GUNA GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 1

1775 Kata
Kantor resmi dibuka dengan ruwatan yang dilakukan Ki Mengkis. Setelah melakukan ‘pemagaran’ rumah supaya hantu atau orang jahat nggak bisa melakukan kejahatan di kantor sekaligus rumah ini. Lantai satu dipakai untuk kantor. Ruang tamu menjadi lobi dan dua kamar digunakan untuk ruang konsultasi. Ruangan itu untuk Rascal dan Steve, sementara aku akan bekerja bersama Steve sekaligus penerima tamu. Seperti sebuah peruntungan yang bagus, baru dibuka dua jam saja sudah ada satu klien yang masuk. 3 bersaudara yang tampak sedih, bingung dan putus asa. Mereka bertiga duduk di lobi sambil beberapa kali menarik napas dan menghela napas dengan berat. Pasti masalah yang mereka hadapi sangat berat sampai seperti itu. “Ada yang bisa kami bantu, Kak?” tanyaku membuat mereka bertiga memandangku sebelum akhirnya saling memandang. “Kami datang untuk minta bantuan buat mengusir setan dari diri ibu kami,” kata permepuan berambut panjang yang dikuncir kuda. “Saya Bunga, Kakak-kakak ini namanya siapa?” tanyaku. “Nama saya Mawar, ini adik saya Melati dan adik saya yang paling kecil Lily.” Lah kok namanya mirip seperti aku, bikin aku ngikik geli karena aku bunga, mereka jenis bunganya. Tapi tentu saja aku berusaha tampil professional, jadi alih-alih tertawa aku senyum aja biar terlihat ramah juga. “Tapi, kami hanya melayani jasa membuang setan-setan yang ada di sebuah tempat, bukannya….” Steve tiba-tiba datang dan memotong pembicaraanku. “Tentu saja dengan senang hati kami akan membantu kalian,” ujar Steve membuatku mendelik.. Tiga perempuan itu tampak lega setelah mendapatkan jawaban dari Steve, padahal masalahnya saja aku belum tahu apa. Duh, Steve main terima kasus aja. Bagaimana kalau ternyata kasusnya sulit? Steve duduk di sebelahku untuk mendengar cerita dari tiga perempuan yang dengan semangat saling bicara. Yang satu diam maka yang lain menyahut. *** Ceritanya berawal dari rumor yang beredar kalau Bu Titik, ibu dari Mawar, Melati dan Lily dikabarkan menjalin hubungan dengan Pak Andik yang merupakan suami dari sahabatnya –yang juga tetangga lima langkah dari rumahnya—. Pada saat itu tiga anak Bu Titik nggak peduli soal itu. Namanya bertetangga di kampung, wajar kalau apa-apa menjadi gosip. Tapi hal itu berubah saat Bu Wuri yang notabene istri Pak Andik meninggal karena tipes, beredar kabar karena Pak Andik yang memintanya membantu bongkar ubin padahal Bu Wuri sedang nggak enak badan. Tapi toh pada akhirnya Bu Wuri membantu Pak Andik juga. Membongkar ubin lama yang akan diganti ubin baru. Mengambil pasir dari halaman dengan ember sementara Pak Andik yang memasangnya. Suatu Ketika Bu Wuri sudah nggak berdaya, akhirnya dilarikan ke rumah sakit dan saat itu juga masuk ICU. Setelah masuk semalaman, paginya BU Wuri meninggal dunia. Tiga hari setelah meninggalnya Bu Wuri, Bu Titik mengabari anaknya kalau dilamar Pak Andik. “Tanah masih basah kok main ngelamar,” respon Mawar dengan penuh emosi. “Ibu menolak kok,” jawab Bu Titik membuat hati Mawar lega. Yang tidak diketahui Mawar dan saudari-saudarinya adalah ternyata Bu Titik bukan menolaknya dengan tegas tetapi memberikan sebuah harapan. Hal ini diketahui Lily yang masih tinggal dengan ibunya sementara Mawar dan Melati sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Lily menyadari ada yang nggak beres dengan ibunya. Bu Titik yang biasanya nggak terlalu suka main HP tiba-tiba jadi sering main HP sampai lupa waktu. Setelah diselidiki ternyata bukan sedang main game tapi malah chatting sama Pak Andik. Merasa khawatir, Lily pun meminta suaminya untuk menyadap HP sang ibu. Dari situ ia tahu ternyata Pak Andik melamar melalui chatting tapi ibu menolak lantaran masih belum 7 hari meninggal. Itu artinya suatu saat Pak Andik bisa melamar lagi. Lily terus mengawasi pembicaraan dan bahkan video call mereka sampai muak. Ia merasa jijik dan terkhianati. Padahal ibu pernah berjanji kepada bapak kalau nggak akan menikah lagi kalau bapak meninggal. Merasa tak sanggup menahan beban seorang diri, Lily pun memberikan bukti screeshot kepada 2 kakaknya. Mawar dan Melati kaget sekali setelah tahu hal itu. Keduanya sama-sama merasa dikhianati. Mawar marah besar. Ia merasa hal itu tidak pantas dilakukan oleh lelaki yang baru jadi duda tiga hari yang lalu yang ditinggal istri yang menemaninya hampir 40 tahun. “Laki-laki macam ini nggak bener!” ucap Mawar kesal. Tapi berbeda dengan Melati yang merasa kalau Pak Andik orang yang baik. Melati bersahabat karib dengan anak perempuan Pak Andik yang Bernama Rohana. Ia bahkan sudah mengenal seluruh keluarga itu dengan baik. “Sebenarnya orangnya baik tapi kok ya baru beberapa hari ditinggal pergi sudah cari pengganti,” ujarnya sambil mendesah. “Orang kayak gini bukan orang yang baik. Minimal tunggulah sampai tanah istrinya kering. Mereka menikah puluhan tahun lho. Masak baru meninggal kemarin sore sudah mau kawin lagi,” gerutu Mawar. Mawar dan Melati malah terlibat cekcok kecil perihal orang itu. Namun akhirnya sama-sama sadar kalau ini bukan hal yang penting. Kehidupan berjalan seperti biasanya. Mawar menjaga toko kelontongnya sendiri. Melati menjadi guru di sebuah madrasah dan Lily sedang hamil muda. Hingga beberapa hari menjelang 40 harinya Bu Wuri terdengar kabar yang berhembus bahwa Bu Titik punya hubungan khusus dengan Pak Andik dan akan melangsungkan pernihakan setelah 40 harinya Bu Wuri. Sontak kabar itu membuat geger anak-anak Bu Titik. Melati dan Mawar segera ke rumah sang ibu untuk membahas hal itu. Mengkonfirmasi kebenarannya langsung dari mulut ibu mereka. “Siapa yang bilang?” tanya Bu Titik kepada dua anaknya yang bertanya perihal kebenaran berita yang sedang beredar di kampung. “Aku yakin ibu juga tahu kabar ini. Sekarang dimana ada asap, pasti ada api,” tukas Melati. Meski Melati merasa Pak Andik adalah orang baik, tapi ia nggak setuju kalau ibunya menikah dengan pria itu. Bu Wuri sudah seperti ibu kedua baginya, kalau sampai mereka menikah ia nggak tahu perasaannya sehancur apa. Di satu sisi sedih karena ibu mengkhianati bapak, di sisi lain kecewa sekali karena pasti Bu Wuri merasa dikhianati. “Biarpun orangnya baik, tapi ibu sadar dan bisa berpikir. Dia saja nggak jelas kerjaannya, mana bisa menghidupi ibu,” ujar Bu Titik. “Gaya hidup kalian berbeda, Bu.” Meskipun Mawar tidak dekat dengan keluarga itu, tetapi ia tahu kalau mereka memang memiliki kehidupan yang berbeda. Ibu sudah terlanjur memiliki gaya hidup tinggi. Semasa bapak mereka hidup, sang bapak memanjakan istrinya sedemikian rupa. Semua yang ibu minta pasti dikabulkan sang bapak. Kalau bepergian nggak pernah kehujanan dan kepanasan karena bapak punya mobil. Sementara keluarga Pak Andik hidup sederhana. Makan seadanya, tidak memiliki kendaraan kecuali motor butut yang dipakai bergantian. Bahkan meskipun anak pertamanya kerja di Batam yang konon pendapatannya puluhan juta, tapi kehidupan mereka tetap bersahaja. Pak Andik tidak bekerja sejak puluhan tahun lalu setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut dan dia dirumahkan. Sejak itu yang menjadi tulang punggung adalah istrinya. Bahkan Rohana rela menjual ikan bandeng di tepi jalan raya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sementara keluarga Mawar sudah baik secara finansial sejak ia masih SMP. Bapaknya membeli mobil dan setiap anaknya memiliki sepeda motor. Makan di restoran. Beli baju di mall adalah sesuatu yang biasa bagi keluarga itu. “Ibu ngerti, kok. Makanya ibu tolak,” ujar sang ibu meyakinkan kedua anaknya. “Kalau sudah nolak ya jangan dekat-dekat lagi. Jangan berhubungan lagi,” pinta Mawar. “Ibu nggak bisa. Kami tuh bersahabat,” balas sang ibu. “Mana ada sahabat laki-laki dan perempuan. Ibu dan dia bukan muhrim. Ibu sudah mendekati zina,” tegas Melati membuat ibu mendelik. “Ibu nggak akan menikah sama dia. Kalian tenang saja,” kata ibu dengan penuh yakin. Tetapi keyakinan itu terpatahkan lagi sebab sang ibu masih berhubungan dengan Pak Andik. Semua itu lagi-lagi diketahui dari hasil sadapan di HP sang ibu. 3 anak perempuan yang sedang terkena masalah yang cukup pelik karena ulah sang ibu pun pusing dibuatnya. Ibu yang selama ini keras kepala dan suka ngomel makin menggila karena cinta. Kalau hubungannya dengan Pak Andik renggang, semua orang bisa kena sasaran. Terutama Lily dan suaminya, Faiz yang serumah yang paling sering jadi alat pelampiasan. Makin lama Faiz makin nggak betah di rumah. Sebagai kepala keluarga, ia sudah memenuhi tanggungjawabnya. Tak hanya sampai disitu, ia memberi ibu uang jajan Rp. 2000.000 sebulan. Faiz punya bisnis jual beli kendaraan bermotor, selain itu ia juga mengelola toko kelontong peninggalan almarhum bapak mertuanya yang dijaga karyawan yang masih saudara. Meskipun pendapatan toko pasang surut, tetapi Faiz tetap memberi jatah Rp. 2.000.000 untuk ibu. Uang itu hanya untuk belanja harian ibu karena ibu memilih memasak sendiri daripada makan ikut Lily. Selera mereka memang sangat berbeda. Tetapi hal itu maah jadi boomerang bagi Lily. Sang ibu malah menjelek-jelekkannya di depan para tetangga. Membuat Lily seakan-akan nggak mau memberi makan sang ibu. Ia berusaha diam, meskipun dalam hati itu menyakitkan. Setiap hari ia membesarkan hati suaminya agar terus bertahan karena kalau mereka pindah, ibu akan sendirian. Ibu nggak mau tinggal di rumah Mawar atau Melati kecuali dua kakaknya yang memboyong suami dan anak mereka. Mereka keberatan karena kalau tinggal dengan ibu, artinya mereka harus mengalah. Tapi baik Mawar atau Melati membuka pintu mereka lebar-lebar kalau ibu mau tinggal di rumah mereka. Baik Mawar maupun Melati sudah menyiapkan kamar untuk ibu kalau sewaktu-waktu sang ibu mau tinggal bersama mereka. Mawar dan Lily berada di rumah Melati untuk membahas masalah ini. “Sebenarnya kenapa ibu susah sekali melepas tuh orang. Emangnya tuh orang ada apanya sih kok sampai ibu bucin gila (b***k cinta). “Karena ibu kepingin kalau sakit disuapin suaminya. Dirayu pakai kata cinta,” kata Melati. Melati tahu sikap Pak Andik kepada istrinya dahulu. Pria itu memang romantis tapi sayangnya malas bekerja. “Yo mesti. Orang males kerja. Bisanya omong doang. Makan tuh rayuan, dikira kenyang makan cinta,” tandas Mawar penuh emosi. “Pokoknya kamu pantau terus, Li. Kalau ada apa-apa bilang ke kami!” pinta Melati. “Kamu diam saja. Suasana rumah sudah nggak enak. Aku yakin Faiz juga udah nggak nyaman disitu,” imbuh Mawar. “Mas Faiz sudah nggak betah. Dia hanya betah-betahin saja. Kalau curhat sama aku, kita sama-sama nangis.” Lily menunduk seperti hendak menangis tapi tidak ada air mata yang tumpah. “Minta seikhlasnya, Bu.” Seorang pria tua dengan pakaian lusuh yang merupakan seorang pengemis datang ke rumah untuk minta-minta. Melati segera mendekati pria itu untuk menyerahkan uang dua ribu rupiah. Pria itu menerima uang sambil memandang Melati sesaat. Membuat Melati merasa nggak nyaman dengan cara pria itu memandangnya. “Saya tahu, anda punya masalah dengan ibu anda,” ujar pria itu membuat Melati terkejut. “Jangan biarkan ibu anda menikah sama pria itu. Ibu anda bisa hancur. Pria itu nggak tulus mencintai ibu anda. Dia memakai guna-guna biar ibu anda tergila-gila sama dia,” ucapan pria itu sontak membuat Melati terkejut hingga tubuhnya bergetar hebat. Kata guna-guna membuatnya merasa kejanggalan pada ibunya menjadi masuk akal. Kebucinan sang ibu tak lain dan tak bukan karena kena guna-guna duda bangke!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN