Jika menggunakan akal sehat. Maka saat ini yang Kei lakukan adalah bersantai di kamarnya yang nyaman. Jika pun bosan, maka akan pergi berbelanja untuk mengembalikan moodnya yang tengah carut-marut. Sialnya, yang kini mengendalikan dirinya adalah sang hati. Dan Kei harus berusaha keras untuk mengendapkan kekesalan serta letupan amarah. Saat netra coklat miliknya mendapati pria yang ia suka, tengah berkendara berdua bersama wanita lain yang menempel di punggung dengan kedua tangan yang memeluk erat.
Sayangnya, Kei tak memiliki hak untuk marah. Karena secara status. Wanita itu jelas lebih berhak dibandingkan dirinya yang hanya dianggap sosok asing.
"Tau gini, mending gue tidur di kamar. Daripada ikut sama lo. Bukannya senang-senang menghilangkan galau ditinggal pacar. Lah, gue malah diajak nguntit orang yang mau pacaran."
Celotehan seseorang yang nyaris Kei lupakan keberadaannya dikursi penumpang yang berada di sampingnya. Membuat Kei menoleh setelah menghentikan kendaraannya sejenak karena terjebak lampu merah. Mengalihkan pandangan dari sepasang kekasih dengan motor matic yang posisinya tak jauh dari mobil yang kini dikendarainya. Kei meringis saat menemukan wajah masam sahabatnya.
"Kan lo sendiri yang mau ikut tadi." Kei tak berniat mengajak Citra pada awalnya. Gadis itu tau-tau sudah memberikan cengiran lebar saat ia membuka pintu kamar dan bersiap pergi.
"Ya mana gue tau, kalau ternyata lo keluar bukan buat hang out di malam minggu. Tapi ngekorin orang yang mau pacaran." Mengedikkan dagu pada motor matic yang Kei kuntit sedari tadi.
"Ck, yaudah. Abis ini gue bantu lo cari taksi buat pulang. Tapi sorry nggak bisa ikut nunggu, takut kehilangan jejak mereka."
Mendengar ucapan Kei yang Citra tau bukanlah sekedar gurauan, membuatnya mengejap-ngejapkan mata, sebelum kemudian menegakkan tubuh. "Dih, kok lo ngambek Kei?" Tanyanya yang dalam hati merasa bersalah. Tak seharusnya sibuk mengeluh. Di saat sahabatnya kepayahan menahan rasa sakit hati melihat pria yang disuka, saat ini sedang jalan dengan wanita lain. Ya, meski keduanya tak salah karena berstatus sebagai pasangan kekasih.
Bosan hanya berdiam diri di rumah. Citra kemudian mengunjungi rumah Kei. Berniat untuk mengajak jalan di malam minggu. Mengingat, kekasihnya yang masih belum pulang dari Jerman. Jadi Citra berinisiatif untuk berwisata malam bersama sahabatnya. Tapi sesampainya di sana. Ia justru dikejutkan dengan penampilan Kei yang tampak begitu berbeda. Saat gadis itu keluar dari kamarnya.
Jeans hitam belel, dengan atasan berupa tank top putih yang tertutupi jaket kulit berwarna hitam. Belum lagi, kacamata, topi, serta masker yang juga memiliki warna senada seperti celana juga jaketnya. Rambut coklat panjang milik Kei tersembunyi dibalik topi yang gadis itu kenakan.
Penampilan Kei yang sangat tak biasa itu, tentu saja memantik rasa penasaran Citra. Meski Kei berusaha menolak dengan segala cara agar dirinya tidak ikut. Bukan Citra namanya jika tak lebih keras kepala.
Sewaktu Kei memasuki range rover putih milik gadis itu, mengingat Ferrari merah kesayangan masih harus menginap di bengkel. Citra tiba-tiba membuka pintu di sisi penumpang dan mendudukkan diri. Tak peduli dengan Kei yang berusaha membuatnya keluar. Ia tetap bergeming dan memaksa ikut. Tapi kenapa, sekarang, ia justru merengek-rengek minta pulang?
"Ng—nggak usah Kei. Nggak perlu cari taksi buat gue pulang."
"Terus lo pulang mau naik apa? Maaf banget, tapi gue nggak bisa anterin lo balik." Sesal Kei pada Citra. Bukannya tak setia kawan, tapi jika harus mengantar Citra pulang lebih dulu. Dia bisa kehilangan jejak Adhi yang saat ini tengah ia ikuti.
"Iya, gue ngerti kok. Lo lanjut aja sama apa pun misi yang udah lo susun dari awal. Gue hanya akan menemani dan nggak bakal mencampuri." Citra tak akan membiarkan Kei sendiri. Terlebih, hal yang tengah sahabatnya lakukan sekarang, benar-benar mempertaruhkan perasaan. Bagaimana tidak? Kei mencoba menjadi penguntit pria yang disuka bersama wanita lain. Astaga ... Citra benar-benar tak habis pikir. Kenapa Kei memilih menyakiti hatinya sendiri? Dan sebagai sahabat, sudah menjadi tugasnya untuk memberi dukungan. Meski sebenarnya tak begitu setuju dengan apa yang Kei lakukan. Setidaknya, dia ada di sisi sahabatnya yang mungkin akan menelan sakit hati.
Meski bingung, dengan perubahan sikap Citra yang begitu tiba-tiba. Kei akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala dan kembali sigap menguntit motor yang Adhi kendarai. Dengan seorang wanita yang Kei yakini adalah Ratih.
Info mengenai Ratih, sudah berhasil didapatkan dari orang suruhannya. Bahkan dalam waktu yang jauh lebih cepat dari perkiraan Kei.
Ratih, wanita itu sudah menjadi kekasih Adhi sejak SMA. Hal yang membuat Kei mendapat sebuah tamparan tak kasat mata, setelah mengetahui fakta tersebut. Itu artinya, mereka sudah bersama sejak begitu lama.
Kei sempat termenung, memikirkan kembali niatnya yang berusaha untuk mengubur semua rasa yang kini dimilikinya untuk Adhi. Tak ingin menjadi duri dalam hubungan sejoli yang telah lama bersama. Tapi di sudut hatinya yang lain, ada rasa tak rela jika menyerah secepat ini.
Egois?
Kei terkekeh miris. Sejak dulu, dia dan kata egois, tak bisa dilepaskan. Semua yang ia inginkan, harus berada dalam genggaman. Mungkin karena sedari kecil terbiasa mendapatkan semua hal yang ia mau. Hanya dengan merengek, sang papa pasti segera mengabulkan permintaan yang ia ajukan.
Tapi ... Ini hal yang berbeda. Karena bukan barang yang Kei inginkan. Tapi seseorang yang telah berstatus kekasih wanita lain.
Ratih memiliki toko kue. Meski tak besar, tapi cukup banyak pelanggan yang berdatangan ke toko kue wanita itu. Kei sempat berkunjung ke sana. Sayangnya, ia tak bertemu dengan Ratih. Hanya ada pegawai yang menyambut kedatangannya.
Ingin menuntaskan rasa penasaran. Kei berniat mencari tau sosok kekasih Adhi itu. Tapi informasi yang ia dapat dari orang suruhannya, membuat kemarahan Kei nyaris meledak. Ratih dan Adhi akan menghabiskan waktu bersama di malam minggu. Hal yang sebenarnya wajar, karena mereka adalah sepasang kekasih. Tapi Kei tetap saja tak rela. Hingga kemudian memutuskan untuk menguntit keduanya. Ya, Kei tengah menggali rasa sakitnya sendiri. Bisa-bisanya terpikirkan untuk menyaksikan pria yang disuka tengah berkencan dengan wanita lain.
Setelah beberapa lama berkendara. Motor matic yang Adhi kendarai memasuki pelataran sebuah mall. Yang segera Kei ikuti. Memakirkan mobil, Kei bergegas mengikuti Adhi bersama Ratih yang memeluk erat lengan kenan pria itu. Keduanya tampak terlibat perbincangan santai dan berbagi tawa yang membuat hati Kei kepanasan.
"Lo harus banget berpenampilan kaya gini Kei?" Tanya Citra yang berhasil mengalihkan atensi Kei sejenak, dari pasangan yang berjalan sedikit jauh darinya. Kei sengaja menjaga jarak agar Adhi tak curiga. Meski ia tak yakin, pria itu sadar tengah dikuntit olehnya. Terlebih, seperti yang Citra pertanyakan. Penampilannya yang terkesan misterius, mungkin tak akan Adhi kenali.
Kei mendengkus, jangankan mengenali wajah. Mengingat namanya saja Adhi selalu saja lupa. Setidak penting itukah dirinya dimata pria itu? Benar-benar menyebalkan!
"Biar nggak dikenali Cit. Kalau mereka curiga lagi gue kuntit gimana?" Ucap Kei yang memberi alasan, kenapa ia berpenampilan yang terkesan misterius seperti sekarang?
Menaikan satu alis mata, Citra menatap wajah sahabatnya yang tertutupi masker dan kacamata hitam. Rambut panjang yang biasa digerai, kini tersembunyi di dalam topi yang gadis itu kenakan.
"Ck! Yang ada lo bikin mereka makin curiga sama penampilan lo yang mencokok begini."
"Mencolok gimana?" Kei mengerutkan kening bingung. Bagaimana bisa penampilannya yang sekarang disebut mencolok?
"Ya lo makin kelihatan kaya penguntit dengan penampilan seperti ini." Mengais kesabaran, Citra berusaha menjelaskan.
"Masa sih?" Meneliti penampilannya sekali lagi, Kei mengerutkan kening. Menimbang pernyataan Citra yang membuatnya tak lagi percaya diri. Belum lagi, ada beberapa pengunjung yang tertangkap basah mencuri pandang kearahnya. Diantara mereka bahkan berbisik-bisik dengan raut wajah yang berbeda-beda. Dari penasaran, curiga, bahkan terkesan mentertawakan.
Membuat Kei akhirnya memutuskan untuk membuka masker, serta topi hingga rambut coklat panjangnya tergerai. Tapi tak melepaskan kacamata hitam dan memilih untuk tetap memakainya. Setidaknya, masih bisa digunakan untuk menyembunyikan identitasnya agar tak dikenali Adhi. Meski ia sendiri sangsi, apakah pria itu mampu mengingat wajahnya, ketika namanya saja selalu dilupakan. Ck! Benar-benar mengesalkan.
"Kayaknya mereka mau nonton," ucap Citra yang mendapati sejoli itu tengah berbincang sembari melihat-lihat poster film yang terpajang. Mungkin mendiskusikan film yang akan keduanya pilih.
Menelan kesal, Kei mengalihkan pandangan dari Adhi dan kekasihnya yang sepertinya sudah menentukan film yang akan ditonton. Beralih kepada sahabatnya yang hanya mengangkat satu alis mata saat mendapat tatapan dengan cengiran lebar darinya.
"Apa?" Tanya Citra yang mengendus kejanggalan dalam sikap Kei. Pasti gadis itu tengah menginginkan sesuatu darinya.
Bergelayut manja di lengan kanan Citra, Kei masih mempertahankan cengiran. "Tolong belikan tiket film yang akan mereka tonton dong, Cit," rayunya pada sang sahabat dengan memperlihatkan wajah memelas, "mau ya? Ya? Ya? Ya?" Bujuknya sembari menggoyang-goyangkan lengan Citra yang masih dipeluknya dengan erat.
"Lo nggak bawa duit?" Selidik Citra yang mendapat gelengan kepala dari Kei, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukannya pada gadis itu. "Lah, terus? Kalau mau beli ya beli aja. Sekalian buat gue juga. Takutnya lo bikin huru-hara di dalam sana."
"Gue mau samperin itu cewek," mengedikkan dagu, Kei mengarahkan tatapan pada kekasih Adhi yang tengah duduk seorang diri.
"Mau ngapain? Jangan aneh-aneh ya Kei. Ini tempat rame. Lo bisa viral kalau sampai bikin keributan apalagi adu jambak dan cakar-cakaran cuma gara-gara cowok." Peringat Citra serius yang hanya ditanggapi Kei dengan decakan gemas. "Gue nggak main-main. Kalau sampai lo sama itu cewek baku hantam. Gue bakal pura-pura nggak kenal sama lo."
"Ya nggaklah, Cit. Gue masih waras. Mana mungkin mempermalukan diri sendiri. Belum lagi, Adhi makin nggak suka sama gue nanti."
Mengela napas, Citra akhirnya setuju untuk membelikan tiket. Setelah memperingatkan Kei agar tak bertindak gegabah saat dia tinggal pergi.
Sepeninggal Citra. Kei menyugar rambut panjangnya sembari memperbaiki letak kacamata. Sebelum kemudian, berjalan dengan penuh percaya diri menuju tempat di mana Ratih yang masih duduk seorang diri. Menunggu Adhi yang mengantri membeli tiket.
Berdeham cukup keras. Kei merekahkan senyuman ramah yang susah payah ia ciptakan, agar berhasil mendapatkan atensi dari Ratih yang sebelumnya sibuk menundukkan kepala sembari memainkan ponsel. Kini mendongakkan wajah dan menatap bingung kearahnya.
"Boleh duduk di sini?" Tanya Kei yang sekadar basa-basi. Meski sebenarnya dia bisa saja langsung duduk, tanpa perlu meminta izin. Mengingat, ini adalah tempat umum. Jadi siapa pun berhak jika sekadar untuk duduk-duduk. Tapi Kei sengaja memancing obrolan dengan Ratih. Agar bisa berbicara dengan wanita itu.
Mengangguk-anggukkan kepala, Ratih membalas senyuman ramah wanita cantik yang mengenakan kacamata hitam di depannya sekarang. "Tentu saja, Mbak. Ini kan tempat umum. Siapa pun berhak. Silakan," ucapnya sopan.
Masih mempertahankan senyumnya yang sekadar formalitas. Kei mendudukkan diri di samping Ratih. Menatap wanita dengan surai hitam sebatas bahu. Yang tengah melarikan pandangan pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Mungkin tak sabar menunggu Adhi yang masih mengantri membeli tiket.
Merasa tengah diperhatikan, Ratih menoleh pada Kei yang memaksakan senyum saat kepergok memandangi kekasih Adhi itu.
"Mbak sendirian?" Tanya Ratih yang merasa tak enak jika hanya saling berdiam diri. Lagipula, tak ada salahnya mengajak sosok di sampingnya untuk berbincang. Selagi menunggu kekasihnya yang belum kembali.
"Sama teman, dia lagi beli tiket. Kalau Mbak sendiri?" Tanya Kei balik, meski ia jelas tau dengan siapa wanita di sampingnya ini datang kemari.
Mengulum senyum dengan mata binar bahagia yang bisa Kei lihat meski tengah memakai kacamata hitam, Ratih menjawab pertanyaan Kei yang menunggu dengan debar menyakitkan. "Sama kekasih saya Mbak."
Meremas tas yang berada di atas pangkuan, Kei menjadikannya sebagai pegangan untuk menahan rasa sakit yang seperti dicengkeram oleh tangan tak kasat mata. Ia menganggukkan kepala kaku, "wah, pasti menyenangkan. Sayang, saya jomlo. Jadi cuma bisa ajak teman." Kekehnya yang terdengar hambar bahkan untuk pendengarannya sendiri.
Ratih mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya, mendengar ucapan Kei. "Masa sih Mbak, masih jomlo? Mbak secantik ini, pasti banyak yang suka."
Mengedikkan bahu tak acuh, Kei memperbaiki letak kacamata hitam yang dikenakannya sebelum memberikan jawaban. "Kenyataannya memang saya masih jomlo. Ada sih, pria yang saya suka. Tapi ...."
Ratih menunggu kelanjutan ucapan Kei yang menggantung. Sayangnya, belum sempat ucapan Kei terselesaikan. Suara maskulin di belakang mereka. Menginterupsi obrolan keduanya.
"Ratih?" Adhi mendekati kekasihnya yang dengan sigap sudah berdiri sembari merekahkan senyuman. Saat melihat kehadirannya.
"Udah dapat tiketnya, Mas?"
Menganggukkan kepala, Adhi memperlihatkan dua tiket yang sudah berada ditangannya. "Maaf ya, agak lama. Antriannya cukup panjang."
"Nggak masalah kok Mas. Untung aku ada teman ngobrol."
"Teman ngobrol?" Adhi mengerutkan kening, bingung sekaligus penasaran. Siapa yang menemani Ratih dan menjadi teman ngobrol wanita itu selama dirinya antri untuk membeli tiket?
"Iya Mas, Mbak ini—loh? Kemana orangnya?" Ratih kebingungan. Saat tak mendapati wanita cantik yang sejak tadi menjadi teman ngobrolnya. Aneh, bagaimana bisa tiba-tiba menghilang tanpa ia sadari kepergiannya? Atau, dia yang terlalu fokus pada Adhi, sampai tak tau saat wanita itu pergi?
Tapi, wanita tadi, benar-benar nyata kan? Bukan halusinasi atau bahkan ... Hantu penunggu bioskop ini?
Mengelus belakang lehernya, Ratih tiba-tiba merasa jika bulu kuduknya meremang. s**l, mana sebentar lagi ia dan Adhi akan menonton film horor lagi.
"Kenapa bengong?" Adhi yang sedari tadi diam dan memperhatikan gerak-gerik aneh Ratih, akhirnya mengajak kekasihnya itu untuk masuk ke dalam. Karena film yang akan mereka tonton, tak lama lagi akan segera dimulai.
Ratih menggenggam erat tangan Adhi yang menuntunnya pergi. Berusaha mengenyahkan sosok wanita misterius yang tadi duduk bersamanya.
Sementara itu, di tempat persembunyiannya. Kei menatap nyalang, kepergian dua sejoli yang tampak mesra dan berhasil mengusik perasaannya. Dia memilih pergi diam-diam, saat Ratih terlibat obrolan dengan Adhi. Meski yakin pria itu tak akan mengenalinya. Kei tetap memilih untuk menyembunyikan diri.