GUNA-GUNA DUDA BANGKE BAGIAN 7

1586 Kata
Ki Mengkis lagi-lagi mengirimku ke Bu Titik dengan cara memisahkan sukmaku dari raga bersama Peter yang berada di sampingku. Kalau beberapa hari lalu kami berdua dikirim ke tubuh Bu Titik, sekarang kami berada di teras rumah Bu Titik yang asri. Bermacam-macam tanaman dan bunga ada di halaman rumahnya. Pohon belimbing di pojok depan pagar sedang berbuah dengan lebat. Bu Titik sedang duduk sambil memandangi HP-nya. Tersenyum sendiri seperti orang…. “Kasmaran,” ujar Peter seakan sepemikiran denganku. Rasanya nggak mungkin karena seharusnya Bu Titik nggak lagi ada perasaan khusus ke Pak Andik karena hantu penari itu sudah keluar dari tubuhnya. Tapi melihat tingkahnya seperti anak muda yang lagi jatuh cinta tuh kok ya bikin kesel ya. “Kasihan anak-anak Ibu ini. Sudah berusaha keras menolong ibunya, eh malah ibunya yang kesemsem duda bangke!” ucapan Peter yang sangat blak-blakkan membuatku menyadari satu hal. “Steve,” seruku nggak percaya kalau ternyata akhirnya Steve muncul lagi setelah sekian hari menghilang. “Halo, Beb. Kangen sama aku ya,” serunya sambil tertawa khasnya dia. Nggak pake mikir lama, aku langsung memeluk dan mencium kedua pipinya. Duh kangen banget sama tingkah kocak Steve, meskipun suka nyebelin juga sih. “Duh, jangan begini dong. Aku kan jadi pengen….” Aku langsung menjitak kepalanya karena aku tahu arah pembicaraannya mau kemana. Kita sedang ada misi penting. Nggak bisa mikir hal lain selain urusan pekerjaan. Pak Andik tiba-tiba datang dengan membawa GL Max lawas dengan gaya sok keren. Berada di depan pagar, ia menyapa Bu Titik dengan menggaspol motornya. “Ajegile. Udah bangkotan gayanya kayak anak sekolaan,” seruku benar-benar nggak menyangka kalau tingkah orang itu sengak kayak ketek Ki Mengkis waktu meditasi seminggu nggak pake mandi. “Ini aku bawa makanan kesukaanmu,” ujar pria itu sambil menyerahkan sekotak Styrofoam yang dibungkus plastik transparan. “Aduh, Pa. Kamu jangan kirim makanan lagi ke aku. Aku dimarahin anak-anak karena suka menerima makanan darimu,” seru Bu Titik dengan suara manja. “Gile aja. Udah nyebut Pa (Papa) eh ngadu lagi. Dia polos apa ddodol sih,” geram Steve mewakili perasaanku. “Duh, kalo gini susah, Say. Bu Titik ternyata cinta beneran sama dia. Duh, Ibu … apa sih yang diliat dari duda tuwir macam dia. Ngganteng enggak, kaya enggak, modelnya sengak pula. Bangke, bangke!” seruku nggak mau kalah. “Udah, asal nggak ngomong ke anak-anakmu, mereka mana tahu. Mereka kan nggak tahu perasaan kita. Aku begini karena nggak mau kamu sakit,” ucap Pak Andik yang masih saja duduk di motor bututnya, seakan dia cowok keren bin tajir yang duduk di motor Ninja aja. Bu Titik terdiam sesaat, berdiri di depan Pak Andik namun dipisah pintu pagar yang setinggi satu setengah meter. “Ayolah, Ma. Aku nggak mau kamu sakit,” rayu Pak Andik yang bikin perutku sangat mual. Menjijikkan sekali. Kirain tingkah begini hanya milik Steve seorang, eh ternyata ada yang lebih parah dari dia. Kadal, kadal. Steve berdiri di sebelah Bu Titik, melototi Pak Andik dan membuat pria itu mengusap tengkuknya. “Rumahmu waktunya dipagari biar nggak ada hantunya,” ujar Pak Andik yang bikin aku segera mendekatinya lalu menjitak kepalanya. Sayang sekali apa yang kulakukan nggak terjadi apapun. Tanganku malah tembus masuk ke tubuhnya yang kulitnya sudah keriput. “Duh, apa sih yang dilihat dari Bu Titik. Kadal bujel kayak gini aja disenengin.” Aku menghela napas berat dan nggak kusangka sikapku itu membuat bulu kuduknya meremang. Aku pun dengan sengaja meniup telinga dan lehernya membuatnya merinding bulu roma. Di mata dia aku nih hantu gentayangan yang wajib dihilangkan. Tugas kami berdua adalah menjadi hantu yang membisiki Bu Titik agar nggak memakan makanan yang sudah dimantrai sama Pak Andik. Lelaki itu sudah mendalami ilmu ini sejak lama dan sering dipakai untuk mendapatkan wanita-wanita di luar sana. “APA YANG KAMU LAKUKAN PADA TUANKU!” “E busyet bikin kaget aja kamu,” seruku sambil melonjak kaget. Genderuwo raksasa dengan sepasang mata merah yang menyeramkan. Tingginya seatap rumah Bu Titik. Berbulu panjang hitam legam dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku cuek sama kehadirannya. Kupikir dia hantu pada umumnya hanya saja punya energi besar makanya bisa muncul meski di siang bolong begini. Tiba-tiba Steve mendorongku sampai jatuh di tengah jalan. Sebuah serangan dilancarkan genderuwo itu dengan membuat pukulan yang bisa saja merusak paving jalan andai tangannya nggak tembus ke dalam tanah. Seperti aku, genderuwo itu juga nggak bisa melukai seseorang. Semua gerakannya nggak bikin barang-barang kasat mata bergeser sedikit pun. Tapi bukan berarti itu juga berlaku pada kami. Serangannya sudah melukai Steve yang tiba-tiba nggak bisa bangun karena terkena pukulannya yang kedua. Aku mengeluarkan cakra kuning dan menyerangnya dengan cepat dan bertubi-tubi. Meskipun aku masih dalam posisi telentang dan di atasku ada Steve yang menyerahkan seluruh berat badannya ke aku. Dengan hati-hati aku menggesernya dan meletakkan tubuhnya di atas tanah berpaving. Meskipun aku merasa kasihan, tapi aku harus melakukan pembalasan atas tindakannya. “Tuanku, Bu Titik dijaga dua orang. Saya yakin dua orang ini kiriman orang yang tempo hari datang,” lapor genderuwo itu kepada Pak Andik. “Jangan-jangan, mereka yang bikin aku merinding,” ungkap Pak Andik sambil menyentuh tengkuknya. Ucapan pria itu dijawab dengan anggukan kepala dari hantu itu. “Ternyata kamu cuma kacung manusia. Nggak nyangka, hantu sekeren kamu cuma seorang hamba dari manusia bangke macem dia!” ujarku sambil tersenyum sok keren. Mata merahnya semakin melebar karena nggak terima dengan ucapanku. Meski besar, aku nggak takut menghadapinya. Dia nggak seseram hantu yang muncul di hati Bu Titik pada waktu itu. Aku memasang kuda-kuda sempurna, bersiap melakukan perlawanan. Saat kupikir dia akan menyerangku, ternyata dugaanku salah. Hantu itu malah pergi bersama tuannya yang membawa motornya pelan dan nggak lama kemudian masuk ke halaman rumahnya sendiri. Aku segera mendekati Bu Titik yang sudah menutup pintu. Menembus pintu yang sudah dikunci, aku melihatnya sedang tertawa sendiri sambil memandang sebungkus bubur ayam dari pujaan hatinya. “Eyalah, Bu. Cuma bubur ayam aja kayak udah dikasih makanan Jepang, itu sushi yang terkenal,” gerutuku sambil mendekatinya. Di dalam rumah Bu Titik, ternyata banyak sekali penghuninya. Mereka semua melihatku dengan tatapan tajam tapi semakin aku mendekat, mereka malah semakin mundur dan terlihat ketakutan. Bu Titik bersenandung sambil melangkah ke belakang rumah menuju dapur. Mengambil sendok lalu membawanya ke ruang makan. “Bu, jangan dimakan. Itu ada guna-gunanya. Nanti kamu kemasukan lagi,” ujarku dan sempat membuatnya ragu. Berdiri di depan sebungkus bubur ayam yang sudah dibuka hingga baunya merebak. Perpaduan bau wangi bubur sekaligus bau busuk dari bau guna-guna yang bisa tercium dengan kuat. Setidaknya oleh hidungku. “Bu, kalau kamu terusin. Kasihan anak-anakmu. Pasti mereka kecewa sekali. Mereka ingin kamu bahagia. Berhenti saja sekarang. Buang makanan ini dan mendingan kamu minta anakmu buat beliin bubur ayam baru yang enak dan lezat,” ujarku berusaha membuatnya yakin untuk nggak makan makanan itu. Tapi keraguan itu jelas-jelas muncul dari diri Bu Titik. Membuatku kesulitan untuk menggoyahkan pikirannya. “Kalian harus bantu aku. Aku nggak tahu kalian sudah berapa lama tinggal di rumah ini. Tapi yang sudah disini sejak lama, pasti tahu seperti apa keluarga ini. Kalian nggak mau keluarga ini celaka kan. Bantu aku membujuknya untuk membuang makanan ini!” ujarku lagi. Beberapa dari mereka mengangguk, beberapa lagi terdiam. Aku nggak peduli, yang terpenting adalah Bu Titik nggak makan makanan yang sudah diguna-guna itu. Bisa masuk lagi nih hantu kiriman duda bangke itu. Bu Titik mengeluarkan kotak Styrofoam dari plastic dan mulai memasukkan sendok ke makanan itu. Wah tuh orang hanya ingin mubadzir atau emang ndablek aja. Udah dikasih tahu kok ya masih nggak mau dengar. Tiba-tiba muncul hantu perempuan berambut panjang yang menutupi Sebagian wajahnya. Dengan energinya yang cukup besar, mampu membuat bubur itu jatuh ke lantai. Bu Titik terkejut lalu menjerit ketakutan. Masuk ke kamar lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Perempuan itu nggak lain nggak bukan adalah makhluk yang serumah denganku. Aku baru sadar kalau ia adalah makhluk dengan kekuatan yang besar. Padahal seharusnya kekuatan hantu lemah pada siang hari, namun hantu satu ini berbeda. Senyum di wajahnya yang pucat terangkat sebelum akhirnya dia menghilang. Aku segera masuk kamar Bu Titik untuk melihat apa yang sedang ia lakukan. Ternyata perempuan itu ketakutan hanya karena buburnya jatuh tanpa sebab. “Kenapa nasibku begini,” gumamnya dalam isak tangis. “Ya ampun, Bu. Nasibmu itu baik banget sampai-sampai mau bernasib buruk aja digagalin anak-anak. Harusnya bersyukur, Bu. Hidup enak, anak-anak berbakti, cari apalagi coba. Udah tua juga. Harusnya mendekat sama Tuhan, bukannya pacarana sama duda bangke,” ujarku. Tapi tiba-tiba badanku seperti ditarik seseorang dengan sangat kuat hingga akhirnya sukma dan ragaku menyatu dengan cara yang sangat menyakitkan. “Duh, Ki. Bisa nggak baliknya pelan-pelan. Sakit tahu!” gerutuku sambil memijat pinggangku yang mendadak sakit. “Ingat, tabur tanah ini ke seluruh rumah sambil baca bacaan yang sudah Ki kasih tadi. Selama tujuh hari, kalian harus mengamalkannya supaya rumah kalian terjaga,” ujar Ki Mengkis kepada tiga anak Bu Titik yang kembali tampak sedih. “Kalian nggak usah khawatir. Kami akan melindungi kalian. Ki Mengkis nggak bisa memisahkan ibumu dari orang itu, tapi bukan berarti Ki Mengkis diam saja,” imbuh Ki Mengkis. “Terimakasih bantuannya, Ki. Kami akan melaksanakan pesan Ki Mengkis,” ujar Mawar. Ki Mengkis mengangguk pelan. Setelah terdiam beberapa lama, Mawar dan dua adiknya akhirnya pamit untuk pulang. *** Hari sudah sangat malam saat tiba-tiba aku mendengar suara ledakan yang sangat keras. Aku, Steve dan Rascal sontak berlari keluar rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Sebuah bungkusan aneh mengeluarkan asap di halaman rumah. Sesuatu yang nggak asing lagi bagiku. “Ada yang ngirimi kita santet!” ujarku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN