“Kok, cepet banget, sih. Kamu nikahnya?” Puspa bertanya sambil merengek. Masih tidak rela melihat sahabat satu-satunya menikah.
Pipit tertawa pelan. Menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sudah di make up secantik mungkin.
“Gimana? Kamu udah liatkan, calon suami aku?” Malah Pipit yang kembali bertanya. Dia tertawa lagi mrlihat wajah Puspa yang tertekuk.
“Udah liat, kemarin sama bunda kamu. Pas anterin baju pengantin ke rumah pak RT,” jawab Puspa. Karena keluarga calon mempelai menginap di sana, di rumah besar pak RT.
Tau gak. Setelah seminggu kemarin, Pipit bilang mau nikah. Puspa nekad menjahitkan baju pengantin buat sahabatnya ini. Karena ia sudah berjanji ke diri sendiri. Apabila Pipit menikah. Dia yang aksn merancang baju pernikahan buat Pipit.
Alhamdulillah, seminggu bekerja keras akhirnya. Kemaren bajunya udah selesai. Puspa begitu bahagia melihat baju yang ia jahit sendiri, melekat manis di tubuh sang sahabat.
Meski tidak secantik designer terkenal di kota. Pipit bilang, ia menyukai nya. Bahkan Pipit berterimakasih banyak, karena Puspa dia tidak mengeluarkan uang lagi buat nyewa baju pengantin. Dasar, Pipit ya, gitu.
“Ganteng, kan?” tanya Pipit bangga.
Puspa memutar bola matanya malas.
“Iya-iya ganteng banget,” godanya. Biar si Pipit seneng.
“Pit! Siap-siap calon suami kamu, udah dateng.”
Itu suara bunda Pipit. Setelah mengatakan itu, wanita tersebut kembali keluar. Untuk mengikuti acara ijab qobul. Karena di dalam kamar, ada Puspa yang menemani Pipit.
Wajah Pipit terlihat pucat. Kemungkinan gugup. Saat suara ayah Pipit terdengar. Wajah Pipit makin pucat, membuat Puspa mengernyit heran.
“Lah, Pit! Kenapa? Gak usah gugup gitu, lah! Tenang ada aku di sini!” ujar Puspa memenangkan.
Bukan semakin tenang. Pipit malah seperti kehabisan napas. Bahkan deru napasnya sudah tidak teratur. Membuat Puspa panik. Ia membaringkan tubub Pipit di ranjang. Menepuk pelan pipi sahabatnya.
“Pit! Kamu kenapa? Pit! Jangan buat aku takut, dong!” ujar Puspa panik, makin panik.
“A-aku g-gak kuat n-nahan nya, lagi Pus!” jawab Pipit pelan. Suaranya putus-putus.
“Kamu tunggu sini! Aku panggil nunda sama ayah kamu dulu.”
Begitu sampai di luar. Terlihat ijab qobul akan di mulai. Tapi terhenti, saat Puspa berteriak memanggil bunda dan ayah Pipit. Semua orang panik. Terutama ayah dan bunda.
Puspa sudah menitikkan air matanya. Tidak kuat melihat keadaan Pipit sekarang.
“Nak! Kamu kenapa? Pit!” Itu suara ayah Pipit. Terlihat beliau sangat khawatir. Apalagi bunda Pipit sudah terisak pelan di samping putrinya.
“B-bunda,” lirih Pipit.
Dia menatap wajah sang bunda secara seksama. Tangan dinginnya di pegang sang bunda.
“Iya, sayang.” Sang bunda menjawab sambil menghapus air mata Pipit yang keluar. Apalagi napas Pipit semakin tidak beraturan.
“P-puspa.”
Sekarang Puspa mendekat. Melihat Pipit yang seperti mencarinya.
“M-mas J-jaka.”
Pipit dapat melihat Jaka berdiri di samping ayahnya. Wajah calon suaminya itu terlihat sangat khawatir.
“A-aku mohon nikah sama Puspa,” ujarnya terbata-bata. Tapi dapat di dengar.
Puspa menggeleng ribut. Dia tidak menginginkan ini. Saat napas Pipit semakin memburu, ayah Pipit berinisiatif menggendong Pipit hendak membawa nya ke rumah sakit. Namun, Pipit malah menggeleng pelan. Tanda tidak mau.
Mata Pipit menatap lurus keatas. Sedangkan mulutnya mengikuti ucapan asma Allah dari sang bunda. Puspa makin tak kuasa.
Seharusnya hari ini, hari bahagianya Pipit. Tapi kenapa malah begini. Ketika satu tarikan napas panjang. Puspa berteriak histeris. Memeluk tubuh Pipit, tidak peduli keadaan bunda Pipit masih di dekatnya.
Puspa menangis begitu juga semua orang. Bagi Puspa ini sama menyakitkan nya saat kedua orangtuanya meninggal, saat dia kelas 6 Sd. Pipit sahabat kecilnya, pergi untuk selama-lamanya.
Tawa bahagia tadi, kini sudah tergantikan dengan tangis yang amat memilukan. Pernikahan di batalkan. Begitu juga dekorasi rumah yang di gantikan.
Keadaan rumah yang seharusnya berbahagia. Kini malah berganti dengan duka.
Tidak ada yang tau kapan maut datang. Kapan jodoh datang. Karena kita hanya hambanya. Dan semuanya sudah diatur sebaik mungkin oleh Allah SWT.
Fitria Az-Zahra memilih pulang ke sisi Allah terlebih dahulu. Daripada memilih pulang bersama sang calon suami.
Jika lebih di suruh memilih antara maut atau jodoh. Apa yang akan kalian pilih?
Jangan memilih! Karena kita hanya seorang hamba. Takdir semenyakitkan apapun harus di terima dengan lapang d**a.
Inilah akhir jalan hidup seorang Pipit. Biarkan dia bahagia di atas sana.
***
Seakan mengerti suasana, alam pun ikut menangis. Rintikan hujan membahasi bumi menemani acara pemakaman Pipit. Suara tangisan tak bisa terbendung tak kala tubuh yang sudah di balut kain kafan itu, kini di masukkan ke dalam liang lahat.
Payung hitam masing-masing di pegang para pelayat. Baju hitam mendominasi kentara sedang berduka. Puspa tak bisa menahan sesak di dadanya. Apalagi melihat Siti — bunda almarhumah Pipit — menangis meraung saat melihat tubuh putrinya sudah bersemayam di tempat peristirahatan terakhirnya. Tak kala mencium nisan sang anak. Semua terlihat rapuh akan kepergian nya salah satu hamba Allah.
Puspa jatuh terduduk di atas tanah. Meletakkan kedua tangannya di gundukan tanah kuburan Pipit. Rasanya baru kemarin lagi mereka bercanda ria, saling meledek dan rasanya baru kemarin lagi mereka tidur bersama. Memasang hena bersama-sama dan rasanya baru tadi dia melihat senyuman sahabatnya ini.
"Pit." lirihnya. Tak sanggup menahan air mata yang terus merembes keluar. Memukul dadanya guna menghilangkan rasa sesak di sana. "Sakit banget, pit." tambahnya lagi.
"Kenapa kamu tinggalin aku secepat ini hah?" dia terus bergumam. Menghiraukan hujan membasahi tubuhnya. Kehilangan sahabat sekaligus saudaranya adalah hal yang amat terberat rasanya. Cukup kedua orangtuanya di ambil, tapi kenapa kini malah sahabatnya yang di ambil lagi. Nyatanya hidup di dunia ini hanya persinggahan sementara saja. Akhirat lah yang kekal bukan dunia yang fana ini.
Sementara di satu sisi, Jaka hanya bisa merunduk melihat gundukan tanah yang basah itu. Sang pujaan hati telah pergi meninggalkan ya selama-lamanya. Tanpa mengijinkannya untuk membahagiakan gadis itu. Cinta yang tumbuh di dalam hatinya terlanjur pekat sehingga kepergian sang bidadari kini membekas di sana.
Rasa tidak rela. Baru kemarin malam lagi mereka telepon juga ia masih bisa mendengar suara gelak tawa Pipit dengan jelas. Tapi kenapa gadis itu pergi secepat ini.
Satu persatu para pelayat sudah beranjak dari tempat, meninggalkan keluarga yang masih berduka. Sulaiman — ayah dari almarhumah Pipit kini membopong tubuh sang istri. Diakan hati pria itu mulai mengikhlaskan kepergian putri mereka satu-satunya.
"Puspa, bunda sama ayah duluan ya. Kamu jangan lama-lama di sini." peringat Sulaiman. Puspa hanya mengangguk pelan. Membiarkan ayah dan bunda pergi. Gerimis hujan masih ada selaku menemani kesedihan Puspa hari ini.
Sedangkan Jaka lelaki itu baru saja merasakan tepukan dari bahunya. Lelaki itu menoleh kesamping, mendapati papa dan mamanya di sana. "Ayo, Nak!" ajak papanya.
Jaka menganguk. Menatap lama nisan yang bertuliskan nama sang pujaan hati. Dalam hati bergumam.
"Selamat jalan, Pit. Saya tidak akan pernah melupakan kamu. Walaupun nanti saya menikah dengan gadis lain. Namun, nama kamu tetap ada di hati saya. Karena kamu cinta pertama saya, Pipit. Semoga kamu bahagia di sana."
Jaka dan kedua orangtuanya pun mulai pergi dari pemakaman itu. Meninggalkan Puspa yang masih duduk bersimpuh di depan kuburan sahabatnya. Gadis itu bahkan tidak peduli bajunya basah.
"Kamu kenapa sih, jahat banget ninggalin aku begini?"
"Kami sakit apa, Pit? Makanya sampe tega ninggalin aku?
"Padahal aku rasa selama ini kamu gak sakit apa-apa. Kenapa kamu ninggalin aku hah? Aku sakit banget, Pit." Puspa menunjukkan kearah hatinya. "Didalam sini sakit banget, Pit."
Gadis itu terus meratapi kepergian sang sahabat. Padahal itu tidak berguna sama sekali. Kepergian Pipit sudah takdir dari sang Kuasa. Tanpa sakit pun, orang bisa meninggal.
Puspa pun bergerak mencium nisan sahabatnya dengan matanya yang terus menangis. "Bahagia di sana, Pit. Tunggu aku di sana, kita akan pergi ke Jannah-Nya bersama-sama kelak nanti."