Bab 11
Memori yang tersimpan.
***
Hari
ini dokter David mengajukan cuti dadakan, katanya seminggu ini ada perihal
penting yang mau diselesaikan, salah satu petugas UGD menjelaskan alasannya
kepada dokter yang mengantikan tugas david. Dokter Tino hafal betul alasan
david refreshing seminggu ini, karena setelah kepulangannya dari luar negeri
memperdalam ilmunya ia tak pernah lepas mencari tahu tentang chelsea dan
bagaimana kabarnya.
Apa
yang David lakukan hari ini adalah untuk menemukan kembali perasaanya hatinya
dan kembali kepada hidup jauh sebelum chelsea datang dalam hidupnya. Perjalanan
mendaki gunung tidaklah mudah, ia mengingat jalur pendakian ke cibodas agar
sampai ke puncak gunung edelweis. janji yang pernah David berikan ketika mereka
bersama adalah ia ingin melamarnya dipuncak gunung bersama dan berkemah malam
hari hanya berdua saja, menikmati matahari terbit dan tenggelam bersama. namun
impian itu kandas di empat tahun lalu. ia menaikan alisnya menahan kenangan
demi kenangan yang muncul di pendakian ini.
wajah
Chelsea yang tidak pernah bisa hilang saat ia gendong dan mendengarkan deguban
jantung kencangnya, itu pertama kali ia berbohong kepada seseorang agar ia
tidak diketahui perasaannya.
Ia
teringat bagaimana cantiknya Chelsea dengan bibir manyunnya dan tatapan benci
karena disebutnya penguntit, kenangan itu muncul bersamaan dengan senyuman
ceria dengan jaket warna merah muda dan kupluk putihnya. David melebarkan
senyuman tanpa sadar mengingat itu kenangan mereka berdua. lalu kembali ia
memarik nafasnya dalam.
David
kembali melangkahkan kakinya satu demi satu naik tangga untuk mencapai puncak
pangrango, ia mengendongnya tanpa letih, meski sesekali chelsea mencuri tatapan
malu. dan menunduk menahan nafasnya dalam. ia masih ingat aroma shampo bunga
rose yang paling dirindukan. saat angin meniupkan semilirnya ketika puncak
edelweis. wajah itu terus tersenyum melihat hamparan indah bunga edelweis dan
menikmati semilira nagin sejuk pegunungan.
wajah
Chelsea masih berdiri dengan memejamkan matanya, dan merentangkan tangannya
merasakan udara lembuat yang menabrak tubuhnya dan menerbangkan semua
rambutnya. David berdiri ditempat yang sama memandanginya lalu membuka mata
sayu miliknya dengan senyumnan sumringan berucap.
"
terima kasih, dave."
Yang
akan David lakukan saat ini adalah bukan menghindar bayangan itu tapi
mendekatinya, ia menghampiri Chelsea yang berdiri didepannya dengan senyuman
manis menunggunya datang menghampirinya untuk dipeluk. David mendekat ia
membuka kupluk yang sama yang dipakai saat 4 tahun lalu.
"
Aku mencintaimu, chel. sampai hampir tulang - tulangku remuk, hatiku hancur,
mataku buta dan pikiranku gila. aku tau kamu begitu terluka karena kenangan
indah kita, dimulai dari puncak ini aku membawamu hingga kita menuai bunga
indah. tapi.. ada yang belum kamu tau, bagaimana aku tersiksa jauh dari kamu,
mencoba membenci kamu, mencoba membunuh kamu dari pikiranku, mencoba menyakiti
kamu agar kamu membeciku? tapi, aku tau kamu menderita mungkin lebih menderita
dari aku, aku tau aku egois ketika melihatmu dengan orang lain, hatiku hancur,
hatiku terluka, tanpa terasa aku menangis.."
Chelsea
mengelus rambutnya dan mengelap airmatanya.
"
chel, aku tau tuhan tidak mentakdirkan kita bersama, aku mau kita menangis
bersama - sama waktu itu. waktu kamu dengan gaun merah yang indah untukku
karena kamu mau kalau kita mengumumkan kita pacaran, tapi dirumah itu kamu
malah menjadi orang yang paling terluka karena aku?"
Chelsea
mengangguk dan menangis bersama david. ia memeluknya.
"
Maafkan aku chelsea, maafkan aku chel, seharusnya aku minta maaf padamu 4 tahun
lalu agar aku tidak tersiksa seperti ini, maaf ..chel. aku tau kamu berhak
untuk bahagia setelah aku bertunangan dengan Rani, orang yang terus mengusik
hidupmu dari dulu, aku memang bodoh menuruti semua perkataan si tua bnagka
itu."
Chelsea
senyum dan mengangguk memandangi wajah david yang penuh uraian air mata.
mengusapnya lembut perlahan.
"
Mulai hari ini, aku ngak akan membawamu turun. aku ngak akan memegang tanganmu,
aku ngak akan bilang lagi kalau aku mencintaimu, mulai saat ini .. aku
melepaskanmu untuk Ilham.."
Chelsea
menangis, ia mulai menjauhi david. ia terisak dan melangkah mundur dari
pandangan david.
"
pergilah...aku ikhlas, chel.."
Chelsea
kembali menggeleng, ia menghampiri kembali David, david mengeleng.
"
Jangan, kamu harus bahagia..., mulai hari ini aku pamanmu chel, Paman david mu
CHELSEAAAAAAAA...."
Teriak
David dan membuat Chelsea dalam memorinya berlari menjauh dan pergi dari
pikiran david. ia menunduk dan menelungkupkan kepalanya dilututnya. dan
menangis sejadinya, menahan tangis elama 4 tahun, menahan kerinduan selama itu
dengan hati yang terluka.
David
kembali teriak dan memaki dirinya, mengutuk perasaanya. sejenak ia memandang
awan dan memejamkan matanya, mengeluarkan sebotol minuman lalu meneguknya ,
menjatuhkan diri diantara rerumputan. ia tertawa menyadarinya sudah gila,
mengelap kedua sudut matanya.
Entah
berapa lama ia tertidur setelah menertawakan dirinya, ia membuka mata dan mulai
memasang tenda, beberapa tenda di sisi sudut lain sudah terpasang. ia tersenyum
kepada beberapa orang dan menawarinya kopi. ia duduk dikursi lipatnya menunggu
matahari akan segera tenggelam menikmati janji yang ingin ia tepati, mengakhiri
sebuah kenangan dengan matahari yang tenggelam.
"
Chel, setelah malam ini. kamu pergi ya..."
Chelsea
dalam memorinya sembab karena menangis, ia mengusap pipi chelsea. mendekatkan
gelas kopinya dipipi wanita bayangannya. " aku akan menghangatkanmu, jika
kamu butuh aku, aku akan melindungimu jika kamu butuh aku, aku akan selalu ada
didalam hati paling dalam kamu.."
Chelsea
mengangguk, david mengecup keningnya.
"
pergilah, jangan pernah kembali lagi.."
Chelsea
melambaikan tangannya, dengan senyuman.
***