Ketukan jari telunjuknya di atas meja kerja terdengar konstan. Baru saja, Arifin selesai mengangkat telepon dari Steven. Asisten pribadinya itu memberikan sebuah kabar yang cukup mengejutkan. Pemuda yang nyaris membabat habis semua ketenangannya, tiba-tiba saja mendatangi kantor dan ingin bertemu. Meski kemarahan belum surut sepenuhnya, Arifin tetap menerima kunjungan mendadak tersebut. Terlebih, dia tak terlalu sibuk. Hanya membaca dan memberikan tanda tangan pada beberapa berkas yang diajukan sebagai kerja sama dengan perusahaannya. Karena dua rapat yang sedianya dia hadiri seusai makan siang. Telah terlanjur dibatalkan dan akan dijadwal ulang. Tak lama, suara ketukan pintu tertangkap pendengaran Arifin. Mengoyak lamunan, sekaligus menghentikan jari telunjuknya yang sedari tadi mengetu

