1.Masa-masa Itu

1493 Kata
Waktu SMP Pipit dan Puspa berjalan bersisian. Keduanya tertawa bersama, seolah mereka adalah orang yang paling bahagia di dunia. Pipit tersenyum misterius. Ia menjulurkan kakinya ke depan, membuat kaki Puspa tersandung dan jatuh tersungkur. Bukan membantu Pipit malah tertawa kencang. Wajah Puspa memerah tanda marah juga kesal. "Pipit! Kurang ajarnya!" seru Puspa marah. Pipit berlari, menghindari serangan dadakan Puspa. Melihat itu Puspa pun berlari. Jadilah aksi kejar-kejaran. "Pipit! Sini kamu! Jangan lari!" teriak Puspa. Tangan kanan nya ia gunakan untuk menaikkan roknya sedikit. Agar memudahkan ia berlari. Seragam sekolah mereka sudah basah di karenakan berlari. Siang itu matahari sangat panas. Pipit menumpukan kedua tangannya di atas lutut, badannya sedikit membungkuk. Puspa melakukan hal yang sama ketika sampai di samping Pipit. Keduanya sibuk mengatur napas yang ngos-ngosan. "Haus banget," keluh Puspa. Pipit melihat keadaan sekitar, matanya menyipit saat melihat warung. Tanpa mengucapkan apapun dia menarik tangan Puspa. Puspa pun yang di tarik hanya diam, tidak protes. "Buk! Teh pucuknya dua dong!" ujar Pipit. Si ibu warung mengangguk, membuka kulkasnya dan mengambil dua botol teh pucuk pesanan Pipit tadi. "Nih! Neng!" "Makasih, yah, Bu!" Pipit memberikan uangnya. Kini keduanya duduk di depan warung tadi. Meminum es tadi. "Pulang, yuk!" ajak Puspa. Lagipula mereka pulang sekolah bukan langsung kerumah, malah main kejar-kejaran. "Ke taman aja dulu, yuk! Kita main di sana, sama anak kecil," kata Pipit. Puspa menggeleng tanda tidak setuju. "Gak! Nanti bunda bisa marah, kita langsung ke taman sebelum ganti baju sekolah!" Puspa memperingati Pipit. Bisa-bisa mereka nanti kena omelan bunda Pipit. "Ayolah! Sesekali kok! Kita udah lama gak ke taman, loh. Emangnya kamu gak kangen kita main di sana?" tanya Pipit, dia masih berusaha membujuk Puspa. Puspa terlihat berpikir, kemudian mengangguk. "Kalo bunda marah, kamu tanggung jawab, yah!" tuding nya ke arah Pipit. "Iya, gampang mah." Pipit menjawabnya enteng. Tapi nyatanya berbalik. Pipit tetaplah Pipit. Kalo bunda sedang marah, dia bakal bersembunyi di belakang Puspa. Menjadikan Puspa tameng dari amarah sang bunda. Seperti saat ini. "Maaf, bunda! Kita ngaku salah," ujar mereka berbarengan. Pipit memegang tangan Puspa. Keduanya menunduk takut. Sang bunda menghela napas. "Udah berapa kali bunda bilang, kalo mau main pulang dulu! Ganti seragam sekolahnya," ujar bunda. Bingung melihat tingkah dua anak ini. Sama-sama nakalnya. "Lihat, kan! Seragam kalian itu basah karena keringat kalian! Bau lagi," bunda menutup hidungnya. Langsung saja Pipit dan Puspa mencium bau badannya masing-masing kemudian menyengir ke sang bunda. "Sebagai hukumannya, kamu Pipit! Cuci piring di dapur!" ujar sang bunda garang. Sebenarnya bunda itu orang baik hati, hanya saja akan berubah ketika mereka berbuat nakal. "Dan kamu Puspa! Sapu halaman rumah bunda!" Mendengar hal itu. Puspa dan Pipit saling senggol menyenggol satu sama lain. Saling menyalahkan. "Gara-gara kamu, nih!" tuduh Puspa. Pipit yang tidak mau di salahkan menyenggol lengan Puspa. "Salah kamu juga! Kenapa mau aja aku ajak ke taman," ujarnya. Puspa menatap kesal kearah Pipit. Kalau tau begini, Puspa tidak akan menerima ajakan Pipit tadi. "Ngapain lagi di situ! Cepet kerjakan yang bunda suruh tadi, sekarang!" ucap bunda penuh penekanan. Pipit berlari ngacir ke dapur, siap mencuci piring kotor yang menumpuk. Sedangkan, Puspa dia langsung ngacir mencari sapu lidi. Siap menyapu halaman rumah bunda yang kotor. "Heran. Punya dua anak tingkahnya sama. Pulang sekolah gak mau langsung pulang, malah main ke taman. Udah mau Maghrib baru pulang," gerutu sang bunda. Jangan salah, meski Puspa bukan anak kandungnya. Dia sudah menganggap Puspa seperti putrinya sendiri, setelah orangtua anak itu meninggal. Lagi pula anaknya cuman Pipit satu-satunya. Hanya saja, ada hal yang tidak bisa lagi membuat dia mempunyai anak lagi. Di malam hari, Puspa dan Pipit. Jatuh tertidur di kamar Pipit. Keduanya baru menyelesaikan hukuman dari sang bunda. Setelah mandi, makan dan sholat Isya. Keduanya tertidur karena kecapekan. Bunda tersenyum melihat itu. Wajah kedua putrinya terlihat damai saat tidur begini. "Kalian ini, udah kayak saudara kandung. Nakalnya gak ketulungan, bunda harap kalian tetap akur sampai dewasa nanti," gumam bunda. Setelah memandang wajah mereka. Bunda mengecup kening mereka masing-masing, kemudian keluar dari kamar. *** Tiga tahun kemudian. Wajah kedua gadis itu sudah di poles dengan makeup tipis. Sedangkan tubuh mereka sudah berbalut kebaya cantik. Puspa dengan kebaya cokelat, warna kesukaannya. Begitu juga Pipit dengan kebaya biru muda warna kesukaan gadis itu. "Anak-anak bunda sekarang sudah lulus sekolah." Siti— bundanya Pipit memeluk mereka. "Gak kerasa kalian udah makin besar aja," sekarang Sulaiman— ayah Pipit ikut menimpali. Sulaiman mengelus kepala putrinya secara bergantian. "Iya, mereka sudah gede sekarang. Tapi nakalnya masih sama," seloroh Siti. Menjawil hidung Pipit, karena putrinya itu yang nakal sekali. Puspa hanya mengikut saja. "Bunda ih, nakal itu wajar. Kan, kita masih muda." Pipit menjawab. Mencebikkan bibirnya. "Tapi kan, bisa di kurangin nakalnya, sayang," sahut Siti. "Udah, ah. Mending kita foto bareng sekarang," ajak Siti. Menyuruh fotografer di depan memfoto mereka. "Senyummmmm." "Satu ... dua ... ti ...." Cekrek. Masih menggunakan kebaya tadi. Puspa dan Pipit kini duduk di depan rumah sederhana peninggalan mendiang orangtua Puspa. Sejak masuk sekolah menengah atas. Puspa memutuskan tinggal di sini sendiri. Karena sejak orangtuanya meninggal, ia di suruh tinggal di rumah Pipit bersama ayah dan bunda. Namun, itu bertahan hanya beberapa tahun. Karena Puspa sangat menyayangi rumah ini kalau di tinggal. Walaupun seminggu sekali dia membersihkan bersama Pipit. "Kamu sudah punya rencana belum, Pus? Kedepannya mau jadi apa?" tanya Pipit sembari menjilati ice yang mereka beli tadi. Puspa tersenyum tipis. "Kamu pasti tahu, aku mau jadi apa," jawab gadis itu. "Jadi penjahit?" tanya Pipit memastikan. Perlahan Puspa mengangguk. "Aku pengen teruskan pekerjaan ibu ku, Pit. Jadi tukang jahit biasa, kalau bisa aku bakal jual hasil jahitan ku ke media sosial." Puspa menatap kedepan. Tersenyum manis mengingat kenangannya dulu bersana sang ibu. Dia yang dulu senantiasa memperhatikan ibunya menjahit. Dari situ dia sudah tertarik untuk menjadi tukang jahit. "Kalau kamu, mau jadi apa?" tanya Puspa sambil menoleh kearah Pipit. "Guru," jawab Pipit. "Aku pengen banget jadi guru. Entah kenapa rasa aku tertarik aja." tambah Pipit lagi. "Berarti kamu harus kuliah dong," kata Puspa. Pipit mengangguk. "Aku sudah ceritain ke bunda sama ayah dan mereka setuju. Aku cuman kuliah sampai D3 aja," jelas Pipit. "Kamu kuliah di sini atau di kota?" tanya Puspa, takut Pipit akan pergi kuliah keluar kota. Dan meninggalkan dirinya di sini. "Di sini lah, bunda belum bisa lepas aku buat pergi keluar kota." Keduanya diam. Hening menyelimuti. "Kamu kapan buka jasa jahitnya?" tanya Pipit setelah terdiam cukup lama. Pipit tuh gak bisa kalau diajak diam. "Lusa. Dan besok kamu harus temenin aku beli semua perlengkapannya, jangan menolak!" pungkas Puspa. Tau sifat sahabatnya sangat malas kalau diajak berbelanja seperti ini. "Iya, iya. Aku gak bakal nolak, demi kamu apa sih, yang sanggup aku tolak." Karena gemas, Pipit pun memeluk tubuh Puspa kencang. Membuat sahabatnya itu kehabisan napas. "Gak gini juga meluknya, Pit. Sesek tau," kesal Puspa. Melepaskan pelukan itu secara paksa. "Iihh ... gemas banget, sih." Pipit tidak tahan melihat wajah kesal sahabatnya. Kini mencubit pipi Puspa. "Pipit! Sakit tau gak!" Teriak Puspa. Menepis tangan Pipit. Kemudian berlalu memasuki rumahnya. "Yah ... ngambek. Puspa! Jangan ngambek dong!" Pipit berlari menyusul Puspa masuk ke dalam rumah. Malam harinya. Kini Puspa dan Pipit berbaring di atas kasur tepatnya di dalam kamar Puspa. Seperti malam biasanya Pipit akan menginap di sini. Untuk menemani Puspa agar tidak sendirian. "Pit," panggil Puspa. Mata gadis itu kini menerawang ke langit-langit kamar. Sedangkan Pipit, ia sibuk membaca novel bergenre romantis kesukaannya. "Hm," gumam Pipit menjawab. "Aku kangen ibu sama ayah," lirih Puspa. Gerakan tangan Pipit yang hendak membalik halam buku selanjutnya pun terhenti. Langsung menoleh kearah Puspa, dapat ia lihat jelas dari sorot mata sahabatnya itu, ada kerinduan yang amat mendalam. Langsung saja Puspa meletakkan novelnya keatas nakas. Langsung bergeser mendekati Puspa dan merengkuh tubuh sahabatnya itu. "Aku ngerti kok perasaan kamu," katanya. Bagaimanapun, Pipit merasa sangat beruntung di dunia ini. Karena masih memiliki orang tua lengkap. Sedangkan Puspa, gadis itu hidup sebatang kara di dunia ini tanpa orang tua. Kalau saja mereka tidak pernah bertemu, mungkin saja Puspa sendirian sekarang. Maka itu, Pipit berusaha menjaga bunda dan ayahnya sebaik mungkin. Karena orang sering bilang "Jaga mereka selagi masih ada di dunia ini." Kalimat itu sering berputar di kepala Pipit. Sementara itu, Puspa berusaha sekuat mungkin agar air matanya tidak meluruh saat itu juga. Entah kenapa setiap malam ini dia selalu merindukan kedua orangtuanya. Mungkin rindu itu sudah menggunung. Dan ia tidak bisa lagi menyalurkan rasa rindu tersebut. Puspa dapat merasakan tepukan lembut dari tangan Pipit di bahu sebelah kirinya. Sambil memejamkan mata, Puspa dapat mendengar. "Gapapa, semua pasti baik-baik saja." Itu adalah kalimat yang sering Pipit ucapkan ketika mereka mengalami masalah atau dia yang rindu akan kehadiran orangtuanya. Kadang kala pun, Puspa merasa takut dan khawatir. Kalimat dari Pipit itu yang menjadi penenangnya. Puspa akui jika ia berjauhan dengan Pipit, hidupnya pasti terasa hampa sekali. Tanpa ocehan unfaedah dari mulut mungil itu. Persahabatan mereka mungkin sudah lama terjalin, tapi perjalanan mereka masih panjang di depan sana. Baik keduanya, harus menjalani dengan hati teguh dan ikhlas. Menghadapi takdir hidup dari sang Kuasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN