Adhi terkekeh kering, sebelum kemudian menjadi ledakan tawa yang memekakkan telinga. Tak peduli, jika pria paruh baya di depannya menganggap dirinya sudah gila. Perlahan, tawa yang mengisi ruangan yang mereka tempati mulai menghilang. Setelah Adhi kembali memilih bungkam. Dengan tatapan yang tak lepas dari Pak Arifin. Raut tenang dan santai yang tadi diperlihatkan kepada Adhi tiba-tiba lenyap. Berganti dengan ekspresi yang penuh ketersinggungan. "Apa putri saya sebuah lelucon?" Arifin mengoyak keterdiaman di antara mereka. Jika saja tak ingat, apa yang tengah diusahakannya sekarang adalah untuk kebahagiaan sang putri. Ia tak segan untuk menghancurkan Adhi. Bak menepuk debu yang berani mengotori kemejanya dibagian bahu. "Tentu saja tidak." Adhi tau, sikap yang ditunjukkannya tadi sangat

