“Masuklah ke tubuh Bu Titik dan selamatkan jiwanya!” ujar Ki Mengkis membuatku dan Peter saling memandang.
Lah dikira kita jin apa bisa masuk ke tubuh orang. Nih Ki Mengkis mengada-ada.
“Kita harus melakukan meditasi. Dengan cara itu, aku bisa memindahkan roh kalian masuk ke tubuh Bu Titik,” lanjut Ki Mengkis.
“Apa harus ke rumah ibu kami dulu, Ki?” tanya Mawar tampak sangat bersemangat.
“Baru kali ini saya dengar ada orang bisa masuk ke tubuh orang lain,” kata Melati.
Aku pun baru menyadarinya. Duh, selama ini aku kemana ya sampai nggak tahu ada cara seperti itu.
“Nggak perlu kesana. Kami bisa melakukannya disini. Tapi kalian bertiga harus membantu kami.” Ki Mengkis meminta mereka bertiga juga ikut bermeditasi untuk membantu kami agar bisa mengalahkan makhluk-makhluk tak kasat mata yang ada di tubuh ibu mereka.
***
Aku dan Steve masuk ke sebuah lubang hitam yang pekat dengan badan seakan-akan melayang-layang di udara. Dibilang seperti jatuh ya enggak, karena rasanya seperti didorong sesuatu dengan kencang sampai badanku gemetaran.
Sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang panas dan tandus. Bukit-bukit serupa kapur ada dimana-mana, bebatuan yang besar dan kecil ada di sepanjang mata memandang. Nggak ada pemandangan lain selain itu.
Suasana tempat ini nggak panas dan nggak dingin juga. Nggak bikin gerah tapi nggak bikin nyaman juga. Nggak ada air, nggak ada pohon dan nggak ada yang lain selain bebatuan dan bukit-bukit yang luas. Bahkan nggak ada angin sama sekali.
“Kita harus apa, Steve?” tanyaku, bingung karena ini pertama kalinya dapat tugas masuk ke dalam jiwa seseorang.
Ki Mengkis telah menggunakan kemampuannya untuk mengeluarkan roh kami berdua dan masuk ke dalam tubuh Bu Titik melalui pori-pori kulitnya. Masuk ke dalam hati wanita itu untuk membersihkannya dari jin-jin, hantu dan sebagainya.
“Aku, Peter. Kita harus mencari jin-jin dan hantu yang merasuki tubuh Bu Titik sebelum lubang hitam kembali muncul,” jawab Peter membuatku memandangnya saksama.
Steve dan Peter memang berbagi tubuh, tapi keduanya memiliki ekspresi yang berbeda. Tunggu dulu. Sepertinya sejak kami menemui tiga perempuan itu, Steve sudah sekalem Peter, itu artinya….
Tapi itu bukan masalah penting.
“Trus kita kudu keliling tempat ini gitu?” tanyaku sambil memutar untuk melihat kondisi tempat ini.
“Nggak perlu, Hon. Mereka yang mendatangi kita.” Peter menunjuk ke atas, membuatku ikut mendongak.
Puluhan hantu berjubah hitam terbang dengan jubah yang melambai-lambai seakan tertiup angin. Padahal nggak ada angin sama sekali.
Sekelebat bayangan hitam juga muncul menabrakku hingga terjatuh. Bayangan yang berasal dari makhluk berjubah hitam itu ternyata juga punya kekuatan untuk menyerangku.
Aku melawan bayangan itu, tapi seperti sifatnya, tanganku hanya menembus tapi nggak bisa menyakiti. Sementara makhluk berjubah hitam masih melayang-layang di udara.
“Edian ini. Kok bisa begini,” seruku saat bayangan itu meninjuku hingga membuatku jatuh tersungkur menabrak batu yang besar.
Aku mengeluarkan cakra kuning yang kulemparkan ke bayangan itu. Tapi cakra kuning hanya menembusnya dan malah menabrak batu setinggi dua meter.
“Honey, serang mereka. Bayangan itu akan hilang kalau kamu bisa mengalahkan makhluk berjubah hitam itu!” teriak Peter yang membuatku melihatnya.
Peter melawan makhluk berjubah hitam yang menginjak tanah dan nggak melayang-layang. Aku harusnya tahu hal itu, tapi malah sibuk melawan bayangan.
Aku segera mengeluarkan cakra kuning dan melemparnya ke makhluk jubah hitam. Tapi seranganku sepertinya terbaca. Makhluk berjubah hitam itu bisa menghindari seranganku dengan mudah.
Serangan-serangan bayangan menghajarku bergantian. Ada beberapa makhluk berjubah hitam yang melayang-layang di atasku. Bayangan-bayangan itu membuatku seperti bola yang ditendang kesana kemari.
“Peter, tolong aku!” teriakku sambil berusaha membuat cakra kuning saat aku masih menjadi bola bagi bayangan-bayangan itu.
Peter segera berlari mendekatiku, tapi ia dihadang oleh bayangan hitam yang segera membuatnya terlempar mundur jauh dariku.
Aku harus melakukan sesuatu supaya aku nggak jadi bulan-bulanan. Rasanya nggak enak jadi bola ditendang kesana kemari nggak jelas seperti ini.
Aku mengerahkan tenagaku agar aku bisa bergerak lebih cepat. Membuat sebuah cakra kuning lalu melemparnya pada bayangan jubah hitam yang paling dekat denganku.
Cakra kuning mengenainya. Membuatnya jatuh tersungkur dan hendak terbang tapi aku segera menarik jubahnya. Ia menoleh padaku lalu menyerangku dengan satu tinju yang bisa kutahan.
Aku membuat tendangan kuat hingga mengenai muka dan jubahnya sedikit tersingkap.
“Lah, kakinya nggak ada!” seruku saat melihat bagian bawah si jubah hitam yang harusnya ada sepasang kaki malah nggak ada apa-apanya.
Aku menarik jubahnya dengan cepat. Ternyata isinya seperti tuyul yang ukurannya nggak lebih dari setengah meter. Botak dan nggak pakai baju kecuali CD yang bentuknya mirip pempes.
Si botak itu meringis, menunjukkan sebaris gigi yang runcing semua. Kulitnya putih langsat dengan urat-urat sewarna kulit mencuat. Matanya putih tapi sekelilingnya berwarna kemerahan. Seperti orang yang pakai eye liner merah.
Aku meninju makhluk yang serupa tuyul itu hingga terlempar di dekat Peter. Kebetulan suamiku itu melihatnya dan seperti raksasa, Peter menginjak makhluk kecil itu dengan kakinya.
Makhluk serupa tuyul itu penyet seperti ayam penyet. Aku merasa puas karena sudah tahu bagaimana melawannya, tapi karena terlalu sibuk mengamati, aku malah kena serangan kuat di punggung sampai aku jatuh tersungkur.
Aku dan Peter sudah tahu bagaimana melawan mereka. Aku fokus menyerang makhluk jubah hitam agar jatuh ke tanah. Melakukan serangan-serangan sambil mencari kesempatan menarik jubah mereka.
Selain menyerang makhluk jubah hitam sepertiku, Peter kebagian menginjak tuh makhluk sampai penyet. Itu hal yang tampak mudah baginya, tapi aku malah nggak bisa melakukannya karena mungkin berat badanku yang kurang, membuat injakanku nggak sekuat Peter.
Saat berjibaku dengan para makhluk jubah hitam itu terasa semakin mudah. Tiba-tiba muncul makhluk serupa tuyul tapi berukuran raksasa. Ukurannya 10X lebih besar daripada kami berdua.
Makhluk raksasa itu juga hanya memakai celana yang bentuknya seperti pempes. Berjalan pelan bahkan berkedip pun sama pelannya. Tapi serangannya sangat kuat sampai batu seukuran raksasa pun hancur dengan mudah kena pukulan mereka.
Makhluk berjubah hitam masih ada beberapa, ditambah serangan tuyul raksasa yang menyerang kami dengan pukulan yang kuat membuatku lumayan kelimpungan.
Menyerang sambil berkelit dari serangan tuyul raksasa yang sama sekali belum kena seranganku.
Peter pun sama sepertiku, masih sibuk menyerang sambil bertahan. Kalau begini terus lama-lama kami berdua bisa kalah dan mungkin bakal mati di tempat ini.
Tuyul raksasa jumlahnya nggak cuma satu, tapi ada lima. Makhluk berjubah hitam juga masih ada sekitar tujuh. Kami berdua kewalahan. Cakra yang kami keluarkan nggak berefek apapun pada tuyul raksasa itu.
Aku dan Peter berdiri dengan menempelkan punggung. Bersikap kuda-kuda untuk bersiaga dari serangan-serangan yang datang.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku sambil mengawasi para mahkluk yang mengitari kami.
“Kita serang bagian kiri dulu. Kamu serang makhluk jubah hitam, aku serang raksasa itu!” kata Peter membuatku mengangguk mengerti.
Aku pun segera membuat cakra kuning yang cukup besar lalu melemparkannya ke makhluk jubah hitam hingga membuatnya jatuh ke tanah.
Aku hendak menarik jubah hitamnya, tapi nggak kusangka kalau aku malah diserang raksasa yang hampir mengencet tubuhku.
Peter menyerang raksasa tuyul dengan cakra yang dibuatnya. Ada puluhan cakra sebesar bola tenis yang menyerang tuyul raksasa secara bertubi-tubi. Serangan itu nggak berefek pada kulitnya, tapi melihat tuh tuyul raksasa mengucek matanya.
“Serang matanya!” seruku sambil menunjuk mata yang masih dikucek-kuceknya.
Tapi karena terlalu banyak makhluk yang menyerang kami secara bersamaan. Aku dan Peter menjadi kewalahan.
“Lari!” seru seorang wanita yang membuatku berputar untuk mencari sumber suaranya.
“Serang mereka sambil berlari menjauh!” serunya lagi membuatku bertatap mata sama Peter.