GUNA-GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 4

1086 Kata
Aku dan Peter mengikuti saran perempuan yang aku bahkan nggak tahu siapa. Yang penting kami nggak sampai kalah disini apalagi sampai mati. Duh gimana nasib kita berdua kalau sampai terbunuh di dalam raga manusia ya? OK, OK. Harus fokus nggak boleh mikir yang macam-macam! Aku bersembunyi di balik batu besar untuk menyiapkan cakra besar yang bisa kugunakan untuk menyerang makhluk berjubah hitam. Tapi tiba-tiba batu besar tempatku bersembunyi malah diangkat sama tuyul raksasa. Karena panik aku melempar cakra begitu saja dan malah hampir mengenai Peter yang berada di dua meter di sampingku. “Maafin aku, Peter.” Tapi jelas Peter nggak akan protes. Bahkan nggak menggubris seranganku yang bisa melukainya. Ajegile tuh orang. Aku mundur beberapa langkah lalu memutar badan dan berlari sekencang yang kubisa. Tuyul raksasa menggunakan tangan sebagai godam buat menggencetku. Menimbulkan suara dentuman keras seperti ledakan bom. Pukulannya membuat sebuah lubang membentuk tangannya yang besar. Kalau lubang itu diisi air, bisa kupakai buat berendam seperti berendam di bath tub. Bahkan bisa dipakai untuk berdua. “Honey, buat tali untuk menjerat makhluk berjubah hitam!” perintah Peter. Nggak pakai tanya alasannya, aku segera membuat tali merah dengan cakraku dan menangkap satu makhluk berjubah hitam. “Tarik!” perintah Peter lagi. Aku segera menarik si makhluk berjubah hitam sampai mendekat. Peter melompat dan menarik jubah hitam itu lalu menyerang tuyul kecil dengan cakra merahnya. Badannya meledak seperti kepingan puzzle. Aku dan Peter berlari lagi, sekencang yang kami bisa. Tapi langkah kami seketika berhenti saat makhluk berjubah hitam menghadang kami. Nggak pake mikir, aku langsung menangkapnya dengan jeratan tali merah dari cakra yang kubuat lalu menariknya mendekat dan Peter menarik jubah hitam makhluk itu lalu menyerang tuyul kecil dengan cakra. Nggak bisa berhenti barang sedetik saja, sebuah serangan membuatku dan Peter terlempar jauh. Gara-gara tangan tuyul raksasa yang memukul tanah di tengah-tengah kami. Peter melompat naik ke tangan raksasa itu lalu berlari kencang dan memeluknya sambil memanjat hingga sampai setengah lengannya. “PETER KAMU GILAA!” teriakku. Tapi waktu melihat raksasa itu hendak menangkap Peter dengan tangannya yang lain, seketika itu aku membuat tali dengan cakra dan mengikatnya ke pergelangan tangannya. Mengayun seperti tarzan, aku bergelantungan mendekati Peter. Untungnya, Peter cepat tanggap. Dia langsung mencekal cakraku dan kami pun mendarat di pundak raksasa. “Hon, ini bahaya!” seru Peter saat kami bergelantungan di leher raksasa. “Trus aku kudu gimana? Diam saja waktu kamu diserang?” “Thanks, Hon. I love you.” Peter mendaratkan ciuman singkat di bibir lalu naik ke dagu raksasa dengan menggunakan bulu-bulu yang ada di kulitnya. Astaga, tuh orang apa nggak lihat sikon ya. Kita lagi bertarung antara hidup dan mati, eh malah sok romantis lagi. “Hon, fokus dan jaga dirimu! Sebentar lagi kita main roller coaster,” ujar Peter membuatku menelan ludah. Seperti yang ia katakan, beberapa menit kemudian raksasa ini menjerit kesakitan sambil memegangi matanya. Ternyata Peter menyerang mata kiri raksasa dengan cakra. Raksasa jadi terhuyung-huyung sambil berteriak lalu nggak lama kemudian jatuh tersungkur. Aku bergelayutan di bulu raksasa yang untungnya cukup panjang. Berusaha menahan diri agar nggak jatuh ke tanah yang lumayan jauh. Tinggi raksasa lebih dari enam meter. Kebayang kalau sampai jatuh apalagi ketimpa dia, jadi bubur aku. Serangan demi serangan akhirnya bisa kami lakukan. Raksasa tadi memberi kami pengalaman berharga. Kepada makhluk berjubah hitam yang mulai nggak bisa menahan kami dengan bayangannya karena kami menghindari bayangannya yang menyerang kami. Cakra membentuk tali merah adalah senjata utamaku dalam melakukan serangan demi serangan. Baik kepada makhluk berjubah hitam maupun kepada raksasa serupa tuyul yang hanya memakai pempes. Setelah semua musuh tumbang, aku dan Peter bisa bernapas lega. Seharusnya. Tapi aneh bin ajaib karena kami berdua nggak bernapas sejak masuk ke tempat ini. Roh nggak butuh oksigen untuk hidup. Itu artinya…. “Apa badan kita mati?” tanyaku tiba-tiba bikin Peter memandangku beberapa lama. “Nggak. Jasad kita bernapas tapi koma,’ ujar Peter datar bikin mulutku terbuka saking kagetnya. “Kalau gitu kita harus cepat selesaikan misi ini.” “Kita sedang mengerjakannya, Hon.” Peter mengusap kepalaku dan memberiku senyum paling ganteng sedunia. Gaya senyum yang tipis tapi malah makin mempesona. Ciri khas Peter yang nggak dimiliki Steve. Kayaknya Steve nggak tahu kalau ia bisa senyum semanis ini. “Hon. Lihat kesana!” seru Peter membuatku segera melihat ke arah yang ia tunjukkan. Seorang perempuan dengan memakai baju tradisional jawa sedang menahan seorang wanita yang nggak lain adalah Bu Titik. Perempuan itu cantik sih, tapi punya aura seram yang bikin seluruh bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba saja perempuan itu bergerak cepat seperti menghilang lalu Nampak tapi semakin dekat dan semakin dekat. Hingga jarak kami hanya sekitar dua meter saja. Wajah Bu Titik tampak kesakitan. Ada rantai yang menahan tubuhnya. Bibirnya pucat dan mongering. Matanya layu dan bibirnya merintih. “Nggak kusangka kalian bisa sampai disini dan bisa melawan anak buahku,” ujar perempuan yang tampilannya seperti penari. “Aku sudah tahu siapa yang mengirimmu. Kembali saja kepadanya sekarang. Aku nggak akan menyakitimu,” ujar Peter membuat penari itu tertawa terbahak-bahak. “Nggak penting kamu tahu atau nggak. Aku sudah betah tinggal disini. Titik sudah membuatku bahagia,” ujarnya sambil menghirup aroma leher Bu Titik, seperti sedang mencium makanan saja. Yang lebih bikin aku merasa jijik adalah waktu penari itu menjilati leher Bu Titik dengan lidahnya yang runcing. Yeuh, perutku jadi mual melihatnya. “Anak-anaknya sedih karena ibunya membuat masalah besar,” ujarku siapa tahu dia jadi baper.” “Masalah apa? Perempuan ini mencintai bosku. Mereka harus bersama,” kata penari itu. “Itu bukan cinta. Itu pemaksaan,” seruku. “Tahu apa kamu. Aku sudah tahu bertahun-tahun yang lalu. Waktu istri bosku masih sehat saja, dia sudah terpesona. Bosku memang luar biasa.” Penari itu tertawa puas. Aku nggak tahu kebenarannya seperti apa, karena anak-anak Bu Titik bilang kalau ibunya mulai menampakkan ada hubungan khusus dengan pria itu setelah istrinya meninggal. Tapi soal perasaan, siapa yang tahu kan. “Semakin mereka bersedih, semakin aku senang dan bahagia. Tujuanku memang itu,” jawaban penari itu membuatku mendecak sebal. Peter maju selangkah membuat penari itu semakin mencengkeram tubuh Bu Titik. Bu Titik semakin kesakitan dan itu membuat Peter berhenti. “Tolong aku,” pinta Bu Titik dengan suara yang lemah. “Kami datang memang untuk menolongmu,” ujarku agar Bu Titik bisa tenang. “Oh ya. Atau kalian sedang setor nyawa ehm. Aku suka kalau kalian jadi anak buahku. Kalian akan kutempatkan di posisi paling rendah.” Lagi-lagi perempuan itu tertawa terbahak-bahak. Tawanya nggak seperti kuntilanak atau semacamnya. Tawanya tuh seperti tawa perempuan jahat seperti yang di film-film.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN