2. Ada apa?

1661 Kata
Kamis, 25 Maret 2021. Puspa tersenyum menyambut kepulangan sang suami. Dia mengambil tas kerja di tangan Jaka, suaminya. Setelah Jaka masuk ke dalam kamar, Puspa bergegas ke dapur. Menyiapkan kopi buat sang suami. Saat memasuki kamar, Puspa melihat suaminya keluar dari kamar mandi sambil menggosokkan rambutnya dengan handuk. "Ini, mas! Kopinya," ujarnya. Meletakkan kopi tadi di atas nakas. Jaka hanya mengangguk, dia membuka lemari. Mengambil sebuah kotak kado. "Ini kado buat kamu. Kamu ulang tahun, kan hari ini? Maaf aku hampir lupa, hari ulangtahun kamu. Karena banyak tugas di sekolah. Kamu gak usah masak, karena malem ini kita makan di luar. Buat rayain ulangtahun kamu," kata Jaka panjang lebar. Puspa gemetaran mengambil kado itu. Lehernya pahit seperti baru saja menelan pil tanpa air. Matanya memanas. Tidak! Puspa tidak boleh menangis. "M-makasih, mas!" cicitnya, kemudian tersenyum bahagia. "Kok, nangis, sih?" tanya Jaka. Sambil menghapus air mata Puspa. "Gapapa, mas! Ini air mata bahagia. A-aku seneng dapat hadiah dari kamu. Sekali lagi makasih, mas!" sahut Puspa, tapi air matanya tak mau berhenti. "Iya, sama-sama. Itukan udah kewajiban aku, buat kamu bahagia." Jaka terus menghapus air mata Puspa yang berjatuhan. "Aku buka, yah?" tanya Puspa untuk membuka kadonya. Jaka mengangguk. Tangan Puspa membuka kado tersebut. Saat melihat isi nya lagi-lagi hati Puspa mencelos. Namun, iya tetap tersenyum lebar. "Wahh. Gamisnya bagus banget, mas! Aku suka," kata Puspa bahagia. Tangannya menaruh gamis di depan tubuh. Kemudian dia memutar ke arah cermin. Mematutkan dirinya di sana. Jaka tersenyum, dia bahagia melihat Puspa senang karena pemberian kado dari nya. "Aku pikir kamu gak suka, aku udah deg-degan takut salah pilih." Jaka duduk di pinggir kasur, sambil menyesap kopi buatas Puspa tadi. "Aku suka kok, mas! Apalagi warnanya. Kamu dari mana tau, kalo aku suka warna biru muda, sih?" tanya Puspa penasaran. "Ya, taulah. Kamu kan istri ku," bangga Jaka. Ia berdiri sembari membawa kopinya. "Ya, udah. Aku ke ruang kerja dulu, yah. Mau meriksa tugas anak-anak murid," pamit Jaka. Puspa mengangguk. Sebelum pergi ke ruang kerjanya, Jaka mengecup kening Puspa. Kebiasaan baru Jaka sekarang, entah kenapa pria itu semakin menyayangi wanita di depannya ini. Setelah melihat Jaka keluar dari kamar. Puspa jatuh meluruh ke lantai. Memukul dadanya yang terasa sesak. Ia bahagia sekaligus sedih. Seperti di hari pernikahan mereka. Puspa memandang gamis pemberian Jaka tadi. Kemudian menangis. Ini bukan hari ulangtahun nya. Ini hari ulangtahun, Pipit sahabatnya. Tapi Jaka malah menganggap dia Pipit. Ini sudah sering terjadi. Tapi Puspa tetap diam tanpa pernah komplain. Puspa menerima semuanya. Ini takdir dari sang Kuasa. Namun, hati siapa yang tidak sakit. Melihat suami sendiri terus menganggap nya sebagai Pipit bukan Puspa. "Bahkan, kamu gak tau warna kesukaan ku, mas Aku gak suka warna biru muda. Ini warna kesukaan Pipit. Kesukaan ku warna cokelat, mas. Apa kamu gak pernah merhatiin aku sering pakai baju warna cokelat?" gumam Puspa. Meratapi nasib. Setelah merasa cukup menangis, Puspa berdiri. Memasukkan gamis tadi ke dalam lemari. Kemudian berdiri di depan cermin. Ia tersenyum. Padahal hatinya merasa sedih. Selama ini dia terus memasang topeng, di depan semua orang. Merasa bahagia karena memiliki suami yang hampir sempurna. Tidak tau saja, kalo Jaka terus menganggap nya Pipit. Itu sudah terjadi sejak, pernikahan mereka yang terjalin seminggu. Di awal mereka menikah, Jaka terlihat terpaksa. Tapi tak urung juga mengucapkan ijab qobul di depan semua orang. Bahkan setelah Puspa di bawa ke kota, Jaka terlihat dingin. Tidak tersentuh. Namun, setelah seminggu semuanya berubah. Puspa sangat senang, tapi setelah Jaka memanggilnya dengan nama Pipit. Hati Puspa mencelos. Sakit. Amat sakit. Tepat pukul tujuh malam. Puspa sudah siap dengan gamis pemberian dari Jaka. Wanita itu terus memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Warna biru muda, tidak buruk juga ia gunakan. Tapi akan lebih menyenangkan jika ia menggunakan gamis warna cokelat— warna kesukaannya. Puspa tersenyum pahit, walaupun ia tidak menyukai warna ini. Ia akan berusaha memakainya demi Jaka. Karena malam ini mereka akan pergi dinner untuk kesekian kalinya. Tubuh Puspa membeku, tak kala merasakan pelukan dari belakang. Dari depan cermin ini bisa dia lihat Jaka sedang memeluknya. Pria yang mempunyai tubuh tinggi itu terpaksa menunduk agar bisa memeluk tubuhnya yang pendek. "Cantik," satu kata yang keluar dari bibir Jaka mampu membuat tubuh Puspa bergetar. Apalagi kecupan di pipi yang Jaka berikan secara tiba-tiba. Wajah Puspa memanas, tak urung hatinya bahagai di perlakukan seperti ini. Tapi mengingat Jaka yang menganggapnya sebagai Pipit, mau tak mau ekspetasi Puspa runtuh begitu saja. "Jangan dandan yang cantik-cantik, aku gak mau kamu di lirik laki-laki lain di luar sana." kata Jaka posesif semakin memeluk pinggang Puspa. Puspa terkekeh. "Cemburu, hm?" ledeknya ke sang suami. Jaka ikut terkekeh. "Pastilah, aku gak sudi mereka mandang wajah kamu barang sedetik pun." balasnya cepat. Puspa membalik tubuhnya, agar berhadapan dengan Jaka. Tangan Puspa terulur mencubit hidung mancung Jaka. Wanita itu tertawa pelan. "Posesif nya suamiku," semakin gencar ia menggoda. Jaka pun terbahak, menjauh tangan Puspa dari hidungnya. Menghela napas pelan, saat melihat riasan make up di wajah sang istri. "Kita makan di rumah aja, aku gak mau keluar kalau kamu make make up begini." Kening Puspa mengkerut, mencebik bibirnya. "Ih, kok gitu, sih?" tanyanya heran. "Salah sendiri siapa yang pake make up setebal itu." cibir Jaka. "Ini gak tebal loh, mas." sanggah Puspa. "Tebel!" "Enggak! "Tebel pokoknya!" "Eng—" Ucapan Puspa terpotong, tak kala kendati merasakan usapan lembut dari bibir Jaka. Alhasil keduanya tidak jadi benar-benar pergi makan di luar. Dan berakhir dengan malam yang panas penuh menggairahkan. *** Satu Tahun Yang Lalu “PUSPA!” teriak gadis memakai jilbab berwarna biru muda. Warna kesukaannya. Puspa yang dipanggil tadi, keluar bergegas membukakan pintu rumahnya. Padahal jahitannya masih banyak menunggu. Tapi mendengar suara yang tidak asing baginya, ia memilih keluar. “PIPIT!!!” ia ikut berteriak senang. Berlari keluar rumah. Begitu sampai di depan sang sahabat. Keduanya berpelukan, seperti sudah lama tidak bertemu. “Pipit! Kamu apa kabar? Astaga, aku kangen banget sama kamu,” ujar Puspa. Memeluk sang sahabat dengan kencang. Pipit terbatuk pelan. Lehernya tercekik karena pelukan dair Puspa. “Pus! Lepas dulu, aku susah napas.” Mendengar itu Puspa melepaskan pelukan mereka langsung. Kemudian cengengesan melihat Pipit sibuk mengatur napasnya. “Kamu kapan nyampenya? Kenapa gak bilang ke aku, sih. Kalo kamu bakal pulang ke sini?” tanya Puspa menuntut. Keduanya kini masuk ke dalam rumah sederhana milik Puspa. Rumah peninggalan kedua orangtuanya. “Rencana buat kejutan buat kamu,” jawab Pipit. Dia menuju dapur. Mengambil segelas air putih dan kembali ke ruang depan lagi. Di mana Puspa berada. Sudah biasa begini. Menganggap rumah Puspa sebagai rumahnya sendiri. “Iya, kamu berhasil buat kejutan nya. Sampe aku kaget. Setelah lama kamu gak pulang ke kampung, kamu makin cantik aja sih, gimana di kota enak gak suasananya daripada di sini?” cerocos Puspa terus bertanya-tanya. Pasalnya Pipit sudah hampir setengah tahun di kota. Mengajar sebagai guru honorer. “Nanya satu-satu, lah. Aku bingung jawabnya,” sahut Pipit. Setelah habis meminum air putih di gelasnya. “Oke-oke. Kenapa kamu jarang pulang ke sini! Kamu tau gak, aku tiap bulan nunggu kamu di sini! Janjinya, bakal usahain pulang minimal tiap, bulan. Apa? Janji mu gak bisa di pegang. Malah pulang ke sini setelah enam bulan di sana!” Puspa menatap tajam kearah Pipit. Sedikit kesal demgan sahabatnya ini. “Iya-iya, aku minta maaf! Tugas aku di sana banyak. Apalagi muridnya nakal-nakal. Harus ekstra ngeluarin tenaga sama hati, ngehadapin mereka semua. Maafin aku, yah!” Pipit menjelaskan. Sedikit menyesal karena tidak bisa menepati janjinya. “Bakal aku maafin, asal kamu traktir aku makan bakso mang Jajang!” “Ya, udah. Ayok!” Pipit berdiri semangat. Lagipula dia merindukan kebersamaan mereka berdua. Sedari kecil mereka tidak bisa di pisahkan. Tapi setelah besar keadaan harus memisahkan mereka. “Di kota banyak cowok ganteng, yah, Pit! Ada gak yang naksir sama kamu? Kalo ada yang naksir sama kamu dan serius sama kamu! Dia harus berhadapan sama aku dulu, biar aku interogasi dia! Sapa tau dia buaya kakap menjelma jadi manusia baik di depan kamu!” Puspa sudah biasa ngomong panjang lebar di depan Pipit, jadi jangan bingung, yah. “Kamu ini ada-ada aja. Aku ke kota itu buat kerja, bukan cari pasangan.” Jelas Pipit. Membuat Puspa mengangguk seakan percaya, tapi masih ragu. “Iyain aja deh, biar seneng.” “Mang Jajang! Baksonya dua, kayak biasa, yah!” Pipit sedikit berteriak. Astaga dia merindukan hal seperti ini. Enam bulan di kota dia jarang seperti ini. Di kota dia harus menjadi guru baik, di depan anak-anak muridnya. “Eh, baru pulang dari kota neng?” tanya si mamang, sambil mengantar pesanan mereka. “Hehe … iya mang, saya rindu bakso mamang, makanya pulang.” Jawab Pipit cengengesan. “Ya, si eneng bisa aja,” sahut mang Jajang kemudian berlalu dari sana. “Puspa!” panggil Pipit di sela mereka makan. Puspa hanya bergumam karena mulutnya penuh bakso. Pipit keliatan ragu untuk mengucapkan nya. Setelah berperang batin sebentar, dia berkata. “Sebenarnya aku pulang ke sini, karena ada yang lamar aku.” “APA?!” UHUK! UHUK! Puspa terbatuk-batuk. Matanya berair begitu juga hidungnya. Apalagi rasa pedas baksonya masuk ke dalam hidung. Sungguh ini tidak enak. Setelah minum air dan mengatur napas. Puspa menatap garang kearah Pipit. “Serius?” tanyanya. Melihat Pipit mengangguk pelan, barulah Puspa percaya. Lihat! Tadi Pipit ngomong, kalo dia di kota buat kerja bukan buat cari pasangan. “Selama enam bulan di kota, aku kenal guru yang umurnya tua beberapa tahun dari aku. Beberapa bulan ini, dia dekat sama aku. Dan tepatnya kemarin, dia datang ke sini. Tanpa memberi tahu aku.” Pipit menghela napas dia aja syok, saat sang Bunda menelpon dia dan mengatakan ada melamarnya. Makanya dia pulang ke sini untuk bertanya lebih jelas lagi. “Dia pernah bilang sih, ke aku. Kalo dia tertarik sama aku, tapi aku pikir dia cuman main-main sama ucapannya. Namun, setelah denger omongan dari bunda sama ayah. Baru aku percaya.” Tambah Pipit lagi. Dia menatap ragu ke arah Puspa. Sahabatnya itu hanya menunduk seperti memikirkan sesuatu. “Jadi, kamu terima lamaran nya?” “Iya,” jawab Pipit pelan. Puspa menghembuskan nafasnya. Sebenarnya tidak ada yang salah. Mereka sudah dewasa dan akan menikah. Tidak selamanya mereka bakal berdua terus. Tanpa pasangan halal masing-masing. “Pernikahannya diadakan seminggu lagi!” “APA?!” Puspa mau pingsan rasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN