*** Sinar matahari pagi menembus balkon apartemen Arfa. Seseorang sedang berjemur di sana sambil menutup mata. Arfa tidak pernah bisa melupakan senyum yang terpatri pada wajah perempuan itu sejak pertama kali mereka bertemu. "Vivian," Arfa menyebut namanya. Bagai dalam sebuah drama yang terputar, perempuan itu menolehkan kepalanya secara perlahan. Rambut panjangnya yang tergerai disapu angin sepoi-sepoi. Arfa terpana untuk yang kesekian kalinya. Semalam Vivian datang dari Aussie secara mendadak. Meminta Arfa menjemputnya di bandara dan memaksa untuk menginap di apartemen lelaki itu. Terpaksa Arfa menyuruh Manda untuk berkemas dan pergi sementara waktu setelah mentransfer gaji pertama perempuan itu. Bahkan Arfa memberinya uang lebih untuk menginap di hotel saja. Manda sempat bertanya da

