Berjalan di lorong sekolah, mengenakan seragam pramuka. Aku dibuat heran sama ulah cewek-cewek yang ngelihatin aku sambil berkasak-kusuk. Sebenernya bukan hal aneh sih, hanya saja biasanya mereka berkusak-kusuk sambil tertawa geli tapi pagi ini mereka menatapku gak suka.
“Good morning my beautiful flower.” Steve merangkul pundakku, membuat wajah cewek-cewek sekolah makin gak suka.
“Lepasin Steve. Malu.” Aku melepas rangkulannya, Steve berjalan berjajar denganku masih dengan muka cerianya.
***
Duduk di dalam kelas, aku memandang Bu Rupi’ah, guru ekonomi yang sedang menjelaskan tentang cara membuat buku besar. Aku menguap, rasanya gak sanggup menahan mata yang terus ngajakin tidur.
“STEVE. BANGUN!” Suara teriakan Bu Rupi’ah membuat kantukku hilang seketika.
Semua mata memandang ke arahku, lebih tepatnya ke arah Steve yang duduk di sebelahku. Steve, entah sejak kapan dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sekali lagi kupandang Bu Rupi’ah, wajahnya merah padam menahan kesal karena ulah Steve.
“Steve. Bangun!” Aku menggoyang bahunya, Steve membuka mata sepintas lalu tidur lagi.
“STEVE. KALAU MASIH TIDAK MAU MENGIKUTI PELAJARAN SAYA. SILAHKAN KELUAR!” maki Bu Rupi’ah.
Tiba-tiba Steve bangun, ia menggeliat sambil menguap lebar-lebar. Bikin aku kaget dengan sikapnya yang gak sopan. Steve berdiri, ia mengambil tas ransel lalu mencekal lenganku kuat dan menarikku. Membuatku berdiri dan mengikuti langkahnya. “Steve, edan kamu,” umpatku.
Steve seolah gak mendengarkan umpatanku. Ia tetap melenggang sambil menarik lenganku. Tepat di depan Bu Rupi’ah, Steve menghentikan langkahnya. Aku menarik tanganku dari cekalannya tapi tangan Steve semakin erat menggenggamnya.
“Bunga. Tetap di kelas!” perintah Bu Rupi’ah.
“Ba ... baik, Bu. Tapi...” Aku menggerakkan kepala ke arah lenganku.
“Steve. Lepaskan tangan Bunga!” Bu Rupi’ah melotot sambil berkacak pinggang.
Tapi sepertinya apa yang dilakukan Bu Rupi’ah gak membuat Steve jera, ia malah melirik lalu pergi begitu saja, sambil menyeretku keluar kelas.
Sorakan “HUU...” menggema, bikin aku malu setengah mati.
Dasar bule sinting, bergaul dengan dia makin membuat jelek nama baikku yang sudah jelek. Huft.
***
Steve mengajakku ke belakang sekolah, ke sebuah gudang yang selama ini ditakuti anak-anak sekolah ini kecuali aku.
Gudang ini tempat buat menyimpan meja dan bangku yang rusak atau memang gak dibutuhin di kelas manapun, ditumpuk seenaknya dan hampir memenuhi ruangan. Meskipun berdebu, tapi tempat ini cukup adem karena letaknya dekat pohon beringin dan bersebelahan dengan kebun rambutan.
Rukmini, hantu penunggu gudang yang sangat centil tampak ceria melihat kedatangan kami.
“Ganteng ... godain aku dong...” Rukmini tersenyum sambil tersipu malu.
Hantu yang dulu mati karena bunuh diri dengan cara gantung diri di gudang ini, setelah ditinggal pacarnya menikah sama cewek lain ini suka sekali kalo lihat cowok main ke gudang. Entah berapa banyak cowok yang sudah digoda sama dia, yang bikin para cowok lari terbirit-b***t sampai akhirnya gak ada cowok yang berani melintas apalagi masuk ke dalam gudang. Kecuali makhluk sinting bernama Steve.
Steve cuek seolah dia gak melihat Rukmini padahal Rukmini termasuk hantu cukup kuat buat nampakin diri sesukanya bahkan di siang bolong seperti sekarang.
“Duduk!” perintah Steve, gayanya macam bos mafia di film-film.
“Kamu ini nyusahin aku, Steve. Apa kata teman-teman dan para guru yang melihatku bolos sama kamu?” Aku mendecak, kesal dengan tingkah Steve.
“Kamu ngantukkan? Aku juga. Kita tidur disini.” Steve dengan entengnya ngomong seperti itu. Ia bahkan sudah merebahkan diri di bangku yang ada di sebelah pintu.
