Aku Kangen Steve

1648 Kata
Aku menangis sesenggukan, aku menyesal sudah membuat anak yang menjadi korban kejahatan sebuah sekte harus mengalami hal yang membuatnya trauma. Anak itu bernama Bowo, anak kelas empat SD yang kini dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena mengalami beberapa luka. “Maafkan Kakak, Bowo. Kakak terpaksa.” Aku kembali menangis, membayangkan bagaimana Bowo ketakutan sekali. Aku jadi merasa sangat bersalah karena sudah melakukannya, bahkan punya sedikit keyakinan untuk melakukannya. “Gak papa, Kak. Terima kasih hadiahnya.” Bowo mengangkat mainan mobil remote warna merah yang sengaja ku belikan untuknya. Ibu Bowo, Bu Ranti tersenyum. Ia berdiri di dekat ranjang pasien yang ditempati Bowo. Mata wanita itu basah tapi secepatnya dihapus pakai jilbab oranye yang ia pakai. “Maafkan saya, Bu. Saya endak secepatnya menyelamatkan Bowo,” ucapku. “Ndak papa. Begini saja saya sudah bersyukur sekali. Mbak Bunga, terima kasih banyak. Ya Allah, waktu tahu Bowo ilang, saya rasanya mau mati. Saya sudah berpikir kalo Bowo....” Bu Ranti gak melanjutkan ucapannya, ia malah menangis sambil menciumi wajah Bowo membuat anak laki-laki itu risih dan mendorong badan ibunya. Peter meletakkan tangannya di pundakku, aku menoleh ke arahnya. Ia tersenyum, mengangguk pelan untuk mengajakku pergi dari tempat ini. “Ya sudah Bu Ranti. Saya mau pulang dulu. Sekali lagi saya minta maaf sudah membuat Bowo seperti ini.” Aku berdiri memandang Bu Ranti dan Bowo bergantian. “Ya Allah, Mbak Bunga. Sampai kapan Mbak ini minta maaf. Justru saya berterima kasih sekali karena Mbak Bunga dan Mas Setip (Steve) menolong anak bandel saya.” Bu Ranti memutari ranjang untuk mendekatiku, ia memelukku erat sekali lalu menempelkan sebuah amplop sambil bersalaman. “Bu Ranti gak usah. Ini buat apa?” Aku mendorong amplop itu ke Bu Ranti. “Sudah, ini hanya sedikit. Saya gak bermaksud apa-apa. Anggap sebagai uang traktiran beli bakso.” Bu Ranti mendorong amplop ke tanganku. Kami berdua saling mendorong amplop, aku gak mau mendapat uang tempel karena menjadi demon hunter adalah dorongan hati, lagipula aku juga mendapat gaji jadi untuk apa aku menerima uang dari orang yang sudah aku bantu. Aku menggenggamkan uang itu ke tangan Bu Ranti dan menahannya. “Uang ini untuk beli obatnya Bowo dan beli ayam krispi.” Aku tersenyum, gak memberikan kesempatan untuk Bu Ranti mengembalikan uang itu kepadaku. Pada akhirnya Bu Ranti hanya bisa tersenyum, sekali lagi ia memelukku sesaat sebelum akhirnya aku melepasnya dan mendekati Bowo. Aku membelai puncak kepalanya, bocah ini sibuk memandang mobil remot pemberianku. “Sekolah yang rajin ya, Wo. Biar nanti kamu bisa jadi polisi. Kamu kemarin bilang kan kalo pingin jadi polisi?” Bowo memandangku, “iya aku ingin jadi polisi yang bawa pistol kaya Pak polisi yang kemarin. Mereka keren banget.” Ia menunjukkan dua jari jempolnya. Aku mengacak-acak rambutnya sambil tertawa terbahak-bahak. Bocah satu ini sungguh mempunyai mental baja. Setelah kejadian mengerikan kemarin, ia masih bisa tertawa meski kata Bu Ranti semalam Bowo histeris karena mimpi buruk. *** Aku duduk di kursi penumpang, Peter menyalakan mesin mobil dan segera memacunya. Sejak kemarin aku sedang melakukan aksi bungkam, aku marah luar biasa karena Peter membiarkanku hampir terpengaruh ucapan pria bernama Antan alias anak setan. Orang itu seperti orang gila waktu ditangkap, beda sekali saat ia berusaha mempengaruhiku dengan kata-kata manisnya. Kalo saja polisi gak datang tepat waktu, bisa saja aku benar-benar membunuh Bowo. “Ini semua salahmu!” Aku memandang Peter dengan tatapan marah. Orang satu ini benar-benar jahat. Sudah menguasai badan Steve dan kemarin hampir membuatku menjadi seorang pembunuh. “Maafkan aku, Honey.” Peter tersenyum tipis, entah apa yang ada dalam pikiran orang yang sehari-hari bertampang serius ini. “Jangan panggil aku Honey. Aku bukan Honey-mu.” Mengingat Honey membuatku merindukan Steve, entah berapa lama Peter menguasai badan Steve. “Kamu kenapa?” Ia bahkan gak memandangku waktu menanyakannya. “Aku tahu siapa kamu.” Sudah saatnya bagiku untuk mengatakan apa yang aku ketahui tentangnya. “Apa?” Singkat, padat dan jelas adalah gaya Peter. Seharusnya sejak dulu aku bisa membedakan antara Steve dan Peter. Meski mereka berbagi raga yang sama, tapi mereka mempunyai dua sifat yang sangat berbeda. “Kamu ... Peter.” Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, badanku sampai condong ke depan dan hampir menabrak dashboard andai gak ditahan sama sabuk pengaman. “Apa kamu bilang?” Kali ini Peter memandangku saksama. “Namamu Peter kan? Kamu bukan Steve suamiku.” Peter menyalakan mobil kembali dan menepikannya, ia melepas sabuk pengaman dan mengamatiku beberapa lama. Aku memandangnya, Steve dan Peter tentu saja rupa mereka sama. Tapi bahkan ekspresi mereka berbeda. Steve hampir selalu tersenyum sementara Peter diam dan terkesan dingin. “Dari mana kamu mengetahuinya?” “Apa itu penting?” “Honey. Aku Steve.” “Kamu Peter. Steve-ku, kembalikan Steve-ku!” “Apa yang sedang kamu bicarakan?” “Apa kurang jelas omonganku?” “Kamu terlalu lelah. Sebaiknya kamu mengambil cuti beberapa hari.” “Gak ada hubungannya. Peter, keluar dari badan Steve! Kembalikan Steve ke dalam raganya!” “Pasti Rascal yang mengatakannya. Iya kan?” “Kalo iya kenapa?” “Aku harus memberinya pelajaran!” Rahang Peter mengeras, gigi-giginya bergemulutuk. “Kenapa kamu melakukannya? Sejak kapan kamu melakukannya? Apa sebelum Steve menikah denganku? Apa kamu memanfaatkan Steve untuk....” Entahlah. “Honey. I love you. I really love you. Trust me!” “Gak usah ngomong pake bahasa inggris segala. Hanya karena kamu pakai bahasa inggris bukan berarti kamu Steve.” Peter terdiam, ia menarik napas panjang sambil menatapku lekat. Ada sorot mata terluka dari tatapannya tapi bisa jadi itu hanya perasaanku saja. “Terserah kamu menganggapku siapa. Tapi satu hal yang jelas Steve atau Peter, sama-sama mencintaimu.” “Akhirnya kamu ngaku kan. Sejak awal aku merasa aneh. Kenapa Steve seperti ini, kenapa Steve seperti itu. Sekarang semua jelas. Tapi aku mencintai Steve dan gak cinta sama kamu.” “Apa bedanya? Steve dan Peter ada dalam raga yang sama. Kami berbagi apapun.” “Tapi aku gak mau punya dua suami.” “Kamu hanya punya satu suami. Kamu hanya punya aku, Steve.” “Tapi kamu bukan Steve.” “Apa kamu melihat wajah Peter sekarang? Aku Steve Johnson, sekarang dan selamanya.” Ternyata Peter sangat bebal sekali, aku jadi sangat sebal dengannya. Rasanya sangat menyakitkan, aku merasa dibohongi Steve selama ini. “Aku rindu Steve-ku,” lirihku. Airmata turun dengan mudahnya, tapi perasaan kangen ini benar-benar menyiksaku. Steve yang lucu dan konyol, yang membuatku sebal setengah mati adalah Steve yang aku cintai. “Steve dan Peter adalah Steve. Aku selalu bersamamu jadi aneh jika kamu masih rindu padaku.” Aku gak menggubris, aku memandang keluar jendela, memandang lapangan yang ada di depan alun-alun kota. Tempat ini agak ramai dengan beberapa keluarga kecil yang sedang jalan sore. “Kita ambil cuti. Honey moon bisa membuat pikiranku fresh.” Aku menoleh, ku rasa Steve-ku muncul, cowok itu selalu omes dimanapun dan kapanpun. Tapi melihat wajah tenangnya, aku menjadi kecewa. Yang bicara sekarang masih tetap Peter. “Kamu tidak menginginkannya? Bagaimana jika kita liburan ke pantai? Aku yakin pasti menyenangkan.” Rasanya aku gila sekarang, kebingungan ini benar-benar membuatku gak bisa mikir apapun. Steve oh Steve, kenapa kamu sekarang membuatku sepusing sekarang. Ku pikir kekonyolanmu itu sudah aneh sekali tapi sekarang dengan berbagi tubuh dengan leluhur kita, ini jauh lebih dari aneh. *** Sampai rumah, aku melancarkan aksi tutup mulut dari Peter sampai jiwa Steve kembali ke raganya. Masuk ke dalam kamar, aku langsung menjatuhkan diri di kasur. Mengambil bantal Steve dan mencium aromanya dalam-dalam. Peter masuk ke dalam kamar, memandangku sambil tersenyum. “Untuk apa mencium bantal jika pemiliknya ada disini?” Aku pasti senang kalo yang bicara adalah Steve tapi kenyataannya ia adalah Peter. Aku membuang bantal ke lantai, tidur miring membelakanginya. Aku gak mau ia menyentuhku, jadi aku tidur di tepi ranjang. Berusaha menjaga jarak darinya. “Masih marah?” Sudah jelas aku masih marah sama Peter. Ini masalah sangat besar dan sangat serius, gak bisa seenaknya disepelekan. Meskipun aku belum tahu apa yang harus aku lakukan tapi yang pasti untuk sementara ini yang harus aku lakukan adalah menjaga jarak dengannya. Apa sebaiknya aku tidur terpisah? Kan dia bukan Steve. Tapi aku takut sama Mommy, nanti dimarahi seperti waktu itu. Aku bisa malu sendiri. Aku berpikir beberapa lama sampai akhirnya menemukan sebuah ide. Aku mengambil guling dan menaruhnya di tengah-tengah, menjadikannya pemisah antara aku dan Peter. Meski raga mereka satu tapi aku dan Peter bukan suami istri. Jadi aku gak ingin dia menyentuhku seenaknya. “Apa ini?” Peter menjatuhkan badannya ke atas ranjang, memandang guling yang selama ini gak pernah dipakai. “Kamu jangan melewati batas ini ya! Ini tempatku dan itu tempatmu.” Aku kembali berbaring memunggungi Peter. Meski mereka dua jiwa berbeda tapi raga mereka sama. Baik Peter atau Steve tetap bisa membuatku lupa diri jadi hanya cara ini yang bisa membuatku aman. “Selamat tidur, Honey. Aku sangat mencintaimu, lebih dari Steve.” Aku menoleh, Peter sudah memejamkan mata. Tidur telentang dengan dua tangan menjadi bantalan. Gak lama kemudian aku bisa mendengar suara dengkur halusnya. Cepat sekali ia tertidur, jadi kangen Steve yang selalu susah tidur kalo gak memelukku. Aku kembali menghadap tembok, gak mau memandangnya. Takut kalo tiba-tiba jadi khilaf tapi terbiasa tidur dalam pelukan Steve membuatku susah tidur. Mataku masih melek meski sudah kupaksa. Steve, sampai kapan Peter menempati ragamu? Aku susah tidur karena gak ada kamu. Aku ingin ada dalam pelukanmu seperti malam-malam sebelumnya. Tapi kamu sekarang malah pergi entah kemana. Gak kerasa tetes airmata jatuh lagi, entah berapa kali hari ini aku menangis. Aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan, pikiranku masih sulit menerima kenyataan kalo Steve dan Peter adalah orang yang sama. Entah siapa dari keduanya yang mencintaiku. Steve atau Peter atau malah keduanya. Aku berusaha menahan isak tapi kenyataannya suara itu tetap saja lolos. Kurasakan lengan seseorang melingkar di perutku. Membuat perasaanku langsung dag dig dug gak jelas. “Steve. Steve.” Hanya namanya yang bisa kusebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN