Mengetahui kalau pria bernama Andik itu telah berani mengirim santet ke kantor, Ki Mengkis berang bukan kepalang. Lelaki 60 tahunan itu meremas bungkusan yang berisi paku karatan lalu membuangnya begitu saja.
“Ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus buat peritungan dengannya,” ujarnya lalu masuk rumah dengan langkah penuh hentakan.
Aku mengikutinya masuk rumah dan ikut duduk di sofa motif bunga-bunga berwarna hijau. Diam sambil mendengarkan Ki Mengkis yang nggak bisa menahan marah.
“Kamu tidur saja. Urusan ini biar Ki Mengkis yang urus,” ujarnya membuatku makin khawatir.
Meskipun Ki Mengkis tampak sehat, tapi usianya sudah nggak muda lagi. Tenaganya sudah nggak sebesar dulu dan aku nggak ingin ada hal-hal buruk yang terjadi padanya.
Jadi aku harus ikut Ki Mengkis buat jaga-jaga kalau dia membutuhkan bantuanku.
Steve baru turun tangga lalu melihatku dengan senyum lebar khasnya. Aku melambaikan tangan dan memintanya ikut duduk di depan Ki Mengkis.
“Ada apa?” tanyanya namun tiba-tiba Steve menutup mata dan sedikit kejang lalu saat membuka mata, auranya sudah berbeda.
“Peter, Andik mengirim kita santet,” bisikku.
Peter memandangku dengan mata melebar, antara dia heran kalau aku tahu dia datang atau kaget kalau aku memanggil orang itu dengan namanya meski umurnya sudah kakek-kakek atau malah kaget karena orang itu mengirim santet kesini.
“Aku tahu kamu Peter,” ujarku sambil tersenyum lebar, memamerkan gigi-gigiku yang putih dan rapi.
“Kamu sudah bisa membedakan kami rupanya,” ujarnya heran.
Astaga, tentu saja aku bisa dengan mudah membedakan mereka. Dua puluh empat jam kami bersama, bahkan kita dudidam setiap malam, 2x karena aku harus melayani Peter dan Steve. Bagaimana bisa aku nggak bisa membedakan mereka berdua. Aneh-aneh saja.
“Aku akan pergi kesana. Dia sudah nggak bisa dimaafkan,” ujar Ki Mengkis. Ia duduk bersila dan hendak melakukan ajian kanuragan untuk melakukan serangan ke Andik. Si duda bangke perusak keluarga orang.
“Ki, aku dan Peter akan membantumu!” ujarku membuat konsentrasinya pecah.
“Ini berbahaya,” ujarnya sebagai tanda penolakan.
“Justru karena bahaya, bawa kami bersamamu,” ujar Peter memberi keyakinan kalau kami akan sangat membantu.
Aku dan Peter belum bisa mengeluarkan sukma dari raga. Biasanya kami dibantu Ki Mengkis yang akan mengeluarkan sukma kami.
“Baiklah,” ujar Ki Mengkis lalu ia mulai melakukan ajian untuk mengeluarkan sukma dari tubuh kami berdua.
***
Melawan orang yang telah berani mengirimi kami santet tentu bukan hal yang mudah. Ini pertama kalinya aku melawan manusia sejati, bukan makhluk tak kasat mata yang biasa kami tindak.
Melawannya tentu nggak bisa dilakukan dengan terang-terangan. Kalau sampai orang itu meninggal, urusan jadi panjang. Kita bisa dipenjara gara-gara mengambil nyawa orang.
Kalau melakukannya secara supranatural, cerita bisa berbeda meski hasilnya sama. Dia atau kita yang meninggal. Namun nggak ada jejak yang bisa dilihat secara kasat mata. Paling kita akan dianggap meninggal secara mendadak atau kena angin duduk kalau orang Jawa bilang.
Berdiri di samping pohon kelapa, aku nggak mengira kalau ternyata Andik sudah menunggu kedatangan kami. Kiriman santet itu ternyata memang bukan untuk bikin kita kena, tapi merupakan undangan untuk menghadapinya.
“Wah, ternyata kalian main keroyokan,” ujarnya sambil maju dua langkah. Kedua tangannya berada di belakang punggung.
Ki Mengkis diam, nggak melawannya karena ia tahu ucapannya hanya sebuah pancingan biar Ki Mengkis jadi marah. Kalau sudah terbawa emosi, serangan akan menjadi lemah dan itu akan menguntungkan buatnya.
Genderuwo bermata merah dengan bulu lebat ada di samping lelaki itu dan yang nggak kusangka adalah perempuan penari yang sudah kuusir dari hati Bu Titik sekarang ada di sampingnya.
Aku sengaja melihatnya dengan tajam, biar tahu siapa yang akan jadi lawannya. Bunga, keturunan Jonsohn yang kuat dan pemberani.
“Seharusnya kalian nggak ikut campur. Ini bukan masalah kalian,” ujarnya sambil berjalan mondar-mandir di depan anak buahnya.
Meskipun aku bukan siapa-siapanya Bu Titik, tapi melihat penderitaan 3 anak perempuannya membuatku sakit hati. Beruntung sekali mereka datang ke tempat yang tepat, meskipun awalnya aku keberatan karena ini kasus pertamaku yang melibatkan manusia sejati.
“Orang sepertimu memang layak dihukum,” gumamku tapi sepertinya suaraku cukup keras sampai ia memandangku dengan satu sudut bibir terangkat.
“Jarang sekali ada perempuan yang berani melakukan pertarungan seperti ini. Aku sangat salut padamu, Anak Cantik,” ujarnya sambil bertepuk tangan.
Ish, jijay banget. Mau muntah rasanya mendengar gombalan dari kakek-kakek macam dia. Dikira aku orang yang mudah kena rayuan macam itu kali.
“Lepaskan keluarga Bu Titik. Aku janji nggak akan menyakitimu.” Akhirnya Ki Mengkis angkat bicara, sayang peringatannya malah ditertawakan sama pria yang memiliki tubuh tegap meski sudah nggak muda lagi.
Hari sudah di seperempat malam. Tak lama lagi akan berganti menjadi pagi. Kami sudah nggak ada waktu. Bertempur atau pulang. Tapi tentu saja pilihan pertama yang kami pilih.
“Jangan banyak bicara. Serang!” perintah Andik kepada dua anak buahnya.
Seketika aku berhadapan dengan perempuan penari yang sedang mengangkat selendangnya untuk menyerangku. Aku segera membuat kuda-kuda sempurna.
Di saat yang sama, Peter melawan genderuwo yang ukurannya 10x lebih besar darinya. Meski begitu kulihat Peter bisa melakukan serangan-serangan yang membuat genderuwo itu kalang kabut.
Penari itu melakukan gerakan tarian dengan pelan lalu tiba-tiba melempar selendangnya ke arahku. Membuatku segera menghindar dengan cepat.
Selendang itu mengenai pohon kelapa hingga batangnya hangus terbakar.
Aku merasa seperti de javu karena aku pernah melawan penari dengan kemampuan bertarung sepertinya. Dulu aku pernah mengalahkan hantu sepertinya, jadi sekarang ini juga bukan hal yang susah.
Dia melakukan serangan dengan selendang dengan bertubi-tubi. Aku terus berkelit dengan melakukan salto, melompat, berputar dan akhirnya aku bisa menangkap selendang itu lalu menariknya dan memukul tubuhnya dengan kuat.
“Jadi cuma segitu kemampuanmu?” tanyaku.
“Jangan mengaggapku enteng,” ujarnya lalu tiba-tiba ia menjerit dan dari mulutnya yang terbuka lebar keluar ratusan bahkan mungkin ribuan laba-laba.
Aku membaca ajian sambil mengeluarkan cakra untuk membentuk bola api kuning lalu melemparnya. Meskipun laba-laba yang terkena panasnya bola api kuning langsung terbakar, namun sebagian besar malah berjalan cepat lalu naik ke badanku.
“Ow, ow, ow.” Ternyata gigitan laba-laba sangat menyakitkan.
Aku bergerak dengan cepat untuk menyingkirkan laba-laba dari tubuhku. Tapi bukannya menghilang, jumlah laba-laba yang naik ke tubuhku semakin lama semakin banyak hingga aku menutup mata dan nggak bisa melihat apa-apa.
Seseorang datang membantuku dan membuang laba-laba itu dari tubuhku. Peter membuat serangan bola api merah membara lalu menyerang perempuan itu hingga membuatnya terpental dan baju bagian depannya menghitam karena terbakar.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Peter namun belum sampai menjawab, genderuwo menyerang kami berdua dengan pukulan yang kuat.
Aku dan Peter segera melompat menjauhi tangan besar yang bisa menjadikan kami sebagai menu baru geprek.
Perempuan itu kembali berdiri lalu merapikan rambutnya yang Sebagian terbakar. Aku nggak ingin kehilangan momen dan langsung berlari mendekatinya lalu menyerangnya dengan pukulan kuat yang mengenai rahangnya.
Dengan kemampuan bela diri yang cukup hebat, perempuan itu terus melakukan perlawanan. Memukul, menendang sekaligus menangkis atau menahan seranganku.
Aku membuat ajian lagi kali ini agar tanganku bisa sepanas bola api kuning yang biasa kubuat. Aku menyerang perutnya dengan pukulan kuat dan panas. Sampai bajunya yang sudah menghitam kian menghitam dan sebagian lagi berlubang karena kepanasan.
Ki Mengkis sudah membuat takluk Andik dan ia pun memerintah anak buahnya untuk berhenti.
“Kalian berdua, ikut aku! Jadi anak buahku!” perintah Ki Mengkis membuat genderuwo dan perempuan itu mengangguk dan berpindah dari berdiri di belakang Andik sekarang ada di sampingku.
Sungguh nggak kuduga sebelumnya. Setelah melakukan serangan-serangan hebat yang membuatku kewalahan, perempuan itu sekarangmalah menjadi sekutuku. Kutu kupret memang, tahu gitu nggak usah bertarung.
“Kamu, jangan pernah ganggu keluarga itu, atau aku akan membuatmu Bersatu dengan istrimu yang sudah terkubur,” ancam Ki Mengkis.
Andik berlutut di kaki Ki Mengkis, membuatku merasa puas meskipun sedikit kecewa karena ternyata kemampuannya hanya segitu.
“Siapa namamu?” tanyaku pada perempuan penari yang memakai busana khas Jawa dengan rambut disanggul dengan khas penari Jawa.
“Dewi Bintari,” jawabnya. Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya sebelum akhirnya badanku seperti ditarik dan akhirnya sukmaku kembali ke raganya.
Saat terbangun, kulihat Dewi Bintari dan genderuwo yang hanya terlihat kakinya yang jongkok sementara bagian atas tubuhnya menembus langit-langit rumah berada di hadapanku.
Perempuan itu tersenyum kepadaku, aku pun membalas senyumannya dengan senyum tak kalah manis. Hantu itu memang hantu yang sudah bertahun-tahun dipelihara Andik.
“Sekarang kalian bebas. Nggak punya tuan. Tapi jangan pernah mengganggu manusia kecuali kalau kalian mau binasa di tanganku!” ancam Ki Mengkis.
“Terimakasih, Ki. Kami nggak akan lupa jasa-jasamu,” ujar Dewi Bintari.
Nggak lama kemudian, mereka menghilang begitu saja.
“Semoga masalah yang dihadapi keluarga Bu Titik berakhir bahagia,” ujarku.
“Kita nggak pernah tahu apa yang ada di hati manusia. Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.
***
Pagi yang cerah, secerah hatiku karena sehari libur setelah pertarungan yang melelahkan.
Tiga anak Bu Titik tiba-tiba datang dengan mata yang sembab.
“Kalian kenapa?” tanyaku heran.
Aku meminta mereka untuk masuk rumah lalu kubuatkan teh panas dengan seduhan melati yang kupetik di pekarangan belakang rumah.
“Ibu kami masih berencana menikahi orang itu,” ujar Mawar dengan suara lemah.
“Aku sudah tahu. Ibumu memang ndablek. Biarin saja. Biar dia rasakan buah dari tindakannya. Kalian lebih baik fokus dengan keluarga kalian sendiri,” ujar Ki Mengkis yang baru saja tiba dari belakang.
Astaga, kupikir Bu Titik tercerahkan setelah nggak dipengaruhi Dewi Bintari tapi ternyata….
MANUSIA BERENCANA, TAPI TUHANLAH YANG BERKEHENDAK.