True love

3531 Kata
Bab.12 TRUE LOVE *** Malam ini Kakek mengundang Chelsea untuk makan malam dirumahnya, sudah satu tahun bahkan lebaran ia tidak mau datang kerumah kakeknya, meski mamanya marah padanya dan membujuk sekeras mungkin.Chelsea selalu menolak kerumah itu. Tapi kali ini kakek mendatangi rumah mama Chelsea langsung. Tadinya Chelsea tidak mau menemuinya tapi ia pasrah melihat kegigihan kakek dan kesungguhannya untuk minta maaf padanya. "Maaf kek." Ucap Chelsea. Chelsea masih duduk diam tidak berani melihatkan wajahnya. Mereka duduk diruang tamu dan masih terbilang kaku dengan suasana dingin membeku disana. Kakek Menarik nafasnya dalam - dalam. Ia menyanderkan tubuhnya disofa dan berusaha nyaman. " Harusnya saya yang minta maaf! Karena kakek, kamu menjadi bingung." Ucap kakek lemah. Ia melihatkan penyesalannya. " Kakek, undang kamu dan keluarga makan malam dirumah malam ini. Kakek mau kamu hadir dan menjadi keluarga yang utuh seperti semula." Rayu Kakek. Ia ingat bahwa Chelsea adalah Cucu kesayangannya dan tumbuh besar dirumahnya. Chelsea masih enggan menjawab. Ia berusaha bicara lalu membuka mulutnya, Ia sedikit tergagap mengajukan pertanyaan untuk Kakek. " Bo, Bolehkah. Saya bawa calon suami saya..., kek?" Ucap Chelsea malu. Ia memandang Raut wajah kakek yang memandangnya Nanar. Kakek mengerutkan keningnya, Lalu mengeluarkan Nafas plong yang panjang. " Lalu..?" Tanya kakek. "Saya mau perkenalkan!I-L-H-A-M. Ilham, sudah melamar saya sewaktu diacara penobatan dirinya. Tapi Itu masih belum R-E-S-M-I, Ia mau membawa keluarganya datang kemari untuk meresmikan." Kakek mengangguk. Ia mengerti persis apa yang mau Chelsea sampaikan. " Terima kasih.." Ucap Chelsea malu. Kakek kembali melihat Raut wajah Chelsea yang menunduk malu, Ia mulai senyum. Karena hal itu tidak terlalu berkelanjutan untuk hidup Chelsea. " Benarkah semua nya sudah berakhir?!" Ucap Kakek masih ragu. Ia melihat raut wajah Chelsea masih terlihat. Berkaca- kaca dalam matanya. Chelsea masih Diam dan mendongkak melihatkan senyuman manis kepada kakeknya. " Iya" jawabnya tegas. " Tidak perlu kuatir. Itu semua sudah berlalu..., Kami mau menikah, Jadi mohon kakek tidak menyebutkan lagi paman kedalam hidup , saya." " Baiklah..., Itu kabar baik untuk keluarga kita." Ucap kakek bahagia dengan tubuh Renta, Ia bangkit dan kembali mengambil tongkat saktinya untuk berjalan perlahan keluar rumah. " kakek.." desis Chelsea. Kakek menoleh dan senyum dengan kulit keriput dan rambut putih pomade, Ia kembali mengangguk lembut. Memastikan Bahwa ia tidak merasa Kecewa karena Sifat Chelsea selama ini. Chelsea merasa menyesal telah memusuhi kakeknya selama ini. Hanya karena ia merasa kakeklah yang memisahkan dirinya dengan David. "Maaf" kembali ia berdesis, seharusnya ia meminta maaf atas sifat dinginnya. Selama empat tahun. . *** Kini Chelsea mondar mandir di ruang tamu. ia mengigit kuku jarinya perlahan sambil melihat karpet dari Turkey yang Dibelikan Oleh Tante Ervina saat Jalan - jalan kesana, Tante yang cukup dekat dengan mamanya. Ia menarik nafasnya lalu mengeluarkannya secepatnya. Otaknya masih dipenuhi Oleh Ego, pikirnya menolak untuk pergi kerumah Kakek. Rumah Itu bagai Castel berhantu dan tinggal siburuk rupa yang menyeramkan. ia masih trauma pergi kerumah kakek. " Pergi ngak, Ya.." Gumamnya seketika. Mama Ambar Masuk lalu menepuk bahu Chelsea. " Asstagfirullah.." Ucap chelsea kaget ia meloncat dan melihat mam nya cecengiran. Mama sudah melihatnya seperti setrikaan. Ia mengamati Chelsea dari Lima menit lalu, setelah ia pulang dari pasar dan membawa beberapa kantong Plastik dengan bahan makanan. dan memasukannya ke lemari es. " kenapa?" Mama menyuntikan Matanya seketika, dan melihat tingkah Chelsea aneh. Ia melihat anak semata wayang nya tidak biasa terlihat gelisah lagi. Chelsea memandang wajah mamah yang cantik berkeringat didahinya, diusap lembut oleh tangan Chelsea. " kakek barusan datang, Ia minta kita makan malam!" Ucap Chelsea terhenti seketika. "Mama tau kan? kalau ilham malam ini mau ajak keluarganya untuk bertemu." Chelsea serius memandangi wajah mama yang mulai berfikir kembali. " Iya Mama tau, kalau keluarga Ilham akan datang malam ini. Makanya mama belanja buat nyambut keluarga Ilham. Kenapa Tidak kamu tolak saja Ajakan kakek, dan bilang kalau malam ini kamu ada acara lamaran." Chelsea mengangguk. Ia masih berpikir menolak undangan kakek. " Tadinya mau Chelsea tolak, Mah." Chelsea kecewa. Ia melihatkan rasa kecewanya kedalam mata mama. " Terus Gimana, Mah?" Mama Menaruh telunjuknya di pelipis dan mulai berfikir kembali sejenak, ia beberapa kali komat kamit, mengarang adegan atau mengarang cerita. Tapi langsung ditepisnya seketika. Mama Ambar menarik nafasnya dalam. " Ya, Sudah. Jujur saja..., Telepon Ilham secepatnya." Chelsea mengangguk, Ia langsung meronggoh Ponsel yang diselipkan di saku celananya. "Oke, Aku telepon Ilham dulu, ya. Mah." Beberapa detik ia menekan tombol hijau lalu ditunggu jawaban dari telepon yang sedang ia tunggu. Nada sambungan telepon yang menjawab telepon dari Chelsea. Dan langsung Ia menutupnya. " Ngak Diangkat, sama Ilham. Chels...?" Tanya Mama sambil merapikan Belanjaan yang sudah ia bawa kedapur dan memasukan isi dalam plastik belanjaan itu ke lemari pendingin. satu demi satu diletakan mama Ambar perlahan dan mengaturnya. Chelsea menggeleng. Ia membenarkan Jawaban dari mama. " Mungkin, Lagi sibuk, mah." Jelas Chelsea singkat mengangkat bahunya tinggi-tinggi dan alisnya. " Coba Lagi, Nak." Pinta Mama ia masih membereskan plastik yang sudah kosong dan dilipatnya dimasukan kedalam lemari dapur. Chelsea kembali menekan nomor yang ia tuju lagi, Ia menunggu beberapa Saat. Tapi Jawabannya tetap sama. Panggilannya masuk kedalam Mail Box lagi. " Mungkin Lagi Operasi. Atau tertinggal!" Ucap Chelsea pasrah. " Nanti aku kirim pesan saja." Chelsa menyerah menghubungi Ilham karena terus tersambung dengan Mail Box. ___________ Sudah Hampir Pukul 01.00 siang. Ilham Masih Berada diruang operasi, Sudah hampir dua jam lebih Ia didalam ruang operasi. Ilham menanggalkan jas Steril hijau miliknya dan membuka Maskernya. Menarik nafasnya dalam- dalam. Ia senyum kepada dokter Lidya. Ia dokter Anastesi perempuan dalam tim nya kali ini. " Thanks Ya, Lidya." Ucapnya ramah sambil mengambil tisue yang diberikan oleh Dokter imut tersebut. Ia berjalan sambil membuka pintu Kamar operasi, Disana sudah ada beberapa orang menunggu kabar berita dari dokter yang sudah Dua jam mengoperasi pasien. " Gimana, Dok, Kondisi Anak saya?" Tanya keluarga pasien dengan mata sembab, dan wajahnya yang pucat. Ilham mengangguk. " Semuanya berjalan Lancar, Tinggal Tunggu hasil akhirnya. Berfungsi Ataukah Tidak." Jelasnya singkat pada keluarga Korban yang sudah gemetaran mendengar hasil akhir. " Berdoa saja, Kami hanya menjalankan tugas dan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu, tapi akhir hasilnya adalah Tuhan." " Terima Kasih, dok." Ucap Keluarga pasien. Ilham Hanya mengangguk dan membalasnya dengan senyuman. Ia kembali berjalan menuju Poli mata. Ia berjalan tegas dan siap untuk menjatuhkan tubuhnya kedalam kursi dan memejamkan matanya sejenak sambil menunggu jam prakteknya kembali buka. Klek. Ilham membuka ruangan miliknya dan menyalakan lagi Lampu, menghirup aroma segar dari pengharum ruangan yang menbuat dirinya relaksasi. Ia senyum ketika menghampiri meja kerja miliknya dengan frame dirinya bersama Chelsea. " Ponsel.." Gumamnya sendiri. Ia membuka Laci meja miliknya dan menemukan ponsel hitam yang ia matikan. Satu detik ia menekan tombol merah diujung ponsel dan menghidupkan kembali ponselnya yang dari beberapa jam lalu dimatikan. Karena operasi mayor. Juga dadakan. Ia tersenyum. Sudah banyak sekali panggian tidak terjawab dari Chelsea. Matanya terus menatap layar ponsel dan senyum. Melihat tia setengah jam lalu Chelsea menelpon. Ting. Satu pesan masuk. Ia melihat pesan itu secepatnya. Telpon balik, ya? kalau sudah ngak sibuk. ~chelsea~ Ilham tidak menunda pesan singkat yang dikirimkan Chelsea untuknya, beberapa kali ia melebarkan bibirnya dan senyum kearah frame. Ia bersyukur malam itu ia melamar Chelsea. karena Semenjak malam itu Ilham melamar Chelsea, dunianya berubah. Chelsea jauh lebih perhatian juga lebih menunjukan perasaanya terhadap Ilham. Ilham masih menunggu jawaban dari panggilan miliknya. Nadanya mulai tersambung dan masih menunggu dengan sabar suara lembut menyentuh telinga Ilham. "Hallo..." Jawab Chelsea lembut. Ilham senyum sumringah, mendengar suara lembut yang membuat dahaganya terobati. " Ada Apa?" " Oh, maaf. Pasti kamu sedang operasi pasien yah?" Ungkap Chelsea tanpa memberi kesempatan Ilham menjelaskan. " Hmmpt.." " Malam ini Kakek minta kita makan malam dirumahnya, Jika tidak keberatan, acara lamaran kita tunda dulu ya? kita tunda hingga minggu depan." Jelas Chelsea terburu-buru. " Lho_ kenapa?" Ilham menaikan Nada Suaranya. Dan berdecak Kesal ditelinga Chelsea yang membuat Chelsea, menjauhkan sedikit ponsel dari telinga. " Entahlah.., sepertinya kurang tepat kalau malam ini. Aku enggak mungkin nolak ajakan Diner dirumah kakek. Tadi ia datang meminta maaf, sungguh kejam jika kita menolak ajakan makan dengan nya." Chelsea masih manyun diam dan duduk diruang tamu, menunggu jawaban Ilham menyetujuinya ataukan menolak. Ia tidak sabar menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya. tuk..tuk... Suara jari diketikan diatas meja. "Oh. Baiklah..." Suara ilham Datar dan tanpa penolakan lagi. beberapa saat Ilham menghilang dari ponselnya hingga beberapa kali chelsea memanggil namanya ." Ilham, kamu gak marah kan?" " gak." Jawaban yang terdengar masih datar. Chelsea kembali ikut diam beberapa detik, dan hanya terdengar hembusan nafas mereka saja. ia berfikir Ilham pasti marah, karena ia sudah merencanakan malam ini dengan sangat detail. Chelsea masih enggan untuk bicara, ia masih takut ilham akan menarik nafasnya dan marah. Ia masih berusaha agar Ilham tidak marah."Ng..., Thanks. Malam ini jam 7, jemput kerumah. ya...?" Detik berikutnya Ilham mengiyakan apa permintaan Chelsea."Baiklah. Aku jemput." " Thanks. sayang.." ilham mendelik, ia menaikan alisnya seketika dan merasakan gatal yang dasyat didalam telinganya. " Chels..tadi kamu bilang apa?" Tanya ilham tidak percaya. Nada suaranya begitu terkejut. " Bilang apa?" Balas chelsea polos tidak ingat. " kalimat terakhir tadi.."Pinta Ilham Tidak sabar, Chelsea mengulang kembali ucapan Chelsea beberapa detik Lalu. Chelsea ikut mengerutkan keningnya dan memutar perkataan yang sudah terlewatkan beberapa detik lalu, Ia masih berusaha mengingat ucapan yang mana yang diucapkan untuknya yang harus diuulang. " yang mana?" jelasnya. Chelsea mikir keras. " yang mana ya..?' kembali Chelsea melempar pertanyaan ketelinga Ilham. "Hmm.." Chelsea senyum karena ingatan jangka pendek nya tidak terlelu kuat." yang mana sih?" " Sudahlah, Chels. Sampai ketemu nanti malam." Tuut..tutt..tuttttt... Ilham menutup panggilan miliknya. " Hallo, ilham.., Ilham. " Chelsea mendengus kesal. " Akh...., kenap sih nih Orang." melihat ponselnya sudah ditutup oleh Ilham. Mama melihat cHelsea kesal. ia hanya senyum Melihat anaknya hanya memaki ponsel, mengutuknya kesal dan berjalan menuju kamarnya di lantai 1, menaiki tangga dengan hentakan kaki di tiap tangga menuju lantainya. Chelsea masih memaki ponsel ditangannya kesal. menaiki tangga satu demi satu dengan langkah yang berat. " Chels...!!!" Teriak mama dari bawah. Chelsea melihat mama duduk menengadah dan senyum. Melihatkan sebarisan gigi rapi yang dipamerkan mama. " Apaa, Mah?" Chelsea menunggu ditangga, pertanyaan mama Ambar selanjutnya. " Kenapa mama. senyum." " Tadi kamu tuh bilang S-A-Y-A-N-G sama Ilham. Jadi Ilham pengen kamu ngulang kalimat terakhirnya." Ledek mama. Chelsea mengernyit. " Apa bener, maa?" Jantung Chelsea meloncat hebat. Dan matanya juga sama hampir meloncat ketika mendengar jawaban dari mama. Mama mengangguk. Dan senyum kembali. " Shit." Chelsea memukul jidatnya. " Pantesan, ah.... mama nguping. ya...? ih mama..., nguping pembicaraan. Ajah." Rengeknya malu. Ia langsung kabur dan berlari menuju arah kamarnya, membawa semburat wajah merah yang hampir meledak karena malu. Mama hanya tersenyum. Melihat Chelsea malu dan lari kedalam kamarnya membanting pintu kamar dengan keras. Ia mengingat kembali apa benar ia berkata demikian. Selama ini ia tidak pernah mengatakan Sayang pada Ilham. Itu adalah kalimat yang pure keluar dari mulutnya setelah satu tahun lebih mereka bersama. " ilham.." desisnya. Chelsea masih tidak percaya ia berkata demikian, Ia masih tidak percaya malam itu jantung nya berdetak sangat kencang. Dan ilham masuk kedalam pikirannya. Ya.. Chelsea baru sadar ternyata Ilham yang memberikan Zona Aman padanya kini membuat dirinya tidak bisa lepas dari Ilham. Chelsea membutuhkan Ilham sebagai pelindungnya, dan pendamping nya kelak. Chelsea mengambil kembali ponselnya yang ia lempar keatas tempat tidur, dan mengambilnya perlahan dengan duduk diatas tempat tidur, memandang foto mereka dipasang dilayar ponselnya, sebagai wallpaper. Ini baru pertama kalinya ia sadar jika foto mereka terlihat mengagumkan. Ilham menggembungkan pipinya dan chelsea senyum dengan bibir manyun ala ikan gurame. Ini adalah foto Gokil yang diambilkan oleh Sule. Setelah mereka nonton ke bioskop dan diabadikan oleh ponsel milik Ilham. Chelsea mengingat Ilham berkata bahwa ia telah menyianyiakan masa mudanya hanya dengan buku. Chelsea tidak membuang- buang waktu dan langsung menelponnya. " Hallo.." Suara chelsea terdengar berat. Ilham tidak menjawab, ia hanya berdehem saja. " Maaf, tapi sebenarnya aku gak harus minta maaf padamu kan. Sekarang..., aku ingat kalimat terakhirku buat, kamu." " Hmm." Hanya itu yang keluar dari suara ilham. Ia terdengar masih kesal pada Chelsea. Dan ini pertama kalinya Ilham marah. " Kalimat itu..." Ucap Chelsea.Terputus, dan masih mengigit bibirnya perlahan. Ia masih berfikir akan mengatankan yang sebenarnya ataukah tidak. " Ya..., kalimat itu. lantas." sambung Ilham. " Sebenarnya gak ada yang salah kan dengan kalimat itu?" Tanya Chelsea mulai kesal. " Apa salahnya kalau aku bilang. sayang! benarkan...?" Ilham menutupnya. Tanpa mendengar lagi kalimat terakhir dari Chelsea. Chelsea kembali membanting dan mengutuk ponsel nya sebal. " Ikh...kenapa sih. PMS apa..?" lempar Chelsea, Ia mendengus dan hampir meluapkan kekesalannya dengan mengigit bantal. Chelsea langsung kembali melihat kontak ditelponnya. Kini ia sudah lama tidak berbincang dengan Sule. Ia rindu Sule akan komentarnya. Biasanya selain Ilham Dan Feby, Sule Tergolong sering teleponan sama ILham. Tapi beberapa bulan ini Sule jarang menghubunginya, mungkin karena sekarang ia, sudah mendapatkan Rumah sakit ditempat ia bertugas. " Le..., ini gue. Sibuk gak?' " Satu jam ini sibuk chel, masih ada beberapa pasien.'' jawab Sule. " Ada Apa? oh,,iya kapan kita ketemuan diwaktu luang?" " oh, Ntar gue kabarin lagi!" Ucap Chelsea datar. Sule Terdengar sedang sibuk, beberapa orang terdengar sedang berbincang serius. " Ok. ' Chelsea menutup kembali ponselnya. Ia masih tidak percaya jika Ilham marah dengan kalimat itu. Apa ia gak suka dibilang sayang sama aku? atau ia lebih suka dibilang kaka, abang, ayah, papa, abie, atau oppa kaya orang korea. hmmm..ilham, kenapa ya? apa ada yang aneh dengan kalimat itu. Apa mungkin sekarang ia bosan menunggu aku? atau ia marah karena menunda pertunangan dimalam ini. akh...membingungkan. ilham, ilham, Chelsea tak hentinya berpikir, dan mencorat-coret note book yang ada disamping tempat tidurnya. Saat ini adalah waktu yang paling menyebalkan bagi Chelsea, Ia lebih mirip anak Abege lagi ketibang seorang dokter kandungan. Dari tadi sifatnya berubah - ubah. dari bibir yang manyun ala ikan gurame hingga ia mengacak rambutnya karena ia memikirkan perasaannya yang kacau- balau bagai kapal pecah yang jatuh dari langit. mulutnya komat- kamit dan berulang kali menulis dinote book lalu membuangnya seketika. Ia kembali menggumpalkan kertas yang sudah ia tulis dan melemparnya ke beberapa penjuru kamar miliknya. Pikirannya masih meracau, chelsea kembali mengambil bantal miliknya dan menutup wajahnya dengan bantal. Mencoba memejamkan matanya di hari libur. Ia memejamkan matanya tanpa sadar dan mengatupkannya dibawah bantal. *** " Chelsea...!!!" teriak mama. Langit sudah mulai temaram, Sudah hampir pukul lima Sore. Anak gadis itu masih tidur dibawah bantal tanpa makan siang. Jendela masih meniupkan semilir angin sejuk, membelai lembut ruangan, meniupkan tirai peach yang melayang-layang menari. Alaram dengan nada yang dipasang diponselnya tak hentinya bernyanyi. Tapi pemiliknya kali ini pergi kedunia mimpi dengan angan dan harapan yang ia bawa kenegeri awan. Mama membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Chelsea masih tidur dengan sweater putih dan celana pendek nya yang ia kenakan tadi pagi hari dan belum sempat ia mandi lagi sore ini. " Chel. Ini ada.." Ucap mama terhenti, ketika seseorang itu menyuruh mama chelsea untuk tidak kembali teriak. Dan menutup mulut SSSSTTTT Suara langkah kakinya tegas menghampiri ruangan yang hangat dan nyaman. Seseorang dengan Tubuh tegap dan kekar, rambut rapi.dengan senyuman yang dapat menghipnotis siapapun didekatnya. Angin yang berhembus dari sela jendela yang terbuka meniupkan aroma hembusan Parfum maskulin yang dimiliki lelaki. lelaki itu menutup jendela kamar Chelsea, dan kembali berjalan menuju tempat tidur Chelsea dan duduk ditepiannya. Melihat gadis yang ia cintai tidur dengan bantal yang ditutup kewajahnya. Lelaki itu senyum melihatkan Giginya, Mama senyum dan keluar dari kamar, menuju ruang tamu. menuruni anak tangga, melihat calon menantu idamannya sangat lembut memperlakukan Chelsea. memandanginya dengan penuh kasih. mamah tidak mau menganggu mereka, dan menutup pintu perlahan. Gadis itu masih tidur dengan nafas yang teratur, matanya masih mengatup bagai malaikat dengan bibir yang berwarna peach. ia menarik bantal yang menutupi sebagian wajahnya, memindahkannya, dan melihat mata gadis itu mengatup. Ilham Melihat disekitar tempat tidur penuh dengan coretan kertas, dan gumpalan kertas yang dibuang sembarang. lelaki itu membuka gumpalan yang tepat di kalinya, membukanya perlahan lipatan kertas dengan digumpalkan. kertas itu hanya bertuliskan sebuah nama. " IL_ham." Desisnya. ia senyum samar lalu melihat wajah chelsea yang masih tidur. Ia kembali membuka gumpalan dekat tangan chelsea. Dan kini membuatnya membuka dengan tidak sabar. " salah gak sih gue bilang dia sayang...atau harus gue panggil oppa kaya di korea? ih, sebel.." Lelaki itu membacanya . Lalu senyum. kembali ia tidak sabar membuka gumpalan yang hampir dirobek Chelsea dan berada dekat tempat sampah. lelaki itu bangkit dari tempat Tidur dan tidak sabar membuka bola gumpalan kertas yang hampir meluncur ketempat sampah. kembali ia tidak sabar membukanya. Ada getaran soda api yang mebuatnya meledak-ledak dalam darahnya ketika membuka gumpalan kertas. Chelsea menuliskan. " Malam itu jantung gue berdetak kencang karena ilham menyebutkan gue calon istrinya, gue gak percaya. Malam itu juga ia ngelamar gue didepan umum. Andai ia tahu kalau gue udah mulai menyukainya. pasti dia GE-ER, ah..gue nulis apa sih.. sejak saat itu kalau deket ilham. Jantung gue seperti bedug. kadang gue butuh obat penenang tuh kalau deket dia. atau gue diem ajah...dan pura-pura jutek." Lelaki itu menatap tulisan itu penuh rasa tak percaya. Ia kembali berjalan menuju tempat dimana Chelsea tidur. Menatap putri salju yang masih tidur dan tidak bergeming, ia senyum. menenangkan hatinya, bahwa perasaanya selama ini juga tidak sia-sia. Chelsea membuka lebar pintu hatinya. " Chels..." Desisnya tanpa suara. Aroma itu berhembus dan menusuk kedalam hidung chelsea. ia mulai menggeliat. " Ilham.." Gumamnya. Matanya masih menutup tapi ia berguman menyebut nama nya. Ya... nama lelaki itu. lelaki yang ia sebutkan kini senyum memandangi dirinya. Tanpa henti. Chelsea menghirup nafasnya dalam -dalam, mengingat aroma parfum yang ia rindukan. Aroma parfum yang menyembur keras menusuk hidungnya, parfum yang ia kenal dan tidak asing lagi. " Ilham.." gumamnya. Matanya membuka perlahan, satu, dua detik, ia kembali berkedip. " Ilham." Matanya melebar dan membelak tidak percaya. Chelsea terus berkedip dan menatap wajah yang kini ada dihadapan nya tidur memandanginya, dan masih menatapnya dengan senyuman yang terus mengembang melihatkan mata dan gigi yang terus terlihat. " Ilham.." desisnya kembali. Ia masih tak percaya dan mencoba mengedipkan kembali matanya. mereka masih bertatapan. " bener atau mimpi..." Gumamnya. ia mencupit pipinya. Ilham berbaring memandanginya. senyumnya mengambang menbenarkan rambutnya " hmm.." kedipnya memastikan. Ilham menyambar chelsea memeluknya dengan erat dan membenamkan chelsea didadanya. Sedetik chelsea diam tidak meronta, masih mengingat mimpikah atau kenyataan, tapi ketika pelukan itu semakin erat. Ia tau bahwa yang memeluknya benar Ilham. Ini benar kenyataan dan bukanlah mimpi. " Ilham..!!!" desisnya dan meronta. Tapi Ilham tidak melepaskan pelukannya. " Kamu..ikh.." Chelsea masih berusaha meronta. Tapi kini ia diam ketika Ilham mengecup keningnya. " kalau saja kamu bicara jujur." Mata chelsea membelak menatap dalam bola mata Ilham yang ditembakan dalam dan tertuju padanya. "egh." chelsea bangkit dan duduk ditempat tidurnya memandangi ilham yang sedang mencoba terpejam di tempat tidur Chelsea. ia masih tidak percaya apa yang barusan diucapkan ilham, Ilham menarik nafasnya dalam -dalam. Dan merentangkan tangannya selebar- lebarnya diatas tempat tidur, memandang langit-langit kamar Chelsea dan membayangkan ia tidur Tiap malam bersamanya. Senyum sendiri. " mesum." ledek chelsea. "Akh..., aku ingin segera menikahi gadis ini ya allah. Agar aku bisa terus memeluknya seperti ini. dan menatap wajahnya ketika ia tidur." chelsea menengus tidak percaya. Dan bangkit memandang Ilham sedang menikmati ranjang yang dipakai Chelsea melelapkan matanya. " Dasar otak mesum." Rutuknya tidak percaya. Ilham masih berbaring ditempat tidur chelsea, dengan kemeja biru langit tiduran di bantal yang chelsea pakai. Memeluk bantal itu dan menciumnya hangat. " Kemari..sayang.." Ledek Ilham. Dengan mata genit yang baru pertama kali dilihatnya selama beberapa tahun ini. Benar Ia bertingkah m***m, seperti yang Chelsea ucapkan. " Sini kita pelukan.." ledek kembali ilham. Chelsea mengambil guling dan memukulinya tidak ampun. Hingga membuat Ilham mengerang- ngerang. Ilham menarik Lengan Chelsea dan menjatuhkan chelsea tepat di dadanya. jatuh menindih tubuh Ilham. Jantung mereka berdetak begitu kencang ketika wajah Chelsea tepat dihadapan Ilham, nafas mereka begitu dekat hingga berebutan oksigen. Ilham mendekatkan wajah chelsea dengan lengannya hingga semakin dekat, nafas chelsea berhenti sejenak ketika bibir Ilham menempel dan mengecupkan ciuman hangat yang indah mendarat dibibirnya. Kali ini Chelsea tidak menolaknya dan malah membalas Ciuman hangat itu kembali. Hingga beberapa detik nafas mereka berubah menjadi sesuatu yang disebut nafsu. Mereka masih menikmatinya hingga suara teriakan mama menyedarkan mereka. Menghentikan ciuman yang akan menjadi alert bahwa mereka adalah manusia yang memiliki nafsu. " Maaf." Ucap Ilham menyesal. Chelsea diam. mengigit bibirnya seketika, tapi ada gelembung soda dalam darahnya kali ini. Ia senyum. " Aku harus mandi. kita siap- siap kerumah..., kakek." Chelsea mulai bersikap Kaku dan serba salah, berulang kali ia mengigit lagi bibirnya. Membayangkan barusan Ilham menciumnya dengan lembut. Ilham mengangguk malu. ia melangkahkan kakinya keluar tapi ditarik chelsea reflaks. " Tunggu." Chelsea membenahkan kemeja Ilham dan mengelap sebagian lipstik peachnya yang tertinggal dekat bibir ilham. " Sudah.." Chelsea senyum membersihkan Bibir Ilham yang terdapat lipstiknya. Wahjahnya kembali merah dan hampir saja matang karena udara tiba-tiba terasa panas. " Maafkan kelakuan saya.." Tiba-tiba Ilham kembali terdengar formal. Chelsea kembali mengecup bibir Ilham kilat. Cupp. Kecupan singkat mendarat dibibir Ilham. Membuat Wajah Ilham kini yang memerah. Kini Ia memaku diam bagai patung, dan hanya memandangi wajah Chelsea, Chelsea kabur ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi secepatnya, senyum senyum dibalik pintu dan hampir teriak, bahwa ini ciuman kedua dalam hidupnya sebelum firts kiss nya dulu dengan david.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN