GUNA-GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 5

1439 Kata
Aku dan Peter nggak tahu nama penari yang masih menahan Bu Titik. Tapi kami juga nggak penasaran namanya. Cukup kusebut namanya penari karena gaya pakaiannya seperti penari tradisional Jawa. Wajahnya cantik tapi sorot matanya kelam dan hitam, juga bibirnya hitam gelap. Kuku-kukunya runcing dan hitam. Kulitnya putih mulus tanpa cacat. Sebenarnya boleh dibilang dia cakep juga, tapi hantu tetap saja hantu. Tugasnya jelas untuk menipu daya manusia agar salah jalan seperti yang dialami Bu Titik. Tiba-tiba penari itu berteriak dan dari mulutnya keluar ribuan laba-laba. Peter langsung berdiri di depanku dan melempar cakra merah yang membuat laba-laba itu terbakar dan jatuh ke tanah. Aku pun melakukan hal yang sama, menyerang laba-laba yang terus keluar dari mulut penari itu dengan cakra kuning. Cakra kuning dan cakra merah membentuk garis yang membakar laba-laba hingga cakra kami mengenai penari itu. Penari itu melepaskan cengkeramannya dari tubuh Bu Titik lalu melakukan sebuah tarian yang sangat pelan yang membuatku merasa heran. Penari itu menari tanpa musik dengan gerakan pelan namun sangat gemulai. Aku dan Peter sampai saling berpandangan karena heran banget di saat harusnya kami bertarung dia malah menari seakan nggak melihat kami. Tapi aku nggak menyangka kalau ternyata itu adalah cara dia untuk mengalihkan perhatian. Tahu-tahu aku dan Peter dijerat sama tali yang tak kasat mata. Aku berusaha keras untuk melepaskan diri dari jeratan itu tapi bukannya bebas, jeratan itu justru makin menguat. Nggak cuma sampai disitu, tubuhku tiba-tiba melayang dan aku diombang-ambing, dilempar kesana kesini, menabrak batu, menabrak tanah sampai badanku biru-biru. Rasa perih bahkan belum terlalu kerasa saat tiba-tiba aku kembali dilempar hingga menabrak batu lalu badanku diangkat lagi dan ditabrakkan ke batu yang lain. Nggak cuma aku saja, tapi Peter pun mengalami hal yang sama denganku. Kami seperti boneka yang jadi mainan anak nakal bin brutal. Di saat aku sudah benar-benar kehabisan tenaga dan badanku sudah mati rasa, aku merasakan guncangan hebat seperti gempa. Suara tiga perempuan dan Ki Mengkis muncul entah darimana. Ada suara tapi wujudnya nggak ada. Suara yang mengguncang tempat ini membuat jeratan di tubuhku mengendur dan akhirnya aku terbebas darinya. Aku jatuh telungkup dengan badan yang mulai merasa kesakitan. Aku berusaha berdiri tapi aku terlalu lemah untuk melakukannya. Penari itu tiba-tiba berteriak kesakitan sambil menutup telinganya. Suara tiga anak Bu Titik dan Ki Mengkis semakin lama semakin keras. Jeratan rantai yang mengikat Bu Titik akhirnya terlepas dan tubuhnya ambruk nggak ada tenaga. Tapi ada senyum yang bisa kulihat. Tubuh yang tadinya biru karena lebam, perlahan memudar. Kulitnya yang tadinya lebih gelap tiba-tiba jadi putih langsat. *** Aku membuka mata dan kemudian bangun dari tidur yang entah berapa lama. Hal pertama yang kuperhatikan adalah luka-luka lebam yang tadi kudapat saat bertarung dengan penari. “Syukurlah!” seruku saat ternyata luka-luka itu nggak ada. Tapi badanku terasa sakit banget kayak habis kerja rodi tiga hari tiga malam. “Kalian sudah kembali!” kata Ki Mengkis yang duduk di sofa bersama tiga anak Bu Titik. “Bagaimana aku bisa kembali?” tanyaku keheranan. “Berkat doa-doa yang dipanjatkan tiga anak Bu Titik. Semua hantu dalam diri Bu Titik menghilang. Makanya kalian bisa pulang kemari meskipun … kalian kalah dalam pertarungan. Meskipun nggak enak didengar, tapi aku lega karena bisa balik dengan selamat. Apa jadinya kalau aku mati disana, wah bisa-bisa malah jadi anak buah penari itu. Biar kata mukaku manis kayak permen, tapi kalau jadi anak buah penari itu ya nggak maulah. “Apakah itu artinya, Ibu kami sudah bebas dari pengaruh guna-guna orang itu, Ki?” Pertanyaan Mawar membuatku penasaran juga. “Seharusnya begitu. Tapi yang Ki lihat dari ibu kalian itu … dia memang sudah cinta dengan orang itu. Jadi, meskipun pengaruh guna-gunanya hilang kalau ibumu cinta, ya semua masih bisa terjadi.” Ki Mengkis mengusap dagunya sendiri. “Orang itu jahat sekali. Berani-beraninya merusak keluarga orang!” geram Melati hingga membuat kedua tangannya mengepal. Lily terdiam tapi dari ekspresi wajahnya tampak tak kalah geramnya. Kalau aku jadi mereka juga pasti aku sudah bikin perhitungan sama orang itu. Membuatnya sakit aja nggak cukup, bisa-bisanya main guna-guna untuk merebut hati perempuan. Sudah begitu sangat pengecut sekali nggak mau bertemu anak-anak Bu Titik. “Wong ingin jadi keluarga kok main guna-guna. Dasar pecundang. Banci!” seruku tanpa sadar. Ki Mengkis sampai memandangku sambil menggeleng tapi aku sendiri jadi kesal apalagi waktu melihat roh Bu Titik yang dijerat rantai sampai badannya biru-biru seperti tadi. “Apakah orang itu sudah nggak akan mengirim guna-gunanya lagi?” pertanyaan Melati membuat Ki Mengkis kembali terdiam untuk bermeditasi. Butuh waktu beberapa lama untuk mendengarkan jawabannya karena kalau Ki Mengkis meditasi, artinya ia harus mencari kebenarannya terlebih dahulu. “Kalian harus membuat perhitungan sama lelaki itu. Jangan dibikin kendor. Kalau perlu buat dia jadi malu sampai keluar kampung!” pintaku terbawa emosi. “Suami saya sedang melakukannya. Dia kan menjabat RT di kampung. Sekarang suami saya sedang mengajak warga untuk membuatnya turun dari jabatan itu,” ujar Melati. “Dia kan dapat duit dari jadi RT. Tapi duit cuma segitu mana bisa buat menghidupi ibu kami yang gaya hidupnya tinggi. Bukannya saya matre, mata duitan atau gimana tapi realistis aja. Menikah nggak bisa cuma modal cinta….” “Di amah modal dengkul,” sahut Lily memotong ucapan Mawar. “Betul itu. Lagian sudah bau tanah mbok ya mendekat ke Tuhan, bukannya main guna-guna. Padahal kalau bisa mengirim begituan, suatu saat dia juga bakal kena karmanya. Tinggal tunggu saja,” ujarku. “Kalau dia jadi kembang bayang (Sakit yang membuatnya hanya bisa tidur di ranjang), aku bakal datang membesuk bawa apel sekilo. Mau kulihat dia mau minta maaf nggak? Kalau dia nggak mau minta maaf, biar masalah ini bakal dilanjutin di akhirat,” seru Mawar dengan napas terengah-engah karena emosi. Peter tiba-tiba meremas tanganku untuk mengingatkanku biar nggak banyak omong. Emang aku akui aku terbawa situasi. Rasanya mulut ini susah diem. Kalau perlu aku hadapi saja tuh pecundang satu lawan satu, sampai mana dia bisa bertahan. Ki Mengkis sudah membuka mata. Sudah kembali dari meditasi yang telah dilakukan sekitar setengah jam lamanya. “Kalian pulang saja. Tanyain ke ibu kalian, apakah masih ingin menikah sama orang itu atau keyakinannya mulai goyah. Ki Mengkis akan menghadapi orang itu. Bukan tanding kuat-kuatan, tapi Ki Mengkis nggak suka sama orang yang sudah berani merusak kehidupan keluarga. Mawar, Melati dan Lily akhirnya bisa tersenyum, padahal masalah belum selesai. “Kalian boleh percaya diri hasilnya mungkin sesuai yang kalian harapkan, tapi ingat kalau Tuhan sudah berkehendak, manusia mana pun nggak bisa menolak termasuk kita. Berdoa jangan sampai putus. Hanya doa yang bisa menolong kalian.” Ki Mengkis mempersilakan para tamu untuk mengundurkan diri. “Terimakasih bantuannya, Ki. Semoga keluarga kami baik-baik saja,” harap Mawar yang disetujui dua adiknya. “Kalau sudah ada jawabannya, kalian bisa telepon kesini. Kalau hasilnya yakin nggak akan menikah, sebaiknya ibu kalian dipindahkan sementara waktu supaya hatinya tenang. Tapi kalau masih mau menikah, biar Ki Mengkis yang menghajar lelaki itu.” “Ya, Ki. Kami mengerti. Doakan supaya ibu kami bisa berpikir jernih dan bisa melepaskan cinta bodohnya itu,” kata Mawar blak-blakkan. *** Seminggu kemudian. Aku sedang bersih-bersih kantor. Menyapu lantai dari sudut kanan ke sudut kiri. Membawa debu dan kotoran cicak keluar dari rumah. Rascal tiba-tiba berjalan dengan memakai sepatunya, padahal Sudah berkali-kali kubilang kalau masuk rumah jangan pakai alas kaki. “Dasar bocah gemblung. Susah dikasih tahu,” gerutuku. Aku terlalu malas ribut sama satu orang itu. Sebab Rascal sudah mendapat dua klien. Takut kalau dia gondok terus malah minta pisah dari kami, yang susah ntar aku sendiri. Telepon kantor yang ada di ruang tamu sekaligus lobi kantor berdering kencang. Dengan cepat aku segera mengangkat teleponnya. Aku : Halo… Mawar : Halo, ini kantor Chasing Ghost? Aku : Ya betul, ini dari siapa? Mawar : Saya Mawar, seminggu lalu saya dan dua adik saya kesana. Aku : Oh, Kak Mawar ya. Mawar : Saya minta tolong sampaikan pesan saya ke Ki Mengkis. Aku : Pesan apa? Mawar : Ibu saya masih kekeh mau menikah sama orang itu. Saya dan adik-adik sudah putus asa. Aku : Oh ya. Heran deh sama ibu anda. Sudah tahu tuh orang jahat kok masih saja mau merid sama dia. Dasar Bucin! Eh maaf ya, Kak. Mawar : Nggak perlu minta maaf. Ibu saya memang bucin kok. Karena itu saya dan adik-adik ingin membuka matanya. Aku : Nanti saya sampaikan ke Ki Mengkis. Orangnya lagi mengajar silat di padepokan. Mawar : Nggeh, saya tunggu kabar selanjutnya ya. Terimakasih! Aku : Baik, sama-sama. Aku menutup sambungan telepon dengan perasaan nggak nyangka banget kalau Bu Titik masih saja mau sama pecundang yang sudah merusak kehidupannya dengan anak-anak. Duh terbuat dari apa sih hati Bu Titik tuh sampai lupa sama anak sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN