Pucuk dicinta ulam tiba, tapi sayang ulam tiba gak pada waktu yang tepat. Kenapa di saat aku sendirian malah ketemu nenek-nenek penunggu botol ini?
Amsyong dah, mana sepi lagi. Sedari tadi aku berusaha cuek sama hantu-hantu rumah sakit yang nyeremin demi Steve, tapi sekarang semua jadi terlihat jelas sejelas-jelasnya.
“Jadi Mbah Dawuk...” Aku menelan ludah susah payah.
Mbah Dawuk menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, wajah keriputnya makin pucat dan makin keriput. Ia memandang seseorang yang ada di sebelah kanan. Aku ikut menoleh ke arah yang Mbah Dawuk lihat lalu kembali melihat Mbah Dawuk tapi sayangnya, Mbah Dawuk sudah gak ada.
“Dimana kamu Mbah?” sepertinya Mbah Dawuk lebih serem dari noni Belanda kemarin.
Seorang satpam mendekatiku, aku menghela napas lega karena ada orang lain disini.
“Selamat malam, Mbak. Bisa ikut ke kantor saya?” Pertanyaan satpam ini lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Dan benar saja, tanpa menunggu jawaban dariku. Si satpam langsung mengunci kedua tanganku. aku meronta, ini orang mengigau apa? “Saya salah apa, Pak?” tanyaku penasaran.
“Bapak? ... Aku Mbah Dawuk. Aku gak akan membiarkan orang mengunciku di tempat sempit macam botol murahan seperti punyamu.” Ternyata Mbah Dawuk masuk ke dalam raga satpam.
“Mbah Dawuk, kita ngomong baik-baik saja. kita rundingan enaknya bagaimana.” Semoga Mbah Dawuk bisa diajak kompromi.
“Kamu pikir, aku percaya sama bocah ingusan macam kamu? Aku tahu itu cuma akal-akalanmu,” ungkapnya, tahu saja pikiranku.
Cekalan Mbah Dawuk dalam raga satpam bertubuh kekar begitu erat, membuatku kesakitan. Aku harus mikir cepat, biar bisa lepas dari Mbah Dawuk. Aku membaca ajian biar bisa lebih kuat dan setelah merasakan energi besar datang padaku. Sekuat tenaga kuangkat badan satpam alias Mbah Dawuk dengan pundak sebagai tumpuan lalu melemparnya dengan cara membungkukkan badan.
Satpam itu jatuh ke atas lantai, cekalannya di lenganku melonggar. Aku mengambil kendi dari dalam tasku lalu mengulum dan menyemburkannya tepat ke muka satpam.
“Anjrit. Sialan kamu!” Satpam itu tiba-tiba marah besar, melihat caranya menatapku, aku yakin dia sudah sadar dan Mbah Dawuk sudah keluar dari raganya.
“Ma ... maaf, Pak.” Tanpa ba bi bu, aku segera melarikan diri tapi sialnya sang satpam mengejarku.
“Hei, tunggu!” teriaknya.
Aku berlari kencang, melewati lorong sepi dan bila berpapasan dengan orang, orang itu selalu tertawa mencemoohku. Aku yakin orang itu sudah disusupi sama Mbah Dawuk. Aku berlari ke arah paviliun dimana Steve berada.
***
Sampai kamar Steve, aku langsung masuk ke dalamnya dengan napas terengah-engah. Untung saja satpam itu kalah cepat dariku, kalo enggak, mampus aku. Aku masih mengatur napas, keringat membasahi badan, detak jantung masih berdetak kencang tapi perlahan semua kembali normal.
“Bunga. Kamu kenapa?” Steve menatapku dengan tatapan khawatir.
Waktu melihat Steve, lapang pandangku menangkap segelas air yang ada di atas nakas. Tanpa banyak bicara, aku langsung mengambil gelas itu dan meminum isinya.
Segar dan lega langsung aku rasakan setelah menenggak segelas air. Aku mengusap bibir dengan lengan lalu mengembalikan gelas ke tempatnya.
“Sial bener. Salah satu jin botol ada di tempat ini. Tadi hampir saja aku celaka,” ucapku.
“Really? Sebaiknya kita segera menangkapnya.” Steve melepas jarum infus lalu turun dari ranjangnya.
“Kamu ngapain?” tanyaku kaget dengan tindakannya.
“Membantumu,” ucap Steve.
“Kamu kan lagi sakit. Mending aku minta bantuan Hengky saja.” Aku gak mau Steve makin sakit parah nantinya.
“Udah gak papa,” tolak Steve.
“Biarkan aku membantu Bunga. Dan kamu ... tetap di tempat tidurmu!” Hengky tiba-tiba muncul, membuatku senang sekali.
“Eh, ngapain kamu kesini?” tanya Steve, penuh selidik.
“Menjenguk ... dan membantu Bunga,” ucap Hengky datar.
“Kamu sudah menjengukku. Aku sudah gak sakit dan sekarang aku akan membantu Bunga.” Steve berapi-api, ia berjalan ke arah pintu.
“Kamu lagi sakit, Steve,” kata Hengky, aku mengangguk setuju.
“Tadi sakit. Sekarang aku sehat. Lagipula, aku gak yakin kamu bisa mengatasi masalah ini, mengingat kemarin...” Steve sengaja menggantung ucapannya.
“Yang kemarin ya kemarin, gak usah dibahas lagi,” balas Hengky.
Beberapa lama dua cowok itu saling berdebat gak penting, bikin aku gemas sendiri. Karena sebal, kubiarkan keduanya heboh. Aku memilih pergi saja daripada melihat pertengkaran aneh mereka.
Aku keluar ruangan Steve, menoleh ke kanan dan ke kiri, selasar rumah sakit sepi sekali. Di arah kiri, tak ada siapapun sementara di arah kanan, hanya seorang suster berjalan menjauh dari tempat ini. Aku kembali menoleh ke Steve dan Hengky, keduanya masih ribut seperti ibu-ibu rebutan barang murah.
Aku kembali menoleh ke arah kanan, suster yang tadi berdiri menghadapku lalu ia tertawa meledek. Tak perlu banyak mikir karena aku yakin dia adalah ... “MBAH DAWUK. AWAS KAMU. SINI KALO BERANI!” teriakku.
Aku berlari mengejar Mbah Dawuk, suster yang sudah dimasuki roh Mbah Dawuk berlari cukup cepat.
“BUNGA...” Hengky dan Steve berteriak bersamaan tapi aku tak menggubris mereka.
Suster membelok ke kanan, langkah kakinya sudah gak secepat tadi. Akhirnya setelah lari-larian, suster itu bisa kutangkap juga. Aku memeluk Suster itu. “Kena kamu!” pekikku.
Suster itu menoleh, menatapku dengan sepasang mata membulat. “Kurang ajar! Kamu kira aku jeruk makan jeruk? Lepaskan!” makinya.
Alamak, sial bener dah. Jadi Mbah Dawuk sudah keluar lagi. Aku menghela napas berat. “Maaf, Sus. Tadi saya kira...” Suster itu melepaskan pelukanku, masih menatapku dengan tatapan jijik.
“Sekali lagi saya minta maaf,” ucapku lemah.
“Saya maafkan, tapi lain kali jangan bertingkah seperti maniak,” makinya.
Oalah, dikira aku maniak? Haduh...
Suster itu pergi dengan langkah tegas dan penuh amarah, dia gak tahu kalo tadi sudah dimasukin hantu nenek-nenek sok kecakepan seperti Mbah Dawuk.
“He, perempuan culun. Tangkap aku kalo bisa!” Seorang anak laki-laki memakai seragam pasien berupa piyama berwarna biru, meledekku sambil menggoyangkan p****t.
“Bunga!” Steve sudah berdiri di sebelah kananku dan Hengky berada di sebelah kiriku.
“Dia...”
“Dimasukin rohnya Mbah Dawuk.” Aku memandang anak kecil yang kini menjulurkan lidah sambil menggoyangkan p****t. “Sialan. WOI, SINI. JANGAN LARI!” Aku berlari mengejar, anak itu berlari sekuat tenaga. Kecepatannya yang luar biasa, membuatku harus memompa kekuatan.
Berlari mengejar anak kecil, keliling rumah sakit bikin aku kelelahan dan pada akhirnya aku berhenti. Aku memegang lutut, sambil mengatur napas dan jantung yang terpompa cepat.
“Ini anaknya.” Hengky menggendong anak laki-laki yang tadi disusupi Mbah Dawuk. Anak itu meronta minta dilepaskan. Wajahnya memerah dan menatapku dengan senyum tapi gak lama kemudian ia menatapku dengan senyum menantang sebelum anak itu tiba-tiba tidur seolah gak melakukan sesuatu.
“Kita harus mengantarnya ke suster. Mbah Dawuk sudah keluar dari raganya,” ucapku.
***
Setelah mengembalikan anak itu, aku, Hengky dan Steve duduk di bangku dekat taman rumah sakit. Memikirkan apa yang harus kami lakukan biar bisa menangkap Mbah Dawuk.
“Kita pancing dia,” ucap Hengky.
“Maksudnya?” tanyaku penasaran.
“Membuat salah satu dari kita dimasuki roh Mbah Dawuk.” Steve membuatku menatapnya lekat.
“Tapi...”
“Kamu lari saja keliling rumah sakit seolah mencari Mbah Dawuk. Aku yakin dia bakal pindah-pindah sampai dia masuk ke Hengky,” usul Steve.
“Kenapa aku?” Hengky keberatan.
Steve melirik tajam Hengky, membuat Hengky mendelik memandang Steve. “Sudah-sudah, gak usah pake mancing-mancing segala. Kita kejar dia, trus aku baca ajian membuat jin gak bisa menolak perintahku.” Ide bagus selalu muncul belakangan.
“Memangnya kamu bisa?” tanya Steve.
Aku membuka tas, mengambil buku ajian karya Ki Mengkis yang hanya satu di dunia ini. “Aku punya buku ini. Aku yakin, kalo aku membaca ajian di dalamnya. Kita pasti bisa menangkap Mbah Dawuk,” ucapku.
“Kalo gitu sekarang. Ayo cari Mbah Dawuk!” Steve berdiri, satu tangannya diulurkan kepadaku. Hengky mendengus, ia merangkul Steve dan mengajaknya pergi.
Aku tersenyum, kurasa Hengky cemburu sama Steve. Ketahuan dari tadi dia kayak gimana gitu, kalo Steve perhatian sama aku.
***
Mengejar Mbah Dawuk, benar-benar merepotkan. Aku sampai capek fisik ngejar roh yang suka keluar masuk raga manusia. Sudah begitu, dia suka meledek macam bocah. Di dekat ruang radiologi, aku berhenti sejenak. Mengatur napas yang serasa mau putus.
“Sudah kubilang, kita pancing dia. Ini jauh lebih mudah daripada kejar-kejaran seperti ini,” ungkap Hengky.
Aku tahu, tapi mereka gak boleh dimasuki roh halus karena sekali kemasukan roh halus maka raga akan mudah dimasuki roh halus lainnya. Itulah kenapa Ki Mengkis memberi jimat penangkal barang ghaib masuk ke raga kami.
“Sudah. Pokoknya, aku gak mau kalian berdua jadi tumbal. Kalo kalian mau bantu, ayo. Kalo engga, ya udah...” nyinyirku, padahal kalo ditinggal beneran aku sendiri pasti kerepotan.
“Ya sudah. Turuti saja kemauan Ndoro putri. Ayo cepat kejar! Sebelum pagi datang.” Steve berjalan dahulu. Aku dan Hengky saling berpandangan sebelum mengekor kepadanya.
Hari semakin larut, jam menunjuk angka satu. Rumah sakit semakin sepi, hanya suster yang berjalan kesana kemari, selebihnya adalah hantu penunggu rumah sakit dengan berbagai bentuk dan gaya.
Aku berada di selasar dekat dengan ICU. Disana aku melihat nenek-nenek memakai pakaian lusuh seperti yang dikenakan oleh Mbah Dawuk. Aku tersenyum, senang karena pada akhirnya punya kesempatan buat menangkapnya.
Aku mengambil kendi dari dalam tas, mengulum isinya lalu mulai membaca ajian di dalam hati. Berjalan pelan sambil ngumpulin tenaga dan kupusatkan di telapak tangan. semakin lama semakin mendekat lalu kulemparkan energi yang terkumpul di tangan ke punggung Mbah Dawuk.
“SETAN!” maki Mbah Dawuk. Ia memutar badan, memandangku dengan tatapan benci yang sangat mengerikan.
Seorang pria berjalan di dekat Mbah Dawuk, dengan mudah setan nenek itu masuk ke raga pria itu. Aku lemas seketika, badan sudah capek banget dan sekarang lagi-lagi aku harus melakukan pengejaran.
“Hengky! Tahan pria ini jangan sampai dia bertemu orang lain atau ia pindah ke orang lain.” Suara Steve membuatku menoleh, menatapnya yang lagi menahan badan pria yang sudah disusupi Mbah Dawuk.
Kulihat roh Mbah Dawuk keluar dari tubuh pria itu, ia berpindah ke Hengky tapi rohnya mental kembali dan masuk lagi ke raga pria itu. Tentu saja karena Hengky sudah memakai jimat dari Ki Mengkis.
Aku mendekati Hengky, tanpa menunggu lama aku segera menyemburkan air kendi sakti yang bisa melemahkan jin. Setelah menyemburkan air, aku langsung membuka tas lalu mengambil botol dari dalam tas.
Roh Mbah Dawuk berubah menjadi asap hitam, sewaktu botol kubuka, asap itu tersedot masuk ke dalamnya.
Aku memandang Hengky dengan perasaan lega. Hengky tersenyum kepadaku. Aku senang sekali karena akhirnya Hengky tersenyum kepadaku. Hari ini benar-benar melelahkan sekaligus membahagiakan buatku. Semoga ini pertanda baik antara aku dan Hengky.
“Sweetheart, i really need you,” ucap Steve.