“Kalo bolos gak usah ngajak-ngajak!” Aku dongkol, dengan sebal aku berjalan ke pintu tapi lagi-lagi Steve mencekal lenganku.
“Oalah Mbak Bunga. Sudah punya pacar toh?” Rukmini menambah keruh suasana. Aku melotot ke arahnya, Rukmini hanya cengengesan tapi tetap memperhatikan aku dan Steve.
“Sudah deh. Semua juga tahu kalo aku dan kamu itu pacaran,” sahut Steve.
Aku melotot, baru sekolah beberapa hari sama Steve. Dia sudah bikin aku senewen. “Maksudmu apa toh? Gak ngerti aku.” Alisku mengkerut, memandang Steve yang kini memandangku dengan senyum sok imut menghiasi wajahnya.
“Semua murid disini sudah tahu gosipnya. Bener kan Ruk?” Steve memandang Rukmini, seolah dia sudah kenal dekat sama hantu yang setiap hari memakai daster merah dan rambut selalu pake rol.
Rukmini mengangguk, idih dasar hantu gak konsisten. Tadi minta digodain eh sekarang dia setuju kalo aku dan Steve pacaran. Aku memandang Steve masih dengan alis mengkerut. “Yang bilang aku pacaran sama kamu siapa? Gosip murahan dan dari sumber gak jelas kok dipercaya.” Aku mengerucutkan bibir, dua tanganku bersedekap.
“Dipercaya kok. Sumbernya kan ... aku.” Steve tertawa riang.
Aku melotot, kupukul bahu Steve kuat-kuat lalu menyeret bocah gemblung itu sampe dia jatuh ke atas lantai. “Kamu ini. Merusak pasaranku. Dasar bule g****k, edan, sinting,” makiku, aku masih terus memukul Steve. Tapi Steve malah tertawa lebar, ia menarik kedua tanganku dan membuatku jatuh di atas badannya. Sama seperti waktu kami pertama bertemu.
“Habisnya aku bosan dikejar-kejar cewek sekolah ini,” ungkapnya.
“Tapi yo jangan seperti ini. Pantesan dari pagi aku disewotin mulu, ternyata kamu ini. Dasar edan.” Sekali lagi aku mengumpat.
Aku berusaha melepaskan cekalannya tapi dasar Steve, dia malah menahan badanku supaya gak lepas darinya.
“Oops, sorry ganggu.” Seseorang tahu-tahu sudah ada di tengah pintu, memandangku dan Steve dalam kondisi yang bisa bikin orang salah paham dan sedihnya dia adalah Hengky.
“Hengky...”
“Kamu ini, ganggu orang pacaran. Sana pergi. Hush-hush.” Steve bikin aku melotot, kubenturkan kepala dengan kepalanya, membuat Steve memegang kepala dan aku bisa lepas darinya.
Aku berdiri di depan Hengky sambil menahan kesal sama ulah Steve. “Jangan di dengerin omongan Steve. Kamu ... tumben kesini? Gak takut sama Rukmini?” tanyaku penasaran.
“Buat apa aku takut sama hantu jelek pake daster kumal macam dia,” celetuk Hengky.
Aku kaget mendengar ucapannya, “jadi kamu bisa lihat hantu?” tanyaku penasaran.
“Sejak tujuh belas tahun lalu aku bisa lihat hantu.” Jawaban Hengky sekali lagi membuatku kaget.
“Jadi beneran kamu bisa lihat hantu? tapi selama ini...”
“Selama ini aku diam saja. Lagipula aku gak mau di cap aneh sepertimu,” sela Hengky.
Oalah, ternyata Hengky punya kemampuan sepertiku. Kayaknya dia memang jodohku. Aku jadi tersipu malu dan senyum-senyum sendiri, merasa kalo Hengky benar-benar serasi denganku.
“Honey, sebaiknya kita tidur sekarang!” Steve merangkul pundakku.
“Honey-honey, seenaknya aja ganti namaku.” Aku melepas lengan Steve dan meliriknya kesal.
“Kamu kan pacarku. Jadi wajar, aku memanggilmu honey. Atau kupanggil sweetheart, sweety atau...”
“Sweety. Dikira aku pempes apa!” gumamku kesal.
“You make me crazy with your lovely word you say, Honey.” Steve merengkuhku di depan Hengky, membuatku geram dengan sikapnya.
Aku marah luar biasa, dikira aku cewek gampangan apa sampai dia suka main nempel seenaknya. Karena kesal, aku menahan badan Steve lalu memukul perutnya kuat-kuat, membuat Steve mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya. “Rasain! Sekali lagi kamu macem-macem, kukutuk jadi kodok kamu,” makiku.
Aku meninggalkan Steve yang masih kesakitan dan Hengky yang kaget melihat sikapku. Dasar Steve, merusak imageku di depan Hengky dengan sangat menyakitkan.
***
Aku berlari melewati selasar rumah sakit, dari Hengky aku tahu kalo Steve masuk rumah sakit beberapa saat setelah aku meninggalkannya. Aku takut kalo tindakanku tadi membuat Steve harus dirawat. Aduh Steve, kukira kamu sekuat penampakanmu tapi ternyata dipukul begitu saja sudah masuk rumah sakit.
Sampai di depan taman rumah sakit, aku berhenti. Memandang ke kanan dan ke kiri. Malam sudah mulai larut, rumah sakit sudah cukup sepi. Seandainya tadi tempat prakteknya Ki Mengkis gak rame, pasti aku sudah besuk dari tadi siang.
“Cari kamar apa, Nduk?” pertanyaan itu keluar dari mulut seorang wanita.
Aku menunduk, seorang nenek tua dengan sekeranjang kue di depannya memandangku dengan wajah datar. “Cari paviliun bougenville, Nek. Dimana ya?” tanyaku.
“Beli dulu kuenya, baru saya tunjukkan tempatnya,” ucap Nenek itu.
Tanpa pikir panjang, aku memandang jajaran kue tradisional yang diletakkan di sebuah tampah di atas keranjang. Ada kue cucur, kue lapis, kue nagasari, kue lemper, kue pastel dan masih ada beberapa jenis kue lainnya.
Nenek itu memberiku sebuah tas keresek kecil. Aku jongkok di depan kue-kue, memandangnya saja bikin aku ngiler. Aku segera memasukkan empat kue cucur, dua kue lemper dan dua kue nagasari ke dalam tas keresek. “Harganya berapa, Nek?” tanyaku.
“Buat Nduk’e, lima ribu saja.” Aku memandang Nenek itu gak percaya. Sepuluh kue yang biasanya dijual minimal seribu rupiah, sama Nenek ini cuma dihargai lima ribu rupiah. Ah, mungkin ini sudah malam jadi daripada gak laku dan basi. Mending, dijual murah.
Aku berdiri, merogoh kantong celana buat mengambil uang. Aku menyerahkan uang sepuluh ribu kepada nenek itu. “Ambil kembaliannya, Nek.” Kasihan kalo nenek ini pulang dengan membawa jajan sisa yang masih banyak.
Nenek itu terlihat sangat bahagia. “Walah Nduk, alhamdulillah. Mbah Dawuk, seneng banget...” ucapnya.
“Nenek namanya Mbah Dawuk to...” Aku manggut-manggut.
“Orang sini manggil saya begitu,” ucapnya.
“Ya udah Mbah Dawuk. Senang kenalan sama Mbah. Tapi saya harus jenguk teman saya yang lagi sakit. Jadi, dimana ruangan paviliun bougenville berada?” tanyaku.
Mbah Dawuk memberiku petunjuk arah ke ruangan dimana Steve sedang dirawat. Aku memperhatikan arahannya dengan serius, maklum saja, rumah sakit tempat Steve dirawat sangat besar dan luas. Aku bisa kesasar kalo gak tanya siapapun sementara petugas di loby tadi gak ada.
“Oalah, matur nuwun Mbah.” Aku pamit, Mbah Dawuk tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Sambil berjalan, aku membuka tas selempang untuk memasukkan kue ke dalamnya. Kue ini kue kesukaannya Ki Mengkis, kalo gak dimasukkan ke dalam tas, takut nanti direbut sama Steve.
Sewaktu aku membuka tas, aku terkejut dengan botol air mineral tempat menyimpan jin yang lagi menyala terang. Botol itu keluar dan jatuh di atas lantai. Ia berputar sangat cepat hingga berhenti dengan mulut botol ke arahku.
Aku menelan ludah susah payah, pasti hantunya ada di belakangku. Meskipun sering melihat penampakan, tetap saja merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku menahan napas, memutar badan sambil memejamkan mata. Sambil berharap kalau itu perasaanku saja. Meskipun sebenarnya aku tahu kalau perasaanku tidak pernah salah ... maksudku belum pernah salah.
Jantungku berdendang ria, seperti sedang ada orkes yang suaranya sampai terdengar satu kampung. Dag dig dug bunyinya. Duh andai itu suara gendang, pasti aku bisa berjoget ria.
Pelan tapi pasti, aku membuka mata dan yang kulihat pertama kali adalah...
Mbah Dawuk berdiri dengan senyum seringai yang sangat menakutkan.