GUNA-GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 2

1724 Kata
Tak serta merta percaya begitu saja, Melati segera menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Membuat kakak adiknya tak percaya dengan ucapannya, tapi melihat keseriusan Melati lambat laun membuat kedua saudarinya mulai merasa kalau Melati benar. “Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Mawar bingung. Ini bukan kali pertama ia mendengar soal guna-guna, pellet atau sejenisnya tapi ini pertama kalinya ia menghadapi masalah seperti ini. “Ayo cari orang pintar!” ajak Melati yang segera disetujui oleh kedua saudarinya. Mereka bertiga pun mulai mencari keberadaan orang pintar yang bisa mengatasi masalah ini. Harapan agar pernikahan ibunya gagal sangatlah kuat. *** Berada di sebuah rumah yang sederhana. Beralaskan tikar lusuh namun bersih. Mereka bertiga menceritakan masalah yang mereka hadapi saat ini. Emosi mereka naik turun hingga membuat beberapa kali berbicara berbarengan hingga membuat sang pakar supranatural menahan tawa. Akan tetapi beberapa saat setelah cerita itu selesai, sang pakar mulai menganalisa dan mendapatkan kesimpulannya. “Ibumu memang diguna-guna, tapi sebenarnya ibumu memang sudah ada perasaan khusus sama orang ini,” ujar seorang lelaki yang memakai Tshirt hitam dan celana yang juga berwarna hitam. Mendengar hal itu, sontak Mawar, Melati dan Lily shock. Ketiganya saling memandang dengan mata berkaca-kaca. “Apa mereka bisa dipisahkan?” Mawar berharap hal itu bisa dilakukan dengan segera. “Sebenarnya bisa saja. Akan tetapi kalian bertiga harus siap dengan karma. Karena sejatinya kita nggak boleh memisahkan orang yang saling mencintai. “Itu bukan cinta. Mana ada cinta kalau main guna-guna.” Lily yang biasanya diam tiba-tiba angkat bicara. Pria yang merupakan seorang pakar supranatural itu hanya diam sambil tersenyum. Mawar, Melati dan Lily saling bergenggaman tangan untuk saling menguatkan. “Sungguh beruntung ibu kalian memiliki kalian bertiga,” kata sang pakar supranatural. Pujian tidak membuat hati tiga anak perempuan ini senang. Pujian itu tidak mempengaruhi apapun. Sang pakar supranatural membawakan air putih yang sudah diberi doa-doa khusus agar ibu mereka cepat sadar dan bisa berpikir dengan jernih. Lily bertugas memberikan air itu secara sembunyi-sembunyi. Beruntung sang ibu minum air rebusan yang disimpan dalam sebuah wadah minum, bukannya minum air mineral dari dispenser. Ia memasukkan air itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis diminum sang ibu. Sayangnya, hal itu tidak membuahkan hasil. Bahkan ibu semakin dekat dengan lelaki itu. Akhirnya mereka ke praktisi lain yang ternyata hasilnya sama saja. Ibu berdusta soal anak-anaknya yang seakan telah dzalim kepada ibu kandung sendiri. Padahal setiap bulan suami Lily memberinya uang bahkan membelikan apapun yang ia minta, tapi tetap saja dianggap salah. Mawar dan Melati juga sering datang ke rumah. Sering bercanda dengan Awan dan Langit yang merupakan anak Lily. Juga bercengkerama dengan ibu meski sang ibu selalu membuat suasana menjadi tak menyenangkan. Singkat cerita, hubungan antara ibu dan tiga anaknya perlahan tapi pasti mulai ada renggang. Anak-anak tidak nyaman di sekitar ibu mereka. Begitu pula sebaliknya. Puncaknya, suami Lily sudah benar-benar tak sanggup hidup dengan sang ibu mertua. Hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah ini. “Bapak akan buat rumah untuk kita. Kamu nggak usah khawatir. Kita nggak akan serumah sama orang tuaku,” ujar Rendy, suami Lily. Belajar dari pengalamannya sendiri, Rendy tak ingin Lily tak nyaman dengan keluarganya karena bagaimanapun sebaik-baik orang tua, saat berumah tangga tetap lebih enak di rumah sendiri. Lily menceritakan rencana itu kepada Mawar dan Melati, yang membuat mereka semakin geram dengan ibu. “Emang, Ibu kita kok yang jahat,” kata Melati dengan kesal. “Tapi demi kebaikan rumah tanggamu, Ly. Sepertinya memang mending kamu keluar dari rumah,” ujar Mawar yang tak sanggup bila melihat adiknya bersedih. “Tapi aku nggak tega sama Ibu. Kalau aku pindah, bagaimana dengan ibu.” Mata Lily berkaca-kaca. “Soal itu kamu nggak usah khawatir. Serahkan sama kami berdua,” kata Mawar. Melati menangis sejadi-jadinya, merasa sakit karena harus dipisahkan dari sang adik. Mawar, Melati dan Lily memang selalu bersama. Mereka bertiga tidak hanya bersaudara tapi juga bersahabat satu sama lainnya. Mawar tidak menangis, tapi asmanya kambuh setelah mendengar kabar itu. Rasanya ingin marah tapi ia tahan sekuat tenaga. Demi keamanan, Rendy memasang beberapa CCTV di rumah sebelum rencana pindah benar-benar terlaksana. Di teras, di ruang tamu dan ruang tengah yang menghadap dapur. Ibu masih belum tahu rencana itu karena Rendy dan Lily baru akan cerita jika sudah menemukan waktu yang pas untuk pindah. CCTV dipasang dan kontrol diserahkan kepada Mawar. Setiap hari Mawar memantau rumah terutama di teras. Dua hari sebelum pindah, Lily dan Rendy bersama Mawar dan Melati mengajak ibu berbicara di ruang tengah. “Begini, Bu. Ibu kan tahu kalau Bapak saya punya usaha yang sama seperti saya dan punya showroom di depan pasar,” ucap Rendy dengan pemilihan kata yang baik. “Bapak saya ingin pensiun, ingin kerja santai di rumah. Jadi beliau meminta saya pulang untuk meneruskan showroomnya,” lanjutnya. Sesaat Mawar dan Melati melihat mata sang ibu berpendar dan sedikit berkaca-kaca. “Ya kalau seperti itu, Ibu bisa bilang apa. Ibu bukannya menyuruhmu pergi, tapi juga nggak bisa menahan kalian. Kalau memang ini yang terbaik, kalian berdua silakan pindah kesana,” ucapan ibu yang dengan mudah meminta mereka pindah membuat Mawar dan Melati kecewa. Baik Mawar maupun Melati merasa kalau ibu tidak keberatan kalau anak bungsunya pergi jauh. Ini sangat menyakitkan. Tidak hanya bagi Lily tapi juga Melati dan Mawar. Setelah Lily pindah, Mawar dan Melati meminta ibu memilih ingin tinggal dengan siapa. Akan tetapi jawaban ibu kembali menyakiti mereka. Ibu memilih tinggal sendiri di rumahnya. Meski berat karena artinya Mawar dan Melati harus menanggung semua kebutuhan ibu, namun tidak ada pilihan lain. Selain toko kelontong dengan hasil tak seberapa, Mawar mulai buka usaha catering. Sementara Melati yang tadinya seorang guru, memilih resign untuk melanjutkan usaha toko kelontong tinggalan almarhum bapak. Kehidupan yang berat ini mereka jalani dengan ikhlas meskipun sebagian hasilnya diserahkan kepada sang ibu. Selama ibunya tidak macam-macam, mereka akan terus menanggung semua kebutuhannya. Rumor soal hubungan ibu dan Pak Andik kembali santer dibicarakan. Kali ini karena mereka ketahuan kondangan ke tetangga berduaan. Bahkan ada bukti foto yang memperjelasnya. Mawar dan Melati kembali menemui ibu mereka untuk membahas kelanjutan hubungan sang ibu dengan duda yang mulai menghancurkan keluarga mereka. “Maunya Ibu itu apa?” tanya Melati setelah mereka bertemu beberapa saat. “Apa?” Ibu seakan tak tahu arah pembicaraan mereka. “Ya hubungan ibu sama orang itu. Maunya lanjut atau putus?” terang Mawar. “Ibu harus membuat keputusan,” desak Melati. “Kalau kalian merestui, ibu akan menikah dengannya,” ujar ibu dengan lembut. Kelembutan suara ibu merupakan duri tebal bagi Mawar dan Melati. Mata Melati mulai berkaca-kaca, sementara emosi Mawar sudah mulai meningkat. “Kalau soal restu, Ibu nggak perlu meminta dari kami. Kalau Ibu mau menikah ya silakan,” ucap Melati. “Maunya Ibu, kehidupan tetap seperti ini (Anak-anak Ibu tetap memenuhi kebutuhan Ibu). Ibu menikah bukan untuk cinta-cintaan atau nafsu-nafsuan. Ibu hanya butuh teman,” kata ibu membuat Mawar semakin kesal. “Nggak bisa, Bu. Kalau Ibu menikah sama dia. Ya semua kebutuhan dia yang harus memenuhi. Kan dia suami. Ingat, Bu. Anak-anak perempuan tidak berkewajiban memenuhi kebutuhan orang tua. Kami melakukan ini semata-mata karena menggantikan kewajiban Almarhum Bapak. Kalau Ibu menikah, semuanya ditanggung suami Ibu dong.” Suara Mawar meninggi sejalan dengan intensitas emosinya. “Ingat juga, Bu. Suami Ibu bukan bapak kami. Jangan memaksa kami menerimanya. Aku nggak mau dia menginjakkan kaki ke rumahku. Kalau dia sakit, aku juga nggak mau merawatnya. Itu jadi urusan ibu sama anak-anaknya,” seru Melati. “Kalau sakit ya biarkan sama anak-anaknya. Ibu nggak mau merawat. Ibu sudah lelah merawat Bapakmu dua tahun lamanya,” keluh ibu. “Kalau begitu kenapa Ibu maksa menikah sama dia? Sesehat-sehatnya orang umur 65 tahun, Bu. Berapa tahun sampai dia sakit-sakitan? Palingan hepi setahun dua tahun abis itu Ibu bakal merawat dia seperti saat Ibu merawat Bapak,” kata Mawar. “Ibu nggak mau,” kata ibu. “Nggak bisa. Kalau Ibu tetep nikah sama dia, Ibu harus merawatnya selayaknya istri ke suami,” ujar Melati. “Ibu kenapa bucin sekali. Ibu sudah dikasih tahu dia itu nggak hanya malas tapi suka merayu janda-janda di kampung ini. Ibu sudah dibutakan cinta,” serang Mawar. “Di hati Ibu sudah banyak setannya. Itulah kenapa Ibu mengusir Lily dari rumah dan terus memilih orang itu. Aku tahu semuanya, Bu. Hubungan Ibu sama dia sudah sejauh apa. Dia bukan muhrim, dosa Bu. Dosa!” Melati histeris sampai meneteskan airmata. “Ibu cinta dia. Ibu hanya mau menikahi dia. Kalau nggak sama dia, Ibu nggak mau nikah.” Ibu ikut panik hingga Melati memeluknya dan sama-sama menangis. Berbeda dengan Mawar yang tidak bisa dengan mudah menangis, ia malah tertawa karena merasa pembicaraan ini terlalu lucu. “Udah deh. Kita ngomong panjang lebar, Ibu nggak bakal mau tahu,” ucap Mawar. “Kalau Ibu harus putus sama dia. Ibu nggak mau tinggal disini. Ibu mau minggat,” kata ibu sambil sesenggukan. “Bilang saja Ibu mau minggat dimana,” pinta Melati sambil sesenggukan. “Ibu nggak mau bilang,” tegas ibu. “Sudah-sudah. Mending kita akhiri pembicaraan ini. Pokoknya apapun pilihan Ibu, kami hormati. Kalau Ibu mau putus sama dia, karena semua petunjuknya sama, Ibu nggak bakal bahagia sama dia. Ibu mau tinggal dimana, bilang saja. Kami akan atur semuanya. Tapi kalau Ibu mau menikah sama dia, ya silakan. Tapi kami tidak akan lagi memenuhi kebutuhan Ibu. Jangan menuntut kami macam-macam,” kata Mawar panjang lebar. Pembicaraan itu tidak membuahkan hasil selain amarah dan kesedihan. Tapi baik Mawar maupun Melati sudah sepakat bahwa mereka akan tetap berusaha untuk mencari jalan keluar yang terbaik bagi keluarga. *** Kembali ke kantor Chasing Ghost. Di ruang tamu yang juga merupakan lobi kantor. “Karena itu, pertama-tama kami ingin mengeluarkan Jin-jin atau hantu-hantu yang masuk ke tubuh ibu kami. Biar kami bisa benar-benar bicara sama ibu bukan saat dipengaruhi guna-guna yang menjerat ibu,” ujar Mawar setelah menceritakan semuanya kepada Steve dan Bunga. Steve dan Bunga terdiam, tak tahu harus bagaimana mengatasi masalah ini. Ini kasus pertama yang melibatkan hantu di dalam hati manusia. Ini jelas bukan perkara yang mudah. Kalau pun bisa dilakukan, takutnya bukan hanya hantu yang dikeluarkan dari raganya melainkan sukma yakni roh ibu mereka sendiri. “Itu perkara yang bisa diatasi walaupun nggak gampang.” Tiba-tiba Ki Mengkis ikut nimbrung di kantor. Duduk di sebelah Steve ia menceritakan sebuah rencana yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkan ibu dari tiga anak perempuan yang sedang putus asa itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN