GUNA-GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 6

1057 Kata
Ki Mengkis berdiri di balik pohon kelapa yang ada di depan rumah Pak Andik. Sambil membaca mantra, Ki Mengkis juga mengamati kondisi rumahnya. Melihat bahwa rumah pria itu dijaga oleh hantu tinggi besar berwarna hitam dengan mata besar berwarna semerah darah. Seperti merasakan hawa yang berbeda, hantu besar dengan merah itu merasakan kehadiran Ki Mengkis. Ia menatap tajam ke pohon kelapa dimana Ki Mengkis bersembunyi. Ki Mengkis sadar kalau sedang diperhatikan, jadi dia tetap berdiri dengan tenang agar aura yang timbul tidak semakin dirasakan olehnya. Matahari bersinar sangat terang. Tetapi hantu satu itu memiliki kekuatan yang sangat besar hingga bisa menunjukkan diri meski siang hari. Tentu saja itu bisa terjadi sebab Pak Andik pasti melakukan ritual khusus untuk mendapatkan penjaganya. Ki Mengkis merasa kasihan dengan keluarga Bu Titik yang akan hancur jika Bersatu dengan pria itu. Bagaimana tidak, pria itu hanyalah pengangguran berusia 65 tahun yang sudah kesehatannya mulai menurun. Ia bisa melihat dua atau tiga tahun ke depan, Kesehatan pria itu akan sangat menurun dan saat itu hantu-hantu peliharaannya akan menghabiskan tenaganya. Menghisap semua kemampuan pria itu sampai habis. Akan tetapi sebelum itu terjadi, Bu Titik yang akan sangat menderita sebab Pak Andik menjadi parasit yang menghisap darah wanita itu. Lebih sedih lagi, anak-anaknya akan memilih mengawasinya dari jauh. Tidak lagi memberikan nafkah sesuai kesepakatan mereka dan berujung pada kesedihan saat Bu Titik sakit akibat depresi. Ki Mengkis tidak bisa menjamin bahwa ia akan berhasil memisahkan mereka. Akan tetapi ia berjanji akan membantu sekuat tenaga untuk kebahagiaan mereka. Pak Andik keluar dari rumahnya membuat perhatian hantu itu beralih dari Ki Mengkis. Mereka terlibat komunikasi yang tidak bisa didengar Ki Mengkis. Penasaran dengan apa yang dibicarakan mereka, Ki Mengkis membaca mantra dengan dua tangan dilipat. Tak lama kemudian sukmanya keluar dari raga lalu menghilang dan muncul tepat di belakang hantu itu. Sukma Ki Mengkis tidak terendus oleh hantu tersebut sehingga ia bisa aman dari serangannya, akan tetapi hantu itu bisa melihat Ki Mengkis karena itu ia memilih berada di belakangnya. “Sepertinya Titik menjauh dariku. Apa anak-anaknya berulah lagi?” tanya Andik kepada peliharaannya. “Ya, Tuan. Mereka pergi ke seorang paranormal. Dewi Bintari kalah. Titik bebas lagi,” jawab hantu itu dengan suara yang cukup keras. “Anak-anak itu, berani sekali menggangguku! Aku sudah mengirimi Titik makanan biar dikirim ke anak-anaknya tapi anak-anak itu selalu menolak.” Andik duduk di kursi yang ada dekatnya. Di teras yang sejuk karena halaman terdapat empat pohon mangga besar yang mengembuskan karbon dioksida. Pria itu kepanasan seakan rumahnya tidak ada pohon. “Saya bisa mencarikan anak lain kalau anda mau, Tuan,” tawar hantu yang kini duduk di samping bosnya. Andik mendecak sambil memukul sandaran kursi. Kekesalan tampak jelas di wajah pria berusia 65 tahun itu. Meski tubuhnya tampak gagah, tetapi langkahnya pelan dan kecil. Ia masuk ke rumah namun keluar lagi. Sebuah hal yang aneh dilakukan olehnya sebab tingkahnya seperti orang yang lupa akan sesuatu. “Aku akan mengirim makanan lagi ke Titik. Perempuan itu harus dijerat lagi,” ungkapnya. Tanpa sadar Ki Mengkis mendecak hingga membuat hantu serupa genderuwo itu memutar kepala dan melihatnya dengan mata besar semerah darah. Ki Mengkis meringis kemudian sukmanya kembali ke badan dengan cepat dan kasar hingga membuat efek seakan jatuh saat sukma menyatu ke raganya. Genderuwo itu melihat Ki Mengkis yang berada di balik pohon kelapa. Membuat pria itu segera menjauh karena tujuannya ke tempat itu hanya untuk melihat sejauh apa pria bernama Andik itu. *** Sampai rumah yang juga kantor Chasing Ghost, Ki Mengkis memerintahkan Bunga untuk menghubungi salah satu anak Bu Titik. Agar mengingatkan ibunya agar tidak menerima apapun dari Andik. Bunga segera melaksanakan tugas itu dengan menghubungi Mawar dan mengatakan sesuai dengan permintaan Ki Mengkis. “Kalau saya kesana, apa Bu Titik ingat saya pernah membantunya?” tanya Bunga sembari menyerahkan segelas kopi panas. “Dia hanya akan merasa nggak asing sama kamu. Bagi dia, kamu ini hanya bagian dari mimpi yang akan dilupakan saat bangun,” ungkap Ki Mengkis. Bunga duduk di hadapannya, memandang keluar jendela dimana pohon kamboja putih sedang tertiup angin dengan batu nisan di bawahnya. Hantu perempuan berambut panjang si penghuni rumah ini sebelum mereka sedang berdiri di depan batu nisan yang entah milik siapa. “Dia masih mencari tubuhnya,” ungkap Bunga membuat Ki Mengkis melihat perempuan itu. “Dia sepert Roserie,” ungkap Ki Mengkis. Roserie telah menyelesaikan misinya sehingga kini sudah kembali ke alamnya. Kalau tidak, mungkin kedua perempuan itu akan bersama. “Ngomong-ngomong jin dalam botolmu itu sudah terkumpul semuanya atau belum?” Pertanyaan Ki Mengkis membuat Bunga menghela napas. “Sebenarnya tinggal satu, Ki. Tapi karena tinggal satu malah susah dicari,” ungkapnya. Ki Mengkis mengangguk mengerti, tak lagi memikirkan hal apapun kecuali soal bagaimana menolong Bu Titik dan anak-anaknya. “Suruh anak-anak itu kesini!” perintah Ki Mengkis secara tiba-tiba. “Kenapa?” “Sudah, suruh secepatnya kesini!” perintah Ki Mengkis sekali lagi. Bunga pun menghubungi Mawar agar secepatnya datang ke kantor bersama kedua adiknya. Namun ia pun tak bisa memberi alasan khusus karena Ki Mengkis tidak memberikannya. *** Seperti yang diminta Ki Mengkis, keesokan harinya Mawar, Melati dan Lily pun datang ke kantor. Ketiganya tampak lebih sumringah dari biasanya. “Kemarin Ibu tiba-tiba ngomong kalau nggak mau menikah,” ungkap Melati dengan senyum sumringah. “Sebenarnya saya nggak terlalu percaya. Ibu kan orangnya tipe pagi kedelai sore tempe. Nggak bisa dipercaya,” sahut Mawar. Lily mengangguk setuju dengan ucapan kakak sulungnya. “Kamu sudah memberi tahu ibumu kalau jangan menerima pemberian apapun dari orang itu kan?” tanya Ki Mengkis, namun mata batinnya bisa melihat kalau Bu Titik dan Pak Andik sedang bertegur sapa di depan teras rumah Bu Titik. “Bunga, panggil suamimu!” perintah Ki Mengkis. Tanpa bertanya, Bunga segera naik ke lantai dua untuk memanggil Peter yang sedang bekerja di kantornya. Setelah kembali kepada Ki Mengkis dan ketiga tamunya, Peter dan Bunga duduk di sofa panjang yang ada di sofa panjang yang sedang diduduki tiga anak perempuan malang yang sedang berusaha mendapatkan ibunya yang sedang diguna-guna duda bangke. “Kalian ke rumah Bu Titik sekarang. Sudah waktunya kalian menyerang orang itu dan anak buahnya.” Ki Mengkis mulai membaca mantra untuk mengeluarkan sukma dari tubuh Peter dan Bunga. Kedua sukma sepasang suami istri itu segera pergi ke rumah Bu Titik dengan sekejap mata. Sementara raga mereka masih ada di kantor, seakan sedang tertidur lelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN