Dengan tatapan berapi-api, Irana berjalan mendekati Ares, ia bahkan tidak peduli lagi dengan siapa yang ada di sekelilingnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kamu berada di sini? bukan kah mama sudah mengatakan kepada mu supaya kamu menunggu Mama di dalam? bukankah kau memiliki sifat yang lebih dewasa dari yang lainnya? Kenapa kamu membantah perintah mama? kenapa kamu tidak mengerti apa yang mama katakan? Apakah kamu tidak pernah berfikir kalau tindakan ini akan membahayakan kamu dan juga membahayakan mama dan papa? kalau saja hal ini hanya membahayakan mama dan papa, Mama tidak akan pernah marah seperti ini, tapi mama khawatir kalau sampai membahayakan nyawa kamu. cobalah untuk mematuhi apa yang mama katakan, jangan pernah membuat mama khawatir. Tolong mengerti Ares, tolong pahami keadaan saat ini, semua sedang tidak baik-baik saja dan mama takut kalau kita berada dalam bahaya, kau mengerti kan apa yang mama katakan?" tanya irana kepada Aris sambil meremas kedua lengan putranya itu.
"Iya mah, Ares mengerti. ares minta maaf, Ares tidak akan pernah mengulangi lagi" jawab Ares merasa bersalah.
Lagi-lagi rasa takut menghampiri Irana, ia takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Ares, sesuatu yang selama ini ia takutkan. Di tambah lagi rasa ingin tahu ares yang terlalu tinggi membuatnya sama khawatir. seperti yang baru saja Ares lakukan saat ini di mana Aries memberanikan diri untuk menentang apa yang ia katakan, setelah itu mungkin saja Ares akan lebih menentang perkataannya dan itu akan menjadi ketakutan terbesar baginya. Irana harus lebih berhati-hati lagi, Ia tak bisa lengah dalam menajaga Ares kalau ia tak ingin kehilangan Ares untuk selamanya.
Di tempat lain, Farhan masih saja sibuk melakukan penelitiannya. Ia sangat yakin kalau ia akan berhasil melakukan penelitian itu sama seperti apa yang kini Fajrin lakukan. Dengan keyakinan penuh, ia terus menekuni penelitiannya itu. Rasa iri semakin menguasai dirinya sampai-sampai ia mengabaikan Susi dan Sinta, lebih tepatnya tidak memiliki waktu untuk Susi dan Sinta.
"Aku yakin, aku pasti akan bisa mendapatkan hasil seperti apa yang Fajrin dapatkan, dan bahkan aku akan memiliki kemampuan lebih darinya. Dengan hasil penelitian ku ini, aku bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan dan bahkan apa yang terjadi di masa lalu. Tunggu saja kamu Fajrin, aku akan sangat menunggu saat di mana kamu akan dalam bahaya, karena kamu sama sekali tidak mengetahuinya" ucap Farhan sambil tersenyum Devil.
Sebuah kebodohan bagi Fajrin, seolah memberikan kunci kepada pencuri, seolah memberikan jalan kepada musuh, hal itulah yang Fajrin lakukan saat ini. Ia justru memberitahukan kelemahannya kepada Farhan, ia bahkan tanpa sadar membeberkan semuanya saat mereka bertemu di pinggir jalan satu minggu yang lalu.
"Sekarang kau sudah menjadi manusia yang hebat, meliliki kemampuan tinggi melebihi para petinggi negara. Aku merasa iru, tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena kamu tidak ingin bekerja sama dengsn ku. Tapi tidak apa, aku tidak akan memaksa mu. Aku akan berjuang untuk bisa mendapatkannya, untuk bisa menjadi orang sukses seperti diri mu. Aku yakin, jika aku dengsn gigih seperti diri mu, maka aku pasti akan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Oh iya, aku ingin mengatskan kepada mu, aku juga sedsng melakukan penelitian, doakan aku semoga penelitian ku membuahkan hasil yang bsik seperti diri mu" kata Farhan sambil tersenyum.
Fajrin lagi-lagi masuk ke dalam perangkap, ia bahkan tidsk sadar apakah Farhan sudsh berubah atau justru masij seperti dulu.
"Itu sedikit mengecewakan, Farhan. Apa yang aku dapatkan tidak seperti yang kamu pikirkan. Sekarang aku ingin bertsnya kepada mu, apa tujuan utama mu dalam melakukan penelitian ini?" tanya Fajrin.
"Karena aku ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan, karena aku ingin mencegah sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada keluarga ku di masa depan. Kau masih ingat kan,saat di mana Sinta terjatuh ke dalam kandang Gorila, aku ingin bisa menghindarinya. Dengsn tau apa yang akan terjadi di masa depan, aku bisa menghindari hal itu dan menjauhkan keluarga ku dari bahaya" kata Farhan.
"Sayangnya kau tidak bisa melakukan hal itu, sayangnya kau tidak akan pernah bisa" kata Fajrin.
"Apa maksud mu Fajrin? Kenapa kau mengatakan seperti itu? Bukankah kau bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan? Bukankah kau bisa mencegah sesuatu bahaya yang akan terjadi?" tanya Farhan tak mengerti.
"Aku bisa melakukannya, tapi sayangnya aku mengetahui hal itu dalam waktu yang sangat mepet. Dan yang paling di sayangkan, aku tidak tahu kalau akan terjadi bahaya kepada diri ku dan juga keluarga ku. Aku hanya bisa menyelamatkan orang lain, tapi tidak dengan menyelamatkan keluarga ku. Lalu untuk apa berbangga hati memiliki serum itu? Untuk apa berbangga hati memiliki kemampuan itu? Kau bisa jadi pahlawan untuk orang lain, tapi sayangnya kau tidak bisa jadi pahlawan untuk keluarga mu sendiri yang pada kenyataannya itulah yang paling utama. Dulu, aku sangat bangga dengan kemampuan ini, dulu aku bangga karena telah bisa menjadi penyelamat, tapi aku merasa tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan keluarga ku, aku merasa sedih karena aku ini sangat menyedihkan" kata Fajrin jujur.
Farhan masih saja tertawa membayangkan hal itu, ia bahkan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Fajrin. Namun ia berpikir, kalau menang benar demikian, maka ia tidak perlu repot-repot untuk mengkhawatirkan Fajrin karena Fajrin tidak akan pernah tau saat di mana dirinya berada dalam bahaya.
"Pa, tidak bisakah papa menghentikan apa yang papa kerjakan itu? Bahkan papa sampai lupa untuk makan, setiap kali papa pulang kerja, papa selalu saja pergi melakukan penelitian papa itu bahkan sampai papa lupa waktu. Papa juga bahkan tidak memiliki waktu intik kami, papa bahkan tidak mau membagi waktu untuk kami saat sedang weekend" ucap Susi kesal.
"Sabar, Ma. Semua ada saatnya. Setelah penelitian papa ini berhasil, papa berjanji,akan selalu menghabiskan waktu papa dengsn kalian. Apakah mama tidak ingin kalau papa bisa seperti Fajrin? Bisa menyelamatkan orang banyak, bisa mengetahui masa depan, dan bahkan sekarang menjadi orang yang sangat terkenal di kalangan orang banyak. Apakah mama tidak bangga jika suami papa ini seperti Fajrin? Aku bahkan akan membanggakan wanita yang akan menjadi istri ku, jika suatu saat aku bisa seperti Fajrin, aku akan beritahukan kepada dunia kalau kamu adalah istri ku, kalau kamu adalah wanita yang selalu menemani ku dari aku berjuang sampai aku mencapai kesuksesan" kata Farhan.
"Papa ingin seperti Fajrin, tapi papa tidak melakukan seperti yang Fajrin lakukan. Papa melakukan penelitian dan langsung berpokus ke sana tanpa menghiraukan kami, sementara Fajrin, dia melakukan penelitian, namun dia masih meluangkan waktunya untuk Irana dan juga Ares. Papa juga harus melakukan hal yang sama dong, papa juga harus membagi waktu untuk istri dan anak, itu yang menjadi salah satu acuan untuk mama membanggakan papa di depan orang banyak suatu saat nanti" ucap Susi masih saja kesal.
"Baiklah ma, papa akan membagi waktu dengsn kalian, tapi papa mohon, tidak untuk minggu ini. Izinkan papa menghabiskan waktu papa minggu ini untuk melakukan penelitian papa, karena itu adalah waktu yang sangat penting untuk penelitian papa. Setelah satu minggu ini berlalu, papa berjanji, papa akan menghabiskan waktu papa dengan kalian, papa sungguh berjanji" ucap Farhan.
"Baiklah, tepati janji papa dan mama tidak akan pernah marah lagi" kata Susi.
Setiap hari, Farhan terus memancarkan senyumnya. Ia terus membayangkan kesuksesan yang kini ada di depan matanya. Sesekali ia melirik Fajrin yang sedikit menengkuk wajahnya, terlihat jelas Fajrin mssih saja memikirkan kenapa ia tidak bisa mengetahui masa depannya sendiri.
Farhan berjalan mendekati Fajrin, ia menatap Fajrin dengan tatapan merendahkan. Ia sangat yakin, kalau hasil penelitiannya akan melebihi hasil penelitian Fajrin, karena ia mencampurkan setiap cairan lebih banyak dari yang Fajrin campurkan.
"Sangat di sayangkan Fajrin, kau tidak bisa melihat masa depan mu. Tapi jangan khawatir, sama seperti kamu bisa melihat masa depan ku, melihat apa yang akan terjadi dengan ku di masa depan, aku akan melihat apa yang akan terjadi dengsn mu nantinya di masa depan. Tapi sayangnya aku bsru bisa melakukan hal itu setelah serum penelitian ku selesa. Dan aku sangst uakin, serum ku sangat berbeda dengan serum mu. Aku yakin, serum yang baru saja aku buat, akan bisa membuat ku mengetahui apa yang akan terjadi kepada ku di masa depan, tidak seperti ramuan mu yang hanya bisa mengetahui masa depan orang lain, namun tak bisa mengetahui bahaya yang terjadi pada diri mu sendiri di masa depan. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan memberikan sedikit ramuan ku kepada mu supaya kamu bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan mu di masa depan. Bukankah aku sangat baik terhadap mu? Bukankah aku terlihat seperi sahabat yang juga memikirkan sahabatnya?" ucap Farhan seolah sedang menyindir dirinya, namun ia hanya membalasnya dengan senyuman tanpa menghiraukan kalimat itu.
Sesuai dengan janjinya kepada Susi, Farhan mulai membagi waktunya dengan keluarga kecilnya itu. Sesekali ia membawa Susi dan Sinta pergi berlibur, sambil menunggu sampai penelitiannya itu membuahkan hasil. Ia juga mencoba untuk menyenangkan hati putri kecilnya itu, dengan berusaha untuk menuruti kemauannya, namun tidak untuk menerima ajakannya untuk bermain saat di jam kerjanya, karena setiap kali ia kembali bekerja, ia langsung melanjutkan penelitiannya.
Dengang bangganya, Farhan sangat bersemangat saat ia kembali dari kantor. Bagaimana tidak, hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba, hari di mana ia akan melihat hasil dari penelitiannya itu. Dengan cepat ia beranjak dari duduknya untuk segera pulang dan membuktikan hasil penelitiannya itu, namum sayangnya ia harus mengulur waktunya saat ia berpapasan dengan Fajrin.
"Hei Fajrin, apakah kamu ingin pulang?" tanya Farhan.
"Ya, sepetti biasa. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan ku, aku akan langsung pulang karena keluargs ku sidah menunggu ku di rumah. Aku harus segera pulang karena aku juga sangat merindukan keluarga ku" Jawab Fajrin.
"Ah sayang sekali, padahal aku ingin membawa mu ke rumah ku, aku ingin menunjukkan kepada mu hasil penelitian ku yang sangst memukau itu. Aku yakin kau pasti akan sangat terkejut saat melihat hasilnya. Bagaimana tidak, serum yang aku biat bukan hanya bisa untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan, dan itu bukan hanya masa depan orsng lain seperti serum mu, tapi ini akan bisa melihat masa depan ku sendiri dan melihat masa lalu. Lihatlah, aku akan menggemparkan dunia dengan penelitian ku kali ini, bahkan aku akan menyaingi mu untuk itu. Aku berharap supaya kamu tidak bersedih kawan, karena jika kau bersedih, aku juga akan ikut bersedih sepetti kamu. Dan sesuai dengan janji ku, aku akan memberikan sedikit serum ku kepada mu sebagai pertsnda hubungsn persahabatan kita. Bukankah itu menandakan kalau akulah yang sangst mengsnggap mu sebagsi sahabat?" kata Farhan panjang lebar.
"Ya, kau benar. Laukanlah, maaf aku tidak bisa ikut bersama mu. Aku harus segera kembali, sebaiknya kau kabari saja kepada ku bagaimana hasil dari penelitian mu itu nantinya" kata Fajrin sambil tersenyum, sementara Farhan hanya tersenyum sini, seolah ia tidak terima dengan apa yang Fajrin katkan.
Farhan melajukan mobilnya, ia benar-benar sudah tidak sabar ingin membuktikan hasil dari penelitiannya itu.
"Tunggu saja Fajrin, aku akan menunjukkan kepada mu bagaimana penelitian yang sesungguhnya. Aku akan menunjukkan kepada mu speetti apa hasil dari penelitian sesungguhnya" kata Farhan, ia masih saja terus melajukan mobilnya itu.
Tak lama, Farhan tiba di rumahnya. Ia langsung bergegas pergi ke ruangannya tsnpa membenahi pakaiannya terlebih dahulu. Ia bahkan tak menghiraukan Susi yang kini sedang membukankan pintu untuknya.
Senyum terus mengembang di bibirnya, rasa penasaran sekaligus rasa bahagia terus meronta-rota, seolah tidak sabat untuk mencoba hasil penelitiannya itu.
Susi yang juga penasaran, ikut masuk ke dalam ruang penelitian Farhan, ia,jiga ingin membuktikannya sendiri. Berbeda dengan Irana yang justru lebih memilih menunggu dan membiarkan Fajrin melakukannya sendiri, ia tidak begitu ingin ikut campur seperti yang di lakukan Susi saat ini.
Waktunya telah tiba, Fsrhan mersih botol serum yang ada di hadapannya itu, serum yang menurutnya akan memberikan kemampuan lebih baginya melebihi apa yang di dapatkan oleh Fajrin.
"Ayo sayang, berikan kemampuan itu pada ku. Mari buktikan kepada dunia kalau kita lebih hebat dari Fajrin, mari biktikan kepada dunia kalau kitalah yang lebih dari dirinya. Dia belum apa-apa, dia hanya mengetahui masa depan orsng lain, tapi tidak mengetahui masa depannya. Tapi kamu, aku sangat yakin, kamu akan memberi ku pengetahuan lebih, aku yakin kalau aku akan mengetahui segalanya, aku pasti akan mengetahui apa yang akan terjadi di dunia ini" ucap Farhan, lalu ia menegik serum itu, cukup sekali teguk saja, lalu ia menyisakah sebagian dari serum itu, berharpa ia memiliki kemampuan seperti yang ia katakan.