Nyaris dua puluh menit film berjalan. Semua tampak meletakan atensi pada layar lebar yang kini memperlihatkan adegan mencekam. Suasana yang sebelumnya senyap, seketika dijejali lengkingan suara para penonton yang terkejut saat sosok hantu tiba-tiba menampakkan diri. Backsound film kian ikut andil membuat jantung semua orang berdetak tak keruan. Sensasi mendebarkan berbalut aura mencekam, kian membuat mereka ketakutan sekaligus penasaran.
Sialnya, hal itu tak berlaku untuk Kei. Gadis itu tak peduli dengan film yang kini tersuguh di depannya. Sedari awal mendudukkan diri. Kei meletakkan tatapannya pada sejoli yang menjadi alasannya berada di tempat ini.
Ratih menempati kursi yang berada di barisan depan Kei, dengan Adhi yang tentu saja duduk di sampingnya. Sepanjang film di putar. Bahkan jauh sebelum lampu dimatikan. Kei tak pernah lepas untuk menyorot keduanya. Bak pemangsa yang siap mencabik buruannya.
Menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang di tempatinya. Kei berdecih, sebelum kemudian bersedekap tangan. Menahan diri agar kakinya tak menendang kursi yang Ratih tempati. Mengingat, Kei duduk tepat di belakang wanita itu.
Nyaris memuntahkan u*****n, meski hanya dalam bisikan, karena tak mau membuat gaduh hingga mengganggu kenyamanan penonton lain. Kei berusaha menelan kesal, setiap kali melihat Ratih yang memeluk Adhi sewaktu film yang tengah mereka tonton memperlihatkan hal-hal menyeramkan.
"Cih, modusnya basi banget. Apa-apaan coba? Lebih sering adegan peluk-pelukan ketimbang nonton filmnya? Lagian itu hantu nggak nongol tiap menit kali, Mbak." Oceh Kei yang terus menggerutu kesal. Sampai akhirnya, gerutuan Kei terputus saat Citra menjejalkan popcorn ke mulutnya yang sudah membuka dan siap melanjutkan racauan.
"Berisik Kei, lo bisa ditendang keluar kalau masih terus ngoceh kaya gini." Menggeleng prihatin, Citra tak habis pikir dengan apa yang kini bercokol di kepala sahabatnya sekarang.
Untuk apa Kei marah-marah?
Bukankah sedari awal, Kei sudah tau konsekuensi apa yang akan gadis itu dapatkan saat mendatangi tempat ini karena membututi Adhi?
Siapa yang suruh memata-matai pria yang dia cintai berkencan dengan wanita lain? Sudah tau akhirnya hanya akan berakhir menyakitkan, masih saja nekat dilakukan.
Merebut popcorn yang sedari tadi berada di pangkuan Citra. Kei mencebik kesal, sebelum kemudian mengalihkan pandangan pada layar lebar. Gadis itu nyaris tersedak saat mulutnya yang tengah penuh oleh popcorn hingga menggembung lucu, dikejutkan dengan kemunculan hantu dan suara backsound yang memekakkan telinga.
Setelah acara menonton yang membuat Kei dongkol karena sepanjang film diputar, harus menahan cemburu yang merongrongnya. Setiap kali melihat Ratih mendekap tubuh Adhi. Mereka kini tengah berada di sebuah tempat makan. Yang tak hanya bertujuan untuk mengisi perut keroncongan, tapi juga mengawasi Adhi yang juga tengah makan. Ya, bersama kekasih pria itu tentu saja. Yang membuat Kei sibuk mendengkus, alih-alih menyantap makanannya yang sudah tak lagi berbentuk karena ia aduk-aduk tak keruan. Seperti keadaan hatinya sekarang.
"Habis ini mau kemana? Masih mau uji hati?" Tanya Citra sembari mencocol kentang goreng dengan suas. Sebelum mengunyah santai. Menatap Kei yang akhirnya meletakkan atensi padanya.
"Lo mau balik?" Bukannya menjawab, Kei justru berbalik melempar tanya.
Mengedikkan bahu tak acuh, Citra mengaduk-aduk iced lemon tea miliknya sebelum kemudian menyeringai menyebalkan, "gue nggak bakal balik sebelum lo balik. Ngeri gue, kalau lo ngamuk terus tiba-tiba nyerang itu cewek," mengedikkan dagu kearah Ratih yang tengah menyuapkan makanan pada Adhi, Citra kembali menatap Kei yang sudah seperti siap adu gulat. "Repot kalau sampai lo viral gara-gara labrak cewek orang."
"Kita balik aja," mencangklongkan tas dibahu kirinya, Kei menatap Citra yang memperlihatkan wajah kebingungan, "bisa diare gue lama-lama lihat mereka."
Menaikan satu alis mata, Citra terbahak mendengar alasan yang menurutnya terdengar konyol. Mengabaikan Kei yang memelotot karena beberapa pengunjung lain tampak mencuri pandang kearah meja yang mereka tempati. Citra masih semangat untuk menggoda sahabatnya, "hati lo kepedesan ya, sampai bikin diare?" Kekehnya lebih pelan, karena tak mau mengusik pengunjung lain.
"Ck, tau ah, ayo balik!" Serunya sembari bangkit dari tempat duduk. Di ikuti Citra yang masih memasang wajah puasnya mengusik Kei.
Selama perjalanan pulang, tak ada yang bersuara di dalam mobil. Citra yang biasanya semangat menggoda Kei. Memilih bungkam karena tau jika sahabatnya itu butuh menenangkan diri. Dia bahkan memaksa untuk menyetir. Tak ingin ambil risiko dengan membiarkan Kei mengemudi sembari melamun. Bukannya sampai rumah, mereka bisa-bisa berakhir di UGD.
"Salah nggak sih, gue tetap bertahan sama perasaan gue ini?" Menyugar rambut panjangnya dengan gerakan frustasi. Kei yang sebelumnya menyandarkan kepala dengan tatapan menerawang kearah luar jendela mobil. Kini beralih menatap Citra yang juga menoleh kearahnya.
"Salah nggak salah sih, menurut gue," jawab Citra sembari mengedikkan bahu.
"Maksudnya?" Mengerutkan kening, Kei tak memahami apa yang sahabatnya itu katakan.
Mengela napas, Citra menjelaskan tentang perkataanya yang membingungkan. "Dibilang salah, ya salah. Lo jelas-jelas tau kalau Adhi udah punya cewek." Mencuri pandang kearah Kei yang tampak termenung, Citra kembali melanjutkan, "tapi, ya gimana lagi? Kadang kita nggak bisa mengerti dengan pilihan hati sendiri. Ya kan?"
Mengusap wajah sembari mengela napas panjang, Kei mengangguk putus asa. "Apa sebaiknya gue mundur?" Gumamnya pada diri sendiri, tapi masih bisa tertangkap pendengaran sahabatnya.
"Mungkin itu lebih baik." Citra tentu ingin Kei bahagia. Tapi tidak dengan cara yang salah. Merampas kebahagiaan orang lain jelas bukan hal baik. Meski, ia sedikit ragu. Apakah Kei benar-benar memilih untuk menghentikan laju perasaannya pada sosok pria yang telah menyelamatkan gadis itu? Mengingat, Citra yang sudah berteman lama dengan gadis itu sangat tau. Kei tipe yang pantang menyerah, sebelum berhasil mendapatkan apa yang gadis itu inginkan. "Lo tenang aja, gue bakal bantu lo move on."
Mengerutkan kening, Kei tiba-tiba waspada dengan apa pun rencana yang kini bercokol di kepala sahabatnya itu. "Nggak perlu, gue bisa atasi sendiri." Tolaknya cepat sebelum Citra melakukan hal-hal ajaib padanya.
Terkekeh, Citra menaik-turunkan alisnya dengan senyuman misterius, "gue nggak repot kok. Dengan senang hati bakal bantu lo buat buka hati sama yang lain. Kata orang, supaya bisa cepat move on salah satu caranya cari sosok baru. Biar lo nggak terfokus sama yang dulu. Karena sibuk dengan cinta baru."
Berdecak, Kei memilih mengabaikan Citra yang tetap keras kepala dengan semua rencana rahasia yang akan membantunya move on dari Adhi. Andai bisa semudah itu, Kei tentu tak harus memusingkan diri. Sialnya, perasaannya pada pria itu benar-benar sudah mengakar kuat. Hal yang tentu saja mengejutkan. Mengingat, pertemuannya dengan Adhi bahkan masih terbilang singkat. Tapi mampu menancapkan perasaan yang sulit dilenyapkan.
Kei sempat menelaah hatinya sendiri. Apa benar, yang dirasakannya untuk Adhi, pantas disebut sebagai cinta? Karena bagaimana mungkin bisa secepat itu? Kei takut salah mengartikan perasaannya sendiri. Dia sempat berpikir, mungkin yang dirasakannya untuk Adhi tak lebih dari rasa kagum. Setelah pria itu berhasil menyelamatkannya dari penjahat-penjahat yang berniat mencelakainya. Sampai sekarang, Kei masih bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi padanya, andai tak ada Adhi yang malam itu menolongnya?
Suara jentikan jari di depan hidungnya berhasil mengoyak lamunan Kei. Mengerjap-ngerjapkan mata, gadis itu menatap Citra yang berdecak sembari menggelengkan kepala.
"Sia-sia gue ngoceh dari tadi. Pasti nggak ada satu pun kalimat yang berhasil tembus dipikiran lo yang diambil alih sama hal lain."
Meringis tak enak hati, Kei mengusap belakang lehernya, "lo emangnya bilang apa tadi?"
"Mohon maaf, gue nggak berminat buat siaran ulang."
"Dih, ngambek?"
"Dih, nggak ya, dongkol doang!"
Terkekeh melihat wajah masam sahabatnya. Kei baru sadar jika mobil miliknya yang sedari tadi dikendarai Citra sudah sampai di gedung apartemen gadis itu.
"Nginep aja di tempat gue," usul Citra setelah keluar dari mobil dan berhadapan dengan Kei yang juga sudah berada di luar dan hendak berjalan menuju sisi kemudi.
Menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, agar tak lagi dipermainkan angin. Kei menggelengkan kepala, "nggak deh, gue mau balik aja. Belum terlalu malam juga kok."
Berdecak sebal, karena gemas dengan sahabatnya yang keras kepala, Citra bersedekap tangan dengan mata memicing, "gue ngeri lo nyetir sambil galau kaya sekarang. Tadi aja sibuk melamun, sampai nggak sadar kita sampai di sini kan?"
Tak bisa mengelak, Kei hanya meringis. Gadis itu mengedikkan bahu sebelum kemudian mengela napas panjang, "gue beneran nggak apa-apa. Bakal fokus kok nyetirnya."
Meski ragu, Citra tak bisa mencegah Kei yang bersikeras pulang. Padahal, dia berharap gadis itu menuruti sarannya untuk menginap di apartemennya. Setidaknya Citra merasa lebih tenang jika Kei kembali besok. Siapa tau suasana hati sahabatnya itu sudah lebih baik.
"Gue balik ya," setelah memeluk Citra yang hanya bisa mengangguk pasrah. Kei memasuki mobil. Mendudukkan diri di kursi kemudi, sebelum kemudian menyalakan mesin mobilnya. Memberi klakson sebagai tanda pamit pada Citra yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Kei melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen sahabatnya.
Meski berusaha untuk fokus dan tak larut dalam lamunan. Kei sesekali tak bisa menghindari dirinya tengah sibuk memikirkan perasaan gamang yang kini tengah merongrongnya. Dia masih diambang dilema. Bingung menentukan sikapnya terhadap Adhi. Menyerah dan belajar mengikis perasaannya pada pria itu. Atau terus mengejar, meski tau pria itu telah dimiliki sosok lain?
Kei tak mengerti. Benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri. Alih-alih melajukan mobilnya menuju kediaman sang papa. Dia justru berakhir di seberang jalan yang merupakan g**g rumah Adhi. Sama seperti sebelumnya, ia hanya berdiam diri di dalam mobil. Dengan tumpukan resah yang sulit sekali dilenyapkan.
Melarikan pandangan pada penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kirinya, Kei mendapati jika malam sudah kian larut. Pukul setengah sepuluh. Seharusnya ia sudah tiba di rumahnya. Membersihkan diri, sebelum kemudian merebahkan tubuh lelahnya di tempat tidurnya yang nyaman. Bukannya mengantuk-antukan keningnya di setir mobil. Meski dilakukan sampai keningnya benjol, Kei tak akan bisa mendapatkan apa pun selain rasa sakit.
Mengembuskan napas, Kei menegakkan posisi duduknya. Bukannya menyalakan mesin mobil. Gadis itu justru membuka pintu dan beranjak turun. Setelah mengunci mobilnya. Ia menyebrang jalan, memasuki g**g yang merupakan tempat tinggal rumah Adhi. Ia hanya ingin melihat rumah pria itu. Jika dilakukannya pada siang hari, pasti akan sangat canggung karena akan ada banyak orang yang tengah berlalu lalang dan sibuk beraktivitas.
Sebuah rumah sederhana dengan cat kuning yang sudah tampak kusam itu Kei pandangi. Dalam hati bertanya-tanya, apa pria itu sudah pulang ke rumah? Atau masih berkenan dengan kekasihnya?
Ck! Harusnya Adhi sudah pulang. Ini kan sudah sangat malam. Kesal Kei yang hanya bisa menggerutu dalam hati.
Tak ingin membuang waktunya lebih lama dengan menatap pintu yang tertutup rapat. Terlebih, para nyamuk sudah menyerbunya. Membuat Kei kian jengkel. Ia hendak memutuskan untuk pulang. Tapi baru saja membalikan tubuh, suara pintu yang terbuka kasar menghentikan Kei yang nyaris menjejakkan langkah pertamanya. Kembali menghadap kearah rumah Adhi, yang ia berhasil ketahui dari orang suruhannya. Kei mengerutkan kening, saat di ambang pintu, ia dapati seorang remaja yang wajahnya basah oleh air mata.
"Anda siapa?" Tanyanya serak dengan wajahnya yang tampak kalut.
Mengerjap-ngerjapkan mata, Kei berdeham, berusaha menenangkan diri, karena sempat terkejut mendapati salah seorang penghuni rumah memergokinya. Apa mungkin ia dikira maling? Astaga, bagaimana bisa? Bukankah dia terlalu cantik dan menawan? Tapi bisa saja mereka tak percaya? Siapa yang tak curiga melihat orang asing yang hanya berdiam diri dan sibuk melihat-lihat rumahmu? Kei pun jika dihadapkan pada situasi yang sama, pasti merasa curiga.
Baiklah, sebelum terjadi kesalahpahaman, Kei harus lebih dulu menjelaskan. Sayangnya, belum sempat bibirnya berucap. Remaja itu sudah berderap cepat kearahnya.
"Bisa tolong saya?" Pintanya sembari mengusap lelehan air mata menggunakan punggung tangan, "saya sendirian. Abang belum pulang. Ibu kesakitan. Saya takut, bingung, nggak tau harus apa?" Racaunya dengan tangan yang memilin ujung piyama bergambar hello kitty.
Semua penjelasan yang akan Kei utarakan, kembali tertelan ke dalam tenggorokan. Ada hal yang jauh lebih penting dan berhasil menyedot fokusnya saat ini.
"Ibu kamu kenapa?"
Menggeleng hingga lelehan air matanya kian berjatuhan, gadis itu justru terisak, "nggak tau, tiba-tiba aja kesakitan."
"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang."
"Pakai apa? Aku mau tunggu Abang pulang aja. Tapi nggak tau kapan?"
"Yasudah, lebih baik sekarang kita bawa ibu kamu ke rumah sakit. Saya bawa mobil. Tapi ada di seberang jalan g**g itu. Karena nggak bisa masuk ke dalam sini."
"S—saya, minta tolong tetangga buat bantu papah ibu."
"Sama saya saja."
Remaja itu terdiam, memerhatikan Kei dengan lekat. Mungkin, di tengah kepanikan. Masih ada rasa ragu untuk menerima bantuan Kei yang dianggapnya sosok asing.
Tau jika dirinya diberi tatapan menyelidik. Kei mengembuskan napas panjang, "jangan takut. Saya bukan orang jahat. Ke sini mau ketemu Adhi. Tapi sepertinya dia lagi nggak ada di rumah. Makanya ragu untuk ketuk pintu." Jelas Kei yang sepenuhnya tak berbohong. Dia memang ingin bertemu Adhi. Tapi sekadar melihat sosoknya. Tak memiliki stok keberanian yang membuatnya nekat menemui pria itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Kei. Tatapan waspada dan menyelidik itu perlahan meluruh. Tergantikan wajah lega dan penuh harap.
"Mbak, temennya Abang?"
Mengangguk kaku, Kei berusaha menyunggingkan senyumnya. "Ya," ucapnya singkat. Dia kenal Adhi. Bahkan mereka sempat berinteraksi beberapa kali. Meski sangat singkat dan berakhir membuat Kei dongkol karena sikap dingin yang pria itu tunjukan padanya. Tapi ... Hubungan mereka masih bisa dikategorikan sebagai teman kan?
Ah, masa bodo. Yang penting, remaja di depannya ini tak lagi takut padanya.
Setelahnya, Kei diajak masuk ke dalam rumah. Memasuki sebuah kamar di mana seorang wanita paruh baya yang tampak merintih kesakitan dengan wajah pucat. Meski sedikit kesusahan. Kei dan remaja yang ia tak tau namanya, oh, bukan. Lebih tepat jika Kei lupa nama remaja yang merupakan adik Adhi itu. Ya, dia pernah melihat profil lengkap pria itu. Termasuk anggota keluarganya. Sayangnya Kei tengah kesulitan mengingat namanya saat ini. Terlebih, fokusnya sekarang adalah Ibu Adhi yang tengah kesakitan.
Beruntung, mereka sudah berada di dalam mobil. Dengan adik Adhi yang kini duduk dikursi belakang, bersama ibunya yang rebah dengan kepala di atas pangkuan putrinya. Kei sendiri sudah mendudukkan diri di depan kemudi. Menjalankan mobilnya dengan hati kebat-kebit. Karena kini tengah membawa dua sosok yang sangat berarti untuk pria yang dia cinta.