Tiba-tiba kaca jendela pecah berkeping-keping, aku spontan menutup kepala biar gak kena pecahannya. Seseorang mencekal lengan dan menarikku berjalan cepat menerobos hantu noni-noni yang masih menatapku dengan wajah yang mengerikan. Aku menoleh, mereka berdiri menghadapku sambil melambaikan tangan seolah memanggilku untuk bergabung. Seketika perasaanku merinding, seandainya gak ada yang menolongku tadi, aku yakin pasti sekarang sudah jadi bagian dari mereka.
Steve, datang di saat yang tepat, beruntung banget deh. Aku bisa menghela napas lega, seenggaknya kini ada kesempatan buat nyelametin Hengky dan mengurung setan wanita itu kembali terbuka lebar.
Melewati lorong yang sepi, pintu-pintu berjajar di kanan dan di kiri lorong. Lukisan-lukisan orang memakai baju khas Belanda menghiasi dinding. Semua bisa kulihat walau gak terlalu jelas berkat jendela tanpa kaca yang membawa masuk sinar bulan purnama.
Steve membuka pintu yang ada di sudut dekat dengan jendela dan membawaku masuk. Menutup pintu kembali sesudahnya, aku menatap Steve dengan perasaan penuh dengan ucapan terima kasih.
“Bunga, are you okay?” Steve memandangku lekat, dua tangannya berada di pundak dan membalikkanku ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
Aku menepis dua tangannya. “Aku gak apa-apa Steve. Berkat kamu.” Steve menghela napas lega mendengar ucapanku.
Aku mengamati ruangan dimana aku dan Steve berada, dengan senter di tangan, kulihat sebuah ranjang berdebu dengan kain berwarna merah dan emas yang sudah lusuh. Sebuah meja ada di dekat ranjang dan berhadapan dengan jendela. Lagi-lagi lukisan noni Belanda menghiasi dinding. Sebuah lemari besar ada di sebelah kanan, lemari tua yang membuatku ingat sama film luar berjudul narnia. Ruangan ini kosong, maksudku gak ada hantu, setan atau sejenisnya. Bikin aku menghela napas lega, seenggaknya aku bisa istirahat sambil berpikir dimana kira-kira si Hengky disembunyikan.
“Kira-kira dimana Hengky?” gumamku.
“Kurasa dia ada di ruang bawah tanah,” kata Steve.
Aku memandang Steve beberapa lama, ruang bawah tanah? Apa ruangan itu seseram di film yang pernah kutonton di TV? Aku menelan ludah susah payah, bayangin aja ... udah baper duluan.
“Hei, jangan takut. Ada aku di sisimu.” Steve memberiku semangat, tapi tetap saja si Steve kan gak bisa melihat apapun eh tapi tadi dia menarikku jangan-jangan...
“Apa kamu bisa melihat hantu?” tanyaku penasaran.
Steve memandangku lekat lalu tertawa. “Hantu apa? Aku melihatmu ketakutan, makanya aku mengajakmu berlari menjauhi tempat itu.” Jawaban Steve membuatku menganggukkan kepala. Ternyata Steve mengerti kalo aku lagi ketakutan, aku tersenyum, kupikir Steve bisa melihat hantu. Ah, sebaiknya aku membantunya membuka mata batin, biar dia bisa melihat hantu sepertiku.
“Steve. Apa kamu pengen bisa lihat hantu?” tanyaku.
Steve mengangkat satu alisnya. “Memangnya bisa?” tanyanya.
“Tutup matamu!” perintahku. Steve menurut.
Meski belum pernah membuka mata batin seseorang tapi aku sudah pernah melihatnya, jadi kupikir ... aku bisa praktekkan ke Steve. Kasihan Steve kalo bantu aku sementara dia gak bisa lihat hantu. Aku mengangkat kedua tangan dengan telapak tangan ada di depan wajahku. k****a mantra pembuka mata batin
“Ati-ati siro tangi. Amoco layang puspo kati. Sanyang surya sanyang sasi. Byar padhang badan jasmani. Byar padhang badan rohani.” Aku meludahi kedua tangan lalu kuusapkan ke kedua mata Steve.
Steve mengelak tapi kupelototin sambil mendesis. Ia menatap telapak tanganku dengan jijik tapi akhirnya dia menyerah sama mata bulatku. “Sekarang, kamu bisa lihat apa yang biasa kulihat,” ucapku.
“Itu-itu...” Steve menunjuk ke belakangku, jangan-jangan hantu wanita itu ada di belakangku.
Melihat bagaimana seriusnya Steve bikin penasaran hingga perlahan aku memutar badan, sambil berusaha mengontrol degup jantung yang lagi berpacu cepat.
Tapi ternyata gak ada apapun disana, Steve menipuku. Dia tertawa terbahak-bahak, bikin aku marah semarah-marahnya.
“Sudahlah, marahnya nanti saja. Sekarang, ayo cari Hengky!” Dasar Steve, abis ngerjain dengan sukses, sekarang dengan mudah merubah topik. Tapi Steve benar, aku harus segera menemukan Hengky dan menangkap hantu itu.
Aku membuka pintu secara perlahan, untung saja suasana sepi tanpa gangguan. Aku mengajak Steve keluar, lorong lantai dua sunyi senyap. Dengan bantuan senter, aku berjalan menuju tangga. Tapi tiba-tiba Steve memasang sesuatu di kedua mataku, membuatku bisa melihat meski lorong sangat gelap.
“Ini apa Steve?” Keren banget benda ini.
“Night vision glasses. Sangat cocok untuk melakukan perburuan kita.” Steve sumringah, merasa bangga sudah memberiku sesuatu yang sangat canggih dan sangat berguna.
Dengan memakai kacamata ini, aku bisa melihat kegelapan tanpa bantuan senter. Steve juga memakai kacamata yang sama. Kami kembali berjalan menuju tangga hingga sosok wanita itu muncul di arah yang berlawanan dengan kami. Aku terpaku, memandang sosok itu yang kini menuruni tangga. Setelah beberapa lama, baru aku menuruni tangga. Mengikuti langkah wanita itu.
Wanita itu berjalan terus ke arah utara, melewati beberapa ruangan dengan pintu terbuka. Aku gak punya waktu melihat ruangan-ruangan itu karena aku hanya melihatnya hingga sosok itu tembus masuk ke dalam sebuah pintu yang tertutup.
Aku memandang Steve, sesaat aku ragu tapi mungkin saja Hengky ada di tempat itu. Meski takut, aku memutar knop pintu lalu membukanya. Masuk ke dalam ruangan dengan beberapa anak tangga. Aku mengangkat kaki kanan hendak menuruni anak tangga tapi mencekal lenganku, membuatku menghentikan langkah dan menoleh kepadanya.
Steve menggelengkan kepala tapi aku tak punya cukup banyak waktu. Aku menuruni anak tangga tanpa mengindahkan Steve. Hingga kedua kakiku berada di tangga terakhir, kulihat ruangan ini sangat berdebu dan luasnya sekitar tiga kali tiga meter persegi. Ada rak kosong di sisi kanan, debu tebal juga menempel disana. Lampu dop lima watt tergantung di tengah ruangan lalu tiba-tiba angin berhembus. Lampu itu bergerak ke kanan dan ke kiri dipermainkan oleh hembusan angin, tiba-tiba lampu pecah tanpa sebab, membuatku kaget setengah mati.
“Jangan ganggu aku!” Kudengar suara yang menggema, aku memutar badan, mencari-cari sumber suara.
“Dimana kamu sembunyikan Hengky?” Aku berteriak pada langit-langit ruangan.
“Dia milikku. Dia keturunan Mangku Broto. Lelaki yang aku cintai ... dia milikku.” Suara tawa terdengar nyaring dan memekakkan telinga.
Aku ke tengah ruangan, berputar-putar sambil berharap bisa menemukan sosok wanita itu. Pintu terbuka lebar dengan suara keras lalu menutup lagi dengan suara sama kerasnya.
“Bu ... nga...” Hengky muncul tiba-tiba. Wajahnya pucat dengan dua tangan berada di belakang punggungnya.
Tiba-tiba sosok perempuan itu memeluk Hengky dari belakang. Kedua tangannya melingkar di leher Hengky, lidah lancipnya menjilat cuping Hengky, membuat cowok favoritku semakin pucat.
Botol di tas selempangku menyala, pertanda bahwa aku harus memasukkan wanita itu ke dalamnya. Tapi yang utama adalah membebaskan Hengky dari wanita itu. Hanya itu yang sekarang kupikirkan.
“Lepaskan Hengky!” pintaku.
“Melepaskan?” Wanita itu lagi-lagi tertawa nyaring lalu menatapku dengan tatapan tajam.
“Tangkap aku!” Wanita itu terbang bersama Hengky lalu merapat di dinding sebelah kanan. Hengky menempel dengan kepala menyentuh langit-langit ruangan sementara wanita itu merayap di langit-langit, lehernya memanjang mendekatiku, spontan aku menghindar ke kanan.
Rak kosong tiba-tiba terangkat, melayang-layang di tengah ruangan semakin lama semakin kencang. Rak itu melayang mendekatiku, sontak aku menunduk untuk menghindarinya. Berkali-kali rak yang mengejarku hampir membuatku terluka tapi beruntung aku bisa menghindarinya.
Aku mengambil kendi dan mengulum isinya, aku harus bisa menyemburkan air ini ke sosok hantu itu biar dia bisa dimasukkan ke dalam botol. Tapi nyatanya, itu gak segampang yang kupikirkan.
Wanita itu keluar ruangan, aku mengejarnya tapi Hengky butuh bantuan. Langkahku berhenti di depan tangga.
“Kejar dia! Hengky urusanku,” ucap Steve.
Aku menganggukkan kepala, aku percaya Steve bisa melakukannya, seenggaknya dia bisa menjaga Hengky sampai aku menyelesaikan urusanku dengan wanita itu. Segera aku keluar ruangan, mencari hantu wanita kurang ajar itu dengan bantuan botol yang bisa menyala jika sosok jin yang harus kutangkap sudah dekat.
Suasana begitu senyap, tak ada siapapun seperti waktu lalu. Tiba-tiba terdengar suara wanita tertawa, suara itu sepertinya ada di dalam sebuah ruangan di kanan tempatku berdiri. Aku langsung ke tempat itu, ruangan yang berisi satu set meja makan, kosong tak ada siapapun.
Suara wanita tertawa kembali kudengar, kurasa wanita itu ada di ruang tamu. Aku berlari kesana, botol yang ada di dalam tas selempangku kembali menyala. Tapi waktu aku melihat botol, tiba-tiba wanita itu terbang melewatiku, menimbulkan angin yang cukup kencang untuk membuat rambutku beterbangan.
Aku mengejar sosok hantu itu, tapi tiba-tiba puluhan noni-noni Belanda yang tadi mengerubutiku berdiri berjajar. Aku memandang mereka sesaat lalu aku berteriak. “Jangan halangi jalanku.” Seperti perintah raja, barisan noni-noni Belanda terbelah jadi dua. Membuatku bisa melewati mereka dengan mudah.
***
Wanita itu benar-benar mempermainkanku. Aku cukup lelah main kucing-kucingan dengannya. Sudah saatnya aku menggunakan kemampuan yang pernah kulihat waktu Ki Mengkis menolong pasiennya. Aku membuat diriku lebih kuat dengan ajian yang sering kudengar, ajian ini bisa bikin aku kuat buat menangkap jin wanita itu.
“Ang payah maya langgeng jati, ya hu ya hu ya Allah, ana purba langgeng jati, sang ngekendhuri rasa hu Allah, lebur dening Allah.” Aku mengusap wajah sehabis membaca ajian.
Dengan cara ini aku harap bisa jauh lebih kuat dan bisa segera menangkap wanita itu. Aku ada di tengah ruang tamu, menatap wanita berleher panjang yang lagi nangkring di sudut ruangan sebelah kanan. Ia tersenyum mencemooh, tapi sekarang aku cukup kuat buat melakukan penangkapan.
Harusnya sejak tadi aku bisa mikir kalo aku punya cakra kuat, meski belum pernah dipraktekkan, kurasa sudah saatnya sekarang aku praktekkan ilmu yang pernah kudapat dari Ki Mengkis.
Aku memasang kuda-kuda, membaca ajian yang pernah kudengar. Aku memusatkan pikiran dan mengumpulkan semua tenagaku di telapak tangan. rasa hangat lalu panas mengumpul, bola bercahaya terang seolah tampak di atas telapak tanganku.
Bola itu segera kulempar secara kuat-kuat ke sosok hantu wanita itu, membuat wanita itu jatuh ke lantai. Aku segera menginjak leher panjangnya, kuambil kendi lalu mengulum isinya. Kusemburkan air kendi itu di kepala wanita itu dan tiba-tiba sinar kuning memancar mulai dari kepala menjalar ke seluruh tubuhnya.
Wanita itu menjerit, membuat noni-noni yang tiba-tiba keluar ikut menjerit kencang dan memekakkan telinga. Aku segera mengambil botol lalu membukanya. Sosok wanita itu berubah menjadi asap lalu masuk ke dalam botol.
Selesai sudah misi pertama yang teramat sangat melelahkan. Tapi satu misi lain belum selesai, Hengky entah bagaimana nasibnya.
“Kamu berhasil Bunga. Great job.” Suara Steve membuatku memutar tubuh. Ia sedang memapah Hengky yang terlihat sangat lemah.
Aku tersenyum senang, Hengky selamat. Cowok yang masih bikin hatiku berbunga-bunga tersenyum kepadaku. Aku jadi tersipu malu.