Jubah Coklat

1651 Kata
Satu persatu orang berjubah coklat masuk ke dalam. Sebelum mereka bisa masuk, mereka berbicara sebentar dengan orang yang menjaga pintu. Seseorang yang juga memakai jubah berwarna coklat. Tapi apa yang mereka bicarakan? Aku menoleh, ingin tahu apakah Peter tahu apa yang mereka bicarakan tapi Peter malah memintaku berbalik. Kembali maju beberapa langkah saat orang paling depan berhasil masuk. Tiba-tiba Peter menarik pundakku, ia maju selangkah menjadikanku orang terakhir pada barisan ini. Aku gak tahu apa yang ia rencanakan tapi satu hal yang aku tahu adalah aku hanya bisa mengikuti rencana apapun di kepalanya.                Orang di depan Peter sudah ada di depan pintu, orang itu mengangguk, menangkupkan dua tangan dan berkata. “God bless.” Tapi bahasa selanjutnya aku gak mengerti. Bahasa yang dipakai adalah bahasa asing tapi aku gak tahu bahasa dari mana.                Orang itu masuk, kini giliran Peter. Ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang di depannya. Mengatakan God bless, menangkupkan dua tangan lalu mengangguk. Setelahnya Peter mengatakan sesuatu berbahasa asing yang sama lalu meminta Peter untuk masuk. Sekarang giliranku, aku deg-degan setengah mati. Bagaimana kalo aku tertangkap gara-gara gak bisa nyebutkan kata sandinya. Hadew, kenapa kok seperti ikut acara Persami Pramuka sih pake sandi-sandian segala. Tapi apa yang aku takutkan gak terbukti, orang berjubah coklat itu memintaku lewat begitu saja. Membuatku memandangnya sesaat tapi Peter mengalihkan perhatianku. Ia memintaku mengikuti langkahnya. Dua orang berjaga di pintu rahasia yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah. Keduanya memberi salam kepada semua yang akan masuk ke dalam ruangan tersebut. “God bless.” Suara pria keluar dari sosok orang berjubah coklat. “God bless.” Peter menangkup dua tangan, mengangguk sebelum kemudian ia masuk ke dalam. Terus terang saja, saat ini aku benar-benar gugup. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam sebuah sekte atau aliran sesat. Dari sekian banyak misi yang sudah ku jalankan. Misi ini yang benar-benar membuatku tegang setengah mati. “God bless.” Sosok itu memandangku tajam. Meski gak terlalu jelas tapi aku bisa merasakannya. Orang itu membuatku penasaran sekali. “Ehm ... ehm.” Deheman orang berjubah lainnya membangunkanku dari lamunan. “God bless.” Aku menangkup dua tangan, mengangguk lalu masuk dengan badan sekaku robot. Setelah ada di ruang bawah tanah, Peter dan aku berjalan beberapa langkah. Di belakang mimbar berdiri seorang pria berambut gondrong, berkulit putih sedang bersiap pidato atau ceramah. Dua orang memakai tudung kepala memegangi anak yang kepalanya ditutupi kain. “God bless.” Pria berjubah coklat tapi tudung kepalanya dilepas, berdiri di belakang mimbar mulai membuka acara. Aku dan Peter terdorong ke depan, di belakang kami adalah tiga orang yang tadi berjaga di depan. Aku ada di hampir barisan terakhir. Di depanku penuh dengan orang-orang yang diam, bersiap mendengarkan apapun yang diucapkan pria itu. “Selamat datang anak-anakku. Tuhan mencabut dosa kalian sekarang.” Pria itu mengangkat satu tangannya, seolah-olah ia benar-benar mencabut sesuatu dari kami semua. Semua orang berteriak “Hoya.” Sambil mengangkat kedua tangan. Aku mengikuti gerakan mereka sama halnya dengan yang dilakukan Peter. Orang yang di depan mimbar terus berbicara manis, membuat semua orang disini seolah-olah terhipnotis. Tapi berbeda denganku, aku punya keyakinan dan agama yang sudah ku anut sejak kecil. Aku sangat percaya kalo agamaku adalah agama paling benar jadi aku gak termakan sama rayuan gombal dari pria berhidung mancung satu itu. “Anak-anakku. Tuhan tidak mengambil persembahan. Tapi kita umatnya wajib memberinya persembahan.” Pria itu menyentuh pundak anak yang akan jadi korban selanjutnya. “Dengan pengorbanan ini. Maka kita akan dijaganya. Kita akan dilindunginya dan kita akan mendapat rahmat darinya.” Orang itu berteriak penuh semangat. Aku benar-benar bergidik ngeri. Rasanya kesabaranku benar-benar diuji tapi Peter dengan pintarnya malah mengalihkan perhatianku. Diam-diam ia menautkan tangannya ke tanganku. Genggamannya yang hangat membuat otakku sedikit tersesat. “Tahan dirimu, Hon!” bisiknya. Sekali lagi aku memandang pria yang masih berkoar-koar seperti layaknya tim sukses sebuah partai saat pemilu. Bedanya janji-janji manis yang diucapkan adalah janji-janji yang akan semakin menyesatkan semua orang disini. “Anak-anakku. Kita kedatangan anggota baru. Dia telah diselamatkan Tuhan dan dibawanya ke jalan yang benar. Sayangku, majulah!” Pria itu mengulurkan tangannya, tiba-tiba semua orang minggir dan membuka jalan untukku, termasuk Peter. Aku menelan ludah susah payah, apa benar-benar aku yang dipilih orang itu untuk maju? Aku menoleh, di belakangku gak ada siapapun jadi artinya orang baru itu benar-benar diriku. Mati aku! Mati aku! “Majulah, Sayang. Tuhan telah mencabut semua dosa-dosamu. Tuhan akan menyayangimu dan memberi berkah untukmu. Sini, Sayang!” Pria itu tersenyum, semakin membuatku bergidik ngeri. Tapi aku gak punya pilihan lain selain mengikutinya. Perlahan aku melangkah, walau kaki seperti sedang ditempeli jin tuyul dari kuburan. Selangkah demi selangkah membuat perasaanku semakin takut sampai akhirnya aku benar-benar ada di depan dan menerima uluran tangannya untuk naik ke panggung. “Selamat datang di keluarga Ibtan. Tuhan telah memberimu nama. Cibil ... anakku Cibil, kamu adalah orang yang sangat beruntung karena sudah diselamatkan dari kesesatan dunia.” Astaga maksudnya apa ini? Namaku Cibil. Kenapa gak sekalian kutil aja. “Tuhan menunjukmu untuk melakukan hal yang paling mulia. Serahkan jiwa ragamu padanya. Tunjukkan kesetiaanmu kepada Tuhan ibtan. Berikan cintamu kepadanya.” Aku berdiri, terpaku, mencerna ucapan manisnya yang membingungkan. Tapi semua kebingungan itu akhirnya terjawab setelah ia memberiku sebuah pisau belati tajam. Tangannya menunjuk anak yang kini sudah dibaringkan di atas dipan kecil. Dua tangan dan kakinya diikat di ujung dipan. Ia meronta-ronta dan menangis tapi gak ada yang peduli kecuali aku. Tanganku gemetar hebat sampai pisau yang ku pegang jatuh. Pria itu memungutnya, meletakkannya kembali ke tanganku. Ia menatapku tajam, dari sorot matanya aku mendapat ketenangan. Tatapannya benar-benar menenangkan sekaligus memberi rasa takut luar biasa. Perasaanku seperti bertarung hebat antara mengikutinya atau memilih diam. “Lakukanlah sekarang, Anakku! Tuhan akan melimpahkan kasih sayangnya kepadamu.” Pria itu menggenggam tanganku, menggiringku untuk mendekati anak itu. Saat di depan dipan, kain penutup kepala anak itu dibuka. Melihatku berdiri dengan sebuah pisau membuatnya ketakutan, air matanya menetes tapi ia terlalu terkejut sampai gak mengeluarkan sepatah katapun. “Ambil bagian manapun yang kamu inginkan!” Aku menoleh, memandang kaget kepada pria itu. Apa maksudnya aku harus mengambil bagian manapun dengan pisau? Sungguh ini perbuatan paling keji yang pernah aku lihat. “Lakukanlah sekarang Anakku! Kamu ingin mendapat surga darinya kan?” Pria ini benar-benar iblis berwujud manusia. Aku memandang semua orang di tempat ini, mereka sepertinya sedang menunggu momen paling mengerikan. Wajah mereka dihiasi rahang mengeras, sepertinya mereka sudah gak sabar ingin melihatnya. “Benar sekali. Mereka sedang menunggumu mensucikan mereka. Dengan darah anak yang suci ini.” Pria itu memandang seluruh badan anak itu. Seperti melihat sebuah kue yang sangat lezat. “Kamu jangan khawatir. Anak ini telah dipilih Tuhan menjadi salah satu kekasihnya. Benar-benar anak yang beruntung.” Pria itu mengelus pipi anak itu, membuat anak itu semakin gemetar ketakutan. “Lakukanlah sekarang, Anakku!” Pria itu mengangguk, memintaku untuk cepat melakukannya. Aku menelan ludah susah payah, memandang anak itu sambil memikirkan apakah orang ini benar atau engga. “Apakah kamu tidak ingin kasih Tuhan turun kepadamu?” Pria itu menatapku dengan mata teduhnya. Apakah benar apa yang dikatakannya? “Surga menantinya. Lepaskan penderitaannya segera Anakku!” Aku kembali memandang anak itu, wajahnya memerah, isaknya terdengar jelas, badannya gemetar. Ia terlihat sangat tersiksa. Aku gak boleh terlalu lama membiarkannya tersiksa seperti ini. Aku harus segera mengantarkannya ke surga. Bukankah setelah itu aku akan mendapatkan kasih-Nya? Aku mengangkat dua tangan yang menyatu, menggenggam pisau. Untuk mempercepat kematiannya, jantung adalah tempat yang paling tepat dan paling cepat membuatnya pergi dari tempat ini. Tapi gak boleh! Kalo aku membunuh anak ini, artinya aku bagian dari mereka. Aku sama kejamnya dengan mereka. Lebih baik aku membunuh orang itu. Aku memutar badan, gak pake menunggu lama, aku menghujamkan pisau ke arah pria itu tapi dengan mudah pria itu menghindar dan dua orang berjubah coklat langsung menangkapku. “Wanita ini dirasuki setan.” Pria itu menunjukku sementara ia sedang mengatakan kalo aku setan di hadapan umatnya. “Kita harus mengusir setan dari tubuhnya!” “HOYA!” Orang-orang bersemangat, mengangkat satu tangan terkepal. Dua pria itu menyeretku dan memaksaku duduk berlutut di tengah panggung. Aku memandang tajam pria itu. Aku pastikan dia akan menyesal sudah membuat seorang Bunga hampir kehilangan akal. “Anakku. Sebentar lagi aku akan membantumu mengusir setan dari tubuhmu. Bersabarlah!” Pria itu berlutut di sampingku, membelai pipiku lalu menamparku kuat-kuat. Kepalaku serasa mau pecah dan suara dentuman terdengar di telingaku. Aku sudah gak bisa bersabar lagi. “Kamu sebut aku dimasuki setan?” Aku sudah kehilangan kesabaran. Aku memandang Steve, maksudku Peter. Dia masih berdiri terdiam di tempatnya. Aku gak ngerti apa yang sedang ditunggunya sampai membiarkanku ditampar dan hampir terpengaruh olehnya. Aku bangkit, membuat sebuah cakra di kedua tangan. Membuat orang-orang di tempat ini terkejut dengan apa yang aku lakukan termasuk orang itu. “Tuhan yang kalian sembah. Apakah benar senang melakukan penyiksaan makhluk-Nya?” Orang-orang bergeming, mereka memandang temannya satu sama lain. “Jika benar Ia suka persembahan kita. Kenapa harus kecil? Kenapa kita gak mengambil jantungnya, paru-parunya bahkan otak jeniusnya. Tuhan pasti akan sangat menyukainya?” Pria itu melotot lalu tertawa terbahak-bahak. Ia menatap umatnya, meredam gejolak yang baru saja terbentuk. “Lakukanlah jika kalian merasa apa yang dikatakan wanita itu benar!” Pria itu merenggangkan kedua tangan. Aku meliriknya, kalo bukan mereka, aku yang akan melakukannya. Aku bersiap menyerang pria itu dengan cakra. Aku ingin membuatnya mati terbakar dan hangus gak bersisa. Dasar iblis jahannam! “POLISI!” Tiba-tiba dua orang memakai seragam kaos biru bertuliskan turn back crime masuk dengan mengacungkan pistol. Membuat kaget semua orang yang ada disini termasuk aku. Setelah itu polisi-polisi lain datang dan menangkap semua umat sekte termasuk pria yang jadi pemimpinnya. Peter mendekaiku, ia naik ka atas panggung dan merenggangkan tangannya. Aku meliriknya, “Steve-ku gak akan ngebiarin hal kaya tadi terjadi.” Aku membuang muka. “Steve-ku. Apa maksudmu?” Aku kembali memandangnya, air mataku leleh begitu saja. “Aku tahu siapa kamu ... Peter.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN