"Aku harus apa mas, agar kamu maafin aku?" lirih Puspa frustasi sekali. "Saya butuh waktu Puspa," balas Jaka. Lelaki itu menerawang langit-langit kamar, keduanya berbaring di satu ranjang seperti biasanya. "Saya terlalu kecewa sama kamu." Jaka memejamkan matanya, kemudian berbalik memunggungi Puspa. "Aku—" "Sudah dulu Puspa, saya mau tidur." potong Jaka cepat, lelaki itu berusaha masuk ke dalam mimpinya tapi apa daya semua masalah setahun belakangan ini sangat mempengaruhi dirinya. Jaka juga kesal dengan dirinya sendiri, kenapa dia malah sering membayangkan Pipit padahal ia tahu kalau wanita itu sudah tiada. Jaka sudah bertekad akan melupakan Pipit secepatnya supaya tidak terbelenggu terus menerus dengan bayangan gadis itu. Lain dengan Puspa, wanita itu menghela napas berat. Kayaknya

