Setelah ciuman kemarin, perasaanku kepada Peter atau Steve jadi semakin membingungkan. Aku merasa mengkhianati Steve tapi di lain sisi aku merasa membutuhkan Peter. Aku merasa sangat mengenali cumbuannya. Ciumannya sama seperti saat ia menciumku pertama kali.
Sikap manisnya juga membuatku seperti kembali saat kami baru ketemu di sekolah dulu, waktu gak sengaja mendorongnya biar dia gak dirasuki sari.
Peter-Steve apa yang harus aku lakukan?
Naik mobil dengan kecepatan cukup tinggi, sedari tadi Peter sibuk mengemudikan mobil. Gak ngomong sama sekali, aku jadi ikut diam sambil menikmati pemandangan jalan yang dihiasi pepohonan rindang di kanan-kirinya.
"Aku sudah memesan villa untuk kita menginap." Sejak perjalanan dua jam yang lalu, baru kali ini Peter bersuara.
"Tentu saja begitu." Aku menoleh sesaat lalu kembali memandang keluar jendela.
"Honey."
Aku kembali menoleh, ku pikir Peter mau ngomong apa. Eh gak tahunya waktu aku menoleh, ia hanya tersenyum. Aku gak tahu apa yang ia pikirkan.
"Kamu bukan Steve yang spontan. Tentu saja kamu bakal nyiapin semuanya. Peter, jangan pikir hatiku luluh cuma karena kamu ngajak aku rekreasi ya...." Aku mendesis, andai gak dipaksa Mommy. Aku lebih suka menemani Rascal mengerjakan misinya.
"Honey moon, Sweetheart."
"Rekreasi." Aku gak mau menyebutnya sebagai honey moon.
"Masih marah? Aku Steve, Honey."
"Kamu Peter, bukan Steve. Hanya karena kamu ada di dalam badan Steve bukan berarti kamu Steve. Kamu jangan mikir bisa mengambil hatiku hanya karena mengajakku rekreasi kayak gini."
Peter tersenyum, entah apa yang ada dalam otaknya. Orang aku lagi marah kok dia malah senyum-senyum gak jelas kayak gini.
"Aneh."
"Aku senang melihatmu marah."
"Tentu saja kamu bakal suka aku marah. Kamu bukan steve."
"Memang apa bedanya Steve dan Peter? Aku yakin kamu takkan bisa membedakannya."
"Sekarang kamu Peter."
"Aku Steve, sekarang besok atau kapan pun."
Kedengarannya memang seperti Steve tapi Steve gak suka berdebat. Dia pasti bakal membuatku gampang klepek-klepek sama rayuan gombal dan keomesannya.
Aku mengamatinya, semua yang ada di dirinya memang Steve, hanya raut wajah dan sorot matanya yang berbeda. Steve punya sorot mata ceria dan banyak sekali tertawa sementara Peter sorot matanya tenang dan lebih banyak tersenyum ketimbang tertawa.
Perjalanan semakin memusingkan. Jalanan naik turun dan berkelok-kelok melewati sawah teras siring dan terkadang pepohonan pinus membuat kepalaku pusing sekali.
"Kenapa berangkat pagi sih?" Kalo perjalanannya malam, pasti gak bakal membuatku pusing seperti sekarang."
"Mommy pasti marah jika kita pergi malam hari. Beliau takut kita bukan pergi honey moon tapi menangkap demon."
"Bagus dong...."
"Honey. Apa pergi denganku membuatmu tersiksa?"
"Tuh tahu."
Peter diam, ia kembali fokus mengemudi. Untung saja begitu, karena kalo diteruskan aku pasti marah besar. Peter suka sekali beradu bicara, sok pinter dia.
Tapi duduk tanpa bicara membuatku bosan sekali. Apalagi sejak tadi aku gak tahu kemana kami akan pergi. Ehm ... rekreasi.
"Kita mau pergi kemana?"
"Nanti kamu akan tahu." Peter sok buat surprise segala.
Kemana pun dia mengajakku, gak akan membuatku bisa mengalihkan perasaan kepadanya. Tapi, gak tahu kenapa aku merasa kalo bersama Peter pun aku merasa nyaman, senyaman saat aku sama Steve. Nahlo, musti gimana dong
Berjam-jam duduk di dalam mobil, pantatku terasa panas banget, lelah dan semakin membosankan. Semua seolah hilang waktu pemandangan laut yang sangat biru dan indah ada di depan mata.
Aku senang sekali karena bisa melihat laut lagi, bahkan laut disini jauh lebih indah daripada yang ada di Ancol kemarin.
"Don't you like it?" Peter tersenyum dan kali ini aku membalasnya dengan ikut tersenyum.
Peter menghentikan mobil di tepi jalan. Gak pake menunggu lama, aku keluar mobil dan berlari ke pantai. Mengejar ombak saat menjauh, lari menjauh saat ombak mendekat.
Aku melepas sandal, melemparnya ke dekat kaki Peter. Ia sedang berdiri sambil memotretku. Aku membalik badan, entah mengapa aku merasa jadi orang spesial hanya karena jadi modelnya
Melihat laut yang biru dan baru ku sadari kalo pantulan sinar matahari membuatnya silau sampai aku harus menyipitkan mata saat melihatnya. Tapi tetap saja aku suka sekali ada disini.
Aku kembali mendekati pantai, membiarkan kakiku disentuh riak ombak. Aku ingin berlama-lama memandangi keindahan alam ini sekalian beristirahat setelah berjam-jam duduk.
Tiba-tiba seseorang memasang kacamata di wajahku. Pemandangan yang tadinya silau langsung adem.
Peter memotretku pake kamera yang dipake fotografer (DSLR) berkali-kali padahal aku hanya diam saja. Ia mendekatiku, merangkulku, menempelkan pipinya di pipiku dan memotret kami berdua dengan cara mengarahkan kamera itu ke kami berdua berkali-kali.
Perasaanku jadi deg-degan sekali, rasanya jauh lebih hebat ketimbang saat aku melihat Hengky bahkan masih lebih deg-degan bersamanya ketimbang dengan Steve. Huaa, ada apa dengan diriku?
Aku menoleh, memandangi Peter yang sebenarnya adalah Steve dan Steve sebenarnya gak lain adalah Peter. Ini sangat membingungkan.
Aku mencintai Steve tapi aku merasa gimana gitu sama Peter. Aku jadi merasa seperti istri yang sedang selingkuh.
"Honey." Peter membangunkanku dari lamunan.
Aku menjauhi Peter, berlari secepat yang aku bisa. Ini benar-benar membuatku merasa jadi orang jahat sekali. Kalo lama-lama sama Peter, aku takut cintaku terbagi. Aku gak mau dicap menjadi istri yang gak setia sama suami sendiri.
Aku menangis, memikirkan masalah yang tiba-tiba menjadi rumit dan membuatku gak bisa berpikir dengan baik.
Cinta memang bisa menjadi sangat menakutkan. Apalagi kalo perasaan tiba-tiba terbagi dua. Aku harus mematikan perasaan ini secepatnya. Tapi kalo aku terus bersama Peter, bisa jadi hatiku benar-benar dicurinya lalu kalo seperti itu bagaimana dengan Steve.
Atau aku menerima saja perasaan ini dan menjalankan peran istri kepada dua jiwa itu?
Tanpa sengaja, kakiku menyandung sesuatu sampai aku terjatuh. Begitu jatuh telungkup di atas pasir, ombak menyambutku, menggelungku dalam gelombangnya sebelum ombak kembali ke lautan.
Aku tetap saja telungkup. Membiarkan ombak menenggelamkanku dengan air laut yang sangat asin, seasin air mataku yang menetes.
"Honey, are you oke?"
Aku gak peduli dengan pertanyaannya. Selama aku belum menemukan jawaban yang pas, aku akan membiarkan ombak mendinginkan otakku.
Peter menarik badanku sampai aku kembali berdiri. Badan bagian depanku kotor oleh pasir pantai tapi aku gak peduli. Yang aku inginkan sekarang adalah menjauhi Peter. Aku ingin menata hatiku yang sedang galau.
"Honey, kamu mau kemana?" Peter mencekal lenganku, menariknya sampai aku berbalik dan terjerembab dalam pelukannya. Tatapannya membuatku beku, kami bersitatap beberapa lama. Perasaan itu semakin lama semakin kuat. Peter sangat pandai mencuri perasaanku.
"Honey. Aku Steve." Aku mengamati sorot matanya juga senyum lebarnya.
"Aku sangat merindukanmu. Honey. Maafkan aku."
"Benar kamu Steve?"
"Peter mengijinkanku keluar. Honey, kiss me please!" Steve mengerucutkan bibirnya, ia mempererat pelukannya dan berusaha menciumku.
Pada awalnya aku menolak, tapi ia terus saja berusaha menciumku. Membuatku sadar kalo orang konyol ini adalah Steve.
"Jadi kamu benar-benar Steve?" Aku menahan badannya untuk kembali mengamati sorot matanya.
"Apa kita perlu membuktikannya dengan nana nina?"
Keomesan khas ini adalah milik Steve. Peter gak akan membahas hal semacam ini.
Steve menoleh, memicingkan mata mencari sesuatu. "Apa gak ada hotel disini? Ehm atau kita melakukannya di mobil?"
Pertanyaan Steve membuatku tertawa lebar dan memeluknya erat. Aku bahagia karena Steve datang di saat aku benar-benar putus asa.
"Maafkan aku. Honey, bukan maksudku merahasiakan ini semua." Steve menatapku lekat, memandangku saksama.
"Gak apa-apa. Steve aku kangen kamu." Aku kembali memeluknya erat dan gak ingin melepaskannya.
Steve melepas pelukanku, padahal aku masih ingin ada dalam pelukannya. Ia merangkul pundakku. Menggiringku ke pinggir pantai dan berdiri di depan mobil sambil memandangi laut. Bersandar pada badan mobil dengan dua tangan saling bertautan dan saling mengumbar senyum.
"Kamu cantik sekali, Honey." Steve tertawa, senang sekali mendengar suara tawanya.
"Aku kangen tawamu, Steve."
Steve mengacak-acak rambutku. Ia merangkul pundakku, memandang laut dan tiba-tiba senyumnya memudar. Aku memeluknya erat, rasanya ingin selamanya seperti ini. Tapi ku rasa Steve tahu kalo aku sudah melakukan hal yang gak seharusnya ku lakukan.
"Maafkan aku, Steve. Bukan maksudku untuk...."
"Jangan tinggalkan aku, Hon!"
"Bukan maksudku untuk menghianatimu, hanya saja kalian...."
"Kamu pasti bingung dengan keadaan ini. Honey, aku takut kamu pergi dariku."
"Steve. Aku memang salah. Tapi aku gak pernah kepikiran ninggalin kamu. Kamu itu suamiku, cintaku. Kamu segalanya untukku."
"Sungguh!" Steve menggeser badanku sampai aku berdiri berhadapan dengannya. Melihatnya memandangku seperti ini membuat kepalaku tertunduk.
Berapa kalipun aku bisa mengucap maaf karena sudah mengkhianatinya. Hatiku mudah sekali goyah hanya karena sentuhan Peter. Aku jahat sekali padahal Steve saja gak pernah melirik cewek lain.
"Honey. Kamu kenapa?" Dua tangan Steve ada di pundakku. Sedikit memberi penekanan, membuat perasaanku tertekan.
"Steve. Aku...." Ya ampun, baru kali ini aku merasa gak enak banget. Bahkan ke seorang Steve saja, aku jadi gugup sekali. Kenapa aku mengkhianati cinta yang selama ini sangat manis kepadanya.
"Hon. Kita cari hotel yuk! Nana nina." Steve berwajah ceria tanpa dosa, tertawa sambil menggosok pangkal pahanya.
"Steve. Aku ... mengkhianatimu." Akhirnya kata itu keluar juga. Kata-kata itu membuatku ingin menceburkan diri ke laut dan tenggelam disana.
"Apa yang kamu katakan?" Wajah ceria Steve memudar, ia membuang muka ke kanan. Ia terkekeh lalu tertawa terbhak-bahak, tapi aku bisa melihat dengan jelas kalo dia sedang terluka.
"Steve. Maafkan aku. Semuanya membingungkan. Tapi kepada Peter, perasaan itu hanya perasaan sesaat. Cintaku hanya untukmu. Walaupun aku merasa...." punya perasaan spesial kepada Peter.
"Peter?" Steve mengernyitkan dahi.
"Steve maafkan aku." Aku menggigit bibir, ternyata hati bercabang itu gak enak banget. Padahal aku menyukai dirinya yang lain. Jiwa lain dalam diri Steve. Apalagi kalo hatiku bercabang ke cowok lain. Pasti aku bisa benar-benar menenggelamkan diriku ke laut.
"Honey. Apa kamu mencintai Peter?"
Pertanyaan Steve membuatku sulit. Apakah aku punya perasaan spesial ke Peter?