Keinarra Love Story - 7

2392 Kata
Perutnya mungkin merajuk, karena sedari tadi menyuapkan garpu yang telah terlilit spaghetti sembari malas-malasan, hingga sang perut mengeluarkan suara yang membuat Kei meringis canggung. Beruntung, tempat makan yang dipilihnya dengan Citra cukup ramai. Jadi kebisingan sekitar bisa menyamarkan suara perutnya. Kei masih kesal. Ia sudah bersusah payah memutar otak untuk bisa bertemu Adhi, hingga dikatai gila oleh Citra. Karena sengaja merusak mobilnya sendiri. Tapi pria itu tak bisa ia temukan keberadaannya. Hingga akhirnya, setelah menyerahkan penanganan mobilnya kepada Randi, Citra segera menyeretnya pergi. Padahal mata Kei masih sibuk mencari-cari keberadaan sang pujaan hati.  Ck, benar-benar menyebalkan! Kalau begini, namanya dia rugi bandar! Mobil hancur, rencana amburadul! "Yaudah sih, nggak usah butek itu muka. Kan mobil lo juga di sana, jadi masih ada alasan buat ke bengkel itu lagi." Meletakan garpu di atas piring berisi spaghetti yang belum berkurang banyak, Kei meneguk minumannya sebelum kemudian menatap Citra yang tampak tenang menikmati salad yang dipilihnya sebagai pengganjal perut. "Gue bingung sama sikap lo tadi," Kei benar-benar tak mengerti dengan sifat ketus sahabatnya pada Randi dipertemuan pertama. Tidak biasanya Citra bersikap semenyebalkan itu pada orang baru. Mengedikkan bahu tak acuh, Citra menusukkan tomat kecil dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulut. Mengunyah pelan, sebelum akhirnya buka suara untuk menjawab rasa penasaran Kei. "Mungkin lo nggak sadar, atau tak tau?" "Soal?" Tanya Kei mengerutkan kening bingung dengan ucapan Citra yang seperti teka-teki dikepalanya. "Intinya, gue malas aja liat cowok tadi yang caper dan sok kecakepan di depan kita. Terutama sama lo," ungkap Citra frontal yang berhasil membuat Kei mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya. "Jadi, menurut lo, Randi tebar pesona ke gue?" Alih-alih menjawab, Citra justru tergelak puas. Hingga membuat Kei menendang pelan kaki gadis itu dari bawah meja, saat beberapa pengunjung lain yang posisi duduknya dekat dengan mereka. Sampai menolehkan kepala, mendengar gelak tawa Citra yang cukup keras. "Cit, suara lo," peringat Kei pada sahabatnya yang justru mencebik. "Ribet deh, gue kan cuma ketawa, bukan bikin huru-hara." "Ketawa lo mungkin bisa menimbulkan polusi suara." "s****n lo!" Umpat Citra sebal, sebelum kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi di belakangnya, "itu cowok liat lo, air liurnya udah kaya mau netes gitu dan lo masih nggak sadar?" Keluhnya sembari menggelengkan kepala pelan, "terus rencana lo gimana selanjutnya?" Tanya Citra serius, yang dijawab Kei dengan embusan napas panjang. "Menurut lo, memalukan nggak sih? Kalau gue tetap berusaha kejar Adhi tanpa tau diri? Karena sejak awal, cowok itu terang-terangan menolak keberadaan gue disekitarnya." "Tergantung," jawab Citra mengedikkan bahu, "kalau lo yakin nggak ada harapan, ya mending mundur teratur. Tapi kalau cukup tebal muka, yaudah, maju aja. Kalau sampai itu cowok masih teguh sama pendiriannya. Ya lo harus terima kenyataan. Mungkin dia memang bukan seseorang yang tepat buat lo. Cinta nggak bisa dipaksa." Ucapnya bijak sampai membuat Kei menaikan satu alis matanya. Bahu Kei merosot tanpa semangat. Kenapa sih, sekalinya jatuh cinta, justru dengan orang yang tak suka dengannya? Tapi saat deretan pria mengejarnya, Kei justru merasa biasa saja. Bukankah, akan lebih mudah jika dirinya jatuh cinta pada pria yang juga mencintainya? Ck! Kenapa Kei baru tau jika urusan hati bisa seribet ini? "Jadi lo mau nyerah?" Tanya Citra yang berhasil membuyarkan lamunan Kei. Membuat gadis itu yang sebelumnya sibuk mengaduk-aduk spaghetti di atas piring, menghentikan gerakannya dan mengangkat wajah hingga netra coklatnya bersirobok dengan netra hitam milik sahabatnya. "Nggak," ucap Kei singkat. Mengela napas, ia kembali menggulung spaghetti pada garpu ditangan kanannya, "seperti yang lo bilang, gue bakal berusaha. Tapi kalau dia masih tetap mengeraskan hati," mengedikkan bahu tak acuh, Kei memasukkan garpu yang sudah terlilit spaghetti ke dalam mulutnya dan mengunyah pelan, "bharu ghue mhenyerah," lanjutnya dengan pipi menggembung lucu. "Gue bisa apa, selain dukung lo sebagai sahabat?" Citra yang telah selesai karena perutnya terasa kenyang, memilih memainkan ponsel sembari menunggu Kei menyelesaikan makan siangnya yang begitu lamban karena efek galau. "Seharusnya lo nggak akan sulit buat dapetin itu cowok. Kecuali dia sudah terikat sama orang lain," tambahnya dengan tatapan yang terarah pada layar ponsel, hingga tak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya, "dia masih single kan?" Tanyanya tiba-tiba, dan berhasil membuat Kei tersedak hebat. ***  Berbeda dari biasanya, Adhi tak langsung pulang ke rumah saat jam kerjanya usai. Berkat bujukan Randi, pria itu akhirnya mengalah dan ikut pergi. Setelah menelpon sang Bunda, jika dirinya akan pulang terlambat untuk merayakan salah satu teman mereka sedari SMA yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Jadi, di sinilah dirinya sekarang. Sebuah karaoke di mana terdengar bising oleh nyanyian sumbang dua orang temannya yang tengah berduet dengan sorakan penuh semangat teman-temannya yang lain.  Sementara Adhi memilih duduk tenang sembari menyesap minuman soda yang dipesannya. Ia tak mau ikut meneguk alkohol seperti beberapa temannya yang lain. Bukan hanya karena besok harus bekerja dan tak ingin direpotkan oleh rasa pusing akibat meneguk minuman memabukkan itu. Tapi juga karena sang Bunda. Wanita paruh baya itu pasti murka, saat mendapati putra sulungnya pulang dengan setengah sadar. Apalagi sampai benar-benar tak sadarkan diri. Ck! Bisa-bisa Adhi kena kutuk bundanya. "Lo tau cewek itu datang lagi ke bengkel kita?" Bisik Randi meski suaranya tak seperti tengah berbisik. Pria itu tetap harus menaikan suaranya, agar bisa terdengar oleh Adhi yang duduk di sampingnya. "Cewek yang mana?" "Ck! Itu, si Kei!" "Kei siapa?" Tanya Adhi yang masih menatap dua rekan kerjanya yang kian heboh bernyanyi dan menari. Mungkin karena kesadaran mereka juga sudah tinggal setengah. "Astaga, Dhi, masa cewek secantik itu susah banget lo ingat?" Gemas Randi yang berhasil membuat Adhi menolehkan wajah kearahnya. "Gue beneran nggak ingat, mau gimana lagi?" Tanyanya sembari mengedikkan bahu tak acuh. "Jadi kasihan gue sama Kei. Lo kacangin habis-habisan begini. Mungkin ini juga kali ya, yang bikin dia makin ngebet deketin lo." Adhi tak mengerti dengan apa yang baru saja Randi katakan. Dan dia pun tak ingin ambil pusing. Sudah sejak awal, Adhi menekankan pada wanita itu, jika urusan diantara mereka sudah lama selesai. Tapi tetap saja bebal, jadi kenapa justru dia yang dipersalahkan? Hanya karena mengabaikan wanita asing yang membuatnya pusing? Menggelengkan kepala tak habis pikir, Randi menyugar rambutnya dengan elaan napas panjang. "Lo beneran nggak tertarik sama Kei?" Selidiknya yang justru mendapat tatapan dari Adhi seolah kepalanya baru saja ditumbuhi tanduk. "Lo udah mabuk kayaknya," Adhi mendengkus atas pertanyaan tak masuk akal yang baru saja Randi ucapkan. "Ck, gue nggak mabuk, cuma penasaran aja." "Nggak," jawab Adhi yakin tanpa harus memikirkan lebih dulu." "Jadi nggak masalah, kalau gue coba deketin dia?" Mengerutkan kening, Adhi menatap wajah sahabatnya yang tak terlalu jelas karena penerangan yang temaram, "cewek lo gimana? Siapa namanya? Yang baru satu bulan lo pacarin itu?" "Sinta," jawab Randi dengan wajah datar, "gue udah putus tiga hari yang lalu." Ungkapnya tenang, berbanding terbalik dengan Adhi yang mendengkus sembari menggeleng tak percaya. "Gue kadang bingung sama lo. Kenapa mudah banget buat komitmen dan menjalin hubungan. Tapi mudah juga buat lo, untuk memutuskan hubungan tersebut?" "Mau gimana lagi?" Tanya Randi sembari mengedikkan bahu tak acuh, "kita nggak cocok. Tetap dipaksakan juga nggak akan baik." "Bukan nggak cocok. Lo itu gampang bosan," Andhi membantah. Tak menyetujui ucapan sahabatnya. "Dari awal, lo nggak memilki perasaan sama cewek-cewek yang lo deketin, selain rasa penasaran. Jadi setelah rasa penasaran lo terpuaskan, akhirnya memutuskan untuk menyudahi hubungan. Dan mencari yang lebih bikin lo penasaran dari yang sebelumnya." "Wah, diam-diam lo pakar masalah hubungan ternyata?" Gelak Randi yang ditanggapi Adhi dengan tatapan malas. "Gue hanya menilai berdasarkan apa yang gue lihat."  "Ya, ya, gue percaya," mengangguk-anggukkan kepala, Randi menyeringai pada Adhi yang menatapnya datar. "Buktinya, lo bisa bertahan sama Ratih dari zaman kita masih pake seragam putih abu-abu. Tapi gue serius tanyain ini sama lo, Dhi." Menggeser duduknya kian dekat dan menyamping agar bisa berhadap-hadapan dengan Adhi, Randi mengucapkan hal yang sejak dulu membuatnya penasaran. "Jujur sama gue, lo pernah nggak, ada di masa jenuh ngejalin hubungan sama Ratih, terus kepikiran buat udahan?" Tak perlu menunggu lama untuk Adhi menggelengkan kepala, "selain Bunda, Ratih adalah orang yang paling mengerti gue. Dan dalam sebuah hubungan, nggak ada yang lebih penting dari saling memahami dan menerima satu sama lain." Ucap Adhi sebelum kemudian melarikan pandangan pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Gue harus balik," bangkit dari tempat duduk, ia kemudian menepuk pelan pundak Randi yang nyaris mencegahnya pulang tapi kemudian menelan kembali ucapannya. Hingga akhirnya menganggukkan kepala memberi persetujuan. Mencangklongkan ransel di bahu kirinya, Adhi kemudian berpamitan pada teman-temannya yang lain. Sebagian hanya menjawab dengan gumaman tak jelas karena sudah terlalu mabuk. ***  Kei tak tau, sudah berapa lama dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sembari menggigiti kuku jempol kanannya. "Akh! s**l!" Menyugar rambut panjangnya dengan gerakan frustasi. Kei mendudukkan diri di atas tempat tidur. Sudah lewat beberapa jam yang lalu. Tapi ucapan Citra tadi siang masih tak juga mau menghilang. Justru, di tengah malam seperti sekarang. Kata-kata itu kian terngiang-ngiang.  Kei tak bisa tidur jika masih terkungkung resah. Alih-alih bermimpi indah, justru hal-hal buruk yang kini berjejal dipikiran dan membuatnya enggan terlelap. Bangkit dari duduknya, Kei berjalan menuju sebuah lemari di sudut kamarnya. Membuka laci dan mencari-cari sesuatu yang tak lama berhasil dalam genggaman. Sebelum kemudian melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan mendudukkan diri di samping kasur, dengan sebuah map berwarna merah yang kini berada di atas pangkuan. Sial! Kenapa Kei begitu gugup? Bukankah sebelumnya ia sudah pernah membuka file tersebut? Kenapa sekarang suasana hatinya jadi begitu berbeda? Seolah takut, jika apa yang ia takutkan sedari siang, benar-benar tersuguh di depan matanya? Tapi ... Bagaimana bisa hal sepenting itu terlewatkan olehnya? Mungkin, euforia karena berhasil mendapatkan data diri pria yang telah menolongnya, membuat Kei tak membaca semua informasi tentang Adhi dengan seksama. "Ayolah, Kei, sejak kapan lo jadi sepengecut ini?" Kesalnya pada diri sendiri. "Memangnya kenapa, jika dugaan lo ternyata benar? Dan sebaliknya, apa yang sedari tadi ditakutkan, belum tentu benar."  Menyingkirkan ragu, Kei akhirnya membuka file berisi data diri Adhitama Pradana. Seorang pria yang telah menolongnya, tapi kini terus mengusik hati dan pikirannya. Netra coklat Kei menelusuri tiap baris yang tertulis dalam kertas tersebut. Membacanya hati-hati dan secara perlahan, agar tak sampai melewatkan hal penting yang tengah di carinya. Dan ... Itu dia! Pada barisan setelah penjelasan mengenai keluarga Adhi. Kei menemukan nama seorang wanita yang berstatus sebagai kekasih pria itu. Sial! Jadi sebelumnya, dia benar-benar melewatkan informasi sepenting ini? Perjuangannya bahkan baru dimulai. Secuil perhatian dari Adhi pun, belum berhasil ia dapatkan. Tapi fakta yang kini tersuguh di depan matanya seolah menyiram hingga padam, semangat yang sebelumnya berkobar dalam diri Kei untuk bisa mendekati Adhi. Apa ... Ia harus berbuat gila? Merebut Adhi dari kekasihnya? "Ck! Lo terlalu percaya diri, Kei." Cibirnya pada diri sendiri. Jangankan merebut cinta pria itu, mencuri secuil perhatian darinya pun, Kei sudah kepayahan. Merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Kei menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Saat ini, ia tengah bimbang. Memutuskan langkah apa yang harus diambilnya? Terus maju meski di cap tak tau malu? Atau memutuskan mundur dan menikmati patah hati pertamanya? Tunggu! Bukankah, semua pilihan ada ditangan Adhi? Jika memang pria itu tetap bertahan dengan kekasihnya, maka Kei tak akan lagi menampakkan wajah. Astaga, tapi apakah tak apa? Bagaimana bisa 'tak apa?' lo berniat menggoda pacar orang! Nggak! Gue nggak berniat merebut Adhi. Tapi hanya ingin mengenalnya lebih banyak. Ck! Omong kosong! Diam!  "Akh! Gue pasti udah gila karena berdebat dengan diri sendiri!" Seru Kei sembari mengusap wajahnya dengan gerakan gusar. Sekarang, apa yang harus Kei lakukan? Kenapa dia harus jatuh cinta pada seorang Adhi Pradana? Sialnya, Kei pun tak bisa menjawab pertanyaan yang ia tujukan untuk dirinya sendiri. Dia tak bisa memilih, pada siapa akan menjatuhkan hati. Semuanya begitu cepat dan tiba-tiba. Berawal dari rasa terima kasih, yang kemudian berganti pada rasa kagum, lalu setelah semua sikap tak acuh Adhi padanya. Alih-alih membenci, Kei justru jatuh hati. Ck! Luar biasa sekali. Jadi semudah itu seorang Keinarra Mahawira dibuat jatuh cinta? Kei ... Tak bermaksud untuk mengusik hubungan mereka. Hanya satu minggu, janjinya dalam hati. Jika setelahnya, Adhi masih tak menganggap keberadaannya. Maka ia tak akan mengusik kehidupan pria itu lagi. Biarlah, Kei jatuh cinta, sekaligus patah hati dalam waktu berdekatan. Pantas saja Adhi tak pernah menggubris keberadaannya. Mungkin pria itu ingin menjaga hati kekasihnya. "s****n! Gue iri!" Kesal Kei yang meraih guling lalu memeluk erat dan menggigiti dengan gemas.  Mengembuskan napas, Kei bangkit dari posisi berbaringnya. Setelah menggeser tubuh hingga bersandar pada kepala tempat tidur, gadis itu meraih ponsel yang berada di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Menimang sejenak, apa perlu ia melakukan hal ini? Tapi dia benar-benar penasaran, sosok wanita yang berhasil menaklukkan hati seorang Adhi Pradana. Dalam keterangan, hanya disebutkan jika pria itu memiliki seorang kekasih bernama Ratih. Tak ada informasi lain yang lebih detail akan hubungan keduanya. Dan Kei menginginkan informasi lebih banyak tentang mereka. Tak apa, meski ada rasa tak nyaman yang harus ia telan paksa. Ada banyak pertanyaan yang bercokol di kepala dan benar-benar mengusiknya.  Kapan mereka menjalin hubungan? Sejak kapan menjadi sepasang kekasih? Sudah sejauh mana hubungan Adhi dengan wanita bernama Ratih itu? Mengembuskan napas, Kei akhirnya menyalakan ponsel miliknya dengan sidik jari telunjuk. Sebelum kemudian menggulir layar, untuk mencari nomor seseorang. Setelah melakukan panggilan, Kei menempelkan ponselnya pada telinga kanan. Menunggu dengan perasaan resah, bercampur tak sabar hingga membuatnya gugup. Tak berapa lama, panggilan dari Kei akhirnya diangkat. "Halo?" Sapa seorang pria dengan suara berat di seberang sambungan, "ada hal penting apa, sampai membuat Nona menelepon nyaris tengah malam seperti sekarang?" "Anda terganggu?" Tanya Kei yang membuat lawan bicaranya terkekeh seolah apa yang tadi dikatakannya adalah lelucon yang berhasil menggelitik perut. "Tentu saja tidak." "Berarti tidak ada masalah, jika saya menelepon saat ini?" "Tentu saja." Ucap pria itu singkat, menjeda sejenak, hingga menciptakan keheningan di antara mereka. Sebelum kemudian, membuka suara beratnya lagi, "jadi, kali ini apa yang Nona butuhkan?" "Cari tau semua informasi tentang seorang wanita bernama Ratih," Kei mengela napas, lalu melanjutkan ucapannya, "dia kekasih dari Adhi Pradana. Seseorang yang identitasnya saya minta dulu. Ah, lebih tepatnya, papa saya yang minta dan itu diperuntukkan untuk saya waktu itu." "Tentu Nona, kapan anda butuh informasi mengenai wanita bernama Ratih ini?" "Secepatnya, tentu saja. Saya, termasuk orang yang tak suka menunggu." "Baik Nona, akan saya berikan informasinya lusa." Ucap pria itu dengan suara yakin. Mengingat, pekerjaannya kali ini termasuk mudah. Terlebih, wanita yang akan ia cari tau, adalah kekasih dari pria yang sebelumnya ia cari tau informasinya. "Saya tunggu, terima kasih." Mematikan sambungan telepon. Kei meletakkan kembali ponsel miliknya ke atas meja nakas. Menggunakan jari jempol dan telunjuk kaki kanannya. Kei menjepit file berisi keterangan Adhi yang posisinya cukup jauh dari jangkauan, sementara ia sudah bersandar nyaman dikepala ranjang. Setelah mendapatkan file tersebut, Kei pandangi sekali lagi, nama seorang wanita yang merupakan kekasih dari pria yang kini dicintainya. "Rasanya tidak sabar, gue mau kenalan secara langsung sama lo, Ratih." Kei mengulas senyum tipis, sebelum kemudian menutup kembali file tersebut. Meletakkannya di atas meja nakas, gadis itu mulai membaringkan tubuhnya dengan selimut yang kini menutupi hingga sebatas d**a. Meski tak sepenuhnya, tapi rasa kalutnya sudah jauh lebih berkurang.  Kei memilih tidur, karena menghadapi kenyataan juga butuh tenaga. Harapan yang sebelumnya patah, kini ia coba rekatkan kembali. Meski tak seutuh awal dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN