Tiga puluh

1063 Kata
Amarah, hanya itu yang kini ada dalam diri Farhan. Sejak awal ia sudah menduga kalau Fajrin sudah melakukan penelitian itu kembali, tapi justru menutupi semuanya darinya. Ia juga sangat marah saat mendengar kalimat demi kalimat yang di lontarkan oleh Fajrin, kalimat yang jelas-jelas sangat menyakiti hatinya. "Argh, sial. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Fajrin seberubah ini, padahal sebelum kita pergi ke Bali, dia tidak pernah seperti ini. Bahkan jika aku melakukan kesalahan terbesarpun, dia pasti akan memaafkan ku. Tapi kenapa sekarang dia menjadi seperti ini? Kenapa dia menjadi orang yang sangat pendendam? Dia bahkan tak memberikan setitik kesempatan untuk ku, bahkan aku melihat kalau dia tidak bersungguh-sungguh saat dia mengatakan akan tetap menjalin hubungan baik dengan kita" kata Farhan kesal. "Sudahlah, Pa. Semua sudah terjadi. Apa yang terjadi saat ini semua karena kesalahan kita di masa lalu, kita tidak bida menyalahkan mereka karena apa yang terjadi adalah kesalahan kita" kata Susi mencoba untuk menenangkan suaminya. "Halah, kau selalu saja begitu. Kenapa setiap kali ada masalah antara kita dengan mereka, kau selalu saja membela keluarga menyebalkan itu. Aku heran, apa mungkin kau tertarik kepada Fajrin?" tebak Farhan. "Kenapa papa berpikiran seperti itu? Apakah mama serendah itu di mata papa? Seharusnya papa sadar, apa yang terjadi saat ini adalah karena kesalahan papa, jadi jangan pernah menyalahkan orang lain untuk itu. Lagipula, mungkin saja mereka sudah tau apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun yang lalu, mungkin saja mereka sudah mengetahui apa yang telah papa lakukan di perusahaan sampai-sampai papa di pindah tugaskan, dan mereka sudah tau kalau papalah yang mengambil hasil hasil penelitian itu. Kalau hanya sekedar karena kita pergi ke Bali saat seperti itu, mama yakin mereka pasti memaafkan kita karena ini adalah perintah dari kantor. Mama sangat yakin, mereka telah mengetahui semuanya" kata Susi menduga-duga. Farhan terdiam, ia bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Jika memang hal itu terjadi, Farhanpun mengerti kenapa Fajrin menolak dirinya. Namun meskipun demikian, Farhan tetap tidak terima dengan apa yang relah di lakukan oleh Fajrin, ia terus berusaha untuk bisa melakuakn penelitian bersama dengan Farhan. Tanpa ia sadari, Fajrinlah yang seharusnya tidak terima atas apa yang di lakukan oleh Farhan. Fajrin masih saja menyetir, ia bahkan tak mengatakan sepatah katapun. Ia terus melajukan mobilnya untuk pulang, meski pada kenyataannya pikirannya masih saja terhadap Farhan yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah. "Pa, sudahlah. Jangan terlalu memikirkan Farhan, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan. Selagi tidak merugikan kita, kita tidak perlu ambil pusing apa yang akan dia lakukan" kata Irana. "Tapi sayangnya, apapun yang akan dia lakukan pasti akan merugikan kita, Ma. Apakah mama tidak melihat ekspresi Farhan? Dia bahkan seolah ingin menerkam papa. Papa yakin, mendengar apa yang papa katakan, dia pasti akan merencanakan sesuatu yang akan merugikan kita. Sama halnya puluhan tahun lalu, dia bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada kita. Dari yang papa lihat, Farhan yang sekarang sama dengan Farhan yang dulu, tidak ada perubahan, masih saja serakah dan memiliki rasa iri. Dia pasti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan" kata Fajrin. "Intinya kita hanya bisa berhati-hati, jangan pernah lengah supaya dia tidak bisa berbuat seenaknya lagi. Tetap perhatikan pekerjaan papa, mama takut masa lalu terulang kembali" kata Irana mengingatkan, sementara Fajrin mengangguk mengiyakan. Di balik perbincangan mereka, lagi-lagi Ares menjadi pendengar dan penonton di kursi belakang. Dan lagi-lagi, Ares mencerna dan menaruh rasa dendam kepada Farhan, dendam yang entah akan ia balaskan atas apa yang Farhan lakukan kepada orangtuanya atau justru dia akan memendamnya dan menjadi penonton selamanya. "Ma, apakah mama ingat saat papa bertanya kepada Farhan? Sepertinya mereka menutupi sesuatu" kata Fajrin. "Bertanya? Yang mana maksud papa?" tanya Irana tak mengerti. "Saat papa menanyakan liburan mereka hari ini. Dari yang papa lihat, sepertinya Sinta ingin mengatakan sesuatu, mengatakan apa yang sebenarnya mereka lakukan satu harian ini. Tapi, sepertinya Susi dengan cepat mengalihkan perhatian Sinta, dan Farhan langsung menjawab seolah dia tidak ingin Sinta menjawab ku" kata Fajrin. "Benar, Pa. Mungkinkah mereka mengikuti kita?" tebak Irana yang membuat kecurigaan Fajrin semakin mendalam. Entah kenapa, sekarang Fajrin justru memiliki firasat yang tepat, seolah apa yang sedang ia teliti sudah ia hasilkan dan sudah ia coba. Ares langsung pergi ke kamarnya, meski sebenarnya ia tidak langsung tidur. Sementara Irana dan Fajrin, mereka masih saja memikirkan apa yanh sebenarnya terjadi. Kecurigaan demi kecurigaan masih saja terlintas di benak mereka, namun mereka tak ingin berasumsi yang tidak-tidak, takut-takut apa yang mereka pikirkan tidak benar, yang justru berujung ke dalam masalah besar. Entah kenapa, kegilaan Fajrin tiba-tiba muncul. Terlalu pusing memikirkan apa yang terjadi, tiba-tiba ia meminta sesuatu kepada Irana. "Ma, ayo kita buat adik untuk Ares" goda Fajrin. "Pa, jangan aneh-aneh, sebaiknya pikirkan apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Farhan, jangan sampai kejadian di masa lalu terulang kembali. Mama tidak ingin kalau sampai Ares ikut merasakan apa yang pernah kita rasakan. Aku tidak ingin kalau sampai Ares melihat keadaan papa seperti puluhan tahun yang lalu, keadaan di mana papa terlihat mati namun masih hidup" kata Irana. "Papa pusing, papa tidak bisa berpikir dengan jernih. Sepertinya papa butuh di refresh, dari otak hingga seluruh tubuh" ucap Fajrin, lalu dengan cepat ia mencium bibir istrinya itu. "Sudahlah pa, jangan bertindak bodoh seperti itu, jangan bersikap kalau kita adalah pengantin baru" protes Irana. "Bukankah kita pengantin baru? Sekatang kita hanya berdua di sini karena Ares sudah dewasa, dan sekarang kita sedang menikmati malam layaknya pengantin baru" goda Fajrin lagi  "Kau memang selalu begitu, kau selalu bertindak aneh dan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang kamu mau" kata Irana sambil mengusap puncak kepala suaminya itu. "Setidaknya aku bukan Farhan yang menghalalkan segala cara untuk mrrugikan orang lain, aku hanya menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan istri ku, membujuk rayu dirinya supaya mau b********h dengan ku meski seharusnya aku tidak melakukan itu. Seorang istri seharusnya melayani suaminya jika suaminya menginginkannya, tapi tidak maslaah kalau mama menolak, karena tolakan itu akan membuat papa semakin b*******h" kata Fajrin yang membuat Irana tersipu malu. Tak lagi mendapatkan penolakan dari bibir Irana, Fajrin langsung melakukan aksinya dan memberikan kenikmati bagi Irana, begitu juga dengan dirinya. Keduanya terlihat sangat lelah, aksi di ranjang membuat keduanya berkeringat. Seperti yang di katakan oleh Fajrin, apa yang mereka lakukan juga untuk merefresh otak dan tubuh. Dan benar saja, setelah melakukannya, tiba-tiba Fajrin terpikirkan sesuatu, sama sepertu Irana. Keduanya saling adu padang seolah keduanya memiliki pemikiran yang sama, dimana mereka seolah sedang mendapatkan petunjuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN