10. Gadis yang dicintai Adam

1447 Kata
Elric tidak bisa mengantar Kalea pulang dengan sepeda ontelnya. Jarak antara kampus dengan rumah Kalea jauh. Sekitar 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Lagipula Kalea selalu diantar jemput sopirnya, kali ini benar benar sopir pribadi keluarganya bukan mata mata dari Adam. "Elric..." Sebelum masuk ke mobil, tangan Kalea menahan ujung kemeja lelaki itu. Elric menoleh. Ada apa? hanya bertanya melalui tatapan. "Jangan menghilang lagi tanpa kabar. Meskipun hubungan kita hanya pura pura tapi aku tidak tenang kalau kamu tiba tiba tidak bisa dihubungi. Rasanya seperti ditinggalkan. Kalau mau putus setidaknya kabari sebulan sebelumnya biar aku jaga jaga cari cowok lain." "Iya, akan kulakukan." Elric menjawab pendek. "Ada lagi?" tanyanya kemudian. "Besok, apa kamu bisa menemaniku menjenguk Annie di rumah sakit?" Elric terlihat berfikir sebentar. "Ku kabari besok. Aku akan menjemputmu jika bisa." "Tapi rumah sakitnya jauh, tidak akan bisa ditempuh dengan sepedamu. Apa mau aku aja yang jemput?" "Aku bisa beli mobil besok. Sebenarnya aku bisa menyetir kok meskipun sudah lama tidak melakukannya." Kalea terdiam sejenak. Ia menepuk nepuk telinganya, mengoreknya takut salah dengar karena mungkin tertutupi congek (kotoran telinga). "Tadi kamu bilang apa?" tanyanya. "Aku bilang bisa menjemputmu besok dengan mobil.." "Dengan mobil? Mobil siapa? Kamu punya mobil? Kalau punya kenapa hari ini datang dengan sepeda kayuh?" Elric menggeleng. "Aku belum punya, Kalea. Tapi aku akan beli besok." "NAH INI! Kupikir aku salah dengar. Hei Elric, aku tidak tahu ini karena kamu kelamaan tinggal di luar negeri atau emang kamunya gak tau. Mobil itu berbeda dengan sepeda ontelmu atau hp yang baru kamu beli. Kamu gak bisa membeli mobil asli yang bisa ditumpangi manusia kaya mau beli gorengan di pasar Senin." Kalea berseru panjang, menjelaskannya pada Elric yang terlihat polos? Seperti laki laki yang asal ngomong dan tidak tahu arti kata katanya. "Memang ada syarat lain buat beli mobil selain punya uang?" Kalea mendesah panjang, ya memang hanya itu syaratnya! Tapi ia rasa tetap saja Elric ini tidak paham. "Mobil itu mahal Elric, gak seharga dua puluh tiga puluh juta. Memangnya kamu pikir orang tuamu bakal langsung mengiyakan kamu mau beli mobil baru besok?" "Oh itu yang kamu khawatirkan. Tenang aja. Aku pakai uangku sendiri." Kalea mengusap wajahnya. Kemudian mengangguk saja dan percaya meskipun seratus persen masih meragukan pengetahuan Elric tentang negara ini. Elric itu memang laki laki yang penuh kejutan. Hanya saja, sangat super mengejutkan kalau dia tiba tiba dengan santai membeli mobil besok hanya untuk mengantarnya ke rumah sakit. "Elric pokoknya kamu nanti harus tanya soal harga dulu ya. Jangan sampai kena rayuan sales yang nyuruh buat beli kredit kalau uangmu gak cukup." Kalea menatap dengan lekat. Ia benar benar serius atas nasehatnya. Elric tertawa kecil. Hanya mengangguk singkat saja sebagai jawaban kemudian mengambil sepeda kayuhnya dan pulang ke arah yang berbeda dari Kalea. "Bye, Kalea." Elric melambaikan tangan. Kalea membalas lambaian tangannya. Ia tiba tiba khawatir besok Elric kena tipu sales mobil dan berakhir kena marah orang tuanya. *** Sore, pukul lima. Mobil hitam mengilat itu berhenti mulus di depan rumah Kalea. Kalea yang sedang mengecek jam tangan hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat siapa yang duduk di balik kemudi. Gadis itu bergegas turun ke bawah, membuka pintu dan berlari mendekat. “Elric? Kamu… beli mobilnya beneran?!” Elric membuka jendela, mengenakan kacamata hitam, dan menurunkan volume musik klasik yang mengalun pelan. “Iya, katamu aku nggak bisa menjemputmu kalau nggak punya mobil.” “YA TAPI! Astaga, ini mobilnya masih bau showroom! Kamu baru beli hari ini?!” Kalea berteriak tak percaya “Elric… ini bukan mobil bekas kan?” Kalea menajamkan mata, mencium aroma jok kulit yang masih segar. Elric tidak menanggapi. Ia pikir itu tidak perlu dijawab. Yang jelas ia sudah menjemput gadis ini sesuai jam janjian dengan mobil bukan sepeda kayuh. "Kamu sudah siap? Ayo berangkat." Kalea mengangguk. Ia sudah mandi, memakai baju yang sopan, dan berdandan tipis tipis. "Elric kamu benar benar gila. Apa uangmu sebanyak itu?" tanya Kalea. Ia jadi malu karena kemarin mau membayar Elric dengan 40% uang sakunya yang setara UMR. Pantas saja Elric kemarin menertawakannya. "Yeah, tidak juga. Tapi cukuplah kalau cuma buat beli mobil." Sungguh pernyataan yang kontras sekali. Artinya sangat berkebalikan. Kalau cuma buat beli mobil. Elric benar benar menganggap mobil ini cuma gorengan di pasar Senin. "Emangnya kamu punya pekerjaan apa?" tanya Kalea. "Ya ada." "Elric kamu tidak menggunakan badanmu untuk menghasilkan uang kan?" Kali ini Elric menoleh sesaat setelah lampu merah. Melihat ekspresi Kalea yang serius mengkhawatirkannya. "Maksudmu gigolo?" tanya Elric memastikan arti kalimat Kalea. Gadis itu mengangguk patah patah. Ragu. Jangan jangan benar, soalnya Elric santai sekali menyebutnya. Elric bukannya menjawab malah menjulurkan tangannya dan menjitak keras keras dahi Kalea. Kalea mengaduh sakit, memegang keningnya yang pasti merah. "Jangan berfikir liar. Aku menggunakan otakku untuk menghasilkan uang bukan dengan badanku." Bibir Kalea mengerucut. Masih mengusap keningnya yang nyeri. "Ih kan bisa menjawab baik baik gak perlu sampai menjitak. Sakit tahu!" Keluhnya. "Habisnya kamu mikirnya sampai kesana." "Ya kan aneh aja! Lagipula pekerjaan apaan yang sampai bisa dipakai buat beli mobil." Elric menghembuskan nafas berat. Wajar saja Kalea berfikir begitu. "Selama kuliah di Amerika aku bekerja part time untuk menghasilkan uang. Selain untuk hidup, beberapa ku sisihkan untuk ditabung dan memulai bisnis kecil. Bisnisnya sudah berjalan 3 tahunan sampai sekarang. Kamu sendiri juga tahu bedanya kurs di Amerika dan Indonesia. Jadi ya, kalau dipakai di sini uangnya jadi banyak." Elric menjelaskan dengan lebih baik supaya Kalea berhenti salah paham padanya. Kalea mengangguk angguk. Gadis itu sebenarnya tertarik untuk bertanya lagi tapi Elric sudah menyetop mulutnya. Elric tidak mau membicarakan soal dirinya kecuali hanya untuk meluruskan kesalahpahaman. Mungkin dia penganut prinsip lelaki tidak bercerita. "Lebih baik ceritakan tentangmu. Makanan kesukaan, musik, atau film. Supaya di kencan berikutnya aku bisa memilih destinasi yang tepat untuk kita berdua." Kencan berikutnya... mata Kalea berbinar senang. Tentu saja ia akan menceritakan sedetail mungkin tentang dirinya pada Elric dengan senang hati. Ia pasti akan sangat menantikannya. Pertemuan kembali dengan Elric dalam kencan yang pura pura. Ia harap akan menyenangkan. Tak berapa lama, kurang dari 1 jam dari keberangkatan, mereka sudah sampai di rumah sakit. Kalea membawa sekeranjang buah buahan segar sebagai buah tangan. Sedangkan Elric hanya mengekor saja di belakang. Yang ingin menjenguk kan Kalea, jadi Elric tidak membeli apapun. Mereka berdua naik lift ke lantai 3 dimana ruangan VVIP berada. Kalea yakin, Adam lah yang mengurus semuanya hingga membayar biaya rumah sakit ini agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk Annie. "Hei, apa kamu kenal dekat dengan Annie juga?" masih di lift, dimana hanya ada ia dan Elric, Kalea bertanya lirih. Perasaannya campur aduk. "Hanya sekedar tahu, Annie teman bermain Adam waktu kecil dulu." jawab Elric apa adanya. Tanpa emosi. Ia memang tidak dekat dengan Annie. Annie adalah gadis yang ada di hidup Adam, bukan Elric. Ujung mata Elric melirik Kalea. Gadis itu terlihat gugup, jemarinya bergerak gerak gelisah memainkan plastik keranjang buah. "Kurasa Annie bukan gadis yang jahat." Di kehidupan sebelumnya pun Kalea juga tahu bahwa Annie adalah gadis yang baik. Annie berbeda dari Adam. Annie malah terlihat sebagai satu satunya wanita yang bisa menetralisir sifat iblis Adam. Seperti herroin yang membuat rasa iblis tunduk dengan kecantikan dan kebaikannya. Gadis yang cantik, baik, lembut, penyayang, bahkan Kalea tahu satu satunya kelemahan Annie hanyalah ia sering sakit sakitan dan keluarganya bangkrut setelah ayahnya meninggal. Meskipun Kalea tidak yakin apakah itu bisa disebut sebagai kelemahan karena dengan itu Adam selalu melindungi dan berada di sisi Annie hingga mencampakkan Kalea. "Elric, apa kamu pernah suka dengan Annie? Apa kamu dan Adam tidak akur gara gara memperebutkan gadis itu?" Kalea bertanya, ada nada sedih dan kekalahan dalam suaranya yang pelan. "Kenapa berfikir begitu?" bukannya langsung menjawab ya atau tidak, Elric malah balik bertanya. Karena di kehidupan sebelumnya, Kalea tahu betapa Annie seperti malaikat bagi Adam. Bahkan Kalea tidak bisa menandinginya. "Hanya penasaran aja. Rasanya kalau iya, aku ingin membatalkan kesepakatan kita." Kalea tahu ini adalah rasa rendah diri. Dari gadis yang dicintai oleh Adam sedalam itu. Hingga Adam membujuk Kalea agar mendonorkan ginjalnya. "Satu satunya gadis yang membuat Adam lebih membenciku adalah kamu, Kalea. Aku dan Annie tidak pernah dekat, bahkan kami hanya tahu sekedar nama saja." Elric menjawab dengan jujur. Ia juga tidak tertarik pada Annie. Bagi Elric, Annie hanya gadis yang merepotkan karena sejak kecil sakit sakitan. Ia sendiri sudah repot dengan rasa sakitnya, tidak akan punya waktu untuk ikut merawat gadis yang sakit. Begitu pikiran sederhana Elric berjalan. Ia bukan Adam yang punya banyak waktu dan tenaga untuk mengurus Annie. Bahkan sampai mencampakkan tunangannya sendiri. Elric sejak dulu tahu bahwa cinta Adam pada Annie memang sebesar itu. Jadi tidak kaget mengetahui fakta bahwa pertunangannya dibatalkan. "Syukurlah jika begitu..." Kalea bergumam pelan. Sekarang ia bisa masuk ke ruangan milik wanita yang dicintai Adam dengan perasaan lebih tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN