Ada Apa Denganku?

1685 Kata
"It's oke. No problem. Hei, are you ok?" "Hello. Are you ok?" Aku masih ingat betul bagaimana aku dan Steve bertemu di sekolah lalu dia menjadi seorang pengganggu sampai akhirnya kami pacaran dan dipaksa menikah. Sungguh semua itu seperti mimpi yang indah bagiku. Bisa berpetualang dengan Steve, meski sering sebal dengan tingkahnya tapi sekarang justru kekonyolannya membuatku sangat-sangat merindukannya. Duduk di bale-bale belakang rumah, aku hanya bisa bengong mengingat kisah manis yang pernah kami lewati bersama. Tapi sekarang entah apakah aku dan Steve bisa mengulang masa-masa itu. “Jangan bengong!” Rascal membuat lamunanku buyar. “Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan, Ras. Aku merasa mengkhianati Steve.” Beruntung Rascal bisa diandalkan di saat seperti ini. Ia menjadi tempat curhat paling enak walau mulutnya suka seenaknya ngomong tapi lumayanlah daripada gak ada teman sama sekali. “Terima saja kamu memiliki suami aneh seperti Steve.” “Tuh kan, kamu aja bilang kalo dia aneh. Aku gak bisa, Ras. Ini susah sekali.” “Cerai saja. Kamu bisa menikah denganku.” Tuh kan, Rascal paling pinter kalo urusan bicara. Mana bisa aku minta cerai dari Steve terus menikah dengan cowok algojo seperti dia. Ngebayangin dia memelukku, bisa membuat badanku ngilu. “Jika tidak ingin cerai. Satu-satunya cara dengan menerimanya.” Aku mendekati Rascal, ia duduk dengan dua kaki ditekuk dan dua tangan ada di masing-masing kakinya. Aku semakin mencondongkan badan, seolah sedang membahas sesuatu yang sangat penting. Tapi apa yang aku rasakan dan aku alami sekarang adalah hal terpenting dalam hidupku. “Apa gak ada cara buat memisahkan Peter dari Steve?” Rascal mengangkat dua alisnya, sepertinya ia gak percaya aku mengatakannya. Ia merubah posisi duduk menjadi bersila, dua tangannya dilipat di depan d**a. “Sayangnya itu mustahil dilakukan.” “Kenapa? Aku yakin Ki Mengkis bisa melakukannya. Tapi aku harus menunggu Steve yang menguasai raganya.” “Kenapa tidak sekarang?” “Karena Peter susah dikibulin.” Rascal tertawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang hebat. Bocah ini sedang menertawakanku, membuat mulutku mengerucut dan akhirnya ku tendang kakinya karena kesal. “Kamu takut Peter tapi kamu tidak takut padaku? Aku yakin kamu tahu siapa aku?” Sekali lagi Rascal tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja aku tahu. Kamu werewolp (werewolf) kan? Ish, gak usah bangga deh. Kalo kamu bukan keluargaku sudah kumasukkan ke handphone kamu.” Aku membuang muka, tapi mataku melirik Rascal. Orang satu ini aneh sekali, bangga banget jadi seekor serigala jadi-jadian. Dikira aku gak tahu kalo serigala jadi-jadian gak sekeren serigala jadi-jadian di TV. Lagipula apa maksudnya dia menyombong seperti itu kecuali kalo Rascal benar-benar serius ingin memiliku. “Apa?” Rascal memandangku dengan dua mata menyipit. Aku hanya bisa terkekeh, membuang jauh-jauh pikiranku yang aneh-aneh ini. tapi kemudian aku kembali meliriknya. Rascal kembali tertawa tapi sekuat tenaga ia tahan. “Kalo ketawa, ketawa aja deh. Gak usah pake ditahan, gak bisa kentut baru tahu rasa lo.” Rascal benar-benar tertawa keras sambil memegangi perutnya, membuatku mengerucutkan bibir. Tapi kalo dipikir-pikir lucu juga sih. Aku jadi ikutan tertawa bersamanya. Tapi tertawa miris. Setelah kehabisan tawa, aku malah menjadi ingin menangis. Aku gak tahu apa yang harus aku lakukan dengan kisah cintaku. Bertahan dengan Steve yang bukan hanya milik Steve bukan hal yang bisa ku terima dengan mudah. “Kenapa harus Steve yang dimasuki Peter? Kenapa bukan kamu saja Ras?” Air mataku mulai bercucuran. Aku menekuk kaki dan memeluknya erat. “Hei, kenapa aku?” Ya ampun Rascal, seharusnya kamu bisa mengerti perasaanku. Ini kan hanya keinginanku sendiri, toh pada kenyataannya yang dimasuki Peter tetap saja Steve. “Anggap saja dia mempunyai alter ego.” “Apa itu alter ego?” “Kepribadian ganda. Bunga, apa kamu benar-benar sebodoh ini?” Aku melotot, gak percaya kalo Rascal malah menghinaku. Tapi Rascal memang suka ceplas-ceplos jadi aku hanya bisa menghela napas berat. “Aku hanya becanda.” Rascal terkekeh, tapi tetap saja aku kesal karena sudah dikatai bodoh. “Terima saja! Mau Steve atau Peter, mereka sama saja. Two in one. Buy one get one free. Ya, sebut saja bonus.” “Bonus pala lu peyang. Iya kalo aku beli sabun cuci pakaian dapat gratisan piring cantik. Ini orang, suami, teman hidupku. Masa disamain sama shampo sachetan two in one.” “Kalau kamu tidak mau. Lalu apa yang kamu mau?” “Gak tahu.” Aku menggeleng, aku memang benar-benar gak tahu apa yang harus aku lakukan. Makanya aku butuh orang lain untuk bisa membantuku tapi Rascal hanya tempat curhat yang enak tanpa solusi kecuali solusi edan bin gendeng. *** Beberapa hari ini aku memilih mendiamkan Peter, dia pun gak berusaha mendekatiku sama sekali. Tapi ini bagus sekali karena Peter gak berusaha menjadi Steve tapi jelek juga karena ia gak berusaha mengembalikan Steve ke raganya. Nahlo aku kayaknya sudah mau stres ini. Berada di kantor demon hunter, gak banyak yang dilakukan karena tim alpha gak mendapat tugas sama sekali. Tugas-tugas ringan diserahkan ke tim-tim yang lain. Kami bertiga hanya nongkrong di ruangan tim alpha sekedar untuk menyerahkan laporan dan mengisi absensi. Duduk berhadapan dengan Rascal, aku memandangnya lekat. Ia duduk bersandar pada kursi, dua kakinya menginjak tepi meja, kursinya condong ke belakang. Beruntung kursinya kuat jadi gak sampai membuatnya patah meski diduduki ala koboi oleh Rascal. “Honey, Rascal. Mana laporan kalian?” Peter duduk diantara aku dan Rascal. Aku menoleh, ternyata aksiku membuatnya gak membuatkanku laporan. Sepertinya dia ngambek karena gak ku gubris selama berhari-hari. “Aku ... belum buat.” Aku menunduk, gak kepikiran kalo Peter benar-benar cuek kepadaku. “Kamu bisa buat sekarang.” Peter menggeser laptopnya ke hadapanku. Menunjukkan sebuah foto kami berdua saat kami menikah dulu. Memandang wajah Steve yang sumringah membuatku merasa sangat-sangat rindu kepadanya. Mataku berkaca-kaca, menyentuh foto itu dan mengusapnya. Steve, aku sangat merindukanmu. “Honey. Besok ikut aku!” Peter membuatku menoleh. Ia masih saja memanggilku honey-honey padahal itu panggilan sayang Steve untukku tapi aku malas mendebatnya jadi aku biarkan saja ia sesukanya. “Kemana?” Aku malas pergi-pergi dengan Peter. “Apa Rascal ikut?” Aku memandang Rascal, ia menatapku dengan seringaian di sudut bibirnya. “Dia mendapat tugas tunggal. Ini berkasnya.” Peter melempar sebuah dokumen bermap putih ke Rascal. “Kita tim. Kenapa aku harus mengerjakan misi sendirian?” Rascal membuka map dan membacanya sekilas lalu ia melempar map itu ke atas meja. “Just do it!” Peter melotot, ia menunjuk Rascal membuat Rascal mengembuskan napas berat. Aku gak ngerti untuk apa aku pergi dengan Peter. Tapi aku gak ingin membahas masalah ini di depan Rascal jadi aku memilih diam. Rascal berdiri, ia mau keluar tapi aku menahannya. Ia kembali memutar badan untuk melihatku. “Kamu mau kemana?” “Keluar. Cari makan.” Rascal kembali memutar badan, ia keluar begitu saja tanpa menanyaiku. “Akhir-akhir ini kamu begitu dekat dengannya. Hati-hati Hon. Dia memang punya feromon aneh yang membuat cewek bisa terpesona olehnya.” “Aku gak terpesona dengannya. Rascal cuma saudara.” “Awalnya begitu tapi semua bisa berbeda.” “Kenapa. Cemburu? Kamu terdengar seperti Steve tapi aku tahu kamu bukan Steve.” Aku jadi jengkel sendiri sama Peter. “Aku berhak cemburu. Kamu istriku.” “Aku istri Steve. Bukan istrimu.” “Aku dan Steve sama. Namaku memang Peter tapi lihatlah! Aku Steve.” Peter merenggangkan dua tangannya. Aku mendesis lalu membuang muka, memandang foto yang ada di layar laptop. Lebih baik aku membuat laporan daripada musti berdebat dengan makhluk satu ini. Beberapa saat aku memandang laptop, ini pertama kalinya aku memakai alat canggih yang dulu hanya dimiliki anak pak lurah, si Wulan. Aku menyentuh kotak kecil yang ada di bagian bawah key board. Apa yang ku lakukan membuat tanda panah di layar bergerak-gerak. Aku menggesernya ke ms.word dan mengetuknya dua kali. Membuat laporan kegiatan bukan hal sulit karena dulu aku pernah melakukannya saat sekolah dulu. Hanya saja mengetik dengan laptop baru pertama kali ku lakukan dan mengetik dengan komputer hanya dua atau tiga kali ku lakukan. Tapi ini gak jadi soal, yang penting kan laporanku beres. “Hon. Laporanmu bisa selesai nanti malam jika kamu mengetik hanya dengan sebelas jari.” Peter masih duduk tenang di tempatnya, menatapku mungkin gak pake berkedip. “Siapa yang mengetik pake sebelas jari? Jariku Cuma sepuluh.” Aku kembali mengetik dengan dua jari telunjuk. “Gabungkan dua telunjukmu. Seperti sebelas kan?” Peter menunjukkannya kepadaku dan memang terlihat kalo membentuk angka sebelas. “Kamu meledek? Kamu ngapain disini terus? Sono keluar, jangan ganggu aku!” Aku merengut, kembali mengetik di laptop dengan ketukan kuat biar jebol sekalian. Rusak sekalian. Biar tahu seorang Bunga kalo marah seperti apa. “Aku suka memandangmu, apapun yang kamu lakukan. Bagiku itu sebuah keindahan.” Gombal akut. Aku terus mengetik tanpa mendengarkan rayuan gombal seorang Peter walau terkadang itu terdengar seperti gombalan Steve. Hanya saja sorot matanya masih sama, tenang dan gak menggebu-gebu seperti Steve. Lagipula, kalo Steve disini, dia gak bakal banyak ngomong. Steve kan omes setengah mati, pasti dia ngajak aku nana nina sekarang. Tiba-tiba layar laptop mati sebentar lalu muncul ketikan aneh yang terus keluar, membuat kedua mataku melebar. “Steve. Ini bagaimana?” Aku menekan tombol power tapi tetap saja tulisan aneh itu keluar terus. Peter mendekatiku, ia berada di belakangku, menunduk dan dua tangannya mengetik sesuatu dengan sangat cepat. Tapi bukan itu masalahnya, kami terlalu dekat sampai aku bisa mencium aroma badannya. Pipi kami hampir bersentuhan, membuat sesuatu dalam hati dan pikiranku mendadak dangdut. Deg deg Deg deg Aku sedikit menoleh, membuatku bisa mencium aroma wajah yang sanga ku rindukan. “Sudah selesai.” Peter menoleh, membuat bibirku menyentuh pipinya meski Cuma sekilas. Aku membuang muka, malu setengah mati. “Hon.” Aku kembali menoleh, menatapnya lekat. Perasaanku sedang gak singkron dengan badannya. Aku ingin menolaknya tapi sekaligus ingin terus memandanginya seperti ini. Peter mendekatkan wajahnya, aku jadi sangat deg-degan sekali. Sampai akhirnya bibir kami bersentuhan, jantungku seperti mau lepas dari tempatnya. Tapi mau menolak, aku gak bisa. Ciumannya sangat lembut sekali, membuatku ingin terus seperti ini karena ciuman Peter sama seperti ciuman Steve saat kami menikmati malam pertama kami. Aku jadi gak tahu kenapa aku jadi sekacau ini. Benci sekaligus senang. Steve-Peter. Kenapa kalian membingungkanku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN