*** Manda mondar mandir di depan pintu apartemen. Matanya tak pernah lepas dari lif yang sesekali berdenting dan menampakan penghuni apartemen mewah ini namun tak sekalipun ia menemukan Arfa. Beberapa kali Manda berdecak kesal sebab kepergian Arfa sudah mencapai satu jam lebih. "Memangnya dia beli pembalut ke neptunus?" tanya Manda kepada angin yang terus berhembus. Perempuan itu benar-benar kesal. Arfa juga tak sekalipun mengangkat panggilan telponnya karena hp lelaki itu ada di dalam. "Sial!" umpat Manda. Sejujurnya Manda curiga dan cemburu, takut Arfa menemui seseorang yang juga ada di apartemen ini, di lantai yang berbeda. Tetapi di setiap rasa curiga dan cemburu itu, Manda sangat mengkhawatirkan Arfa. Ada semacam ketakutan yang selalu mendominasi Manda. Mungkin sejenis trauma s

