Lagi-lagi, hanya kecanggungan yang ada di antara mereka. Meski tubuh saling bersama dan saling tertawa seolah bahagia bisa berkumpul bersama, namun pada kenyataannya hati dan pikiran justru bertentangan.
Fajrin masih sibuk dengan pemikirannya, menerka-nerka bagaimana bisa Farhan bisa tiba di sana di saat yang bersamaan. Kecurigaan terus menerus menyelimuti dirinya, ia sangat yakin kalau ada yang tidak beres.
Sementara Farhan, ia justru sibuk memikirkan tentang tujuannya, tentang dari mana ia akan mulai membahas penelitian dan meminta Fajrin supaya mau bekerja sama dengannya.
"Aku pikir kalian tidak akan keluar hari ini, tapi ternyata kita justru bertemu di sini sama seperti saat pertama kali kita bertemu setelah kepulangan kami dari Bali. Pertemuan kita sangat berbeda, dulu Ares tidak ikut bersama dengan kalian, tapi sekarang dia ada di sini bersama dengan kita. Dulu kita saling sambut dan saling berpelukan tanpa ada masalah, tapi sekarang seperti sedang ada masalah hingga saling sungkan satu sama lain" kata Farhan sambil tersenyum kecut, ia bahkan tak sadar kalau apa yang ia ucapkan justru karena ulah dirinya.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Apakah kau merasa seperti itu? Aku sama sekali tidak merasakannya, mungkin saja kau yang terlalu terbawa perasaan atau mungkin sebenarnya kau merasa sedang ada masalah di antara kita namun sama sekali tidak aku ketahui" tandas Fajrin sambil tersenyum, ia sangat yakin kalau ucapannya pasti mengenai hati dan jantungnya.
Jleb...
Seperti yang di pikirkan oleh Fajrin, apa yang ia ucapkan benar-benar sangat menusuk di hati Farhan. Namun lagi dan lagi, Farhan harus mencoba untuk untuk tetap merasa kalau Fajrin tidak mengatakan apapun, hanya tawa kecil yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
Sementara Susi, mendengar itu ia langsung merasa tidak enak, firasatnya mengatakan kalau hubungan ini sudah sangat renggang dan sulit untuk di satukan. Tak bisa untuk bekerjasama dalam membuat penelitian, setidaknya bisa membangun kembali hubungan yang dulu sangat harmonis sudah lebih dari cukup baginya saat ini. Namun semua berbeda dari Farhan yang justru ingin menjalin hubungan dekat hanya untuk sebuah penelitian. Tidak ada lagi rasa persahabatan dalam dirinya, yang ada hanyalah rasa iri dan dengki.
Irana sama seperti Susi, namun untuk kali ini Irana tidak menginginkan hubungan itu terjalin. Rasa kecewa yang di berikan oleh Farhan tergores begitu dalam di hatinya, rasa kecewa yang sangat sulit untuk ia lupakan. Ia tak membenci Susi, hanya saja ia membenci Farhan yang membuatnya harus menjaga jarak dengan Susi yang mungkin saja tidak mengetahui apa-apa menurutnya.
"Oh iya, apakah kalian tidak jadi pergi jalan-jalan?" tanya Fajrin.
Seketika Sinta ingin menjawab, anak polos itu ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ke mana mereka pergi dan apa yang mereka lakukan. Namun melihat Sinta ingin menjawab, Susi langsung angkat bicara.
"Sayang, bagaimana makanannya? Enak, tidak?" tanya Susi.
"Enak, Ma. Semua makanan itu pasti enak, sebab itulah makanan itu di makan, hehe" jawab Sinta dengan bijaknya.
Farhan bernapas lega, ia sudah sangat takut kalau sampai Sinta mengatakan kalau mereka sedari tadi di depan rumah Fajrin.
"Kamu baru saja pulang ke rumah, tapi hanya untuk membersihkan diri saja. Setelah itu kami ke sini karena kami belum makan, Susi sudah terlalu lelah kalau harus masak lagi untuk makan malam. Sesekali harus memberikan dia waktu libur memasak, hehe" jawab Farhan sedikit bercanda, sementars Irana dan Fajrin hanya ber oh ria saja.
Mereka kembali menyantap makanannya, namun lagi-lagi pikiran tetpa melayang entah ke mana, tak ada yang fokus memikirkan makana lezat yang terhidang di meja itu.
Dengan keberanian yang sudah sejak lama ia kumpulkan, meski pada akhirnya harus mendapatkan kegagalan, lagi dan lagi. Farhan mencoba untuk kembali memberanikan diri untuk membahasnya dengan Fajrin, apa lagi kalau bukan penelitian yang selalu ia bahas setiap kali bertemu dengan Fajrin? Terdengar konyol sih, karena Farhan tidak pernah membahas apapun kepadanya kecuali penelitian itu. Farhan bahkan tidak bisa menahan diri, tak ingin membahas sesuatu atau membahas yang lain dalam beberapa pertemuan sebelum mengutarakan maksudnya yang sesungguhnya, yang tanpa ia ketahui justru membuat Fajrin muak melihatnya.
"Fajrin, sebelumnya aku minta maaf kalau aku harus kembali membahas itu dan itu" kata Farhan yang mulai sadar. "Tapi aku benar-benar ingin membahasnya dengan mu. Aku tidak tau sudah berapa kali mengajak mu untuk mrmbahas hal itu dan mengajak mu untuk memulai penelitian itu, tpi kamu selalu saja menolak ku dan bahkan memberikan alasan yang menurut ku sangat tidak masuk akal. Maksud ku, jawaban mu seolah hanya sekedar alasan belaka, bukan kenyataan. Ayolah Fajrin, mari kita ulang kembali kisah masa lalu yang membahagiakan itu, mari kita ulang kembali perjuangan kita yang pernah kita lalui supaya kita mencapai akhir. Aku..." kalimat Farhan terputus saat Fajrin mulai angkat bicara.
"Sebelumnya aku minta maaf seperti diri mu karena aku harus kembali menolak ajakan mu. Aku sungguh tidak mengerti kenapa kamu tidak memahami jawaban ku. Kalau memang kamu sudah bisa menebak apa arti dari jawaban ku, bukankah seharusnya kamu berhenti untuk mengajak ku bekerjasama?" kata Fajrin dengan lembut, namun kalimat itu terdengan menusuk karena itulah yang ia inginkan. "Baiklah, aku beritahu kepadamu, Farhan. Aku menolak, itu artinya aku tidak mau melakukannya. Aku tidak pernah mengatakan untuk tidak melakukannya, tapi aku memiliki rasa trauma yang hilangnya entah kapan dan aku tidak tau kapan akan kembali melakukannya. Kalau memang aku akan melakukan penelitian itu kembali, maaf karena aku tidak ingin melakukannya dengan mu. Aku ingin melakukannya sendiri, rasa kecewa ku terhadap mu karena telah meninggalkan ku di saat aku terpuruk sangatlah dalam, jadi sangat sulit untuk ku menerima mu kembali karena rasa trauma itu. Itu hanya untuk penelitian, bukan berarti aku tidak mau untuk menjalin hubungan dengan persahabatan seperti dulu dengan mu, hanya saja mungkin ini akan sedikit berbeda dari hubungan kita sebelumnya" tandas Fajrin.
Jleb...
Lagi-lagi jantung itu terasa di tusuk tombak yang sangat tajam dengan kata-kata Fajrin, kalimat yang tak pernah ia sangka akan ia dapatkan. Ia tahu kalau dirinya memiliki banyak kesalahan terhadap Fajrin, namun ia tak pernah menduga kalau Fajrin akan bersikap seperti ini kepadanya mengingat bagaimana Fajrin yang ia kenal, sayangnya Fajrin yang ia kenal tidak lagi seperti yang dulu yang selalu diam saat dia berbuat kesalahan.
"Apakah itu artinya kau tidak ingin melakukannya lagi dengan ku sampai kapanpun?" tanya Farhan masih tak percaya.
"Seperti yang kamu duga saat ini, dan aku minta maaf untuk itu. Sayangnya, kau telah menghilangkan kepercayaan diri ku terhadap dirinya. Sebaiknya kita jalin hubungan baik seperti dulu, tapi tidak menyangkut pautkan penelitian itu lagi, karena aku sudah tidak ingin membahasnya" Kata Fajrin mengakhiri. "Ayo, Ma, Ares! Kita pulang" lanjut Fajrin. "Kami duluan ya, biar aku yang membayar" kata Fajrin lagi, lalu pergi meninggalkan Farhan dan keluarganya yang di ikutioleh Irana dan Ares.