Setelah setahun melanglang buana mendapatkan jin botol yang harus kukembalikan ke tempatnya dan masih kukumpulkan sampai sekarang, aku, Steve dan Rascal memutuskan membuat usaha penangkapan hantu secara professional.
Meskipun banyak yang mencibir, tapi kita nggak peduli. Kita butuh duit untuk memenuhi semua kebutuhan. Selama ini kami menerima pembayaran secara ikhlas dan sebenarnya itu cukup untuk makan, tapi kebutuhan kita nggak cuma makan kan.
Lagipula, selama ini penangkapan hantu diatur oleh Demon Hunter sehingga kami bekerja sesuai perintah. Kami lelah karena gaji kami kecil nggak sesuai dengan apa yang kami kerjakan.
Itulah kenapa kami memutuskan untuk membuka kantor sendiri.
Hanya saja untuk membeli rumah yang dijadikan kantor nggak segampang itu apalagi buat yang budgetnya pas-pasan seperti kami.
Beruntung ada rumah dua lantai yang lama dijual tapi nggak laku-laku karena letaknya diapit sama kuburan. Akhirnya sama pemilik dijual murah dan sesuai dengan budget kita, jadilah kami membelinya.
Cuma ya….rumahnya berhantu banget.
Mereka melihat kami dari dalam rumah. Seperti pemilik rumah yang penasaran dengan tamunya.
Aku, Steve dan Rascal berdiri di depan pintu. Di samping kanan dan kiri pintu terdapat jendela kaca begitu juga di lantai dua, terdapat pintu menuju balkon yang diapit jendela kaca berukuran besar.
Berbagai hantu memenuhi jendela sampai tidak bisa melihat barang apa saja yang ada dalamnya.
“Ayo kita masuk!” ajak Rascal sambil membuka pintu.
Bau busuk, menyengat bercampur bau wangi yang tak kalah menusuk menyambut kedatangan kami. Hantu anak kecil, laki-laki dan perempuan, remaja laki-laki dan perempuan, orang dewasa laki-laki dan perempuan, orang tua laki-laki dan perempuan. Hantu orang yang tak jelas gendernya karna mukanya hancur dan satu dadanya kempes, satu lagi agak gede.
Belum lagi hantu yang wujudnya terkenal seperti kuntilanat, tuyul, genderuwo, pocong bahkan hantu cabe-cabean yang pakai baju merah pun ada.
Aku, rascal dan Steve saling berpandangan. Kami membuat cakra bersamaan. Cakra belum terbentuk saja sudah membuat beberapa hantu kocar-kacir. Hanya tersisa tak lebih dari sepuluh hantu yang masih bertahan.
“Kalian mau nyoba kekuatan kami rupanya,” kata Rascal membuatku tersenyum.
Sudah lama aku nggak membuat cakra. Gara-gara kehadiran mereka aku jadi sangat bersemangat hingga cakraku membesar dan terus membesar.
Cakra mengeluarkan panas yang nggak hanya bisa dirasakan sama hantu tapi manusia sepertiku pun bisa merasakannya. Dua dari sepuluh hantu itu memutuskan pergi, menyisakan delapan hantu yang malah melotot ke kami.
Aku melemparkan cakra ke arah hantu remaja cowok dan orang tua cowok yang setengah botak, semua rambutnya putih.
Rascal dan Steve menyerang yang lain. Mereka pun akhirnya pergi dan hanya tersisa seorangWanita berambut panjang yang menutupi separuh wajahnya, membuatku ingat sama Rosarie.
“Kamu nggak mau pergi?” tanya Rascal setengah membentak.
Kirain hantu itu bakal takut sama suara Rascal. Maklum suaranya saja sudah menggelegar seperti geluduk, kebanyakan hantu kabur hanya karena mendengar suara Rascal, tapi hantu satu ini bukannya kabur malah bersujud di depan kami.
“Aku mau tinggal disini. Aku nggak punya rumah. Aku nggak tahu dimana badanku dikuburkan,” ucapnya dengan suara bergetar dan terdengar aneh karena nggak seperti suara manusia biasa.
“Kamu cari sana badanmu. Kenapa kamu terus disini, badanmu dikubur disini kah?” tanyaku membuat Steve memandangku.
“Dia bilang nggak tahu badannya dikubur dimana. Artinya kemungkinan besar nggak disini,” ujarnya yang ternyata sudah berubah menjadi Peter.
Kalau Steve sudah berubah jadi Peter, aku jadi berasa nggak pinter karena dia tuh tahu segalanya.
“Aku rela melakukan apapun asal nggak diusir. Aku mohon!” pinta hantu itu sambil menangkupkan kedua tangan dengan posisi masih bersujud.
“Termasuk nyariin kami customer?” tanya Rascal yang bikin aku merasa dia juga pandai memanfaatkan situasi.
“Saya bersedia melakukan apapun termasuk mencarikan customer. Customer itu apa?” Hantu itu ternyata lebih polos dari yang kuduga.
“Pelanggan! Kami mau kamu mencarikan orang yang ingin mengusir hantu dari rumah mereka,” ucapku.
“Pokoknya semua tentang perhantuan. Kamu janji?” Kali ini Peter yang buka mulut.
“Saya janji. Saya janji!” Hantu itu berdiri dan tersenyum yang bikin aku merinding karena ternyata mulutnya sobek sampai pipi.
“Jangan pernah tersenyum. Senyummu jelek banget,” ujarku namun malah bikin dia tertawa hingga mulutnya hamper menyentuh mata.
“Siapa namamu?” tanya Steve sambil melipat kedua tangannya.
“Namaku Jamu,” jawab hantu perempuan itu.
***
Aku dan Rascal menyapu rumah yang kotornya amit-amit. Maklum rumah ini sudah puluhan tahun ditinggalkan. Rumah jadi berdebu parah, berlumut dan ada banyak sekali lukisan-lukisan mural yang bikin kepala pusing.
Bau pesing dan bau kotoran manusia serta bau kotoran hewan bercampur jadi satu yang bikin aku harus menahan diri untuk nggak mual-mual.
“Pantes sama pemilik sebelumnya dibilang furniturenya ambil semua. Lah ini mah bukan furniture tapi sampah kayu,” seruku saat melihat semua furniture yang terbuat dari kayu sudah lapuk dan berjamur.
“Steve, kamu jangan duduk aja. Bantu kami!” Rascal melempar kain pel kepada Steve yang sejak tadi duduk sambil membaca buku yang bersampul coklat.
“Kamu saja, aku lelah,” ujarnya membuatku berkacak pinggang.
“Peter, kamu selalu saja seenaknya. Di saat seperti ini kenapa kamu yang muncul. Kalau Steve, dia bakal bantu apapun nggak bakal pilih-pilih,” teriakku membuatnya terkejut lalu buru-buru mengambil pel.
Membersihkan tempat yang sangat kotor semacam ini butuh banyak sekali tenaga. Padahal rumahnya nggak terlalu besar, hanya ada dua kamar diatas dan kamar mandi. Di bawah pun hanya ada ruang tamu dan ruang tengah yang ukurannya kecil, sudah begitu ada dapur dan kamar mandi bawah.
Setelah selesai membersihkan rumah ini, mengecat dan mengganti barang-barang di dalamnya. Kantor pun siap digunakan. Tapi kami belum nemu nama yang pas untuk tempat ini.
“Bagaimana kalau tempat ini disebtu rumah makan pembersih hantu? Atau Demon hunter Jr, atau ghost cleaner,” usul Rascal tapi dijawab gelengan kepala oleh Peter.
“Kita buat nama yang bagus, easy listening dan mudah diingat.” Peter duduk di sofa putih yang baru kami pesan, menyentuh kepala untuk memikirkan nama yang bisa kami gunakan untuk usaha baru kami.
“Bagaimana dengan Chasing Ghosts?
Aku dan Rascal mengangguk setuju. Aku nggak tahu kenapa alasan Rascal cepat setuju, kalau aku sih apalah arti sebuah nama ya. Apalagi kalau nama itu keluar dari bibir Peter. Aku percaya itu nama yang terbaik.
Rascal menyerahkan sebuah papan putih kosong dan Peter mulai menulis nama Chasing Ghost dengan tulisan yang sangat indah. Setelah itu kami pasang di dekat pintu sebagai papan nama.
Jamu sedang mencarikan customer, aku berharap ia mendapatkan secepatnya.
“Busyet dah, bikin kaget aja,” seruku waktu Jamu muncul secara tiba-tiba.
“Lapor, Bos. Customer pertama sedang menuju tempat ini. Mereka masih beli bakso di perempatan sana,:” ucapnya.
Aku, Rascal dan Steve pun bersiap. Meskipun ini tempat praktek perhantuan, api kami membuat semuanya terasa professional dan kekinian. Jadi….
Yang butuh bantuan Chasing Ghost silakan menghubungi kami….