Tak ada lagi rintihan kesakitan, bibir yang tampak kering itu telah tertutup rapat dengan embusan napas teratur. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya jauh lebih tenang.
Mengusap lelehan air mata dengan punggung tangan. Indah duduk di atas kursi yang berada di samping ranjang perawatan sang Bunda. Menggenggam tangan wanita paruh baya itu yang tak terpasang infus.
Apa yang terjadi beberapa waktu lalu bak mimpi buruk. Gadis itu ketakutan melihat sang Bunda kesakitan. Terlebih, tak ada Abangnya yang bisa diandalkan. Di tengah kalut, Indah berlari keluar rumah. Ia bahkan lupa jika belum memakai sandal. Beruntung, baru saja menapaki halaman depan rumah dengan kaki t*******g. Ia dapati wanita asing yang sempat membuatnya waspada. Meski dari segi penampilan, sosok asing itu memiliki paras jelita bak artis yang Indah temukan di layar televisi. Ia harus tetap berhati-hati. Bukankah, penampilan kadang bisa menipu?
Tapi ketika bibir merah muda itu mengucapkan nama Abangnya. Rasa ragu yang Indah rasakan mulai meluruh. Berganti raut penuh pengharapan. Agar wanita asing yang belum ia ketahui namanya, bersedia membantu.
Dan, di sinilah dirinya sekarang. Sebuah ruang perawatan yang tampak begitu luas. Bahkan mungkin, lebih luas dari ruang tengah di rumahnya. Dengan fasilitas yang membuat Indah takjub. Karena sewaktu dulu sang Bunda di rawat. Ruangan yang di tempati terdiri dari empat rajang pasien dengan sebuah tirai sebagai pemisah.
Sebelumnya, Indah tak begitu memperhatikan. Mungkin karena sibuk memikirkan keadaan Bundanya. Tapi sekarang, gadis itu mengedarkan pandangan ke sepenjuru ruangan.
Ada pendingin ruangan, bukan kipas angin yang kadang tak begitu membantu menyingkirkan rasa gerah. Tak jauh dari ranjang perawatan, ada satu tempat tidur yang diperuntukkan untuk keluarga pasien. Membuat Indah atau Abangnya tak harus menggelar tikar jika menunggui sang Bunda selama masa perawatan. Sebuah sofa yang tampak nyaman, lcd tv yang membuat Indah tergoda ingin menyalakannya, tapi takut mengusik kedamaian sang Bunda yang tengah lelap. Ada kulkas yang membuat remaja itu penasaran dengan isinya. Maklum, mereka tak memiliki itu di rumah. Jika ingin minum es, biasanya membeli di warung Mpok Lela. Ada Juga dispenser yang membuat Indah meneguk ludah. karena tiba-tiba saja merasa haus. Menangis cukup lama ternyata membuat tenggorokannya terasa kering. Selain itu semua, ada juga kamar mandi. Tak perlu lama mengantri dengan pasien lain seperti waktu dulu.
Suara langkah kaki membuat Indah memfokuskan pandangan pada sosok yang baru saja masuk ke ruang perawatan Bundanya. Gadis itu bangkit dari duduknya saat melihat wanita asing yang tadi membantu membawa ke rumah sakit ini. Tengah meletakkan beberapa bungkusan plastik ke atas meja. Sebelum kemudian berjalan menuju arahnya yang hanya bisa berdiri kikuk.
"Makan dulu, aku beli beberapa makanan tadi." Kei mengulurkan tangan, menggandeng tangan Indah yang hanya bisa menurutinya dalam diam.
Setelah mendudukkan diri di atas sofa, dengan Indah yang duduk kaku di sampingnya. Kei mulai membuka beberapa bungkus makanan yang dibeli melalui delivery order.
Indah meneguk ludah. Remaja itu tampak berbinar melihat meja yang kini penuh sesak oleh berbagai macam makanan enak. Ada satu kotak pizza, ayam goreng, sate, capacay, nasi putih yang masih mengepulkan uap, sup iga, puding, juga berbagai potongan buah.
"Aku nggak tau kamu suka apa. Jadi cuma bisa pesan ini."
Cuma?
Indah meringis mendengar ucapan Kei. Ini bukan sekadar cuma. Tapi sudah berlebihan. Apa bisa mereka menghabiskan semua makanan ini hanya berdua saja?
"I—ini, banyak sekali Mbak," dengan suara serak karena terlalu banyak menangis, Indah yang matanya masih tampak sembab. Menatap Kei yang hanya mengulum senyum.
"Nggak apa-apa, kita makan sama-sama. Kamu nggak masalah kan, makan di jam malam seperti sekarang? Nggak lagi diet?" Canda Kei yang berhasil menerbitkan senyuman di wajah Indah yang sejak tadi tampak murung.
Menggelengkan kepala, Indah tersenyum canggung, "nggak kok, Mbak. Malah, suka bikin mie rebus tengah malam kadang-kadang. Tapi kalau ketahuan Bunda atau Abang pasti diomelin." Adunya dengan bibir mencebik.
"Nggak boleh keseringan. Itu kurang sehat."
Mengangguk patuh, Indah kembali meletakan atensinya pada deretan makanan yang membuat perutnya bersuka cita.
"Jangan dilihatin aja. Ayo, makan," mendekatkan beberapa wadah makanan. Kei membujuk Indah untuk menyantap apa pun yang gadis itu suka tanpa harus merasa canggung dengan kehadirannya.
Mendapat persetujuan, Indah menyingkirkan rasa ragu dan mulai menyantap makanan yang Kei belikan dengan lahap. Melupakan sejenak kekalutan yang sedari tadi merongrongnya.
"Abang kamu masih susah dihubungi?" Menggigit apel merah, Kei mempertanyakan Adhi yang menurut penuturan Indah tak bisa dihubungi. Hal yang membuatnya dongkol. Apa pria itu tak mau acara kencannya diganggu, sampai harus mematikan telepon?
"Bhlum Mbhak," dengan mulut penuh hingga pipinya menggembung lucu, Indah menjawab.
Meletakan buah apel yang baru digigit satu kali ke atas meja. Kei meraih tas yang berada di sampingnya. Merogoh isinya untuk mencari ponsel. Setelah berhasil mendapatkan benda pipih itu. Ia mengaktifkan layar dengan sidik jari telunjuk. Sebelum kemudian menggulir layar, mencari kontak Adhi. Mencoba menghubungi pria itu yang sialnya masih tak bisa dihubungi. Hanya terdengar suara operator yang memberitahukan jika nomor yang Kei tuju sedang dalam keadaan tidak aktif.
"Abang kamu kalo lagi kencan sama pacarnya suka nggak aktifin ponsel?" Gerutu Kei yang tak lagi bisa menahan rasa dongkolnya.
Indah yang tengah sibuk menggigit paha ayam, menjeda sejenak. Gadis itu menggelengkan kepala dengan wajah penasaran, "nggak kok Mbak. Biasanya ponsel Abang selalu aktif. Meskipun lagi pergi sama Mbak Ratih." Jelasnya yang membuat Kei tanpa sadar mendengkus sebal, "kok Mbak tau, Abang lagi jalan sama pacarnya?"
Kei yang tengah menegak minuman tersedak. Hingga air yang belum sempat tertelan tenggorokannya menyembur keluar dan membasahi bagian depan bajunya.
"Mbak nggak apa-apa?" Tanya Indah yang ikut panik. Merasa bersalah karena membuat Kei tersedak air minum.
Menggelengkan kepala, Kei segera membereskan kekacauan yang dia buat. Meraih beberapa lembar tisu dan mengelap bajunya yang sedikit basah sembari meringis canggung, "nggak apa-apa. Kamu lanjut makan aja."
Setelah yakin jika Kei memang tak apa-apa. Indah kembali fokus pada makanannya. Sementara Kei yang hendak mencoba menghubungi Adhi lagi, harus mengurungkan niatnya setelah ponsel miliknya lebih dulu berdering. Dengan nama sang papa yang tertera di layar.
Gawat!
Karena terlalu fokus dengan keluarga Adhi. Kei sampai lupa, jika ia belum memberi kabar pada sang papa. Meski usianya sudah dewasa, tapi tetap saja, papanya memantau apa yang dirinya lakukan. Termasuk, setiap kali berpergian. Kei lebih dulu meminta izin. Mau menginap di tempat Citra pun, harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari papanya. Meski begitu, Kei sama sekali tak pernah mempermasalahkan. Baginya, itu adalah bentuk perhatian. Belum lagi, peristiwa yang membuatnya nyaris menjadi korban begal membuat sang papa kian ketat dalam mengawasi. Bahkan berniat menempatkan bodyguard. Sayangnya, ide itu ditolak Kei. Karena merasa tak nyaman jika harus di ikuti ke mana pun ia pergi. Setelah perdebatan panjang, rencana soal bodyguard itu akhirnya dibatalkan. Dengan catatan, Kei harus sering memberi kabar saat tengah berada di luar rumah.
Menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan. Kei menempelkan ponsel ke telinga kanannya.
"Di mana?" Dengan suara cemas, sang papa mengajukan pertanyaan. Bahkan tanpa salam pembuka. "Kei? Di mana? Kenapa belum pulang? Kamu menginap di tempat Citra? Kenapa nggak bilang-bilang dulu?"
"Pa, satu-satu. Kalau banyak begitu, Kei bingung harus jawab yang mana dulu."
Terdengar elaan napas di seberang sambungan. Sang papa pasti berusaha tenang di tengah rasa kalut yang merongrongnya karena Kei belum juga pulang, padahal waktu sudah sangat larut malam.
"Papa khawatir, sudah sangat malam dan kamu belum pulang. Sekarang lagi di mana?"
Mengelus belakang lehernya, Kei meringis canggung saat tatapannya bersirobok dengan Indah yang kini tengah sibuk mengunyah pizza. "Kei ... Di apartemen Citra." Akunya setelah menimbang jawaban apa yang harus diberikan. Menggigit bibir bawahnya, Kei memohon maaf karena terpaksa berbohong. Jika menjawab yang sejujurnya, sang papa pasti panik saat tau ia tengah berada di rumah sakit. Sayangnya, Kei tak bisa memberikan penjelasan, kenapa ia berada di rumah sakit. Akan ada banyak pertanyaan yang papanya lontarkan dan Kei berada dalam situasi yang rumit untuk memberikan penjelasan. Jadi, terpaksa harus memberikan kebohongan.
***
Sementara di tempat lain. Adhi tengah menyandarkan punggung di sandaran sofa dengan mata terpejam. Napasnya masih tampak memburu. Sesekali suara ringisan meluncur keluar dari bibirnya saat denyutan di wajah serta tubuhnya menimbulkan rasa sakit.
"Obatin dulu luka lo."
Suara seseorang yang tertangkap pendengaran, membuat Adhi membuka mata. Menegakkan posisi duduknya, ia dapati Randi yang sudah mendudukkan diri di sampingnya.
Mengalihkan pandangan, Adhi menemukan kotak P3K di atas meja. Yang segera dibukanya. Bersiap membersihkan luka-luka yang kini memenuhi wajahnya.
"Gue kan dari awal udah bilang. Lo jangan terlalu percaya sama Miko. Gue udah feeling itu anak nggak beres!" Omel Randi yang masih kesal atas musibah yang kini menimpa sahabatnya.
Siapa yang tidak terkejut sekaligus jengkel. Randi yang sedang malas berkencan dengan beberapa wanita yang tengah dekat dengannya. Memilih untuk tetap di rumah dan tidur lebih awal. Ya, di bawah jam dua balas malam itu awal untuknya. Karena terbiasa tidur di waktu dini hari. Baru saja akan terlelap. Pria itu harus kembali terjaga setelah pendengarannya terusik oleh suara ketukan pintu yang sangat tak sabaran. Nyaris saja memuntahkan omelan, tapi terpaksa ditelan kembali. Saat di balik pintu, ia temukan Adhi yang sudah dalam keadaan babak belur.
"Terus, lo bisa tau si b******k itu nipu gimana ceritanya?"
Adhi meringis setiap kali lukanya terasa berdenyut saat dibersihkan dengan kapas yang sudah ia beri Rivanol. Meski tak seperih alkohol, tapi cukup terasa sakit.
"Gue dikasih tau sama orang yang juga kena tipu. Nggak tau dia bisa dapat nomor telepon gue dari mana. Awalnya cari Miko sambil marah-marah. Ngira gue komplotan yang ikut nipu dia. Abis itu gue inisiatif datengin rumah Miko."
Selepas pergi bersama Ratih. Adhi yang masih berada di halaman rumah wanita itu, tiba-tiba saja mendapat telepon dari orang yang tak dikenal.
Pria asing itu terus berbicara dengan penuh emosi. Tak jarang memaki dan memuntahkan semua kebenciannya karena telah menjadi korban penipuan dari Miko.
Adhi yang mencium ketidak beresan. Segera mematikan telepon setelah mencoba berbicara dengan pria yang masih memakinya. Sekeras apa pun ia berusaha menjelaskan, pria itu masih tak percaya dan menuduhnya komplotan Miko. Tak ingin membuang waktu, Adhi akhirnya pergi ke kediaman Miko. Salah satu teman baiknya sewaktu SMA dulu.
"Gue pas ketemu dia di reuni waktu itu, udah ngerasa ada yang beda sama si Miko." Randi menatap serius pada Adhi yang kini hanya bisa menyugar rambutnya yang sudah kusut masai, "ck! Lo harusnya nggak pergi sendiri ke rumah dia. Ajakin gue biar nggak kaya gini kejadiannya."
Mengela napas panjang, Adhi menggelengkan kepala. Tak menyetujui apa yang Randi katakan. "Datang berdua pun, tetap nggak akan bisa menang. Dia dibantu sama teman-temannya."
"Ya setidaknya, muka lo sedikit bisa terselamatkan. Nggak bonyok-bonyok amat kaya sekarang."
Adhi mendengkus. Merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak berdaya dan berakhir menjadi bulan-bulanan Miko serta teman-teman pria itu.
Sesampainya di rumah Miko. Adhi menemukan pria itu tengah bermain kartu dengan tiga orang asing yang tak dikenalnya. Selain kartu dan kulit kacang yang berserakan. Ada beberapa botol minuman keras yang tertangkap penglihatannya. Serta uang pecahan seratus ribuan yang tertumpuk di tengah-tengah meja.
Pada awalnya, Miko masih menyambut kedatangan Adhi dengan ramah. Meski pria itu tampak sedikit tak fokus saat berbicara. Aroma alkohol tercium kuat, membuat Adhi yakin jika Miko tak sepenuhnya dalam keadaan sadar.
"Bro! Dalam rangka apa lo tiba-tiba datang ke rumah gue?" Terkekeh dengan mata sayu dan wajah kian memerah, Miko menoleh kearah teman-temannya yang masih asyik bermain kartu. Sebelum kemudian, kembali meletakkan atensi pada Adhi. "Gabung sama kita, gimana?"
"Nggak Mik, gue ke sini, karena ada hal penting yang harus gue omongin sama lo."
"Soal apaan?"
Mengela napas, Adhi yang tak ingin membuang waktunya lebih lama. Memilih untuk mengatakan hal yang membuatnya mendatangi rumah temannya ini.
"Gimana sama perkembangan kerja sama kita?"
Senyuman yang sedari tadi Miko tunjukkan mulai meredup. Berganti tawa gugup yang terdengar dipaksakan. "Baik, semua lancar. Lo nggak usah khawatir."
"Gue mau lihat perkembangannya. Lo bilang udah dimulai sejak tiga hari yang lalu kan renovasinya?" Adhi sempat mendatangi tempat yang akan dijadikan bengkel. Mereka berencana membuat sebuah tempat di mana, orang yang menunggu kendaraannya diperbaiki merasa tak bosan karena ada kafe di sampingnya. Sayang, Adhi belum sempat melihat lagi karena pekerjaannya sedang banyak.
Adhi melakukan kerjasama dengan Miko. Membangun sebuah bengkel yang di sampingnya terdapat kafe sederhana. Sejak dulu, ia memang ingin memiliki usaha sendiri. Terlebih, saat kesehatan sang Bunda yang kian menurun. Tabungan hasil kerja kerasnya, ia jadikan modal. Kebetulan, Miko, teman sewaktu SMA dulu mengajaknya membuka bisnis bersama. Pria itu memiliki kafe yang sudah nyaris satu tahun berjalan. Di sebelah kafe, ada lahan kosong yang Miko tawarkan untuk membuka bengkel bagi Adhi yang sejak dulu berkeinginan membuka usaha sendiri.
Keinginan Adhi memiliki bengkel sendiri bahkan didukung bosnya yang juga merupakan paman dari Randi. Pria paruh baya itu, tak segan membagi ilmunya. Mengingat, sudah mengenal sejak Adhi masih SMP.
Sepeninggal sang Ibu karena sakit. Randi memilih tinggal bersama pamannya. Ia tak mau bersama ayahnya yang tiba-tiba sudah menikah lagi di saat sang ibu baru satu bulan tiada. Dan sampai sekarang, alih-alih meneruskan usaha papanya. Randi lebih memilih menjadi pegawai di bengkel milik pamannya. Hubungan dengan ayahnya masih saja dingin sejak dulu.
Melihat gerak-gerik Miko yang tak nyaman dan terus membujuknya pulang, beralasan jika pembicaraan mereka lebih baik dibicarakan esok hari, justru membuat Adhi kian curiga.
"Siapa Reno?"
Mata Miko membulat mendengar nama pria yang dikenalnya terucap dari bibir Adhi. "S—siapa? Gue nggak tau."
"Tapi dia tau lo. Jangan main-main sama gue Mik," mencengkram kerah kaus Miko, Adhi menatap nyalang penuh peringatan, "dia ngira gue komplotan lo, yang udah nipu dia untuk buka bisnis sama-sama. Kenapa kedengarannya seperti apa yang lo tawarkan ke gue sekarang?"
"Lo nuduh gue, b******k!" Tak terima, Miko balik mencengkram kerah kemeja yang Adhi kenakan dengan tatapan nyalang, "bukan salah gue, kalau lo sama begonya sama dia." Kekehnya dengan wajah ramah yang kini berubah bengis.
"b******k!"
Bug!
Miko tersungkur setelah mendapat tonjokan keras di rahanganya. Keributan yang terjadi, berhasil menyita perhatian teman-teman Miko yang sebelumnya tampak tak acuh dan asyik bermain kartu dengan taruhan uang.
Pria-pria berbadan besar yang berjumlah tiga orang itu ikut merangsek menyerang Adhi secara brutal. Membuatnya kewalahan karena harus menghadapi seorang diri.
Meludahkan darah, Miko terkekeh puas melihat Adhi yang berhasil menjadi bulan-bulanan temannya. Mengusap kasar darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. Pria itu berjalan angkuh, mendekati Adhi yang tangan kanan dan kirinya ditahan kedua temannya.
Adhi tak menunjukkan rasa takutnya, saat rambutnya dijambak Miko hingga kepalanya menengadah. "Lo yang terlalu bodoh, kenapa gue yang disalahkan? Waktu bisa mengubah seseorang. Termasuk gue, yang bukan lagi Miko si cupu baik hati seperti teman dekat lo sewaktu SMA dulu." Melepas jambakan tangannya di rambut Adhi. Miko memukuli hingga ia kelelahan sendiri. Tak sekadar itu, ia juga merusak posnel milik Adhi hingga hancur. Setelah puas, memerintahkan temannya melempar tubuh Adhi keluar dari rumahnya seperti sampah.
Tepukan di bahunya berhasil mengoyak lamunan Adhi. Menolehkan wajah, ia dapati wajah Randi yang tengah menatap serius.
"Lo nginep aja, Bunda bisa pingsan lihat lo bonyok kaya gini."
"Gue emang mau nginep. Nggak mungkin pulang dan bikin kehebohan."
"Udah telepon orang rumah?"
Menggelengkan kepala, Adhi mengela napas lelah, "ponsel gue diancurin Miko."
"Benar-benar s****n itu orang!" Geram Randi yang gatal ingin menghabisi Miko, "besok kita datengin si b******k itu buat bikin perhitungan. Dia harus balikin duit lo atau laporin ke polisi. Lo masih nyimpen surat-surat perjanjian kerjasama sama dia kan?"
Adhi mengangguk, nyaris buka suara tapi urung saat ponsel milik Randi meraung. Pria itu tampak sumringah, melihat nama seseorang yang menelponnya.
"Halo, Kei?"
Adhi hanya diam sembari memperhatikan sahabatnya yang tengah berbicara penuh semangat. Tapi saat Randi berniat menyerahkan ponsel padanya, ia hanya menaikkan satu alis mata dengan wajah bingung, "kenapa kasih ke gue?"
"Kei mau bicara sama lo."
"Gue nggak minat."
"Ck! Bentar doang, elah! Siapa tau penting."
Dengan gerakan enggan, Adhi akhirnya menerima ponsel yang Randi sodorkan padanya. Menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan dan bersiap untuk meluncurkan kata-kata pedas agar gadis itu berhenti mengusiknya.
"Gue udah bilang ka—"
"Abang, Bunda masuk rumah sakit."
Suara yang sangat familiar di pendengarannya itu berhasil membuat Adhi mematung.
Bagaimana bisa?
Bukankah Randi bilang jika yang menelponnya adalah Kei. Tapi kenapa suara adiknya yang kini tertangkap pendengarannya?