-cong dikira Eike bencong.” Nahlo dia marah dah. Pocong mengulurkan tangan, memintaku membantunya berdiri tapi aku melipat kedua tangan, gak mau membantunya sampai tujuanku tercapai.
“Jawab dulu pertanyaanku!” Aku memandang pocong beberapa lama, meraba hatiku yang tiba-tiba gak takut sama pocong. Mungkin karena aku keseringan terpaksa melihat makhluk satu ini jadi perasaan takut itu hanya muncul sesaat.
“Eh, Ye cakep-cakep kaya preman pasar. Eike gak kuku.” Pocong ini beneran pocong b*****g. Wow, gak menyangka kalo pengendara andong pocong yang membuat orang sini ketakutan ternyata ... b*****g.
“Sudah deh. Ngaku aja! Kamu kan yang membunuh anak-anak itu dan mengambil organ dalamnya?”
“Eh, Ye ini nanya apa nuduh? Lagian ngapain eike membunuh anak-anak? Kurang kerjaan. Kalo eike ingin membunuh. eike bakal membunuh semua cewek-cewek disini biar cowok-cowok hanya bisa memilih eike.” Pocong b*****g satu ini cekikikan, pikirannya pasti lagi membayangkan dia jadi pusat perhatian cowok-cowok.
“Maksudmu, kamu beneran gak membunuh mereka?”
“Sumpah deh, Nek. Bukan eike. Lagian eike ini masih punya hati nurani. Buat apa eike membunuh anak-anak gak berdosa macam mereka? Justru eike membantu mereka kembali ke jalannya. Biar mereka bisa pulang dengan selamat di kuburan.” Sekali lagi, pocong tertawa terbahak-bahak.
“Woy, arwah. Masuk!” Teriakan pocong membuatku ikut memandang arwah yang diteriakinya.
Arwah itu gak lain adalah arwah Karyo, anak yang menjadi korban pembunuhan pocong atau siapapun itu. Melihat arwah yang kembali masuk ke dalam andong tertutup kain hijau, aku langsung berlari mendekatinya. Menyingkap kain hijau dan melihat arwah Karyo duduk di pojokan dengan wajah ketakutan.
“Katakan padaku, apa dia yang membunuhmu?” Mendengar pertanyaanku, ia malah menjadi semakin ketakutan.
“Sudah jawab saja! Kalo memang dia pelakunya, aku janji akan membunuhnya.” Ia bergeming, malah melotot memandangku.
“Hei, ye ngapain?” Pocong menarik kain yang ku pegang, mendorong badanku sampai aku hampir terjatuh.
“Aku mau tanya sama anak itu. Minggir!” Aku mendorong pocong sampai ia jatuh terduduk.
“Hei, ye benar-benar pengganggu. Pergi!” Pocong menarik kakiku, membuatku jatuh terjungkal.
Aku jadi marah banget, pocong sudah menghalangiku bertanya pada anak itu. Aku membuat sebuah cakra sebesar bola pingpong, melemparnya ke wajah pocong, membuatnya jadi hitam dan kulitnya mengelupas.
“Amboi, santai bro.” Pocong menyemburkan asap pekat, hasil dari cakra yang ku lemparkan kepadanya.
“Makanya jangan seenaknya!”
“Ye ... siapa yang seenaknya. Ye kalee.”
Wah sumpah ya, sekali ini aja aku ketemu setan super nyebelin macam dia.
Aku berdiri, kembali membuka kain untuk melihat Karyo. Bocah itu masih duduk di tempatnya, menekuk kedua kaki dan dipeluknya erat.
“Kamu gak usah takut. Kamu masih kecil jadi gampang masuk surga. Tapi sekarang bantu aku mencari siapa yang membunuhmu, biar anak-anak lain gak jadi korban sepertimu. Kamu mau kan?” Anak itu masih bergeming, memandangku dengan tatapan kosong.
Lama aku terdiam, membiarkannya berpikir dan melihat kesungguhanku. Setelah beberapa lama ia terdiam, akhirnya Karyo berdiri, ia keluar dari andong.
“WOI ARWAH, KEMANA YE?” Pocong berteriak, ia hanya melambai ke Karyo tapi gak berani meninggalkan andongnya.
“Sebentar saja, Cong. Aku butuh dia.” Aku tersenyum puas, akhirnya aku bisa mencari jawaban dari semua hal yang mengerikan ini.
“Eike tunggu sini. Kalo sampai subuh ye gak balik. Eike bakal....”
“Iya. Iya. Aku pasti balik. Kamu disini aja, tuh nongkrong di jamban!” Aku menunjuk WC umum yang ada di dekat pohon rambutan.
“Ish, gak lepel (level)”
Aku gak menggubris ucapan pocong. Aku mengikuti langkah Karyo, ia menelusuri jalanan ke arah pos kamling.
Sampai di depan pos kamling, Steve, Rascal, Pak Udin dan Pak Jarot berdiri dengan dua tangan masuk ke dalam saku. Lagak mereka macam di film drama Korea di TV yang judulnya Boy before flower.
“Karyo, berhenti sebentar!” Karyo menurut, ia segera berhenti tepat di depan empat pria sok keren itu.
“Kamu ngomong sama siapa?” Pak Udin mengusap tengkuknya.
“Tuh, si Karyo. Tiren, mati kemaren.” Aku menunjuk Karyo.
“Mak ... sud. Mu. Han ... tu?” Pak Udin tergagagp, wajahnya memucat. Aku baru tahu kalo ada polisi takut sama hantu.
“Kamu takut hantu, Din? Astaga.” Pak Jarot tertawa sambil menepuk punggung Pak Udin.
“Aku gak takut. Mana ada polisi takut hantu.” Pak Udin merengut, sekali lagi ia mengusap tengkuk sambil bergidik ngeri.
“Kita harus mengikutinya. Pembunuh anak-anak bukan pocong,” kataku.
“Sejak kemarin aku sudah tahu itu. Tapi apa dia tahu dimana tempatnya?” tanya Rascal.
“Pokoknya ikuti aja.” Aku meminta Karyo kembali berjalan. Sementara itu, empat orang pria ikut berjalan.
“Steve. Dimana hantu Karyo?” Pak Udin sepertinya antara takut dan penasaran ini.
“Honey. Kamu sudah tidak takut pocong?”
“Ap. Appa kamu bill....”
“Jadi andong pocong benar-benar ada?” Pak Jarot memotong ucapan Pak Udin yang tergagap.
“Udah gak takut. Orang pocongnya ... bencong.” Aku tertawa terbahak-bahak, pocong satu itu benar-benar membuat perasaan takutku menghilang.
“Ppoccong bennccong?” Pak Udin gak percaya tapi tetap saja ia gagap.
Karyo berbelok ke sebuah rumah besar yang sudah rusak parah, rumah yang selama ini dianggap angker dan dijauhi warga sini. Tempat paling tepat untuk seseorang melancarkan aksi tanpa ketahuan siapapun.
Sebuah tempat dengan pintu bergambar lambang bintang berwarna merah ada di dalam lingkaran.
“Ini ... sekte,” gumam Steve.