26

1041 Kata
"Farhan?" ucap Fajrin terkejut, ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. "Ya, ini aku. Apa maksud kamu mengatakan seperti itu? Apakah aku melakukan kesalahan kepada mu sampai-sampai kau mengatakan hal mengerikan itu?" tanya Farhan yang langsung terkejut saat mendengar ucapan Fajrin, begitu juga dengan Susi dan juga Sinta. Seketika Fajrin gelagapan, ia bahkan tidak tau harus menjawab apa. Ingin rasanya ia mengatakan kalau kalimat itu ia lontarkan kepada Rodo, namun sayangnya ia tak ingin lagi kalau sampai Farhan terlalu tau dan terlalu ikut campur dalam urusan keluarganya. "Ah tidak, aku benar-benar minta maaf atas ucapan ku. Tadi ada orang yang sedikit menyebalkan datang ke mari, dan dia membuat darah ku sedikit mendidih. Aku pikir dia kembali lagi, tapi ternyata aku salah orang dan ucapan ku tepat sasaran, eh maksud ku salah sasaran" kata Fajrin. Ya, memang pada kenyataannya ucapannya bukan kepada Farhan, melainkan kepada Rodo. Tapi setelah melihat Farhan ada di hadapannya, ia juga seolah menujukan kalimat itu kepada Farhan karena ia juga sangat membenci Farhan. "Benarkah? Sejak kapan Fajrin yang aku kenal menjadi pendendam seperti ini? Dan kalau boleh tau, siapa kira-kira orang yang sangat di benci oleh Fajrin ini?" tanya Farhan mencari tahu. "Ah sudahlah lupakan saja, itu tidak penting lagi sekarang, nggak ada gunanya membahas dia. Ayo masuk, sangat tidak enak jika kita berdiri di sini dsn berbincang-bincang di sini seolah pemilik rumah tak mempersilakan masuk" canda Fajrin sambil terkekeh, lalu ia masuk yang di susul oleh Farhan dan juga yang lainnya. Tanpa Fajrin sadari, orang yang ia bicarakan masih berada di sana dan mendengar semua yang ia katakan. Dengan amarah yang melebihi amarah Fajrin, Ia mengepalkan tangannya dan bersumpah pada dirinya untuk tidak akan membiarkan Fajrin dan keluarganya bahagia, meski ia memiliki firasat kalau Fajrin adalah darah dagingnya sendiri. "Orang menyebalkan? Membuat darah mu mendidih? Haha, ayo kita lihat, seberapa mendidihnya darah mu jika aku bertindak lebih dari ini. Aku mencoba untuk bekerja sama dengan mu, tapi kau justru mengabaikan ku dan bahkan mengusir ku. Aku tidak tahu pasti dengan ramuan mu itu, tapi sepertinya kau mengerti apa yang sedanv aku rencanakan" kata Rodo, ia masih saja mengepalkan tangannya sebelum ia memerintahkan Kodir untuk melajukan mobil dan meninggalkan kediaman Farhan. Meski Rodo berkata ia berniat baik dengan meminta Fajrin bekerja di perusahaannya yang lebih tepatnya adalah perusahaan Bayanaka, namun pada kenyataannya ia memiliki rencana yang amat jahat untuk itu. Semua sudah di rencanakan dengan sangat matang oleh Rodo, namun semua belum bisa terlaksana dengan baik. Ia ingin membuat Fajrin bekerja di perusahaannya hanya untuk membuat Fajrin masuk ke dalam perangkapnya, dengan begitu ia bisa menjebak Fajrin dan mengatakan Fajrin berusaha untuk merampas perusahaan karena dulunya yang menjadi pemilik adalah Bayanaka, ia akan mempengaruhi orang-orang dengan mengatakan kalau Fajrin adalah orang jahat dan berusaha mendapatkan semuanya dengan cara jahat. Bukan hanya itu saja, Rodo berencana untuk mendapatkan Irana sebagai istrinya, karena sejak Fajrin menikah dengan Fajrin, ia merasa jatuh cinta kepada Irana, sama halnya kepada Alma. Dapat di simpulkan bahwa Rodo memiliki rasa iri, ia selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang menjadi milik keluarga Bayanaka, karena dirinya sudah di pengaruhi oleh kebencian yang amat mendalam karena patah hati. Fajrin menatap Farhan dengan tatapan bertanya-tanya, ia juga tak mengerti kenapa Farhan bisa tiba-tiba ada di rumahnya. Sementara Farhan, ia berusaha menelusuri rumah Farjin dengan sudut matanya, seolah mencari sesuatu yang kini ada di dalam hatinya. "Apa yang membawa mu ke mari, Farhan?" tanya Fajrin. "Ah begini, kebetulan hati ini weekend, kami berencana untuk mengajak kalian pergi jalan-jalan" kata Farhan. Irana dan Fajrin saling pandang, seolah saling meminta persetujuan masing-masing. Sebenarnya keduanya ingin menolak, di balik mereka sangat malas untuk pergi dengan Farhan dan keluarganya, mereka juga memiliki kesibukan lain. Fajrin yang baru mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian seharian penuh, harus kehilangan beberapa menit waktunya karena kedatangan Rodo, di tambah lagi dengan kedatangan Farhan yang semakin menghabiskan waktunya. Melihat Irana dan Fajrin terdiam, Ares langsung berinisiatif untuk mengambil kesimpulan. "Ma, pa! Bukankah kita tidak akan ke mana-mana hari ini?" tanya Ares. "Wah bagus dong, berarti kalian tidak memiliki kesibukan dan rencana hari ini, itu artinya kita pergi bersama, bukan?" tanya Farhan, dengan penuh bahagia, ia yakin kali ini ia akan berhasil. Oh anak pintar, terima kasih karena telah mendukung om. Sepertinya Fajrin dan Irana akan menolaknya, tapi beruntung Ares langsung mengatkaan demikian, dengan begitu mereka tidak akan bisa menolak ajakan ku. Meskipun kalian marah pada ku dengan apa yang pernah aku lakukan yang kalian ketahui, tapi aku yakin, dengan hubungan kita yang semakin dekat, kalian pasti akan melupakan hal itu lambat laun dan kembali memberikan kepercayaan kepada ku, batin Farhan. "Bukan begitu, Om Farhan. Kami tidak akan ke mana-mana hari ini, dan itu artinya kami juga tidak akan ikut dengan om dan juga tante. Kami memilih untuk tetap di rumah karena aku memiliki banyak PR yang harus di selesaikan, jadi sepertinya kami tidak bisa ikut bersama kalian" kata Ares. "Pa, Ma, kalian tidak akan pergi tanpa Ares kan?" tanya Ares kepada kedua orangtuanya. Jleb... Hancur sudah harapan Farhan, ia tak menyangka kalau Ares justru mendukung kedua orangtuanya untuk tidak ikut bersama mereka. Sial, ternyata aku salah menduga. Aku pikir dia akan mendukung ku dan akan pergi bersama ku, tapi kenyataannya dia justru mengajak mereka untuk tetap tinggal di rumah ini dan meminta kami untuk pergi, benar-benar apes, sia-sia aku datanh ke sini, batin Farhan. "Maaf, Han. Sepertinya Ares sudah memberikan jawaban. Kami tidak mungkin pergi tanpa Ares, sementara kami tidak mungkin memaksa Ares untuk ikut dan mengabailan PR-nya itu" kataFajrin merasa tertolong. "Oh benarkah? Yasudah kalau begitu, kita masih memiliki banyak waktu untuk pergi bersama. Kalau begitu sebaiknya kami pergi dulu, kami tidak mungkin mengganggu kalian di sini" kata Farhan sedikit melebut meski dalam hatinya sangat memanas. "Oh baiklah, tapi aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa pergi dengan kalian. Semoga kedepannya kita memiliki waktu libur bersama, dan pergi berlibur bersama" ucap Fajrin yang di jawab dengan anggukan oleh Farhan. Farhan bangkit dari duduknya dan keluar mendahului Susi dsn Sinta, ingin rasanya ia murka, namun ia sadar akan posisinya. Sementara Fajrin dan Irana serta Ares, mereka memperhatikan kepergian Farhan. Tak ada lagi orang yang mengganggu mereka, namun pikiran Fajrin justru merasa terganggu dengan setiap kalimat Ares, lalu Fajrin nenatap Ares dengan tatapan ysng sulit di artikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN