*** Vivian tidak menyangka akhirnya ia sampai juga di rumah yang betul-betul menerimanya tanpa syarat. Ibunya adalah yang pertama menyambutnya. Disusul ayahnya yang telah merentangkan tangan. Vivian berlari masuk ke dalam pelukan ayahnya. Ia terharu, seharusnya sejak dulu dirinya melakukan ini, berada di dalam pelukan keluarganya. Bukan menyianyiakan hidupnya untuk mengejar seorang Dafa yang jelas-jelas tidak menginginkannya. "Selamat datang kembali putriku," ucap ayahnya dengan aksen Australia yang khas. Vivian mengangguk pasti. Iya, ini cintanya yang sesungguhnya. Mereka mencintainya tanpa syarat dan mengasihinya dengan tulus. Bahkan di umurnya yang sekarang, mereka masih mengutamakan kebahagiaannya. Papanya apa lagi mamanya tak sekalipun mengungkit keputusannya meninggalkan Dafa. Mer

