Sebuah mobil Ferrari merah yang tampak familiar di ingatannya membuat Bagus, yang sebelumnya tengah menyeka peluh dikeningnya, segera berlari menghampiri sosok yang hanya menampakkan kaki karena separuh tubuhnya berada di bawah kolong mobil.
"Dhi! Dhi!" Panggil Bagus sembari menendang-nendang kaki pria itu, "Adhi, oy!" Serunya lebih keras karena sebal tak mendapat tanggapan.
Tak berapa lama, sosok Adhi muncul dari kolong mobil dengan bantuan Mechanic Creeper. Sebuah alat yang digunakan untuk memudahkannya masuk ke dalam kolong mobil. "Apaan?" Tanyanya yang masih berbaring di atas Mechanic Creeper.
Berjongkok di samping Adhi yang mengerutkan kening dengan wajah bingung, Bagus mengatakan alasan yang membuatnya sampai harus mengusik pekerjaan rekan kerjanya. "Itu cewek yang beningnya ampun-ampunan datang lagi," lapornya dengan cengiran yang memperlihatkan deretan gigi.
"Siapa?" Tanya Adhi yang tak mengerti dengan sosok yang tengah Bagus katakan. Tak hanya pria, kadang juga ada wanita yang datang ke bengkel mereka. Jadi ia tak tau, mana wanita yang bagus maksud?
"Ck! Masa lo lupa? Itu cewek bikin geger tempat kerja kita!" Seru Bagus menggebu-gebu. Gemas karena Adhi yang jauh lebih tenang, bahkan terkesan tak peduli. Berbanding dengannya yang justru gugup, padahal bukan dirinya yang dicari sang jelita yang kini tampak turun dari atas mobilnya, "astaga ... Satu aja jantung gue menggila. Lah, ini ada dua?" Racaunya saat mendapati sosok cantik yang kini berjalan elegan tak hanya wanita yang mencari keberadaan Adhi, tapi sosok baru yang berjalan bersisian dengan raut penasaran dan memperhatikan keadaan sekitar.
"Ck! Ngomongin apa sih, Gus?" Kesal Adhi yang justru tak diacuhkan, "jangan ganggu gue. Belum kelar ini, nanti ketahuan bos, dikira kita lagi gosip di jam kerja. Balik sana, urusin kerjaan lo."
"Itu Dhi, cewek yang waktu itu nyari-nyari lo. Datang lagi ke sini, sama temannya atau saudara? Gue nggak tau, tapi yang jelas sama beningnya."
Alih-alih senang, ketika mendengar kabar tersebut, justru membuat Adhi sebal.
Astaga ... Mau apa lagi wanita itu? Apa penjelasannya belum cukup? Kenapa masih saja keras kepala mencarinya?
Bukannya Adhi tak sopan. Hanya saja, ia merasa jika urusannya dengan wanita itu sudah selesai. Tak meminta apa pun, meski ditawari banyak hal yang tak Adhi pungkiri begitu menggiurkan. Ia tak munafik, siapa yang tak tercengang saat ditawari uang ratusan juta. Bahkan Adhi di minta memilih sendiri hadiahnya setelah menolong wanita itu. Pria paruh baya yang Adhi tebak adalah ayah dari sosok yang ditolongnya.
Meski begitu menggiurkan, tapi Adhi berusaha untuk tetap pada pendiriannya. Yaitu menolong dengan ikhlas. Terserah jika dikatai munafik. Seperti Randi yang terang-terangan mencibirnya sewaktu Adhi menceritakan hal tersebut pada pria itu.
"Kesempatan lo ini, Dhi. Mumpung playboy karatan lagi anterin mobil ke rumah pelanggan."
"Lo nggak liat gue lagi sibuk?" Decak Adhi yang membuat Bagus mencebikan bibir, "lo aja sana yang urus. Kesempatan besar ini, daripada cuma mengagumi dari jauh. Nanti makan hati lagi gara-gara kalah start sama Randi kaya waktu itu."
Bagus berdecak karena Adhi mengingatkan peristiwa tikungan tajam yang Randi lakukan pada wanita yang dia suka. Sialnya, ia tak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu memperlihatkan ketertarikannya pada rekan kerjanya yang bergelar playboy itu secara terang-terangan. Mana bisa Bagus mencari celah? Saat keberadaannya saja seperti makhluk tak kasat mata di hadapan wanita yang dia suka?
"Dia kan nyarinya lo, Dhi."
"Belum tentu," bantah Adhi dengan suara yakin, "tanya dulu aja sana, keperluannya apa? Dah, ya, gue balik urusin kerjaan gue. Jangan ganggu!" Ucapnya sebelum kemudian mendorong Mechanic Creeper agar tubuhnya bisa kembali masuk ke dalam kolong mobil dengan mudah.
Mengela napas, Bagus akhirnya bangkit berdiri. Bersiap menyambut kedatangan dua wanita cantik yang—s**l! Sejak kapan si kadal balik? Kesal Bagus saat melihat Randi yang merekahkan senyuman pada dua wanita di hadapan pria itu.
Astaga ... Apa jiwa playboy Randi memang seakurat itu? Padahal, seingat Bagus. Pria itu belum lama pergi untuk mengantarkan mobil yang telah selesai diservis ke rumah pelanggan bersama salah seorang rekan kerja mereka yang lain. Tapi sekarang, sudah berada di hadapan para wanita cantik.
Mendengkus sebal, Bagus akhirnya memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Ia tak mau menjadi angin sepoi-sepoi di antara mereka. Karena lagi-lagi, keberadaannya pasti seperti tak kasat mata.
"Lo sih Dhi! Nggak mau dengerin gue, jadi keduluan si kadal lagi kan?" Omelnya pada sepasang kaki Adhi yang terlihat. Karena separuh tubuh pria itu berada di dalam kolong mobil.
Sementara itu, Randi tengah mengumpulkan segenap pesonanya yang akan ia tebarkan pada dua wanita cantik di depannya ini. Astaga ... Mimpi apa dia, siang bolong bertemu calon masa depan?
Setelah mengantarkan mobil milik pelanggan bersama salah seorang rekan kerjanya yang lain. Randi kembali ke bengkel karena urusannya ternyata lebih cepat. Pria itu sebenarnya ingin membeli minuman yang memiliki merek ternama. Tapi rekan kerjanya tak berhenti mengoceh agar mereka segera kembali. Membuat Randi sebal bukan kepalang. Apalagi menyingung soal perbedaan sikap dari bos yang akan mereka dapatkan.
Randi mungkin tak akan mendapat masalah karena keponakan dari pemilik bengkel. Berbeda dengan rekan kerjanya yang tak hanya mendapat omelan, tapi bisa juga peringatan yang membuatnya terancam kehilangan pekerjaan.
Kembali ke bengkel dengan perasaan gondok. Awan mendung yang sebelumnya menggelayuti sedari perjalanan pulang ke bengkel. Kini terhapuskan dengan kehadiran dua wanita cantik yang membuatnya kembali bersemangat. Ia sempat mencibir teman-temannya yang membiarkan keduanya kebingungan karena tak ada yang mendekat untuk menyapa serta menanyakan masalah kendaraan yang wanita itu alami.
Tapi tak apa, ada bagusnya juga. Randi jadi bisa mengambil alih perhatian keduanya. Ah, s**l! Harusnya tadi ia memperbaiki penampilan sebelum menunjukkan wajah di depan keduanya.
Dengan kepercayaan diri yang jarang meluruh. Randi sudah berhasil membangun sebuah obrolan. Wanita cantik yang pernah mencari keberadaan sahabatnya itu menceritakan masalah kendaraan yang menimpanya.
Salah satu sisi kaca mobil, di bagian penumpang yang posisinya di belakang pecah. Hal yang sempat membuat Randi terkejut. Apa mungkin keduanya baru saja jadi korban kejahatan di jalan?
"Kalian yakin tidak apa-apa?" Tanya Randi sekali lagi memastikan. Khawatir akan kondisi keduanya.
Kei sudah membuka mulut, nyaris menjawab pertanyaan yang Randi lontarkan. Sayangnya, belum sempat mengeluarkan suara, Citra sudah lebih dulu mendahului.
"Untuk ukuran orang asing, lo terlalu banyak bicara," ucap Citra yang tak mengindahkan pelototan serta sikutan dilengan kanannya yang Kei layangkan, "nggak bisa langsung kerjain aja apa yang pelanggan lo minta?"
" Cit, mulut lo kenapa tiba-tiba pedes sih?"
"Bukannya udah biasa?"
"Ck, tapi ini orang yang baru lo kenal. Bukan ke gue yang udah tahan banting sama mulut pedas lo itu." Keluh Kei yang mendelik gemas pada Citra yang hanya mengedikkan bahu tak acuh.
"Nggak apa-apa Kei," ucap Randi yang berusaha menengahi perdebatan dua wanita di depannya.
Citra menaikan satu alis matanya saat mendengar pria asing yang merupakan salah seorang montir dibengkel yang mereka datangi, tampak berbicara dengan nada akrab yang selayaknya teman lama dengan Kei.
"Ini bukan kali pertama Kei datang ke sini," ucap Randi tiba-tiba dengan tatapan yang tak lepas dari wajah teman Kei yang menatapnya datar. "Gue mudah mengakrabkan diri sama orang baru, dan gue rasa, Kei nggak keberatan kalau gue bicara selayaknya teman. Iya kan, Kei?" Tanyanya mengalihkan sejenak perhatiannya pada Citra, untuk meminta dukungan tak kasat mata dari Kei. Beruntung, wanita itu mengangguki ucapannya.
"Tentu saja, kenapa juga harus jadi masalah? Bukannya memperluas pertemanan itu bagus?"
"Benar sekali, Kei," ucap Randi yang mengangguk setuju meski sesekali mencuri pandang ke arah Citra yang hanya menatap malas kearahnya.
Citra ingin sekali mengorek telinga. Memastikan jika pendengarannya memang tak bermasalah.
Apa tadi yang Kei bilang?
Memperluas pertemanan?
Hah! Yang benar saja?!
Sejak kapan seorang Kei menjadi akrab dengan sosok yang baru ditemui satu, dua kali? Bahkan teman-teman mereka saat sekolah dan kuliah dulu masih membuat Kei kaku saat berinteraksi dengan mereka.
Ah ... Atau jangan-jangan, pria asing di depannya ini adalah penolong yang begitu dipuja-puji oleh sahabatnya? Ya, itu lebih masuk akal dan menjawab pertanyaan Citra akan sikap Kei yang tiba-tiba bisa akrab dengan orang baru.
Diam-diam, Citra memerhatikan sosok pria yang masih terlibat perbincangan dengan Kei. Dan harus Citra akui, pria itu cukup menarik. Jadi wajar jika sahabatnya itu tak bisa melupakan sosok penolongnya.
"Kamu tenang aja, aku usahakan mobil kamu beres nggak terlalu lama."
"Nggak usah terlalu terburu-buru!" Seru Kei yang menahan cepat sembari mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Tapi gadis itu kemudian meringis canggung, saat menyadari sikapnya yang terlihat aneh. "M—maksudnya, tidak perlu terburu-buru karena ...."
"Mobil dia banyak," celetuk Citra yang berhasil membuat Kei memelotot ke arahnya, "apa?" Tanyanya yang sama sekali tak merasa terintimidasi pelototan yang sahabatnya itu layangkan, "kan apa yang gue bilang kenyataan," ucapnya sembari mengedikkan bahu tak acuh.
"Nggak usah dengerin dia," Kei memaksakan tawa yang terdengar garing, bahkan untuk pendengarannya sendiri.
Menganggukkan kepala sembari mengulum senyum, Randi kemudian mengajak Kei untuk membahas lebih lanjut soal kerusakan mobil yang di alami wanita itu dan berjalan mendekati Ferrari merah tersebut.
Meski berusaha tampak tenang, tapi Kei tak bisa menahan diri untuk mengedarkan pandangan mencari-cari seseorang yang ia harapkan bisa menangani mobilnya. Sayang, harapannya harus pupus saat Randi yang justru lebih cekatan membantu.
Menelan kecewa, Kei berusaha untuk membesarkan hati. Baiklah, tak apa bukan Adhi yang menangani mobilnya. Setidaknya, Kei masih memiliki alasan untuk datang ke tempat ini.