Sekte Tak Bernama

1624 Kata
Rumah angker ini adalah rumah yang dikeramatkan warga. Mereka bilang kalo rumah ini dulunya dibangun oleh pasangan suami istri yang kaya raya tapi pasangan ini gak pernah bergaul dengan warga lain. Mereka mengatakan kalo dua orang ini sangat menutup diri dari warga sekitar. Hanya pembantu-pembantunya yang terlihat ke pasar, itu pun mereka gak pernah berbicara dengan warga. Hingga suatu hari mereka tiba-tiba menghilang, semua orang di tempat ini pergi begitu saja meninggalkan rumah dengan perabot mewah tetap ada di tempat ini. Sejak saat itu, tempat ini katanya banyak hantunya. Sepanjang malam selalu saja ada penampakan yang meresahkan warga. Seorang pemuka agama memutuskan untuk membongkar tempat ini, mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya dan membakarnya. Sisanya hanya berupa puing-puing tembok yang berdiri kokoh, semua dikarenakan pemuka agama itu tiba-tiba menghilang. Konon katanya orang tersebut diculik hantu. Tapi Steve bilang kalo gak mungkin hantu menculik seorang pemuka agama. Steve berkata kalo kemungkinan besar sang pemuka agama itu telah dibunuh oleh orang-orang dari sekte misterius ini. Tapi sekte itu apa? Aku memandang Steve, jangan-jangan aku yang salah dengar. Mungkin saja Steve ingin makan sate. Tapi ini kan Peter, bukan Steve. Masak Peter mikir sate disaat segenting ini? Atau Steve baru saja muncul? Aku memandang Steve, melihat ekspresi wajahnya yang serius. Jelas dia adalah Peter. Steve-ku orang yang sangat ceria dan gak mudah konsen seperti Steve yang ini. “Maksudmu ini lambang sebuah sekte?” Pak Jarot memperjelas kata sekte yang tadi sempat ku ragukan. Sekaligus membuyarkan lamunanku soal Steve dan Peter. “Sekte itu apa?” Aku jadi penasaran banget, baru kali ini aku mendengar kata itu. “Ehm ... aliran sesat. Semacam itu.” Steve tersenyum, memandangku dengan tatapan lembut, membuatku membuang muka. Wajahku jadi memanas. Karyo masuk dengan cara menembus pintu, Rascal membuka kenop pintu, membukanya dan langsung masuk. Aku, Steve, Pak Udin dan Pak Jarot menunggu di depan sampai Rascal memberi kode kalo di dalam aman. Rascal membuka pintu, mengkode kami untuk masuk. Aku dan yang lain langsung masuk ke dalam rumah yang sebenarnya gak ada atapnya. Di dalam rumah, ilalang dan tumbuhan rambat menghiasi seluruh tempat ini. Seekor ular piton seukuran lenganku sedang asyik menggantungkan badan di atas tembok yang separuhnya sudah roboh. Tempat ini benar-benar menyeramkan apalagi ada penampakan arwah-arwah dengan badan berlubang, ada yang berlubang di d**a, di perut, di kepala dan ada yang matanya berlubang. Baunya pun sangat amis sekali. Perutku rasanya seperti diaduk-aduk, jadi ingin muntah. Kami semakin masuk ke dalam tempat ini, sekali lagi hanya ada ruangan gak beratap dengan ilalang dan tumbuhan liar terhampar di seluruh ruangan. Tembok yang awalnya putih, sudah banyak yang mengelupas dan berjamur, kusam berwarna keabu-abuan. “Gak ada apa-apa disini?” Karyo berhenti tepat di depan tembok, ia memutar badan, menatapku dengan tatapan sayu. Steve, Rascal, Pak Jarot dan Pak Udin berpencar mengelilingi tempat ini, mengamati setiap centi tempat dengan empat lubang layaknya pintu tapi gak ada daun pintunya. “Apa kamu yakin ini tempatnya?” Karyo mengangguk, ia menunjuk sesuatu yang ada di dekat kakinya. Tapi disitu gak ada apa-apa, hanya berupa lantai kusam yang gak kelihatan lantainya karena tertutup tanah. Meski begitu, aku tetap saja mendekati Karyo, memandangi tempat yang ia tunjuk bahkan biar gak kelewat apapun, aku berjongkok, menyentuh lantai dan aku menemukan sebuah lingkaran terbuat dari besi terkait dengan ubin putih. Karena penasaran, aku berusaha menariknya sekuat tenaga. Benar-benar butuh tenaga dalam untuk membukanya. Lingkaran besi ini berfungsi seperti sebuah kenop pintu. Meski sudah mengerahkan kekuatan, pintu hanya bergerak sedikit tapi itu saja sudah cukup memberiku gambaran kalo ada sesuatu di dalam sana. Gak salah lagi kalo ini adalah sebuah ruang bawah tanah. Sebuah tempat yang sangat rahasia ada dalam sebuah tempat angker dan dikeramatkan. Aku yakin ada suatu hal besar ada di dalam sana. “STEVE, RASCAL!” Aku berteriak, satu tangan masih menahan pintu rahasia biar gak menutup lagi. “WHAT THE....” Rascal mengambil alih, ia menarik pengait sampai pintu seukuran sekitar satu meter benar-benar terbuka. Tangga benar-benar terlihat jelas, tapi untuk melihat ke dalamnya, kami butuh alat lain. Pak Jarot menyalakan sebuah senter, menyorot ruangan itu dan pertama yang aku lihat adalah setan bocah dengan mata berlubang dan berlinang darah, menetes gak berhenti-henti di pipi yang sangat pucat, bibirnya sangat kering sampai pecah-pecah. “Aku akan masuk. Din, kamu awasi tempat ini!” Pak Jarot gak membuang waktu, ia langsung menuruni anak tangga demi anak tangga. Pak Udin sedikit bergetar, sepertinya orang ini benar-benar penakut. Aku jadi tertawa geli membayangkan seorang polisi takut hantu seperti Pak Udin. “Honey. Ayo!” Steve turun setelah Pak Jarot. Aku meniti anak tangga demi anak tangga, menuruni tangga beton sampai akhirnya berada di sebuah ruangan berbau sangat busuk. Simbol lingkaran dengan bintang di dalamnya, berwarna merah darah tergambar di sekeliling tempat ini. Bau darah benar-benar menusuk, rasanya aku bisa merasakan begitu banyak kengerian terjadi di tempat ini. Membuatku meneteskan air mata tanpa sebab, membayangkan bagaimana Karyo disiksa disini. Sungguh mereka bukan manusia. “Honey. Kamu baik-baik saja?” Steve memelukku erat, aku semakin gak bisa menahan air mata. Ada sebuah panggung terbuat dari kayu dengan mimbar berhias lambang lingkaran dengan bintang di dalamnya. Di sebelahnya ada sebuah dipan kecil dimana ada lebih dari lima anak berdiri disana. Memandangku dengan bibir kering terkatup. “Mereka menyiksa anak-anak disini. Aku yakin itu, Steve. Kenapa mereka kejam sekali. Kenapa harus anak-anak.” “Honey. Sebaiknya kamu keluar sekarang.” “Enggak. Aku harus membalaskan dendam anak-anak. Mereka iblis. Aku mau membunuh mereka seperti aku melenyapkan setan.” Aku melepas pelukan Steve, menghapus air mata dan mendekati mimbar. Berdiri di balik mimbar, aku bisa membayangkan berapa banyak orang ada di tempat ini, menyaksikan sebuah penyiksaan pedih. Aku bahkan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Setelah kejadian di sea world kemarin, ini kedua kalinya aku berhadapan dengan kasus pembunuhan anak-anak. Bedanya, jika kemarin pelakunya benar-benar setan, kali ini pelakunya adalah iblis berpakaian manusia. Mereka manusia yang gak punya nurani, gak berperikemanusiaan dan raja tega. “Aku akan membunuh mereka semua.” Geram sekali rasanya sampai dua tanganku mengepal, rahangku mengeras dan gigi geligiku bergemelutuk. *** Sejak penemuan itu, tim dadakan yang terbentuk antara tim alpha dan tim Pak Jarot yang hanya beranggotakan Pak Udin membuat sebuah rencana. Setiap hari kami hanya mengamati tempat ini, siang dan malam, bergantian. Hingga hari keempat saat bagianku dan Steve yang berjaga. Kami bersembunyi di belakang pohon randu sambil bergantian mengamati tempat itu. Hingga akhirnya, seseorang memakai jubah coklat bertudung datang pada jam dua belas malam. Pria itu masuk ke dalam rumah, entah apa yang dilakukannya disana tapi sampai dua jam berlalu gak ada apapun yang terjadi. “Steve. Kita serang saja dia. Aku yakin dialah pelakunya.” “Tidak seperti itu, Hon. Kita harus menyelidikinya lebih lanjut.” “Tapi ... kalo dibiarin kayak gini terus. Bisa jadi mereka bakal membunuh anak-anak lagi.” “Kita akan pastikan anak itu tidak terbunuh sekaligus mendapat bukti kejahatan mereka.” “Bukti apalagi? Sudah jelas mereka jahat. Lihat bajunya!” Steve tersenyum kecil, ia mengusap pipiku. “Sabar, Hon. Aku tahu kamu emosi. Tapi menangkap manusia tidak bisa disamakan dengan menangkap hantu. Kita harus hati-hati dan mengikuti semua prosedurnya.” “Ish, kalo Steve-ku aku yakin pasti setuju denganku,” gumamku. “Steve-mu?” Steve mengerutkan keningnya. Aku menggeleng, belum saatnya mengatakan kalo aku tahu Steve-ku dirasuki roh leluhurnya, Peter. Roh halus yang gak bisa dilihat bahkan oleh mata batinku. Bercampur dengan roh Steve, akan sangat sulit dipisah. Kalo pun dipaksa maka bukan hanya roh Peter yang keluar tapi juga roh Steve. Aku kembali mengamati tempat itu, malam kian pekat dan suara-suara binatang malam bersahutan termasuk gonggongan anjing tanpa henti. Jam tiga pagi, dua orang memakai jubah yang sama menarik seorang anak yang kepalanya ditutup kain dengan dua tangan diikat tali, masuk ke dalam ruangan itu. Aku dan Steve saling memandang, entah apa yang dipikirkan Steve tapi aku pribadi akan masuk dan menyerang mereka. Aku mau melangkah tapi Steve menahanku, merentangkan lengannya di leherku dan menarikku mundur. Aku menepuk lengannya, memintanya melepaskanku. Aku melotot, Peter benar-benar gak ngerti bagaimana cara menyerang manusia. “Hon. Tenanglah!” Bagaimana bisa tenang kalo berurusan dengan nyawa manusia terlebih nyawa anak-anak. Mereka tahu apa? Harusnya anak-anak hidup dengan kasih sayang dan kebahagiaan, bukan dengan kondisi menakutkan seperti ini terlebih anak itu yang nyawanya sedang diujung tanduk. “Kita harus menyerang mereka Steve. Atau anak itu mati seperti Karyo.” Aku mencebik, marah bukan main dengan Steve eh Peter. “Kita pasti menolongnya. Sekarang kita harus menunggu kesempatan bisa masuk.” “Kesempatan apa? Kesempatan melihat iblis itu mengambil organ dalam anak itu?” Steve mendongak, membuang napas berat ke udara. Ia kembali menatapku, “sekarang aku tahu kenapa sebaiknya kamu tetap di rumah saja.” Aku memiringkan kepala, bingung dengan maksud ucapannya. Aku memandang pintu sambil meneteskan air mata, aku bisa membayangkan bagaimana anak yang di dalam sana begitu ketakutan. Aku membuat cakra, kalo aku gak bisa masuk maka aku yang akan membuat mereka keluar. Tapi sekali lagi Steve maksudku Peter membuat cakraku menghilang. Tiba-tiba ia menarikku dan mencium bibirku, membuatku kaget sekaligus menikmatinya. “Kamu jahat!” Meski enak tapi ciuman itu bukan dari Steve-ku. Peter bukan suamiku. Aku melotot, bersiap menamparnya tapi ia malah memutar badanku, menarikku sampai badan kami menempel. Membuat hatiku dag-dig-dug gak jelas. “Kamu disini dulu!” Peter meninggalkanku setelah mengatakannya. Aku melihat banyak orang berjubah coklat dan bertudung berbaris satu-satu mau masuk ke dalam pintu. Peter menarik satu orang yang paling belakang, memutar kepalanya dan membuat orang itu gak sadarkan diri. Ia menarik orang itu ke balik gedung lalu melakukan hal yang sama sekali lagi. Kini aku tahu apa yang dimaksud Peter soal kesempatan. Kami masuk dengan cara menyamar, menggunakan jubah bertudung coklat berjalan di barisan terakhir bersama Peter. Roh yang merasuki tubuh Steve-ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN