Dua puluh lima

1231 Kata
"Sepertinya kau sangat takut melihat ku, apakah aku semenakutkan itu?" tanya Rodo. Irana hanya terdiam, ia sama sekali tak ingin menggubrisnya. Yang ada dalam hatinya bukanlah rasa takut, namun kebencian yang amat dalam yang sangat sulit untuk ia hapuskan. Itulah Irana, jika sakit hati sudah muncul di hatinya, maka akan sulit baginya untuk menghapus dan memaafkan, hal yang sama yang ia lakukan kepada Farhan dan keluarganya. Ia akan tetap memaafkan kesalahan kecil, namun tidak dengan kesalahan besar dan fatal "Jangan membuat raut wajah mu seperti itu, kau harus menaruh rasa sopan santun terhadap paman mu, bukan sikap seolah menantang seperti itu. Seharusnya kau menyambut paman mu dengan sambutan hangat, tapi kau justru sangat dingin dan mengundang amarah. Tapi sudahlah, aku ke sini karena ingin bertemu dengan suami mu, di mana dia?" tanya Rodo. "Di dalam" jawab Irana singkat. "Lihat diri mu, kau menjawab tapi kau sama sekali tidak mempersilahkan ku untuk masuk, apakah Fajrin mengajarkan mu untuk bersikap seperti ini kepada tamu?" tanya Rodo. "Tidak paman, aku tidak pernah mengajarkannya untuk bersikap tidak sopan kepada tamu. Tapi aku mengajarkannya untuk tidak merespon orang yang tidak memiliki akhlak, dan dia bahkan tau hal itu tanpa harus aku ajari" ucap Fajrin yang tiba-tiba muncil dan menemui mereka. Awalnya Fajrin masih sibuk dengan penelitiannya, namun Ares yang berniat untuk menemui Irana ke dapur, melihat apa yang terjadi di depan pintu, lalu ia bergegas masuk ke kamar Irana dan pergu ke ruang bawah tanah untuk memberitahukan yang terjadi kepada Fajrin. "Silakan masuk, paman. Terima kasih karena telah menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah ku setelah puluhan tahun tak pernah menemui ku" lanjut Fajrin, sementara Rodo hanya bisa menatap Fajrin dengan tatapan kesal. Entah apa yang Rodo lakukan, selama ia berjalan masuk ke rumah Fajrin, ia menelusuri seisi rumah itu dengan sudut matanya, ia melihat setiap sudut seolah sedang mencari sesuatu. Bahkan, setelah mereka tiba di ruang tamu, Rodo masih tetap saja melihat seisi rumah itu. "Apakah ada yang sedang kau cari, Paman?" tanya Fajrin. "Apakah dengan melihat berarti kita sedang mencari?" tanya Rodo dengan senyum andalannya. "Aku hanya ingin melihat kelayakan rumahmu, aku ingin melihat apakah istri dan juga anakmu bisa bahagia denganmu atau tidak. Sebagai paman kamu, aku tidak ingin di cap jelek karena telah membiarkan kalian hidup di tempat yang tidak layak, dan aku juga tak ingin kalau sampai Ares tidak terurus" lanjut Rodo. "Tak perlu khawatir paman ku tersayang" ucap Fajrin menekankan kata sayangnya. "Aku bisa mengurus keluarga ku, aku bisa mencukupi keluarga ku, dan aku bisa membahagiakan keluarga ku. Di balik itu semua, aku juga memiliki istri yang bisa aku ajak untuk bekerja sama dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia, jadi tidak ada yang perlu di takutkan" kata Fajrin. "Sebaiknya paman memikirkan diri paman sendiri, mencari seseorang yang bisa melengkapi kehidupan paman seperti aku yang sudah mendapatkan kelengkapan hidup ku. Jangan terlalu menghabiskan waktu mu untuk mengurusi urusan orang lain paman, sementara diri paman sendiri belum bisa paman urus" lanjut Fajrin. Mati kutu, hanya itu yang Rodo rasakan saat ini, ia bahkan sangat sulit untuk membuka mulutnya. Jika perhatikan, dia bahkan lebih parah dari ibu-ibu kompleks yang suka bergosip dan mengkritik kehidupan orang lain namun tidak melihat dirinya terlebih dahulu. "Sepertinya, paman memiliki maksud untuk datang ke sini, dan sampai saat ini aku belum menemukan maksud kedatangan paman ke sini untuk apa" kata Fajrin lagi. "Bukankah aku sudah bilang? Aku ke sini untuk melihat kelayakan rumah mu dan tanggung jawab mu sebagai suami untuk menafkahi istri dan anak mu. Jika kau tidak mampu, maka aku ingin mengajak mu untuk bekerja dengan ku di perusahaan ku. Bukankah sangat sulit untuk mu hidup di sebuah perusahaan kecil dengan gaji kecil? Dengan bekerja dengan ku, maka kehidupan mu bisa terjamin. Kau bisa menjamin masa depan anak mu dan kau bisa membahagiakan mereka. Aku ke sini hanya untuk menawarkan saja, dan aku tidak selalu baik seperti ini. Ada saatnya hati dan pikiran ku berubah-ubah, dan saat itu pula aku tidak akan pernah memiliki sedikit rasa iba pun terhadap mu. jadi sebaiknya terima saja tawaran ku, dengan begitu kau akan menjadi orang besar” kata Rodo. “Haha. Bekerja dengan mu? di perusahaan mu? apakah aku tidak salah dengar? Apakah aku sedang bermimpi? Atau mungkin kamu tidak sadar diri? Betapa rendahnya diri mu paman, kau tidak bisa membanggakan apa yang telah kau hasilnya hingga kau berusaha untuk memamerkan apa yang telah papa ku raih. Kau tau, kau adalah paman yang sangat menjijikkan yang pernah aku temui, kau adalah pria biadap yang dengan tanpa dosa merebut apa yang papa ku kerjakan, papa ku perjuangkan selama ini. begitu besarnya perjuangan papa ku untuk bisa mencapai titik sukses, namun dengan kejamnya kau merebut semuanya” kata Fajrin dengan amarah yang berusaha ia pendam sedari tadi. “Bukankah itu sangat menyenangkan? Bukankah itu sangat hebat? Kau mengatakan aku menjijikkan? Seharusnya akulah yang menjadi teladan negara karena aku bisa mendapatkan kesuksesan hanya dengan duduk manis di rumah dan menjadi orang yang kaya dan terpandang tanpa harus bersusah payah untuk mendekati mereka. seharusnya kau sadar kalau dirimulah yang menjijikkan, kau bekerja di tempat kumuh dan bahkan bertahan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Dan aku juga sangat yakin, kau pasti selalu berusaha menjilat atasan mu supaya dia memberi wajah kepada mu dan dia akan terus memakai mu sebagai kesetnya. Bukankah itu sangat menjijikkan? Bahkan hal itu sangat mirip sampai-sampai aku bergidik ngeri mendengarnya” kata Rodo tak mau kalah. Hancur sudah pertahanan Fajrin, amarahnya kini sudah mencapai ubun-ubun, ia bahkan tidak peduli lagi dengan siapa dia berbicara. “Keluar dari rumah ku sekarang” teriak Fajrin kesal, ia benar-benar sangat marah karena ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Rodo hanya tersenyum, ia bahkan menganggap amarah Fajrin sebagai candaan. “Haha, jangan seperti itu Fajrin, jangan bertingkah seperti anak kecil yang dengan sangat mudah tersulut emosi. Kau yang memancing ku terlebih dahulu, jadi jangan terbawa emosi jika aku berusaha untuk menerkam mu demi melindungi diri” kata Rodo. “Oh iya, aku akan pergi, pikirkan apa yang telah aku katakan, segera hubungi aku karena aku tidak mau menunggu dengan lama. Satu lagi, cobalah untuk lebih sopan karena kau bahkan tidak memiliki saudara dekat kecuali diri ku” kata Rodo, lalu ia bangkit berdiri dan berjalan ke luar. “Persetan dengan saudara, aku lebih memilih tidak memiliki saudara daripada harus memiliki saudara seperti kamu yang bahkan tak memiliki hati nurani dan juga pikiran” kata Fajrin semakin kesal, namun tidak di hiraukan oleh Rodo. Dengan sangat keras, Fajrin membanting pintu rumahnya setelah kepergian Rodo. Namun sayangnya, emosinya belum tersulut, tiba-tiba ia mendengar suara bell berbunyi. Di balik pintu, muncul Rodo dengan senyum yang mengembang di bibirnya seolah sedang memiliki tujuan lain. “Kalau kau tidak sanggup menafkahi keluarga mu, kamu bisa memberikan mereka kepada ku, dengan begitu aku bisa menjamin kebutuhan mereka setiap hari dan bisa menjamin masa depannya” kata Rodo tanpa memikirkan perasaan Fajrin. Ingin rasanya Fajrin memberikan pukulan kepada Rodo, namun Irana menghalanginya dan langsung kembali membanting pintu dan masuk ke rumah. Fajrin hanya bisa meninju tembok rumahnya, rasanya ia ingin membunuh Rodo saat itu juga, namun ia tidak bisa melakukannya. Kembali lagi bel berbunyi, kali ini Fajrin benar-benar tak bisa menahan amarahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, kali ini ia akan memberikan sebuah cap di wajah pria menjijikkan itu. “Apakah kau sudah bosan hidup?” teriak Fajrin, ia bahkan belum melihat siapa yang kini berada di hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN