7. Luka yang tak pernah sembuh

1339 Kata
Seperginya keluarga Kalea dari rumah besar itu, Adam langsung menarik kerah baju belakang Elric. Membawa adik, yang berusia dua tahun di bawahnya itu ke gudang di ruang bawah tanah. Ia langsung mendorong Elric dari tangga membiarkannya jatuh meluncur ke bawah karena kehilangan keseimbangan. "Berlebihan sekali..." Elric bergumam. Mencoba bangun, merasakan tubuhnya nyeri terbentur anak tangga dan lantai. Tidak cukup dengan itu, Adam langsung melompat memukul wajahnya. Elric tersungkur jatuh, itu pukulan yang keras disertai amarah yang meledak ledak. Setelah menahannya, akhirnya Adam bisa melampiaskannya kepada orang yang membuatnya tersulut. "Kurang ajar! Bangs*t! Kau, kau selalu saja menghancurkan semuanya! Dasar bajing*n!" Buk! buk! buk! Sekarang tubuh Elric bagaikan samsak tinju. Ia menerima dengan pasrah setiap pukulan dan tendangan yang diarahkan Adam padanya. Di rumah ini, sejak dulu ada peraturan tak tertulis. Tidak boleh membuat Adam terluka. Bahkan pembantu yang gagal menjaga Adam saja langsung dipecat tanpa pesangon di hari itu juga. Peraturan itu juga berlaku untuk Elric, jika ia membalas pukulan Adam, itu tidak akan berakhir hanya dengan diikat di gudang ini dan dibiarkan kelaparan tiga hari. "Adam," nyonya rumah ini, Rose, ibu Adam dan Elric tiba tiba datang. "Jangan membuat wajahnya hancur. Dalam waktu dekat bisa saja keluarga Kalea mau menemuinya." Yeah, Elric berharap apa. Tidak mungkin wanita setengah baya itu menghentikan anak sulungnya yang sedang melampiaskan amarah. Setelah mengatakan itu, Rose pergi. Sama sekali tidak punya niatan untuk melerai dua anaknya, atau lebih tepatnya menahan Adam yang sedang menghajar Elric. Elric harus menghadapinya seorang diri. Baik dulu saat ia kecil, maupun sekarang saat mereka sama sama dewasa. "Kenapa lo bilang kaya gitu, sialan?! Lo sengaja?! Lo ngerayu Kalea supaya lo punya posisi di rumah ini ha?! Cuih! Gak akan." Adam meludahi tubuh Elric yang tersungkur di lantai memegang perutnya yang dihajar habis habisan. "Lo udah tenang tenang hidup di Amerika malah pulang dan buat masalah. Lo pikir papa bakal diam aja?!" Bugh! Kaki Adam mendang dengan keras d*da Elric. Bahkan tak peduli melihat darah keluar dari mulut adiknya yang terbatuk. Adam menarik rambut Elric ke belakang dengan keras hingga kepalanya terbentur tembok. Matanya merah melotot penuh amarah. "Kalea itu milik gua! Mau gimanapun, trik busuk lo itu nggak akan berguna." tukasnya. Elric dengan nafas tersengal dan wajah menahan sakit menunjukkan senyuman merendahkan. "Sayangnya aku tidak menggunakan trik apapun. Kalea sendirilah yang memilihku." Elric menekankan kata terakhirnya. Kalimatnya yang penuh provokasi menyulut kembali api kebencian dalam diri Adam. Adam pun melayangkan kembali tangannya. Padahal Elric tahu ia tidak boleh melawan dan tidak bisa mengelak tapi tetap saja melihat wajah frustasi dan penuh kekalahan milik Adam membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengejek lebih jauh lagi. "Dasar anak anjing! k*****t, anak pembawa sial!" Setelah melihat darah mengucur dari kepala Elric, barulah Adam berhenti. Tidak ada rasa bersalah sama sekali melihat tubuh adiknya yang hampir pingsan di lantai gudang. Yang ada hanya amarah dan perasaan ingin anak ini mati. Brak! Adam membanting pintu gudang. Menguncinya dari luar. Ia tidak akan membiarkan Elric keluar atau siapapun memberinya obat. Adam tidak peduli jika Elric mati, itu takdirnya karena melawannya hari ini. Elric sendiri, ia tahu akan berakhir seperti ini. Dan belum selesai. Mungkin tengah malam nanti atau besok ia juga harus menahan amukan dari papanya. Tapi Elric tidak menyesal. Habisnya, melihat wajah Adam dan orang tuanya yang terkejut dan takut padanya benar benar menyenangkan. Itu sangat sepadan. Benar benar menghibur. Ia terkekeh kecil sebelum benar benar kehilangan kesadarannya yang sudah menipis. *** Sebelum pulang tadi Kalea sempat bertukar nomor telepon dengan lelaki berambut blonde itu. Tapi bahkan hingga tengah malam menunggu tidak ada pesan maupun telepon darinya. Padahal tadi katanya butuh penjelasan. Tapi malah tidak menghubungi. Kalea merasa bingung, ia tidak bisa tidur setelah melakukan hal memalukan tadi. Tapi di saat yang bersamaan ia juga gengsi untuk menelepon duluan dan menjelaskan situasinya supaya tidak dianggap sebagai gadis aneh. Setelah berfikir lama, hingga tengah malam hampir berakhir. Kalea akhirnya mengetikkan pesan untuk lelaki berambut blonde itu. 'Ini Kalea. Soal tadi maaf dan terima kasih. Aku mau menjelaskannya padamu, apa kapan kapan kita bisa bertemu?' -Kalea Setelah mengetikkan pesan, Kalea membuang hp nya jauh jauh. Ah ia merasa takut dengan balasan Elric. Kenapa seolah olah Kalea mengharapkan bertemu lagi? Tapi bukankah tidak sopan kalau dijelaskan lewat telepon. Apalagi ini menyangkut perasaan. Kalea pun mengambil kembali ponselnya. Mengetikkan pesan kedua. 'Tapi jika tidak bisa bertemu segera tidak apa apa. Saat kau senggang saja, jangan merasa terbebani." -Kalea "Aargh! Sialan aku malu banget..." Kalea kembali membuang ponselnya. Menjauh dari benda kotak yang bisa menerima pesan itu. Kalea memutuskan untuk menarik selimut saja dan pergi tidur. Ia rasa mungkin Elric sudah tidur atau mungkin ia sengaja tidak membalas pesan Kalea untuk mempermainkannya. Elric kan memang lelaki seperti itu. Dari pembicaraan singkat hari ini Kalea tahu bahwa Elric suka bermain main, ia juga lumayan kurang ajar, meskipun fisiknya benar benar mengagumkan. Adam itu sudah tampan. Bahkan mungkin bisa dibilang lelaki tertampan yang Kalea kenal. Setara model majalah lah. Karena ibu Adam memang sangat cantik, orang luar negeri. Tapi adik Adam yang baru Kalea lihat dengan jelas hari ini, berambut blonde, hidung mancung, mata tajam, kulit putih pucat, dan rahang tegas... Elric benar benar di level yang berbeda. Kalea rasa ia hampir sembilan puluh persen mewarisi genetik ibunya. Wajahnya bikin ketagihan. Kalea bahkan entah kenapa merasa ingin bertemu sekarang. Ingin mengobrol dengan Elric meskipun ia menyebalkan. Di mata Kalea, Elric itu terlihat keren. Dia tidak seperti Adam yang pura pura baik demi menyenangkan orang tuanya. Bagi Kalea, meskipun terkesan kurang ajar, Elric sangatlah menarik dengan kepribadiannya yang apa adanya. "Elric Adnan Vernando..." Kalea bergumam kecil sebelum ia menutup mata dan tidur. Mengingat nama laki laki yang mencuri perhatiannya hari ini. Juga pencuri first kiss nya. Di saat Kalea membayangkan pertemuan kedua dengan Elric, pertemuan yang menyenangkan dan asik, di saat itu Elric melewati malam yang menyakitkan. Setelah Adam selesai dengannya. Kini gantian ia harus menghadapi amarah sang ayah. Bagi Elric, serangan fisik bisa ia toleransi dengan cepat. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kekerasan jadi tubuhnya seakan punya sistem imun dan penyembuhan yang cepat. Hanya saja... "Kau ini bukan anakku! Kau ini anak hasil perselingkuhan. Anak hasil hubungan haram yang tidak diharapkan. Berani sekali kau mau merebut posisi Adam!" Elric ingin telinganya jadi tuli sekarang supaya tidak perlu mendengar kata kata kejam dari orang yang selama ini ia panggil 'ayah'. Elric sebenarnya sudah tidak peduli lagi dengan statusnya di rumah ini. Ia seharusnya sudah kebal mendengar kalimat yang diulang ulang itu sejak ia kecil. Tapi tetap saja. Luka di hatinya belum pernah kering. Setidaknya... Setidaknya jika ia bukan anak orang ini, bukankah ia tetap anak mamanya? Tapi wanita itu sama sekali tidak peduli. Malah lebih sering menatapnya jijik. Hei bagaimanapun juga bukankah ia tetap seseorang yang lahir di dunia ini melalui manusia. Meskipun dari hasil perselingkuhan... Tapi ia tidak melakukan dosa apapun. Apakah lahir saja sudah sebuah dosa untuknya? Elric menutup matanya rapat rapat. Ibunya, Rose, selalu tidak menyangkal kalimat itu padahal jelas itu ditujukan untuknya. Seakan membenarkannya. Seakan menyalahkan kelahiran Elric. "Cuih!" Akhirnya selesai. Elric sudah bisa beristirahat meskipun di dalam gudang yang kotor dan dingin. Meskipun dengan tubuh yang remuk tanpa diobati. Tanpa ada yang peduli. Kalea... apa semua ini setimpal? Elric harap gadis itu setidaknya bertanggung jawab atas kata katanya. Gadis itu bilang ia suka wajahnya yang tampan bukan? Elric sedikit penasaran, seberapa lama gadis itu akan menatapnya dengan perasaan suka. Setelah tahu bagaimana Elric diperlakukan atau setelah tahu bagaimana busuknya cara Elric berfikir. Apakah Kalea akan tetap menyukainya? Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, suara notifikasi samar terdengar dari sakunya. Dengan tangan gemetar, Elric menarik ponselnya, yang layarnya hancur. Tapi untung saja masih menyala dan terlihat. Dua pesan: dari Kalea. Tapi mata Elric sudah kabur. Ia hanya sempat membaca namanya sebelum pingsan. Tubuhnya sakit sekali. Tapi di hatinya, entah kenapa jauh... jauh lebih nyeri. Elric harap ia tidak perlu bermimpi buruk malam ini. Ia harap, tidak perlu ada ingatan masa lalu lagi yang mengganggunya. Ia harus tidur dan segera pulih. Lalu menemui gadis itu untuk mendapatkan jawaban. ‘Kalea..." Elric menggumamkan namanya sebelum kegelapan benar benar menelannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN